Hasil dan Prospek

Leon Trotsky (1906)


Pendahuluan pada edisi tahun 1919

 

Karakter Revolusi Rusia[1] adalah masalah fundamental bagi aliran-aliran ideologi dan organisasi politik gerakan revolusioner Rusia yang berbeda-beda. Bahkan di dalam gerakan sosial-demokrat sendiri, masalah karakter Revolusi Rusia menyebabkan pertentangan yang serius segera setelah peristiwa-peristiwa memberikannya sebuah karakter praksis. Semenjak tahun 1904, pertentangan ini mengambil dua aliran fundamental: Menshevisme[2] dan Bolshevisme[3]. Dari sudut pandang Menshevisme, revolusi kita akan mengambil bentuk revolusi borjuis[4], dalam kata lain, secara alami revolusi ini merupakan transfer kekuasaan ke tangan kaum borjuis dan pembangunan kondisi bagi parlementer borjuis. Dari sudut pandang Bolshevisme, walaupun mengakui karakter borjuis dari revolusi yang akan datang, tugas revolusi yang mendatang adalah pembentukan sebuah republik yang demokratis melalui kediktatoran kelas proletar dan tani.

Analisa sosial Menshevik sangatlah dangkal dan pada intinya mereduksi analogi sejarah secara kasar – ini adalah metode yang tipikal dari kaum filistin[5] yang “terdidik”. Kenyataan bahwa perkembangan kapitalisme Russia telah menciptakan kontradiksi-kontradiksi yang luar biasa yang membatasi peran demokrasi borjuis menjadi tidak signifikan, dan juga pengalaman dari peristiwa-peristiwa selanjutnya; kenyataan ini tidak menghalangi kaum Menshevik dari usahanya untuk mencari demokrasi yang ‘sejati’, yang ‘asli’ yang akan memimpin ‘negara’ dan membentuk parlemen dan kondisi demokrasi bagi perkembangan kapitalis. Di mana-mana kaum Menshevik selalu mencari tanda-tanda perkembangan demokrasi borjuis, dan dimana mereka tidak mampu menemukan itu, mereka menciptakannya. Mereka membesar-besarkan pentingnya setiap deklarasi dan demonstrasi ‘demokratis’, pada saat yang sama meremehkan kekuatan dan prospek kelas proletar sebelum berjuang. Saking fanatiknya usaha mereka untuk mencari kepemimpinan demokrasi borjuis, guna mengamankan karakter borjuis yang ‘sah’ dari Revolusi Rusia yang menurut mereka dibutuhkan oleh hukum sejarah, selama Revolusi (periode dari Februari 1917 hingga Oktober 1917 – Ed.) ketika tidak ada kepemimpinan demokrasi borjuis yang bisa ditemui, kaum Menshevik sendiri yang mengemban tugas-tugas demokrasi borjuis.

Demokrasi borjuis-kecil tanpa ideologi sosialisme, tanpa persiapan kelas secara Marxis, tentu saja tidak dapat berbuat apa-apa di bawah kondisi Revolusi Rusia, seperti halnya kaum Menshevik di dalam perannya sebagai partai ‘yang memimpin’ pada saat Revolusi Februari. Ketiadaan pondasi sosial yang serius untuk demokrasi borjuis mempengaruhi kaum Menshevik, karena mereka menjadi kadaluwarsa dengan cepat, dan pada bulan ke delapan Revolusi (yakni Oktober 1917 – Ed.) mereka terlempar keluar oleh perjuangan kelas.

Sebaliknya, Bolshevisme sama sekali tidak memiliki keyakinan pada kekuatan demokrasi borjuis revolusioner di Rusia. Dari awal, Bolshevisme mengakui pentingnya kelas pekerja di dalam Revolusi yang mendatang. Akan tetapi, Bolshevik membatasi program Revolusi untuk kepentingan jutaan kaum tani, yang tanpa mereka Revolusi tidak akan mampu dilaksanakan. Oleh karena itu, kaum Bolshevik mengakui (untuk sementara) karakter demokratik-borjuis dari Revolusi ini.

Mengenai perkiraan kekuatan internal di dalam Revolusi dan prospeknya, pengarang buku ini, pada saat itu, tidak mengikuti kedua aliran utama di dalam gerakan buruh Rusia. Gagasan yang dia pegang saat itu dapat dirangkum sebagai berikut: Revolusi ini, yang dimulai sebagai sebuah revolusi borjuis di dalam tugas-tugas pertamanya, akan segera mengakibatkan konflik-konflik kelas yang besar dan hanya akan meraih kemenangan mutlak dengan memindahkan kekuasaan ke satu-satunya kelas yang mampu memimpin semua rakyat tertindak, kelas ini adalah kelas proletar. Setelah berkuasa, kaum proletar bukan hanya tidak ingin, tetapi tidak mampu membatasi dirinya di dalam program demokrasi borjuis. Kaum proletar hanya akan mampu membawa Revolusi ini ke garis akhir bila Revolusi Rusia diubah menjadi sebuah Revolusi Proletar Se-Eropa. Program demokrasi-borjuis kemudian akan terlampaui, dan dominasi politik kelas pekerja Rusia yang bersifat sementara akan berkembang menjadi sebuah kediktatoran sosialis yang mampu bertahan lama. Tetapi, bila tidak ada revolusi di Eropa, konter-revolusi borjuis tidak akan mentoleransi pemerintahan rakyat di Rusia dan akan melempar negara ini jauh ke belakang – jauh dari sebuah republik buruh dan tani yang demokratis. Maka dari itu, setelah meraih kekuasaan, kelas proletar tidak boleh membatasi dirinya di dalam limit demokrasi borjuis. Ia harus mengadopsi taktik revolusi permanen, yakni ia harus menghancurkan batasan antara program minimum dan maksimum Sosial Demokrasi, ia harus mengadopsi reformasi sosial yang lebih radikal dan mencari dukungan langsung dan segera dari revolusi di Eropa Barat. Gagasan ini dikembangkan dan didebatkan di karya yang sekarang diterbitkan ulang, yang ditulis pada tahun 1904-1906.

Dalam mempertahankan gagasan revolusi permanen selama 15 tahun ini, pengarang gagal menaksir dinamika faksi-faksi yang berseteruan di dalam gerakan sosial-demokrasi. Karena kedua faksi tersebut mulai dari sudut pandang revolusi borjuis, pengarang saat itu berpendapat bahwa perbedaan antara mereka tidaklah terlalu tajam untuk membenarkan perpecahan. Pada saat yang sama, pengarang buku ini berharap bahwa jalannya peristiwa mendatang akan membuktikan kelemahan demokrasi borjuis Rusia, dan juga kemustahilan objektif bagi kelas proletar untuk membatasi dirinya pada program demokrasi. Pengarang saat itu berpikir bahwa ini akan menyingkirkan perbedaan di antara kedua faksi tersebut.

Berdiri di luar kedua faksi pada saat pengasingan, pengarang tidak memikirkan secara serius bahwa pada kenyataannya pertentangan antara Bolshevik dan Menshevik telah menarik kaum revolusioner yang teguh ke satu kubu, dan menarik elemen-elemen yang menjadi semakin oportunis dan lembek ke kubu yang lain. Ketika Revolusi 1917 terjadi, Partai Bolshevik merupakan sebuah organisasi sentralis yang kuat yang menyatukan semua elemen terbaik dari para pekerja yang maju dan kaum intelektual yang revolusioner, yang – setelah perjuangan internal – secara terbuka mengadopsi taktik untuk mencapai kediktatoran sosial kelas pekerja, sesuai dengan seluruh situasi internasional dan relasi kelas di Rusia. Di pihak yang lain, faksi Menshevik, pada periode Revolusi 1917, telah menjadi cukup matang untuk melaksanakan tugas-tugas demokrasi borjuis, seperti yang telah saya jelaskan di atas.

Dalam menawarkan ke publik pencetakan ulang buku ini, sang pengarang tidak hanya bermaksud menjelaskan prinsip-prinsip teori yang memungkinkan ia dan kamerad-kamerad lainnya, yang selama bertahun-tahun berdiri di luar Partai Bolshevik, untuk bergabung dengan Bolshevik pada permulaan 1917 (penjelasan personal seperti itu bukanlah sebuah alasan yang cukup kuat untuk mencetak ulang buku ini), tetapi juga untuk mengulas ulang analisa sosial-historis dari kekuatan-kekuatan pengerak di dalam Revolusi Rusia, yang dimana sebuah kesimpulan ditarik bahwa pengambilalihan kekuasaan oleh kelas pekerja harus menjadi tugas dari Revolusi Rusia, dan kesimpulan ini ditarik jauh sebelum kediktatoran proletar telah menjadi sebuah fakta yang sudah terjadi. Bahwa kita bisa mempublikasikan buku ini yang ditulis pada tahun 1906 tanpa perubahan sama sekali adalah sebuah bukti yang memadai bahwa teori Marxisme ada di pihak partai yang benar-benar membawa kediktatoran kelas pekerja, dan bukan di pihak Menshevik yang menggantikan demokrasi borjuis.

Ujian akhir dari sebuah teori adalah praktek. Bukti yang tidak dapat dibantah bahwa kami telah menggunakan teori Marxis secara tepat adalah kenyataan bahwa kita sedang berpartisipasi di dalam peristiwa-peristiwa yang sudah kita ramalkan akan terjadi 15 tahun yang lalu, dan bahkan metode-metode partisipasi kami juga terbukti.

Sebagai sebuah tambahan, kami juga mencetak ulang sebuah artikel yang diterbitkan di Paris di koran Nashe Slovo[6] pada tanggal 17 Oktober 1915, yang berjudul Perjuangan Merebut Kekuasaan (lihat Bab 10 – Ed.). Artikel ini adalah artikel polemik dan mengkritisi Surat program yang ditujukan kepada “Kamerad-Kamerad di Rusia” oleh pemimpin-pemimpin Menshevik. Di dalam artikel ini, kita menyimpulkan bahwa perkembangan relasi kelas-kelas selama 10 tahun setelah Revolusi 1905 telah membuat harapan  kaum Menshevik terhadap demokrasi borjuis semakin seperti ilusi, dan oleh karenanya, nasib Revolusi Rusia semakin terikat dengan kediktatoran proletar …  Dengan perdebatan ide yang terjadi selama bertahun-tahun, hanya orang bodoh saja yang berpendapat bahwa Revolusi Oktober adalah sebuah adventurisme.

Berbicara mengenai sikap kaum Menshevik terhadap Revolusi Rusia, kita tidak bisa tidak berbicara mengenai degenerasi Kautsky[7], yang menemukan ekspresi kebangkrutan teori dan politiknya dari ‘teori-teorinya’ Martov[8], Dan[9], dan Tsereteli[10]. Setelah Revolusi Oktober 1917, kita mendengar dari Kautsky bahwa: walaupun perebutan kekuasaan oleh kelas pekerja harus dianggap sebagai tugas historis dari Partai Sosial-Demokrasi, Partai Komunis Rusia telah gagal merebut kekuasaan melalui pintu tertentu dan menurut agenda tertentu yang diterapkan oleh Kautsky, dan oleh karena itu Republik Soviet[11] harus diserahkan kepada Kerensky[12], Tsereteli, dan Chernov[13] untuk diperbaiki. Kritik Kautsky yang reaksioner dan pedantik[14] ini adalah lebih mengejutkan bagi kamerad-kamerad yang telah mengalami periode Revolusi Rusia yang pertama (Revolusi 1905 – Ed.) dengan mata terbuka dan telah membaca artikel-artikel karangan Kautsky tahun 1905-1906. Pada saat itu, Kautsky (ya benar, bukan tanpa pengaruh dari Rosa Luxemburg[15]) sepenuhnya memahami dan mengerti bahwa Revolusi Rusia tidak bisa berhenti di tahapan republik demokrasi-borjuis, tetapi harus secara tidak terelakkan menuju ke kediktatoran proletar, ini dikarenakan level perjuangan kelas di Rusia sendiri dan karena situasi kapitalisme secara internasional. Saat itu, Kautsky secara terbuka menulis mengenai negara buruh tanpa mayoritas sosial-demokrasi. Dia bahkan tidak berpikir untuk membuat perjuangan kelas tergantung pada kombinasi politik demokrasi yang berubah-rubah dan dangkal.

Pada saat itu, Kautsky mengerti bahwa Revolusi ini akan mulai, untuk pertama kalinya, membangkitkan jutaan kaum tani dan kaum borjuis-kecil kota, dan bukan secara sekaligus tetapi secara perlahan-lahan, satu lapis per lapis. Sedemikian rupa sehingga ketika perjuangan antara kaum proletar dan borjuis mencapai klimaksnya, massa tani yang luas masih berada pada level politik yang sangat primitif dan akan memberikan suara pilihan mereka kepada partai-partai politik perantara, yang merefleksikan keterbelakangan dan prasangka kelas tani. Saat itu Kautsky mengerti bahwa, setelah merebut kekuasaan revolusioner, kelas proletar tidak akan membiarkan nasib revolusi ditentukan oleh kesadaran lapisan masyarakat yang paling terbelakang, yakni massa yang belum terbangunkan. Sebaliknya, kaum proletar akan mengubah kekuasaan politik yang terkonsentrasikan di tangannya menjadi sebuah aparatus kuat guna membangunkan dan mengorganisir massa tani yang terbelakang dan bodoh. Kautsky mengerti bahwa untuk memanggil Revolusi Rusia sebagai sebuah revolusi borjuis dan membatasi tugas-tugasnya berarti tidak memahami apa yang sedang terjadi di dunia. Bersama-sama dengan kaum Marxis revolusioner Rusia dan Polandia, dia mengakui secara benar bahwa, bila kaum proletar Rusia merebut kekuasaan sebelum kaum proletar Eropa, ia harus menggunakan posisinya sebagai kelas penguasa bukan untuk menyerah kepada kaum borjuis tetapi untuk memberikan bantuan kepada revolusi di Eropa dan seluruh dunia. Semua perspektif dunia ini, yang dipenuhi dengan semangat ide Marxisme, tidaklah tergantung pada Kautsky atau kita, tidak tergantung pada bagaimana dan kepada siapa para petani akan memilih di dalam pemilu Majelis Konstituante pada bulan November dan Desember 1917.

Sekarang, ketika prospek-prospek yang sudah digarisbawahi 15 tahun yang lalu telah menjadi sebuah realitas, Kautsky menolak untuk memberikan sebuah akte lahir pada Revolusi Rusia karena kelahirannya belum didaftarkan secara sepatutnya di kantor politik demokrasi borjuis. Sungguh sebuah fakta yang menakjubkan! Sebuah kebangkrutan Marxisme yang hebat! Kita dapat mengatakan bahwa kebangkrutan Internasional Kedua[16] telah menemukan sebuah penghakiman filistin terhadap Revolusi Rusia oleh salah satu teoritisi terhebatnya, suatu hal yang lebih buruk daripada penyokongan Kredit Perang[17] oleh Internasional Kedua pada tanggal 4 Agustus, 1914.

Selama puluhan tahun Kautsky mengembangkan dan membela gagasan-gagasan revolusi sosial. Sekarang ketika revolusi sosial tersebut menjadi realitas, Kautsky mundur ketakutan. Dia takut akan kekuasaan Soviet Rusia dan mengambil sikap memusuhi gerakan kaum proletar Komunis Jerman yang dahsyat. Kautsky adalah seperti seorang guru yang menyedihkan hidupnya, yang selama bertahun-tahun mengulangi penjelasan mengenai musim semi kepada murid-muridnya di dalam kungkungan empat tembok kelasnya yang sesak. Di akhir karirnya, dia memutuskan untuk keluar dari kelasnya dan dia tidak mengenali musim semi, dan menjadi marah dan mencoba untuk membuktikan bahwa musim semi bukanlah musim semi, tetapi hanyalah sebuah kekacauan alam yang besar yang tidak sesuai dengan hukum alam. Sungguh suatu hal yang menguntungkan karena rakyat pekerja tidak mempercayai sang guru yang kaku, tetapi mempercayai suara musim semi!

Kami, murid-murid Marx, bersama-sama dengan rakyat pekerja Jerman, teguh dengan keyakinan kami bahwa musim semi revolusi telah tiba sesuai dengan hukum sosial, dan pada saat yang sama sesuai dengan hukum teori Marxisme, karena Marxisme bukanlah seorang guru yang terbang di atas sejarah, tetapi sebuah analisa cara dan metode proses historis yang benar-benar terjadi.

Saya telah menerbitkan kedua karya ini – yakni karya yang ditulis pada tahun 1906 dan 1915 – tanpa perubahan sama sekali. Awalnya saya bermaksud untuk menambahkan catatan-catatan pada kedua karya tersebut supaya mereka sesuai dengan waktu sekarang. Tetapi setelah membaca kedua karya tersebut, saya membatalkan maksud tersebut. Bila saya ingin lebih detil, saya harus menulis buku dua kali tebalnya, dan saat ini saya tidak memiliki waktu – dan juga buku tebal seperti itu akan merepotkan pembaca. Dan, yang lebih penting, saya menganggap bahwa alur gagasan utama di dalam karya tersebut sangatlah dekat dengan kondisi sekarang ini, dan para pembaca yang ingin lebih mengerti buku ini secara seksama bisa dengan mudah menambahkan data-data yang diambil dari pengalaman Revolusi sekarang ini.

L. TROTSKY

12 Maret, 1919

Kremlin

 


Catatan

[1] Revolusi Rusia, yang dimulai pada tanggal 24-27 Februari 1917 dimana kerajaan Tsar ditumbangkan dan digantikan oleh kekuasaan ganda Soviet dan Pemerintahan Sementara. Lalu kemudian pada tanggal 24-25 Oktober 1917, Bolshevik bersama dengan Soviet-soviet dari kota-kota besar Rusia menggulingkan Pemerintahan Sementara tersebut. Revolusi diikuti dengan Kongres Kedua Soviet Seluruh Rusia, dimana dibentuk Republik Sosialis dari Federasi Soviet Rusia dan kemudian Pemerintahan Soviet berdiri.

[2] Menshevik, dari bahasa Rusia, artinya minoritas, adalah sayap reformis dari Sosial Demokrat Rusia yang memperoleh namanya dari perpecahan faksi dengan kaum Bolshevik dalam persoalan organisasional di kongres tahun 1903. Perbedaan politik yang fundamental antara kaum Menshevik dan kaum Bolshevik (yang berarti mayoritas), menjadi jelas pada tahun 1904 dan terbukti di dalam Revolusi 1905, akan tetapi mereka tetap menjadi tendensi oposisi dalam RSDLP (Russian Social Democratic Labour Party) sampai tahun 1912, saat partai terpisah berdiri. Kaum Menshevik menganut teori 'dua tahap' terhadap Revolusi Rusia, mengajukan argumen bahwa kaum proletar harus beraliansi dengan kaum liberal dan membatasi diri dengan mendirikan republik borjuis, menunda tugas-tugas sosialis. Pada tahun 1917, menteri-menteri Menshevik menyokong Pemerintah Sementara, mendukung kebijakan imperialisnya, dan memerangi revolusi proletar. Setelah Revolusi Oktober, kaum Menshevik terang-terangan menjadi partai kontra-revolusioner.

[3] Bolshevik yang dalam bahasa Rusia artinya mayoritas. Faksi ini dibentuk pada tahun 1903 oleh Lenin untuk melawan Menshevik saat itu. Perbedaan antara mereka pada saat itu hanyalah bersifat organisasional, dimana Bolshevik menginginkan partai dengan kader-kader yang profesional dan disiplin, sedangkan Menshevik menginginkan partai yang luas dan terbuka dengan jumlah anggota sebesar-besarnya. Perbedaan awal ini ternyata hanyalah pembukaan untuk perbedaan yang lebih fundamental, yakni antara Marxisme (Bolshevik) dan reformisme (Menshevik). Pada tahun 1912, faksi Bolshevik mendeklarasikan pendirian partai Bolshevik.

[4] Revolusi Borjuis adalah ungkapan yang yang secara konvensional digunakan dalam periode kemunculan kapitalisme untuk menyatakan revolusi-revolusi melawan kelas feodal yang berkuasa. Revolusi-revolusi borjuis klasik (Revolusi Perancis (Revolusi Besar) tahun 1789 adalah contoh yang paling terkenal darinya) diadakan untuk mengantarkan borjuis kepada kekuasaan dengan menggunakan melimpahnya gerakan massa di bawah panji-panji demokrasi. Itulah pengalaman dari semua revolusi borjuis di mana borjuis menjelma jadi kontra revolusi sejalan dengan meningkatnya derajad tuntutan massa untuk melaksanakan slogan-slogan demokratik dalam konklusi prakteknya. Revolusi Rusia mulanya adalah untuk menuntaskan tugas-tugas revolusi borjuis, tetapi karena kaum borjuis menentang segala tugas-tugas demokratik dan mengambil posisi kontra revolusioner, maka kepemimpinan beralih ke tangan kaum proletar yang akhirnya merebut kekuasaan dengan memimpin kaum buruh tani miskin dan melaksanakan revolusi tersebut sebagai revolusi permanen. Inilah proses 'revolusi permanen' yang diramalkan dan dijelaskan oleh Trotsky.

[5] Filistin (Philistine), ungkapan yang awalnya dipergunakan oleh mahasiswa-mahasiswa Jerman untuk melukiskan penduduk di kota Universitas mereka. Berangsur-angsur ungkapan ini beralih artinya menjadi orang-orang yang tidak mempunyai perhatian terhadap keintelektualan sama sekali, borjuis kecil yang berpikiran sempit dan egois. Pada famplet ini yang dimaksudkan adalah sifat berpikiran sempit, picik, dan egois itu.

[6] Nashe Slovo (artinya Suara Kami) adalah koran kaum Menshevik Internasionalis (yakni kaum Menshevik yang menentang Perang Dunia Pertama) yang dipublikasikan di Paris dari Januari 1915 hingga September 1916.

[7] Karl Kautsky (1854-1938) menyandang reputasi sebagai kawan lama Engels, ia termasuk pendiri Internasionale Kedua, dan pembela Marxisme di masa awal dalam menghadapi revisionisme Berstein. Akan tetapi, dengan semakin mendekatnya tugas-tugas praktek dari revolusi, makin bimbanglah Kautsky, dengan lihai ia menutupi penolakannya terhadap Marxisme revolusioner dengan menggunakan tetek bengek sofis dan ungkapan-ungkapan 'Marxis'. Ia menjadi duri dalam daging dalam Revolusi Oktober di Rusia 1917.

[8] Yuli Osipovich Tsederbaum Martov (1873-1923) adalah pemimpin Menshevik. Dia memulai karir politiknya pada tahun 1895 bekerja bersama Lenin di Liga Perjuangan Untuk Emansipasi Klas Pekerja (League of Struggle for the Emancipation of the Working Class) di kota St Petersburg. Berkolaborasi dengan Lenin untuk mendirikan Iskra namun pecah dengannya pada tahun 1903 dalam persoalan peraturan organisasi PBSDR.

[9] Fedor Dan (1871-1947) adalah nama samaran F. Gurvich. Dia membantu Martov untuk membentuk Menshevik. Dia adalah sosial-sovinis selama Perang Dunia Pertama. Setelah Revolusi Februari 1917, dia menjadi anggota Komite Eksekutif Soviet Petrograd, mendukung Pemerintahan Sementara. Dia menentang Revolusi Oktober. Pada tahun 1922 diusir dari Rusia karena melakukan aktifitas kontra revolusi. Dia lalu meninggal di AS.

[10] Irakli Tsereteli (1882-1959) adalah pemimpin Menshevik. Ia adalah anggota Komite Eksekutif Soviet Petrograd pada tahun 1917, Tsereteli menjadi Menteri Pos dan Telegraf pertama dalam Pemerintahan Sementara. Setelah kejadian Juli dia menjadi Menteri Dalam Negeri, menggantikan Prince Lvov. Setelah Revolusi Oktober, Tsereteli memimpin blok anti Soviet dalam Majelis Konstituante yang menolak mengakui Pemerintahan Soviet. Selama Perang Sipil Tsereteli membantu mendirikan pemerintahan Menshevik di Georgia. Setelah Stalin memimpin Tentara Merah untuk menginvasi Georgia (yang kemudian dikenal sebagai Insiden Georgia), pemerintahan Menshevik digulingkan dan Tserteli kemudian meninggalkan Rusia.

[11] Soviet dalam bahasa Rusia artinya Dewan. Ia pertama kali muncul dalam revolusi 1905 sebagai organ-organ perjuangan ataupun sebagai komite pemogokan. Setelah Tsar ditumbangkan pada bulan Februari 1917, Pemerintahan Sementara memegang kekuasaan formal. Tetapi kekuasaan yang sesungguhnya terletak di tangan Soviet-soviet Wakil Buruh dan Prajurit yang lahir kembali, yaitu badan yang berisi delegasi yang dipilih, diciptakan oleh inisiatif massa, yang anggotanya dapat diganti sewaktu-waktu oleh rakyat. Jadi, pada saat itu terdapat dua kekuasaan sebab kaum Menshevik dan Sosialis Revolusioner yang mulanya memegang kendali atas soviet-soviet gagal merebut kekuasaan negara ke tangan soviet-soviet, malah menggunakan otoritasnya untuk mendukung dan memperkuat Pemerintahan Sementara. Pada bulan Juli 1917 hal ini memungkinkan terjadinya 'konsolidasi' pemerintah provisional, sementara para pemimpin kaum Menshevik dan Sosialis Revolusioner membubarkan Soviet-soviet. Segera setelah itu, kaum Bolshevik meraih suara mayoritas dalam posisi-posisi kunci di Soviet-soviet, lalu memimpin pemberontakan Oktober meraih kemenangan.

[12] Alexander Kerensky (1882-1970) adalah anggota sayap kanan partai Sosialis Revolusioner. Saat Revolusi Februari, Kerensky adalah wakil ketua Soviet Petrograd. Dia menjadi Menteri Kehakiman dalam pemerintahan yang baru dibentuk. Dia lalu menjabat sebagai Perdana Menteri yang terakhir dari Pemerintahan Sementara sebelum digulingkan oleh Revolusi Oktober.

[13] Victor Mikahilovich Chernov (1876-1952) adalah salah soerang pemimpin dan teoritikus dari Sosialis-Revolusioner. Dia adalah Menteri Pertanian di Pemerintahan Provisional dari Mei-September 1917, dimana dia memerintahkan represi terhadap para petani yang menyita tanah para tuan tanah.

[14] Terlalu mementingkan formalitas, bersifat akademis

[15] Rosa Luxemburg (1871-1919) dilahirkan di Polandia. Dia adalah salah satu pemimpin gerakan Komunis di Jerman dan di Polandia. Pada tanggal 15 Januari 1919, dia dibunuh oleh tentara Jerman bersama-sama dengan Karl Liebknecht. Kematian dia adalah salah satu faktor penting yang menyebabkan kegagalan revolusi Jerman.

[16] Internasional Kedua - Pada tahun 1880, Partai Sosial Demokrat Jerman mendukung seruan dari kamerad-kamerad Belgia untuk mengadakan kongres sosialis internasional pada tahun 1881. Kota kecil bernama Chur dipilih dan kaum sosialis Belgia, Parti Ouvrier dari Perancis, Sosial Demokrat Jerman dan Sosial Demokrat Swiss berpartisipasi dalam persiapan kongres yang akhirnya menuju pada pembentukan Sosialis Internasional atau Internasionale Kedua. Tidak seperti Internasionale Pertama, Internasionale Kedua terdiri dari partai-partai politik yang memiliki pemimpin terpilih, program politik dan keanggotaan yang berbasiskan di negerinya masing-masing. Seksi nasional dari Internasionale Kedua membangun serikat buruh, terlibat dalam pemilihan umum dan sangat terlibat dalam kehidupan klas pekerja di negerinya masing-masing. Permulaan Perang Dunia pada tahun 1914 dan krisis nasional dan revolusioner yang disebabkan perang menyebabkan krisis di dalam Internasionale Kedua, dimana sebagian besar partai-partai di dalam Internasionale Kedua mendukung peperangan ini dan jatuh pada sosial-sovinisme. Inilah awal dari kejatuhan Internasional Kedua.

[17] Kredit Perang adalah anggaran perang untuk perang dunia kedua, yang didukung oleh partai-partai sosial demokratik dari Internasional Kedua pada tahun 1914.


DAFTAR ISI