Revolusi Permanen

Leon Trotsky (1928)


I. Motivasi dan Tujuan Karya ini

 

Permintaan terhadap teori di dalam partai di bawah kepemimpinan blok Kanan-Sentris selama enam tahun berturut-turut telah dipenuhi oleh teori anti-Trotskisme, inilah satu-satunya produk yang tersedia dalam jumlah yang tidak terbatas dan didistribusikan secara bebas. Stalin terlibat dalam teori untuk pertama kali pada tahun 1924, dengan artikel-artikelnya yang abadi melawan revolusi permanen. Bahkan Molotov dibaptis sebagai “pemimpin” dalam front ini. Pemalsuan berlangsung besar-besaran. Beberapa hari yang lalu, saya kebetulan menemukan sebuah pengumuman mengenai publikasi tulisan-tulisan Lenin pada tahun 1917 di Jerman. Ini merupakan hadiah yang sangat berharga untuk klas pekerja Jerman yang maju. Bagaimanapun juga seseorang dapat membayangkan betapa banyaknya pemalsuan yang ada di dalam teks tersebut dan terutama sekali dalam catatan-catatan kakinya. Kita cukup menunjukkan bahwa nomor satu di dalam daftar isi buku tersebut diberikan untuk surat Lenin untuk Kollontai di New York. Mengapa? Karena surat tersebut mengandung kalimat-kalimat yang keras mengenai saya, berdasarkan informasi yang sepenuhnya palsu dari Kollontai, yang telah memberikan Menshevismenya yang organik sebuah histeria ultra-kiri pada hari-hari itu. Dalam edisi Rusia buku tersebut, para epigone dipaksa untuk mengindikasikan, bahkan bila hanya secara ambigu, bahwa Lenin telah mendapatkan informasi yang salah. Namun dapat kita asumsikan bahwa edisi Jerman ini bahkan tidak akan menunjukkan informasi tersebut. Kita juga dapat menambahkan bahwa dalam surat yang sama dari Lenin untuk Kollontai terdapat serangan-serangan yang ganas terhadap Bukharin, yang pada saat itu bersolidaritas dengan Kollontai. Aspek di dalam surat ini telah dipendam, akan tetapi hanya untuk sementara. Bagian tersebut akan dipublikasikan hanya jika kampanye terbuka melawan Bukharin diluncurkan. Kita tidak harus menunggu terlalu lama untuk itu.[1] Disisi yang lain sejumlah dokumen yang sangat berharga, artikel-artikel dan pidato-pidato Lenin, demikian juga dengan notulensi-notulensi pertemuan, surat-surat, dsb, tetap tertutup hanya karena mereka ditujukan untuk melawan Stalin dan kawan-kawannya dan merusak legenda “Trotskisme”. Dari sejarah tiga revolusi Rusia, demikian juga sejarah Partai Bolshevik, secara harafiah tidak ada satu bagian pun yang dibiarkan tetap utuh: teori, fakta-fakta, tradisi-tradisi, warisan Lenin, semuanya telah dikorbankan untuk perjuangan melawan “Trotskisme” yang diciptakan dan diorganisir, setelah Lenin jatuh sakit, sebagai perjuangan pribadi melawan Trotsky, dan yang kemudian berkembang menjadi perlawanan melawan Marxisme.

Telah terkonfirmasikan kembali bahwa apa yang tampak sebagai pencarian yang tidak berguna atas perselisihan-perselisihan yang telah lama lenyap biasanya memuaskan beberapa kebutuhan sosial yang tidak-sadar, sebuah kebutuhan yang di dalam dirinya sendiri tidak mengikuti garis perselisihan-perselisihan lama. Kampanye melawan “Trotskisme yang lama” sebenarnya adalah sebuah kampanye melawan tradisi Revolusi Oktober, yang semakin lama semakin menyakitkan dan tidak dapat ditahan oleh kaum birokrasi baru. Mereka mula mencap segala sesuatu yang ingin mereka singkirkan sebagai “Trotskisme”. Dengan demikian perjuangan melawan Trotskisme secara berangsur-angsur menjadi ekspresi teori dan politik reaksi diantara kelompok non-proletar yang luas dan sebagian juga diantara lingkaran-lingkaran proletariat, dan refleksi dari reaksi ini di dalam partai. Secara khusus, karikatur dan distorsi sejarah atas pertentangan antara revolusi permanen dan garis Lenin mengenai “aliansi dengan muzhik[2]” berkembang pesat pada tahun 1923. Hal tersebut muncul bersamaan dengan periode reaksi sosial, politik dan partai, sebagai ekspresinya yang paling kasar, sebagai antagonisme organik antara kaum birokrasi dan para pemilik properti terhadap revolusi dunia dengan gangguan “permanennya”, kerinduan kaum borjuis kecil dan pejabat-pejabat administrasi akan ketenangan dan ketertiban. Penyerangan yang ganas terhadap revolusi permanen berfungsi untuk membersihkan jalan bagi teori sosialisme di satu negara, yaitu, untuk variasi terbaru dari sosialisme nasional. Dalam kesendiriannya, akar-akar sosial baru dari perjuangan melawan “Trotskisme” ini tidak membuktikan apapun, baik setuju ataupun tidak setuju pada ketepatan teori revolusi permanen. Namun, tanpa sebuah pemahaman terhadap akar-akar tersembunyi ini, kontroversi tersebut pasti akan memanggul karakter akademis yang tandus.

Dalam tahun-tahun terakhir ini saya menemukan bahwa adalah mustahil untuk memisahkan diri saya dari persoalan-persoalan baru dan kembali pada persoalan-persoalan lama yang terikat pada periode Revolusi 1905, sepanjang persoalan-persoalan tersebut terutama berkaitan dengan masa lalu saya dan telah direkayasa untuk digunakan untuk melawan masa lalu saya. Untuk memberikan sebuah analisa dari perbedaan-perbedaan pendapat yang lama dan terutama sekali kesalahan-kesalahan lampau saya, dengan latar belakang situasi dimana hal tersebut muncul – sebuah analisa yang demikian menyeluruh sehingga kontroversi-kontroversi dan kesalahan-kesalahan tersebut akan dapat dimengerti oleh generasi muda, belum lagi tetua-tetua yang jatuh pada politik masa kanak-kanak kedua – ini membutuhkan satu volume tersendiri. Sangatlah buruk bagi saya untuk membuang waktu saya dan orang lain untuk hal tersebut, ketika terus menerus pertanyaan baru yang sangat penting muncul setiap harinya: tugas-tugas Revolusi Jerman, persoalan nasib masa depan Inggris, persoalan hubungan antara Amerika dan Eropa, permasalah yang muncul dari pemogokan kaum proletar Inggris, tugas-tugas Revolusi Cina dan, terakhir dan terutama, kontradiksi-kontradiksi dan tugas-tugas ekonomi dan sosio-politik internal kita sendiri (baca Uni Soviet – Ed.) – semua ini, saya percaya, membenarkan penundaan penulisan buku polemik-sejarah saya mengenai revolusi permanen. Namun kesadaran sosial membenci kevakuman. Dalam tahun-tahun terakhir kevakuman teoritis tersebut telah, seperti yang telah saya katakan, dipenuhi dengan sampah-sampah anti-Trotskisme. Para epigone, filsuf dan para makelar partai yang reaksioner jatuh semakin rendah, mereka belajar dari sang Menshevik Martynov, menginjak-injak Lenin, berkubang di dalam lumpur dan menyebut semua ini sebagai perjuangan melawan Trotskisme. Dalam tahun-tahun tersebut mereka tidak mampu menghasilkan satu karyapun yang cukup serius atau penting untuk disebutkan tanpa merasa malu; mereka tidak memajukan satu analisa politik pun yang telah terbukti benar, tidak satu prognosispun yang terbukti benar, tidak satu slogan independen pun yang telah memajukan kita secara idelogi. Yang ada hanyalah sampah dan pekerjaan bermutu rendah dimana-mana.

Problems of Leninism karya Stalin terdiri dari kodifikasi sampah ideologis tersebut, sebuah manual resmi dari pikiran sempit, sebuah antologi dari rentetan kedangkalan (saya berusaha keras untuk menemukan istilah yang paling moderat). Leninism karya Zinoviev adalah Leninisme-nya Zinoviev, tidak lebih dan tidak kurang. Zinoviev bertindak dengan prinsip Luther[3]. Namun sementara Luther berkata “Disini saya berdiri; saya tidak dapat melakukan yang lainnya”. Zinoviev berkata, “Disini saya berdiri…namun saya dapat melakukan yang lain juga”. Untuk membuat seseorang mempelajari produk-produk teori dari epigonisme ini adalah sebuah penderitaan yang tidak tertahankan, dengan perbedaan ini: ketika membaca Leninisme milik Zinoviev kita akan mengalami sensasi tersedak benang wol, sementara Problems of Leninism milik Stalin membangkitkan sensasi tersedak bulu-bulu binatang. Kedua buku tersebut dengan caranya masing-masing adalah gambaran dan mahkota periode reaksi ideologis.

Menyesuaikan semua persoalan pada Trotskisme, entah dari kanan atau kiri, dari atas atau bawah, dari depan atau belakang, para epigone ini pada akhirnya berusaha membuat setiap peristiwa dunia secara langsung dan tidak langsung tergantung pada bagaimana revolusi permanen terlihat oleh Trotsky pada tahun 1905. Legenda Trotskisme, pemalsuan sepenuhnya, pada tingkatan tertentu telah menjadi sebuah faktor dalam sejarah kontemporer. Dan sementara garis politik kanan-sentris dalam tahun-tahun terakhir ini telah melemah di setiap benua karena kebangkrutannya yang berdimensi historis, perjuangan melawan ideologi sentris di dalam Komitern hari ini tidak dapat dibayangkan, atau setidaknya sangat sulit tanpa sebuah evaluasi terhadap perselisihan-perselisihan lama dan prognosis yang bermula dari tahun 1905.

Kebangkitan pemikiran Marxis, dan sebagai akibatnya lalu kebangkitan pemikiran Leninis juga, di dalam partai tidak dapat terjadi tanpa sebuah polemik penghancuran karya-karya para epigone, tanpa eksekusi teoritis yang tanpa ampun terhadap kaum birokrasi partai. Tidaklah sulit untuk menulis buku semacam itu. Semua bahan-bahannya sudah ada. Namun juga sulit untuk menulis buku semacam itu, karena dengan melakukannya seseorang harus, dalam kata-kata satiris besar Saltykov, turun ke dalam daerah “ABC yang tidak menyenangkan” dan berkutat dalam waktu yang cukup lama di dalam atmosfir yang tidak nyaman ini. Meskipun begitu, karya ini sepenuhnya tidak dapat ditunda lagi, karena garis oportunis dalam persoalan Timur, yaitu separuh umat manusia, dibangun atas dasar perjuangan melawan revolusi permanen.

Saya hampir memasuki tugas polemik teoritis yang tidak memikat ini dengan Zinoviev dan Stalin, mengesampingkan karya-karya klasik kita untuk jam-jam rekreasi saya (bahkan penyelampun harus muncul ke permukaan sekali-kali untuk menghirup udara) ketika, tidak saya duga, sebuah artikel karya Radek muncul dan mulai beredar, yang ditujukan sebagai pertentangan “yang lebih dalam” antara teori revolusi permanen dan pandangan Lenin dalam subjek tersebut. Pada awalnya saya ingin mengabaikan karya Radek, kalau tidak perhatian saya akan teralihkan dari kombinasi karya-karya busuk yang ditujukan pada saya oleh nasib. Namun sejumlah surat dari kawan-kawan membujuk saya untuk membaca karya Radek lebih dalam dan saya sampai pada kesimpulan berikut: untuk lingkaran kecil orang yang mampu berpikir independen dan tidak berdasarkan komando dan dengan konsisten mempelajari Marxisme, karya Radek lebih berbahaya ketimbang literatur resmi – seperti halnya oportunisme dalam politik semakin berbahaya ketika dia semakin terkamuflase dan semakin besar reputasi orang yang menyamarinya. Radek adalah salah satu teman politik terdekat saya. Hal ini semakin jelas terlihat dengan peristiwa-peristiwa dari periode baru-baru ini. Akan tetapi, dalam bulan-bulan terakhir ini banyak kamerad yang telah mengikuti dengan kebimbangan evolusi Radek, yang telah bergerak jauh dari ekstrim Sayap Kiri Oposisi ke Sayap Kanan. Kita semua yang merupakan teman dekatnya Radek mengetahui bahwa berkah literatur dan kecerdasan politiknya, yang dikombinasikan dengan impulsifnya yang luar biasa dan kemampuan persuasinya, adalah kualitas yang merupakan sebuah sumber inisiatif dan kritik yang berguna di bawah kondisi kerja kolektif, namun yang dapat menghasilkan hasil yang jauh berbeda dalam kondisi terisolasi. Karya Radek yang terakhir – berkaitan juga dengan sejumlah tindakan dia sebelumnya – mendorong kita pada opini bahwa Radek telah kehilangan kompas petunjuk jalannya atau bahwa kompas petunjuk jalannya berada di bawah pengaruh gangguan magnetik. Karya Radek bukanlah sebuah perjalanan singkat ke masa lalu yang sporadik. Tidak, karya tersebut tidak dipikirkan dengan baik namun tetap merupakan kontribusi yang sama berbahayanya dalam mendukung garis politik ofisial, dengan segala mitologi teoritisnya.

Fungsi politik yang dikarakterisasi di atas dari perjuangan melawan “Trotskisme” tentu saja tidak menandakan bahwa di dalam kelompok Oposisi, yang mengambil bentuk sebagai penopang Marxis melawan reaksi ideologi dan politik, kritik internal tidak dapat diterima terutama kritik terhadap perbedaan pendapat lama antara saya dengan Lenin. Sebaliknya, karya oto-kritik akan dapat membuahkan hasil. Namun di sini bagaimanapun juga, pemeliharaan perspektif sejarah yang cermat, penyelidikan serius atas sumber-sumber asli dan sebuah penjelasan atas perselisihan-perselisihan di masa lalu dalam hubungannya dengan perjuangan saat ini, akan sangat dibutuhkan. Ini semua absen dari karya Radek. Seperti tidak sadar akan apa yang dia lakukan, dia begitu saja bergabung dengan perjuangan melawan “Trotskisme”; dan Radek tidak hanya menggunakan kutipan-kutipan yang berat-sebelah, namun juga menggunakan penafsiran-penafsiran palsu yang disediakan oleh pihak ofisial. Dimana dia sepertinya memisahkan dirinya sendiri dari kampanye resmi melawan Trotskisme, dia melakukannya dengan cara yang sangat ambigu sehingga dia benar-benar menyediakannya dengan dukungan ganda dari seorang saksi “penting”. Seperti yang selalu terjadi dalam kasus kemunduran ideologi, karya terakhir Radek tidak mengandung satu butir pun dari kecerdasan politik dan keahlian literaturnya. Karyanya tersebut adalah karya tanpa perspektif, tanpa ke dalaman, sebuah karya sepenuhnya berdasarkan kutipan, dan karena itu – datar.

Dari kebutuhan politik apakah karya tersebut muncul? Dari perbedaan pendapat yang muncul antara Radek dan mayoritas besar kaum Oposisi mengenai persoalan Revolusi Cina. Benar bahwa ada beberapa orang yang berkeberatan dan mengatakan bahwa perbedaan pendapat mengenai Cina “tidaklah relevan hari ini” (kata Preobrazhensky[4]). Namun keberatan beberapa orang tersebut tidak pantas mendapatkan pertimbangan yang serius. Seluruh Bolshevisme tumbuh dan berkembang melalui kritik dan asimilasi pengalaman 1905, dalam semua kesegarannya, ketika pengalaman tersebut masih merupakan pengalaman langsung dari generasi pertama Bolshevik. Bagaimana mungkin tidak? Dan peristiwa apa lagi yang dapat dipelajari oleh generasi baru kaum proletar revolusioner hari ini jika bukan dari pengalaman baru yang masih segar dari Revolusi Cina, yang masih berbau darah? Hanya kaum pedantik yang kaku yang mampu “menunda” persoalan Revolusi Cina, untuk mempelajarinya nanti di saat santai dan di dalam “ketenangan”. Pendapat seperti itu (yang menggangap remeh persoalan Revolusi Cina – Ed.) bukanlah sifat yang Bolshevik-Leninis, karena revolusi di negeri-negeri Timur belumlah hilang dari agenda gerakan dan kapan munculnya tidak ada yang tahu.

Mengadopsi sebuah posisi yang keliru mengenai masalah-masalah Revolusi Cina, Radek mencoba membenarkan posisi tersebut secara retrospektif dengan sebuah presentasi yang berat-sebelah dan terdistorsi mengenai perbedaan pendapat saya dengan Lenin. Dan disinilah dimana Radek terpaksa meminjam senjata dari gudang senjata milik orang lain dan berlayar tanpa sebuah kompas di jalur yang asing.

Radek adalah teman saya, namun saya lebih mencintai kebenaran. Sekali lagi saya terpaksa untuk menunda karya yang lebih ekstensif mengenai persoalan revolusi dalam rangka menulis untuk menjawab Radek. Pertanyaan-pertanyaan telah diajukan, yang terlalu penting untuk diabaikan dan pertanyaan-pertanyaan tersebut telah diajukan dengan langsung. Saya mempunyai tiga kesulitan yang harus saya hadapi: pertama, banyaknya dan beragamnya kekeliruan-kekeliruan di dalam karya Radek; kedua, sejumlah besar fakta-fakta sejarah dan literatur selama dua puluh tiga tahun (1905-28) yang membuktikan Radek salah; dan ketiga, sempitnya waktu yang dapat saya gunakan untuk karya ini, karena persoalan ekonomi USSR semakin mendesak.

Semua keadaan tersebut menentukan karakter dari karya saat ini. Karya ini tidak menjawab sepenuhnya permasalahan ini. Masih banyak yang belum terurai – sebagian karena karya ini merupakan sambungan dari karya-karya yang lainnya, terutama Criticism of the Draft Programme of the Communist International. Bergunung-gunung materi faktual yang telah saya kumpulkan yang berkaitan dengan persoalan ini akan tak terpakai – menunggu penulisan buku besar saya untuk melawan para epigone, yaitu melawan ideologi resmi dari era reaksi.

Karya Radek mengenai revolusi permanen bersandar pada kesimpulan ini:

“Seksi baru dari partai Bolshevik (Kaum Oposisi) terancam dengan bahaya kemunculan tendensi-tendensi yang akan merobek perkembangan revolusi proletar dari sekutunya – kaum tani.”

Seseorang pertama-tama terkejut pada kenyataan bahwa kesimpulan yang berkaitan dengan sebuah seksi partai yang “baru” ini disebutkan saat paruh kedua tahun 1928 sebagai sebuah kesimpulan baru. Kita telah mendengarnya disebutkan berulang kali sejak musim gugur tahun 1923. Namun bagaimana Radek membenarkan perpindahannya ke tesis ofisial yang utama? Sekali lagi tidak dengan jalan yang baru: dia kembali pada teori revolusi permanen. Pada tahun 1924-25, lebih dari sekali Radek berkeinginan untuk menulis sebuah pamflet yang ditujukan untuk membuktikan bahwa teori revolusi permanen dan slogan Lenin mengenai kediktatoran demokratik proletariat dan kaum tani, dilihat dari skala historis – yaitu, dengan mempertimbangkan pengalaman tiga revolusi kita – tidak dapat dipertentangkan satu sama lain, namun sebaliknya, secara esensi adalah sama. Sekarang setelah meneliti secara menyeluruh persoalan ini “dengan baru” – seperti yang dia tulis pada salah satu temannya – Radek telah mencapai kesimpulan bahwa teori revolusi permanen yang lama mengancam seksi partai yang “baru” dengan bahaya perpecahan dengan kaum tani.

Namun bagaimana Radek “meneliti secara menyeluruh” persoalan tersebut? Dia memberikan kita beberapa informasi mengenai hal ini:

“Kita tidak memiliki ditangan kita formulasi-formulasi yang dipresentasikan Trotsky pada tahun 1904 dalam kata pengantar untuk Civil War in France karya Marx dan dalam Our Revolution tahun 1905.”

Tahunnya tidak disebutkan dengan tepat di sini, namun kita tidak perlu membahas hal ini. Poin utamanya adalah bahwa satu-satunya karya dimana saya mengutarakan pandangan saya secara kurang lebih sistematis mengenai perkembangan revolusi adalah di dalam sebuah artikel yang cukup ekstensif, Hasil dan Prospek (di Our Revolution, Petersburg, 1906, halaman 224-286). Artikel dalam koran Polandia milik Rosa Luxemburg[5] dan Tyszko, yang diacu oleh Radek, namun sayangnya diinterpretasikan dengan cara Kamenev, tidak memiliki keutuhan dan tidak komprehensif. Secara teori karya tersebut berdasarkan atas buku Our Revolution. Tidak ada seorangpun yang berkewajiban membaca buku tersebut saat ini. Semenjak itu, peristiwa-peristiwa besar telah terjadi dan kita telah belajar banyak dari peristiwa-peristiwa tersebut sehingga, jujur saja, saya merasa tidak senang dengan tingkah laku para epigone saat ini, yang mempertimbangkan persoalan-persoalan sejarah yang baru bukan dengan melihat pengalaman hidup revolusi yang telah kita jalankan namun dengan melihat kutipan-kutipan yang hanya berhubungan dengan ramalan kita mengenai masa depan revolusi. Tentu saja saya tidak ingin mencabut hak Radek untuk membahas persoalan ini dari sisi literatur sejarah juga. Akan tetapi, ini harus dilakukan dengan tepat. Radek mencoba untuk menerangkan nasib teori revolusi permanen dalam perjalanannya selama hampir seperempat abad dan mengatakan bahwa dia “tidak memiliki” dokumen-dokumen dimana saya menformulasikan teori ini.

Saya ingin menunjukkan di sini bahwa Lenin, yang menjadi semakin jelas bagi saya sekarang setelah membaca artikel-artikel lamanya, tidak pernah membaca karya utama saya yang disebutkan di atas. Ini mungkin dapat dijelaskan melalui kenyataan bahwa buku Our Revolution, yang muncul pada tahun 1906, segera disita dan juga tidak lama kemudian kita terpaksa beremigrasi. Namun kemungkinan juga karena dua pertiga buku tersebut terdiri dari cetak ulang artikel-artikel lama. Saya kemudian mendengar dari banyak kamerad bahwa mereka belum membaca buku tersebut karena mereka mengira buku tersebut hanyalah pencetakan ulang karya-karya lama. Jadi, kalimat-kalimat polemik Lenin – yang  sedikit jumlahnya dan yang tersebar – terhadap revolusi permanen hampir seluruhnya secara eksklusif berdasarkan atas kata pengantar oleh Parvus[6] untuk pamflet saya Before the Ninth of January; berdasarkan proklamasi Parvus No Tsar! yang sepenuhnya tidak saya ketahui; dan berdasarkan perselisihan internal antara Lenin dengan Bukharin dan yang lainnya. Tidak pernah dimanapun Lenin menganalisa atau mengutip Hasil dan Prospek.Dan keberatan-keberatan tertentu Lenin terhadap revolusi permanen, yang jelas tidak mengacu pada saya, secara langsung membuktikan bahwa dia tidak membaca karya saya.[7]

Akan tetapi, adalah serampangan untuk berpikir bahwa ini adalah “Leninisme” nya Lenin. Namun sepertinya inilah pendapatnya Radek. Bagaimanapun juga, artikel Radek yang harus saya teliti di sini menunjukkan bahwa bukan hanya dia “tidak memiliki” karya-karya pokok saya namun juga dia tidak pernah membacanya. Jika memang pernah, maka itu dulu sekali, sebelum Revolusi Oktober. Dia pasti tidak mengingatnya.

Tapi persoalan ini tidak berakhir di sini. Pada tahun 1905 atau 1909, dapat diterima dan bahkan tidak dapat dihindari untuk berpolemik satu sama lain mengenai artikel-artikel yang aktual pada saat itu dan bahkan berpolemik mengenai satu kalimat dalam artikel yang terisolasi – terutama di bawah kondisi perpecahan. Namun sekarang, bagi kaum Marxis revolusioner, jika dia ingin melihat ulang kebelakang periode sejarah besar tersebut, dia harus bertanya pada dirinya sendiri: Bagaimana formula yang didiskusikan ini diterapkan dalam praktek? Bagaimana formula tersebut diinterpretasikan dan dibangun dalam aksi? Taktik apa yang diterapkan? Bila Radek mau berusaha untuk membaca dua buku dari Our First Revolution (volume II dari Collected Works saya), dia tidak akan berpetualang untuk menulis karyanya sekarang ini; setidaknya, dia akan menghapus serangkaian keberatannya. Setidaknya, saya berharap dia melakukan itu.

Dari kedua buku tersebut Radek seharusnya belajar, pertama kali, bahwa dalam aktivitas politik saya, revolusi permanen bagi saya tidak menandakan pelompatan tahapan demokratik dari revolusi ataupun tahapan khusus lainnya. Dia akan meyakinkan dirinya sendiri bahwa, meskipun saya hidup di Rusia secara ilegal sepanjang tahun 1905 tanpa hubungan apapun dengan para pelarian yang lain, saya memformulasikan tugas-tugas tahap-tahap suksesif dari revolusi dalam cara yang sama seperti Lenin. Radek akan belajar bahwa seruan utama kepada kaum tani yang dikeluarkan oleh koran sentral Bolshevik pada tahun 1905 ditulis oleh saya; bahwa koran Novaya Zhizn[8] (Hidup Baru) yang diedit oleh Lenin, dalam catatan editorial dengan tegas membela artikel saya mengenai revolusi permanen yang muncul dalam Nachalo[9] (Permulaan); bahwa Novaya Zhizn-nya Lenin dan kadang-kadang Lenin sendiri, mendukung dan membela keputusan politik dari Soviet Deputi-Deputi yang ditulis oleh saya dan yang mana saya bertindak sebagai reporter sembilan dari sepuluh kali kesempatan; bahwa setelah kekalahan Desember[10], saya menulis saat dipenjara sebuah pamflet mengenai taktik dimana saya menunjukkan bahwa kombinasi serangan proletariat dengan revolusi agraria kaum tani adalah masalah strategis yang utama; bahwa Lenin menerbitkan pamflet tersebut melalui penerbitan Bolshevik Novaya Volna (Gelombang Baru) dan menginformasikan saya melalui Knunyants mengenai persetujuannya yang mendalam; bahwa Lenin berbicara di Kongres London pada tahun 1907 mengenai “solidaritas” saya dengan Bolshevisme dalam pandangan saya mengenai kaum tani dan borjuis liberal. Tidak satupun dari hal-hal di atas eksis bagi Radek; tampaknya dia juga tidak memiliki ini “di tangannya”.

Bagaimana persoalan tersebut dilihat oleh Radek dalam kaitannya dengan karya-karya Lenin? Tidak baik, atau tidak jauh lebih baik. Radek membatasi dirinya pada kutipan-kutipan yang memang diarahkan Lenin pada saya, namun cukup sering ditujukan untuk orang lain (contohnya, Bukharin dan Radek; sebuah referensi terbuka untuk hal ini ditemukan di Radek sendiri). Radek tidak mampu mengemukakan satu kutipan barupun yang melawan saya; dia hanya menggunakan materi kutipan yang sudah jadi, yang hampir dimiliki oleh setiap penduduk USSR sekarang. Radek hanya menambahkan beberapa kutipan dimana Lenin menerangkan kepada kaum anarkis dan Sosialis Revolusioner[11] mengenai perbedaan antara republik borjuis dan sosialisme – dan dari sini Radek menggambarkan seolah-olah kutipan tersebut juga diarahkan melawan saya. Sungguh tak dapat dipercaya, namun itu benar!

Radek sepenuhnya menghindari deklarasi-deklarasi lama dimana Lenin, yang sangat berhati-hati dan sangat moderat namun dengan penekanan yang kuat, mengakui solidaritas saya dengan Bolshevisme dalam masalah-masalah revolusi yang fundamental. Disini jangan dilupakan sama sekali bahwa Lenin melakukan hal tersebut ketika saya tidak berada di dalam faksi Bolshevik dan ketika Lenin menyerang saya tanpa ampun (dan sungguh pada tempatnya) karena konsiliasisme[12] saya – dan bukan menyerang ide revolusi permanen. Mengenai ide revolusi permanen, Lenin membatasi keberatannya, tetapi tidak untuk konsiliasisme saya dimana saya mengharapkan Menshevik untuk bergerak ke kiri. Lenin lebih memikirkan perjuangannya melawan konsiliasisme ketimbang polemik terisolasi melawan Trotsky.

Pada tahun 1924, untuk membela perilaku Zinoviev dari serangan saya pada bulan Oktober 1917, Stalin menulis:

“Kamerad Trotsky gagal untuk memahami surat Lenin (mengenai Zinoviev – L. T), arti dari surat itu dan tujuannya. Lenin kadang-kadang dengan sengaja berlari ke depan, mendorong ke depan kesalahan-kesalahan yang mungkin akan dilakukan, dan mengkritik mereka sebelumnya dengan tujuan memberikan peringatan kepada partai dan menjaganya dari kesalahan-kesalahan. Kadang dia bahkan akan memperbesar sebuah “hal remeh” dan “membuat gunung dari onggokan tanah” untuk tujuan pedadogis[13] yang sama… Namun untuk menyimpulkan dari surat Lenin tersebut (dan dia menulis cukup banyak surat semacam itu) bahwa ada ketidaksepakatan yang “tragis” dan meneriakkan mereka, ini berarti tidak memahami surat Lenin, ini berarti tidak mengenal Lenin.” (J. Stalin, Trotskyism or Leninisme, 1924)

Secara kasar ini berarti “gaya tulisan seseorang menggambarkan sikapnya” – namun esensi ide tersebut adalah benar, meskipun ini sangat tidak berlaku di dalam perselisihan selama periode Oktober, yang sama sekali bukan masalah yang remeh seperti sebuah “onggokan tanah”. Namun jika Lenin biasa menggunakan pernyataan-pernyataan yang berlebihan dan yang pedadogis dan polemik-polemik yang bersifat preventatif dalam hubungannya dengan anggota-anggota terdekat dari faksi dia sendiri, maka dalam hubungannya dengan individu yang pada saat itu diluar faksi Bolshevik dan menyerukan konsiliasisme dia akan lebih melakukan hal tersebut. Tidak pernah terpikir oleh Radek untuk mempertimbangkan hal ini dalam kutipan-kutipan tua tersebut.

Di dalam kata pengantar tahun 1922 untuk buku saya, Tahun 1905, saya menulis bahwa prediksi saya mengenai kemungkinan pendirian kediktakturan proletariat di Rusia sebelum ini dicapai di negeri-negeri maju terbukti 12 tahun kemudian. Radek, mengikuti contoh yang tidak begitu menarik, menghadirkan masalah ini seolah-olah saya mempertentangkan prediksi tersebut dengan garis strategisnya Lenin. Namun dari kata pengantar tersebut, dapat dengan jelas dilihat bahwa saya mempresentasikan prognonis revolusi permanen ini dari titik pandang karakter-karakter dasar yang sejalan dengan garis strategis Bolshevisme. Ketika saya menulis di dalam catatan kaki mengenai “mempersenjatai ulang” partai Bolshevik pada tahun 1917, maka hal tersebut jelas tidak dalam makna bahwa Lenin mengakui jalan partai sebelumnya adalah “salah”. Melainkan Lenin datang ke Rusia – meskipun tertunda, namun syukurnya cukup untuk memastikan keberhasilan revolusi – untuk mengajar partai Bolshevik untuk menolak slogan “kediktatoran demokratik” yang telah kadaluwarsa, slogan yang saat itu masih dipegang erat oleh Stalin, Kamenev, Rykov, Molotov dan yang lainnya. Ketika Kamenev menjadi marah karena kata “mempersenjatai ulang”, ini dapat dimengerti, karena proses “mempersenjatai ulang” ini dilakukan untuk melawan mereka. Namun Radek? Dia pertama-kali menjadi marah baru pada tahun 1928, yaitu hanya setelah dia sendiri mulai melawan proses “mempersenjatai ulang” Partai Komunis Tiongkok yang dibutuhkan.

Mari saya ingatkan Radek bahwa buku saya Tahun 1905 (dengan kata pengantarnya yang kriminal) dan Revolusi Oktober memainkan peran, ketika Lenin masih hidup, sebagai buku teks sejarah pokok untuk kedua revolusi tersebut. Pada waktu itu, buku tersebut dicetak berulang kali di dalam bahasa Rusia dan bahasa asing. Tidak pernah satu orangpun mengatakan kepada saya bahwa buku-buku tersebut mengandung sebuah pertentangan antara dua garis politik. Karena pada waktu itu, sebelum pembalikan revisionis oleh para epigone, tidak ada anggota partai yang bijak yang mensubordinasikan pengalaman Revolusi Oktober pada kutipan-kutipan lama, melainkan mereka melihat kutipan-kutipan lama tersebut melalui sudut pandang Revolusi Oktober.

Berkaitan dengan hal tersebut ada satu subjek lainnya yang disalahgunakan oleh Radek dengan cara yang tak terbayang: Trotsky mengakui – kata Radek – bahwa Lenin benar di dalam pertentangan mereka. Tentu saja saya mengakui hal tersebut. Dan di dalam pengakuan tersebut tidak ada diplomasi sama sekali. Saya berpikir mengenai keseluruhan jalan sejarah Lenin, keseluruhan posisi teori dia, strategi dia, pembangunan partainya. Akan tetapi, pengakuan tersebut tentu saja tidak dapat diterapkan di setiap kutipan polemik – yang sekarang lebih disalahgunakan untuk tujuan yang bertentangan dengan nilai-nilai Leninisme. Pada tahun 1926, ketika saya membentuk sebuah blok dengan Zinoviev, Radek memberi peringatan kepada saya bahwa Zinoviev membutuhkan deklarasi dari saya bahwa Lenin benar, berkaitan dengan pertentangan Lenin dengan saya, guna menutupi fakta bahwa Zinoviev salah dalam pertentangannya dengan saya. Secara alami saya memahami hal tersebut dengan baik. Dan itulah kenapa saya mengatakan di dalam Pleno Ketujuh Komite Eksekutif Komunis Internasional bahwa maksud saya adalah kebenaran historis Lenin dan partainya, namun sama sekali bukan kebenaran para kritikus saya saat ini, yang berusaha menutupi diri mereka sendiri dengan kutipan-kutipan yang diambil dari Lenin. Sekarang saya terpaksa harus mengatakan hal yang sama kepada Radek.

Berkaitan dengan revolusi permanen, saya hanya berbicara mengenai kekurangan-kekurangan dari teori ini, yang tidak dapat dihindari karena ini adalah sebuah prediksi. Pada Pleno Ketujuh Komite Eksekutif Komunis Internasional, Bukharin dengan tepat menekankan bahwa Trotsky tidak menyangkal konsepsi tersebut secara menyeluruh. Mengenai “kekurangan-kekurangan” ini saya akan membahas mereka di dalam karya lain yang lebih luas, dimana saya akan mencoba mengajukan pengalaman tiga revolusi Rusia dan aplikasinya untuk masa depan Komitern, terutama sekali di Timur. Tetapi, untuk mencegah kesalahpahaman, saya ingin mengatakan: Meskipun terdapat kekurangan-kekurangan, teori revolusi permanen, bahkan seperti yang diajukan di dalam karya awal saya, terutama Hasil dan Prospek (1906), jauh lebih penuh dengan semangat Marxisme dan oleh karena itu jauh lebih dekat dengan garis politik Lenin dan Partai Bolshevik, dibandingkan dengan pandangan retrospektif para Stalinis dan para Bukharinis dan karya-karya Radek baru-baru ini.

Dengan ini, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa konsepsi revolusi saya, di dalam semua tulisan saya, mengikuti garis tunggal yang sama dan kaku. Saya tidak pernah menyibukkan diri saya sendiri dengan mengumpulkan kutipan-kutipan lama – saya terpaksa melakukan ini sekarang karena periode epigonisme dan reaksi di dalam partai – namun saya berusaha sebisa mungkin untuk menganalisa proses pergerakan kehidupan yang nyata. Dalam 12 tahun (1905-17) aktivitas jurnalistik revolusioner saya, terdapat juga artikel-artikel dimana kondisi-kondisi yang episodik dan bahkan pernyataan polemik episodik yang berlebihan yang tidak dapat dihindari di dalam perjuangan muncul ke depan dengan melanggar garis strategis. Oleh karena itu, contohnya, dapat ditemui artikel-artikel dimana saya mengekspresikan keraguan mengenai masa depan peran revolusioner kaum tani secara keseluruhan, sebagai sebuah kelompok sosial, dan oleh karenanya saya menolak menetapkan, terutama selama masa perang imperialis, masa depan revolusi Rusia sebagai revolusi “nasional”, karena saya merasa definisi semacam itu adalah ambigu. Namun jangan dilupakan di sini bahwa proses sejarah yang menarik bagi kita semua, termasuk proses di dalam gerakan tani, jauh lebih jelas sekarang ketimbang dulu ketika mereka masih baru berkembang. Saya juga akan mengingatkan bahwa Lenin – yang tidak pernah sekejap pun melupakan masalah kaum tani  – merasa ragu, bahkan setelah Revolusi Februari, akan kemampuan kita untuk memisahkan kaum tani dari kaum borjuis dan menariknya ke kaum proletar. Saya akan mengatakan kepada para kritikus keras saya bahwa adalah lebih mudah untuk mencari dalam satu jam kontradiksi-kontradiksi formal di dalam artikel-artikel koran seseorang selama seperempat abad, ketimbang untuk menjaga, bahkan dalam satu tahun, kesatuan garis politik dasar.

Disini saya tinggal menyebutkan satu pertimbangan lain yang sepenuhnya ritualistik: jika teori revolusi permanen memang benar – kata Radek – Trotsky sudah pasti akan bisa menyusun faksi yang besar dengan basis ini.  Namun hal itu tidak terjadi. Oleh karena itu….teori revolusi permanen adalah salah.

Argumentasi Radek tersebut, diambil sebagai sebuah proposisi umum, tidak mengandung secuil dialektika pun. Seseorang dapat menyimpulkan dari argumen di atas bahwa titik pandang Kaum Oposisi mengenai Revolusi Cina atau posisi Marx mengenai masalah Inggris, adalah keliru; bahwa posisi Komintern berkaitan dengan kaum reformis di Amerika, Austria dan – jika kau kehendaki – di semua negara, adalah salah.

Jika argumentasi Radek tidak diambil dalam bentuk “sejarah-filosofi”-nya yang umum, namun hanya dalam aplikasinya pada persoalan yang didiskusikan, maka argumentasi tersebut menyerang Radek sendiri. Argumentasi tersebut mungkin akan masuk akal jika saya berpendapat atau, yang jauh lebih penting, bila kejadian-kejadian menunjukkan, bahwa garis revolusi permanen bertentangan dengan garis strategis Bolshevisme, berada di dalam konflik dengannya dan semakin lama semakin terpisah darinya. Hanya dalam kondisi tersebut ada dasar untuk pembentukan dua faksi. Tetapi itulah yang ingin dibuktikan oleh Radek. Sebaliknya, saya menunjukkan bahwa meskipun terdapat pernyataan-pernyataan polemik faksional yang berlebihan dan intensifikasi masalah tersebut, garis strategis dasar revolusi permanen masih tetap sama dengan Bolshevisme. Lalu darimana faksi kedua dapat muncul? Dalam kenyataan, ternyata saya bekerjasama dengan Bolshevik pada revolusi pertama dan kemudian mempertahankan kerja sama tersebut dalam pers internasional melawan kritik para Menshevik pembelot. Pada Revolusi 1917 saya berjuang bersama dengan Lenin melawan oportunisme demokratik dari “Bolshevik Tua” yang sekarang telah terangkat oleh gelombang reaksioner dan yang persenjataan satu-satunya adalah penyerangan mereka terhadap revolusi permanen.

Saya tidak pernah mencoba menciptakan sebuah kelompok faksi atas dasar ide-ide revolusi permanen. Posisi saya di dalam partai Bolshevik pada saat itu adalah posisi konsiliasionis dan berdasarkan posisi inilah saya cenderung membentuk sebuah faksi. Konsiliasionisme saya muncul dari semacam fatalisme sosial-revolusioner. Pada saat itu saya percaya bahwa logika perjuangan kelas akan mendorong kedua faksi tersebut (Menshevik dan Bolshevik) untuk mengejar garis revolusioner yang sama.  Pentingnya kebijakan Lenin masih belumlah jelas bagi saya pada saat itu, yakni kebijakan dia akan sebuah demarkasi ideologi yang tegas dan, bila dibutuhkan, perpecahan (split), dengan tujuan untuk menempa dan membangun embrio dari partai revolusioner yang sejati. Pada tahun 1911, Lenin menulis mengenai hal ini:

“Konsiliasionisme adalah gabungan dari sikap, keinginan, dan pandangan-pandangan yang terikat dengan esensi tugas-tugas historis yang dihadapi oleh Partai Sosial Demokratik Rusia selama periode kontra-revolusi pada tahun 1908-11. Itulah mengapa selama periode tersebut sejumlah kaum Sosial Demokrat, yang memulai dari premis-premis yang cukup berbeda, jatuh pada konsiliasionisme. Trotsky mengekspresikan konsiliasionisme lebih konsisten dari pada yang lainnya. Dia mungkin satu-satunya yang mencoba memberikan tendensi tersebut sebuah pondasi teori.” (The New Faction of Conciliators or the Virtuous, 4th edition, XVI, 227; Selected Works, English edition, IV, 93)

Dengan berusaha mengejar persatuan di atas segala-galanya, saya tanpa sengaja dan tak terelakkan mengekspresikan ide tendensi-tendensi sentris dalam Menshevisme. Meskipun saya berulang kali berusaha, saya tidak menemui persetujuan dengan kaum Menshevik, dan saya tidak mungkin menemukannya. Namun, pada saat yang sama, garis konsiliasionis ini membawa saya pada konflik yang lebih tajam dengan Bolshevisme, karena Lenin, tidak seperti kaum Menshevik, secara keras menolak konsiliasionisme dan dia tidak dapat melakukan yang lain selain itu. Adalah jelas bahwa tidak ada faksi yang dapat dibentuk dengan platform konsiliasionisme.

Maka dari itu, inilah pelajaran yang dapat kita tarik: adalah tidak diperbolehkan dan fatal untuk menghancurkan atau melemahkan sebuah garis politik untuk tujuan konsiliasionisme yang vulgar; adalah tidak diperbolehkan untuk memberikan kosmetik pada sentrisme ketika dia berzig-zag ke kiri; adalah tidak diperbolehkan, dalam mengejar ilusi sentrisme, untuk melebih-lebihkan dan membesar-besarkan perbedaan opini dengan sesama pemikir revolusioner yang sejati. Inilah pelajaran riil dari kesalahan-kesalahan riil Trotsky. Pelajaran tersebut sangatlah penting. Pelajaran-pelajaran ini masih sangatlah revelan bahkan sampai hari ini, dan Radeklah yang harus mempelajari mereka.

Dengan sinisisme ideologis yang merupakan karakter dari Stalin, dia pernah berkata:

“Trotsky pasti mengetahui bahwa Lenin berjuang melawan teori revolusi permanen hingga akhir hayatnya. Namun itu tidak menggubris Trotsky.” (Pravda, No. 262, 12 November 1926)

Kalimat ini adalah sebuah karikatur Stalinis yang kasar dan tidak loyal; ini adalah karikatur Stalinis yang jauh dari kenyataan. Dalam salah satu komunikasinya dengan kaum Komunis luar negeri, Lenin menjelaskan bahwa perbedaan pendapat diantara kaum Komunis adalah satu hal yang cukup berbeda dengan perbedaan pendapat dengan kaum Sosial Demokrat. Perbedaan pendapat semacam itu, tulis dia, juga dialami oleh Bolshevisme di masa lalu. Namun “…pada saat ketika Bolshevisk merebut kekuasaan dan membentuk Republik Soviet, Bolshevisme terbukti bersatu dan menarik semua tendensi pemikiran sosialis terbaik yang paling dekat dengannya…” (Greetings to the Italian, French, and German Communist, 4th Edition, XXX, 37)

Tendensi pemikiran sosialis terdekat apa yang dipikirkan oleh Lenin ketika dia menulis kata-kata tersebut? Martynov atau Kuusinen[14]? Atau Cachin, Thaelmann dan Smeral[15]? Apakah Lenin melihat mereka sebagai “tendensi terdekat yang terbaik”? Tendensi lain mana yang terdekat dengan Bolshevisme ketimbang dengan yang saya ajukan mengenai semua persoalan pokok, termasuk persoalan kaum tani? Bahkan Rosa Luxemburg pada awalnya tidak mendukung kebijakan agraria pemerintahan Bolshevik. Namun bagi saya tidak ada keraguan mengenai hal tersebut sama sekali. Saya berada satu meja dengan Lenin ketika dengan pensil ditangannya dia membuat draf hukum agraria. Dan pertukaran pendapat kami tidaklah lebih dari beberapa kalimat singkat. Pertukaran pendapat kami berlangsung kira-kira seperti berikut: langkah hukum agraria ini bersifat kontradiksi, namun secara sejarah hal tersebut sama sekali tidak dapat dihindari; di bawah rejim kediktatoran proletar dan dalam skala revolusi dunia, kontradiksi ini akan diperbaiki – kita hanya membutuhkan waktu. Jika sebuah antagonisme yang mendasar di dalam persoalan kaum tani eksis antara teori revolusi permanen dan dialektikanya Lenin, bagaimana Radek bisa menjelaskan fakta bahwa tanpa menyangkal pandangan dasar saya mengenai jalan perkembangan revolusi, saya tidak tersandung sedikitpun oleh persoalan kaum tani pada tahun 1917, seperti yang terjadi pada mayoritas kepemimpinan Bolshevik pada masa itu? Bagaimana Radek bisa menjelaskan fakta bahwa setelah Revolusi Februari teoritikus dan politikus anti-Trotskisme saat ini – Zinoviev, Kamenev, Stalin, Rykov, Molotov, dsb – mengadopsi posisi demokratik-vulgar dan bukan posisi proletariat? Dan sekali lagi: Apa dan siapa yang dibicarakan Lenin ketika dia berbicara mengenai bersatunya Bolshevisme dengan elemen-elemen terbaik dari tendensi Marxis yang paling dekat dengannya? Dan bukankah evaluasi ini dimana Lenin menggambarkan neraca perbedaan pendapat masa lalu menunjukkan bahwa dia tidak melihat dua garis strategis yang tidak dapat didamaikan?

Berkaitan dengan hal ini, yang patut dicatat adalah pidato Lenin pada 1 (14) November 1917, di pertemuan Komite Petrograd.[16] Di sana persoalan tersebut didiskusikan, apakah untuk membuat sebuah koalisi dengan kaum Menshevik dan Sosial Revolusioner. Bahkan di sana, para pendukung dari koalisi tersebut  – dengan sangat malu-malu – mengisyaratkan “Trotskisme”. Apa jawaban Lenin?

“Koalisi? Saya bahkan tidak dapat berbicara serius mengenai hal itu. Trotsky telah lama mengatakan bahwa persatuan ini adalah tidak mungkin. Trotsky memahami ini – dan semenjak itu tidak ada Bolshevik yang lebih baik dari Trotsky.”

Dalam pandangan Lenin, bukan revolusi permanen namun konsiliasionisme-lah yang memisahkan saya dari Bolshevisme. Seperti yang telah kita lihat, untuk menjadi “seorang Bolshevik terbaik”, saya hanya perlu memahami kemustahilan mencapai persetujuan dengan Menshevisme.

Namun bagaimana kita bisa menjelaskan perubahan Radek yang tiba-tiba ini dalam persoalan revolusi permanen? Saya percaya saya memiliki satu elemen penjelasan. Pada tahun 1916, seperti yang kita pelajari dari artikelnya, Radek setuju dengan “revolusi permanen”; namun kesepakatan dia adalah berdasarkan interpretasi Bukharin terhadap “revolusi permanen”. Menurut interpretasi Bukharin, revolusi borjuis di Rusia telah tuntas – bukan hanya peran revolusioner kaum borjuis dan bukan hanya peran historis dari slogan kediktatoran demokratik, namun juga revolusi borjuis – dan kaum proletar oleh karena itu harus melanjutkan ke perebutan kekuasaan di bawah sebuah panji sosialis yang murni. Radek menginterpretasikan posisi saya pada waktu itu juga berdasarkan interpretasi Bukharin. Jika tidak, dia tidak akan dapat menyatakan solidaritasnya kepada Bukharin dan saya pada waktu yang bersamaan. Hal ini juga menjelaskan mengapa Lenin berpolemik melawan Bukharin dan Radek, yang berkolaborasi bersama, dan merujuk pada mereka dengan nama samarannya Trotsky. (Radek mengakui hal ini juga dalam artikelnya.) Saya juga mengingat percakapan dengan M. N. Pokrovsky[17], seorang rekan Bukharin dan seorang pembangun skema sejarah yang dengan sangat ahli dia tampilkan sebagai Marxisme, yang membuat saya kawatir karena “solidaritas” dia yang palsu pada persoalan revolusi permanen. Secara politik, Pokrovsky adalah seorang anti-Kadet, yang dengan jujur dia percaya bahwa posisinya adalah Bolshevisme.

Pada tahun 1924-25, Radek sepertinya masih hidup di atas rekoleksi ideologi dari posisi Bukharinis tahun 1916, yang terus dia identifikasi sebagai milik saya. Kecewa dengan posisi yang sangat buruk tersebut, Radek – berdasarkan studi sambil lalu dari tulisan-tulisan Lenin – seperti yang sering terjadi dalam kasus-kasus semacam itu, berubah 180 derajat. Ini adalah hal yang mungkin terjadi karena hal tersebut adalah tipikal. Dengan demikian, Bukharin, yang pada tahun 1923-25 menampakkan jati dirinya yang sesungguhnya, yakni, berubah dari ultra-kiri menjadi oportunis, terus menerus menghubungkan saya dengan masa lalu ideologinya sendiri, yang dia palsukan sebagai “Trotskisme”. Dalam periode pertama dari kampanye melawan saya, ketika saya masih kadang kala memaksakan diri saya untuk membaca artikel-artikelnya Bukharin, saya sering bertanya pada diri sendiri: dari mana dia mendapatkan semua ini? – tapi saya kemudian menduga bahwa dia membaca secara sekilas buku harian masa lalunya. Dan sekarang saya berpikir apakah pondasi psikologi yang sama merupakan dasar dari perubahan Radek dari Paulus revolusi permanen menjadi Saul. Saya tidak ingin terus-menerus mendorong hipotesis tersebut. Akan tetapi saya tidak dapat menemukan penjelasan yang lainnya.

Bagaimanapun, seperti pepatah Perancis: anggur sudah dituang, dia harus diminum. Kita dipaksa untuk menelusuri kutipan-kutipan tua. Saya telah mengurangi jumlah kutipan-kutipan tua ini sebanyak mungkin. Namun ternyata masih banyak. Biarkan hal tersebut berfungsi sebagai pembenaran saya, bahwa saya telah berusaha keras mungkin untuk menemukan dalam pencarianku diantara kutipan-kutipan tua tersebut garis merah yang berhubungan dengan persoalan yang menggelora sekarang ini.


Catatan

[1] Perkiraan tersebut untuk saat ini telah dipenuhi – L. T

[2] Muzhik - julukan untuk petani Rusia

[3] Martin Luther (1483-1546) adalah ahli teologi Jerman yang ajarannya menginspirasi periode Reformasi. Ia adalah bapak dari Kristen Protestan

[4] Preobrazhensky Yevgeny Alekseyevich (1886-1937) bergabung dengan Bolsheviks pada tahun 1903. Pada tahun 1917-18 dia menjadi kandidat anggota Komite Sentral Partai. Pada tahun 1924 dia mendukung Trotsky, lalu dikeluarkan dari Partai pada tahun 1927 “karena mengorganisir percetakan ilegal antipartai”. Dia akhirnya dieksekusi pada tahun 1937 selama periode Pembersihan Stalin

[5] Rosa Luxemburg (1871-1919) dilahirkan di Polandia. Dia adalah ahli teori Marxis Jerman, pemimpin partai Komunis Jerman. Bersama-sama dengan Karl Liebknecht, dia dibunuh oleh tentara monarkis Jerman. Kematian mereka meninggalkan Partai Komunis Jerman tanpa pemimpin dan ini menyebabkan kekalahan revolusi Jerman.

[6] Alexander Parvus (1867-1924) adalah teoritikus Marxis terkemuka di Eropa Timur; mendapatkan kesimpulan yang serupa dengan teori revolusi permanen Trotsky. Trotsky berpisah dengannya pada tahun 1914 ketika Parvus menjadi pemimpin dalam sekte pro perang (Perang Dunia Pertama) dari Sosial Demokrat Jerman.

[7] Pada tahun 1909, Lenin mengutip buku Hasil dan Prospek di dalam sebuah artikel polemik melawan Martov. Akan tetapi, tidaklah sulit untuk membuktikan bahwa Lenin mendapatkan kutipan tersebut dari tangan-kedua, yakni dari Martov sendiri. Inilah satu-satunya cara menjelaskan keberatannya Lenin yang ditujukan kepada saya, yang jelas-jelas berdasarkan kesalahpahaman.

Pada tahun 1919, State Publishing House menerbitkan buku Hasil dan Prospek  saya sebagai sebuah pamflet. Catatan pada edisi komplit karya-karya Lenin, dimana teori revolusi permanen ‘sekarang’ menjadi terkenal, setelah Revolusi Oktober, berasal dari kira-kira tahun yang sama. Apakah Lenin membaca Hasil dan Prospek saya pada tahun 1919 atau hanya membacanya sekilas? Saya tidak bisa menjawab ini dengan jelas. Saat itu saya selalu di dalam perjalanan, datang ke Moskow hanya untuk sebentar, dan selama pertemuan saya dengan Lenin di dalam periode tersebut – pada puncak perang sipil – kenangan perbedaan faksional tidak pernah masuk ke dalam pikiran kita. Tetapi A.A. Joffe berbicara dengan Lenin, sekitar saat itu, mengenai teori Revolusi Permanen. Joffe melaporkan percakapan dia di dalam surat selamat-tinggalnya yang dia tulis kepada saya sebelum dia meninggal (Baca My Life) Dapatkah pernyataan A.A. Joffe berarti bahwa Lenin pada tahun 1919 untuk pertama kalinya membaca Hasil dan Prospek dan mengakui kebenaran dari prognosis sejarah yang terkandung di dalamnya? Dalam hal ini, saya hanya bisa mengekspresikan prediksi psikologis. Kekuatan dari keyakinan atas prediksi ini tergantung pada evaluasi bagian utama dari masalah itu sendiri. Kata-kata Joffe, dimana Lenin mengkonfirmasikan kebenaran dari prognosis saya, pasti tampak aneh bagi seseorang yang dibesarkan dengan teori pasca-Lenin. Di sisi yang lain, siapapun yang melihat evolusi pemikiran Lenin di dalam hubungannya dengan perkembangan revolusi itu sendiri akan mengerti bahwa Lenin, pada tahun 1919, harus membuat sebuah evaluasi yang baru akan teori revolusi permanen. Ini berbeda dengan teori revolusi permanen yang dulu dia pertimbangkan secara tidak konsisten, sekilas saja, dan kadang penuh kontradiksi, sebelum Revolusi Oktober, berdasarkan kutipan-kutipan terisolasi tanpa bahkan menganalisa posisi saya secara keseluruhan.

Untuk mengkonfirmasikan kebenaran dari prognosis saya pada tahun 1919, Lenin tidak perlu mempertentangkan posisi saya dengan posisinya. Kita cukup melihat kedua posisi ini di dalam perkembangan sejarahnya. Kita tidak perlu mengulangi di sini bahwa isi konkrit yang selalu Lenin berikan pada formula ‘kediktatoran demokratik’ dan yang tidak mengalir dari formula hipotetikal dan mengalir dari analisa perubahan yang sesungguhnya di dalam relasi kelas – bahwa isi taktikal dan organisasional ini telah menjadi sebuah model klasik realisme revolusioner di dalam sejarah. Di dalam hampir semua kasus atau di semua kasus yang penting, dimana saya menentang Lenin secara taktikal dan organisasional, dia selalu benar. Inilah mengapa saya tidak tertarik untuk membela prognosis sejarah saya yang lama, selama ini hanya merupakan kenang-kenangan sejarah. Tetapi saya menemukan diri saya terpaksa harus kembali ke permasalahan ini ketika para epigone yang mengkritik teori revolusi permanen bukan hanya mulai membesarkan reaksi teoritis di dalam Internasionale (Komintern), tetapi juga merubahnya menjadi alat sabotase langsung terhadap Revolusi Cina. – Catatan Leon Trotsky.

[8] Novaya Zhizn adalah koran harian dari tendensi Menshevik, namun bimbang dan kadang-kadang mengambil posisi Bolshevik. Koran tersebut adalah koran dari kelompok Sosial Demokrat yang dikenal sebagai Internationalists, yang anggotanya adalah Menshevik pengikut Martov dan intelektual non blok. Koran tersebut diterbitkan di Petrograd dimulai pada bulan April 1917. Setelah Revolusi Oktober dia beragitasi melawan pemerintah Soviet dan ditutup pada Juli 1918.

[9] Nachalo adalah majalah Marxis Rusia yang mulai terbit dari tahun 1899.

[10] Pada bulan Desember 1905, Revolusi 1905 berakhir dengan pembantaian kaum pekerja yang dilakukan oleh tentara pemerintahan, dan ribuan buruh tewas.

[11] Partai Sosialis Revolusioner (disingkat SR) dibentuk pada tahun 1902, mewarisi banyak ide dan praktek dari Partai Kehendak Rakyat dan Narodniki.  Mereka menekankan bahwa kaum tani adalah kelas yang revolusioner, bukan pekerja perkotaan.Pada tahun 1917, partai SR pecah menjadi SR Kiri dan SR Kanan. SR Kanan mendukung Pemerintahan Sementara sedangkan SR Kiri beragitasi untuk penggulingannya. Dengan munculnya pemerintahan Soviet, SR Kiri bergabung dengannya namun SR Kanan meneruskan taktik teroris mereka dan akhirnya dilarang.

[12] Leon Trotsky saat itu mencoba mendamaikan kedua faksi Bolshevik dan Menshevik, dengan berharap kalau faksi Menshevik akan bergerak ke kiri. Inilah mengapa dia berada di luar faksi tersebut.

[13] Bersifat mendidik.

[14] Otto Wilhelm Kuusinen (1881-1964) adalah salah seorang pendiri Partai Komunis Finlandia dan anggota Komintern.

[15] Bohumir Smeral (1880-1941) adalah seorang Sosial Demokrat Cekoslovakia yang pada awalnya mendukung Perang Dunia Pertama, adalah pemimpin sayap kanan dari Partai Komunis Cekoslovakia. Pada tahun 1926 dia menjadi anggota Komite Eksekutif Komunis Internasional di Moskow untuk beberapa tahun, deputi setia dari Stalin. Setelah Pakta Munich (1938), dia kembali ke Uni Soviet.

[16] Seperti diketahui, notulensi-notulensi dari pertemuan bersejarah tersebut dibuang dari Jubilee Book atas perintah khusus Stalin dan hingga hari ini disembunyikan dari partai – L. T

[17] M.N. Pokrovsky, pejabat di Pemerintahan Sementara Rusia. Pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, kemudian menjadi wakil ketua Central War Industries Committee dan juga anggota Dewan Bank Rusia untuk Perdagangan Luar Negeri.


PENGANTAR EDISI JERMAN
DAFTAR ISI
BAB II