Buku ini didedikasikan untuk isu yang erat kaitannya dengan sejarah tiga Revolusi Rusia[1]. Namun tidak hanya dengan sejarah itu saja. Isu ini sudah memainkan peran yang besar pada tahun-tahun terakhir ini di dalam perjuangan internal Partai Komunis Uni Soviet[2]; perjuangan yang kemudian terbawa juga ke dalam Komunis Internasional[3], isu ini juga memainkan peran menentukan dalam perkembangan Revolusi Cina[4] dan menentukan sejumlah besar keputusan-keputusan penting mengenai persoalan yang berkaitan dengan perjuangan revolusioner negeri-negeri Timur. Isu ini berkaitan dengan teori revolusi permanen, yang menurut ajaran para epigone[5] Leninisme (Zinoviev[6], Stalin[7], Bukharin[8], dsb) adalah dosa utama dari ‘Trotskisme’.
Persoalan mengenai revolusi permanen kembali muncul pada tahun 1924 setelah jangka waktu yang lama, dan dilihat secara sekilas kemunculan kembalinya terlihat sangat tidak terduga. Tidak ada pembenaran politik untuk kemunculannya; kemunculannya adalah akibat perbedaan pendapat di masa lalu. Namun terdapat juga motif psikologis yang penting. Kelompok yang disebut dengan ‘Bolshevik Tua’ yang telah memulai perselisihan melawan saya mengawali dengan menyatakan diri mereka sendiri sebagai ‘Bolshevik Old Guard’. Namun satu halangan besar untuk klaim mereka adalah kejadian tahun 1917. Sejarah perjuangan dan persiapan ideologis sebelum tahun 1917 sangatlah penting. Persiapan yang tidak hanya berkaitan dengan partai secara keseluruhan namun juga berkaitan dengan individu-individu berbeda yang terlibat di dalamnya. Namun demikian periode persiapan tersebut menemukan masa pengujian puncak dan khususnya pada Revolusi Oktober[9]. Tidak ada satupun epigone di atas yang lulus dari ujian ini. Pada waktu Revolusi Februari 1917[10], mereka semua, tanpa terkecuali, mengadopsi posisi vulgar Sayap Kiri demokratik. Tidak satupun diantara mereka yang mengajukan slogan perjuangan buruh untuk kekuasaan. Mereka semua menganggap jalan menuju revolusi sosialis adalah konyol atau – sama saja buruknya – sebagai ‘Trotskisme’. Dengan semangat ini mereka memimpin partai hingga saat kedatangan Lenin dari luar negeri dan publikasi Tesis April[11]-nya yang terkenal. Setelah itu, Kamenev[12], yang sudah berseteru langsung dengan Lenin, secara terbuka mencoba membentuk sebuah sayap demokratik Bolshevisme. Yang kemudian diikuti oleh Zinoviev, yang datang bersama Lenin. Stalin, yang sangat berkompromi dengan posisi sosial-patriotiknya, menyingkir ketepian. Dia membuat partai melupakan artikel-artikel dan pidato-pidatonya yang buruk saat minggu-minggu bulan Maret yang menentukan. Lambat laun dia merubah posisinya sesuai dengan cara pandang Lenin. Inilah mengapa secara otomatis muncul pertanyaan: Apa yang dipahami oleh para ‘Bolshevik Tua’ itu dari Leninisme ketika tidak satupun dari mereka yang menunjukkan kemampuan untuk menerapkan secara independen pengalaman teoritis dan praktek partai pada saat yang paling penting dan kritis dalam sejarah? Namun begitu, perhatian untuk pertanyaan tersebut harus dialihkan. Lalu muncul pertanyaan lainnya untuk menggantikannya. Hingga saat ini, telah diputuskan untuk berkonsentrasi menyerang teori revolusi permanen. Musuh-musuh saya, tentu saja, sebelumnya tidak mengira bahwa dalam menciptakan poros perjuangan artifisial, mereka dipaksa – agar dapat dipahami – untuk memutarnya pada diri mereka sendiri. Dan dengan metode pembalikan mereka harus menciptakan sebuah cara pandang dunia untuk mereka sendiri.
Tesis-tesis utama dari teori revolusi permanen sudah saya formulasikan bahkan sebelum peristiwa penting pada tahun 1905. Rusia pada saat itu sedang mendekati revolusi borjuis. Tidak ada satu orangpun di dalam jajaran Sosial Demokrat Rusia (kita semua menyebut diri kita Sosial Demokrat pada waktu itu) yang memiliki keraguan bahwa kita sedang mendekati revolusi borjuis, yakni sebuah revolusi yang dihasilkan dari kontradiksi antara perkembangan kekuatan produksi masyarakat kapitalis dengan kasta yang sekarat serta hubungan negara dalam periode perhambaan (serfdom) dan Abad Pertengahan. Dalam perjuangan melawan kaum Narodnik[13] dan kaum anarkis, saya mendedikasikan tidak sedikit pidato-pidato dan artikel-artikel yang berkaitan dengan analisa Marxis terhadap karakter borjuis pada revolusi yang akan datang.
Namun karakter borjuis dari revolusi tidak dapat langsung menjawab pertanyaan mengenai klas-klas mana yang akan menuntaskan tugas-tugas revolusi demokratik, serta seperti apa hubungan mutual antar klas-klas tersebut. Tepat pada poin inilah persoalan strategis pokok dimulai.
Plekhanov, Axelrod, Zasulich[14], Martov[15] dan mengikuti mereka, semua kaum Menshevik Rusia, mengambil sebagai titik tolak analisa mereka bahwa peran kepemimpinan revolusi borjuis adalah milik kaum borjuis liberal, sebagai kandidat alami pemegang kekuasaan. Menurut pola ini, partai proletariat mendapat peran sebagai Sayap Kiri dalam front demokratik. Kaum Sosial Demokrat berfungsi untuk mendukung kaum borjuis liberal melawan reaksi dan pada saat yang sama membela kepentingan kaum proletar melawan kaum borjuis liberal. Dalam kata lain, kaum Menshevik memahami revolusi borjuis secara prinsipil sebagai sebuah reformasi konstitusional-liberal.
Lenin mengajukan pertanyaan ini dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Bagi Lenin, pembebasan kekuatan produksi masyarakat borjuis dari kekangan perhambaan menandakan, pertama dan terutama, solusi radikal terhadap persoalan agraria. Hal tersebut dalam makna penghancuran sepenuhnya klas pemilik tanah dan redistribusi revolusioner kepemilikan tanah. Tidak dapat dipisahkan dari ini adalah penghancuran monarki. Dengan keyakinan revolusioner sejati, Lenin menyerang persoalan agraria, yang mempengaruhi kepentingan vital mayoritas besar populasi dan pada saat yang sama menyusun persoalan dasar pasar kapitalis. Kaum borjuis liberal yang berhadapan dengan para pekerja sebagai seorang musuh terikat sepenuhnya pada kepemilikan tanah yang besar. Oleh karenanya pembebasan demokratik sejati dari kaum tani hanya dapat dicapai dengan kerja sama antara kaum buruh dan kaum tani. Menurut Lenin, kebangkitan bersama kaum buruh dan kaum tani melawan tatanan masyarakat tua, jika menang, akan menuju pada pendirian ‘kediktatoran demokratik buruh dan kaum tani’.
Formulasi tersebut sekarang diulang-ulang di dalam Komunis Internasional sebagai semacam dogma suprahistoris, tanpa berusaha untuk menganalisa pengalaman sejarah yang hidup dalam seperempat abad terakhir – seolah-olah kita bukanlah saksi dan partisipan dalam Revolusi 1905[16], Revolusi Februari 1917 dan akhirnya Revolusi Oktober 1917. Bagaimanapun juga analisa sejarah semacam itu semakin penting karena belum pernah ada dalam sejarah sebuah rejim ‘kediktatoran demokratik buruh dan kaum tani’.
Pada tahun 1905, masalah ini bagi Lenin adalah sebuah hipotesa strategis yang masih harus diverifikasi oleh gerak nyata perjuangan klas. Formulasi kediktatoran demokratik buruh dan kaum tani memiliki sebuah karakter aljabar yang disengaja. Lenin tidak menuntaskan dahulu pertanyaan bagaimana hubungan politik antara dua elemen dalam kediktatoran demokratik tersebut: kaum proletariat dan kaum tani. Lenin tidak mengabaikan kemungkinan bahwa dalam revolusi, kaum tani akan diwakili oleh sebuah partai independen – sebuah partai yang independen dalam makna ganda, yang bukan hanya dalam hubungannya dengan borjuis namun juga dengan proletariat, serta pada waktu yang sama mampu mencapai revolusi demokratik dengan aliansi bersama partai proletariat. Aliansi tersebut dilakukan dalam perjuangan melawan borjuis liberal. Lenin bahkan mempertimbangkan kemungkinan – yang akan kita lihat nanti – bahwa partai kaum tani revolusioner dapat menjadi mayoritas dalam pemerintahan kediktatoran demokratik.
Setidaknya sejak musim gugur tahun 1902, saat pertama kali berada diluar negeri, saya sependapat dengan Lenin mengenai pentingnya revolusi agraria di dalam nasib revolusi borjuis kita. Kita setuju bahwa revolusi agraria, dan sebagai akibatnya, juga revolusi demokratik secara umum, hanya dapat dicapai oleh kesatuan kekuatan buruh dan petani dalam perjuangan melawan borjuis liberal. Dan ini, tanpa diragukan lagi, bertentangan dengan semua dongeng murahan dalam beberapa tahun terakhir ini. Namun saya menentang formulasi ‘kediktatoran demokratik proletariat dan kaum tani’ karena saya melihat kekurangannya dalam menjawab: klas mana yang akan berkuasa dan memegang kediktatoran? Saya berusaha keras untuk menunjukkan bahwa meskipun kaum tani memiliki kekuatan revolusioner dan sosial yang besar, dia tidak mampu menciptakan sebuah partai yang benar-benar independen dan bahkan tidak mampu mengkonsentrasikan kekuasaan revolusionernya ditangan partai semacam itu. Seperti di dalam revolusi-revolusi sebelumnya, dari Reformasi Jerman pada abad keenam belas[17] dan bahkan sebelumnya, kaum tani dalam pemberontakannya memberikan dukungan pada salah satu seksi borjuis perkotaan dan tidak jarang memastikan kemenangan mereka. Jadi dalam revolusi borjuis kita yang telat ini kaum tani dalam puncak perjuangannya dapat saja memberikan dukungan yang serupa kepada kaum proletar dan membantunya mendapatkan kekuasaan. Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa revolusi borjuis kita dapat menuntaskan tugasnya secara radikal hanya kalau kaum proletar, dengan bantuan jutaan kaum tani, terbukti mampu mengkonsentrasikan kediktatoran revolusioner ke dalam tangannya sendiri.
Apa yang akan menjadi isi sosial dari kediktatoran ini? Pertama sekali, dia harus mampu menuntaskan revolusi agraria dan rekonstruksi demokratik Negara. Dengan kata lain, kediktatoran proletariat akan menjadi alat untuk menuntaskan tugas sejarah revolusi borjuis yang telat ini. Namun persoalannya tidak hanya selesai di sini. Setelah mendapatkan kekuasaan, kaum proletar akan dipaksa masuk lebih jauh menuju hubungan kepemilikan pribadi secara umum, yaitu untuk mengambil langkah-langkah sosialis.
“Namun dapatkah kau sungguh-sungguh percaya”, para Stalinis, Rykov[18] dan semua Molotov[19] lainnya yang antara tahun 1905 hingga 1917 berkali-kali menentang, “bahwa Rusia sudah matang untuk revolusi sosialis?” Saya selalu menjawab: Tidak, saya tidak percaya. Ekonomi dunia secara keseluruhan dan ekonomi Eropa secara khusus, sepenuhnya sudah matang untuk revolusi sosialis. Apakah kediktatoran proletariat di Rusia menuju ke sosialisme atau tidak, serta dalam tempo apa dan melalui tahapan-tahapan seperti apa, akan tergantung pada nasib kapitalisme Eropa dan dunia.
Inilah karakter-karakter esensial dari teori Revolusi Permanen pada permulaannya di awal tahun 1905. Sejak saat itu, tiga revolusi telah terjadi. Kaum poletar Rusia naik ke tampuk kekuasaan di atas gelombang besar pemberontakan kaum tani. Kediktaktoran proletariat menjadi sebuah kenyataan di Rusia lebih cepat dibandingkan negeri-negeri lain yang jauh lebih berkembang di dunia. Pada tahun 1924, tidak lebih dari tujuh tahun semenjak prognosis sejarah teori revolusi permanen telah terbukti dengan sangat jelas, para epigone memulai serangan membabi-buta melawan teori ini, mencomot pernyataan sepotong-potong dan tanggapan polemik dari karya-karya saya di masa lampau, yang saat itu telah sepenuhnya saya lupakan.
Harus diingat bahwa revolusi Rusia yang pertama (Revolusi 1905) pecah setelah gelombang revolusi borjuis di Eropa lebih dari setengah abad yang lalu dan tiga puluh lima tahun setelah pemberontakan Komune Paris[20]. Eropa memiliki waktu untuk tumbuh tidak terbiasa dengan revolusi. Rusia tidak memiliki pengalaman itu sama sekali. Semua persoalan mengenai revolusi sepenuhnya diajukan dengan baru. Tidaklah sulit untuk memahami berapa besarnya ketidaktahuan dan dugaan-dugaan yang diajukan saat ini mengenai revolusi Rusia di masa depan. Formulasi semua kelompok, dalam caranya masing-masing, adalah hipotesa. Seseorang pastilah tidak memiliki kemampuan untuk menganalisa sejarah dan tidak memahami metode analisa sejarah jika sekarang, setelah peristiwa Revolusi Rusia, mereka mempertimbangkan analisa-analisa dan evaluasi-evaluasi dari tahun 1905 seolah-olah mereka ditulis kemarin hari. Saya sering mengatakan pada diri saya sendiri dan kawan-kawan saya: Saya tidak memiliki keraguan bahwa analisa saya pada tahun 1905 memiliki banyak kekurangan yang dapat dengan mudah terlihat sekarang, setelah Revolusi. Namun apakah para kritikus mampu melihat lebih baik dan lebih jauh? Tanpa membaca ulang karya-karya lama saya, saya siap mengakui kekurangan-kekurangan karya-karya saya tersebut. Saya meyakini hal ini pada tahun 1928, ketika waktu luang akibat pengasingan di Alma-Ata[21] memberikan saya kesempatan untuk membaca ulang serta mengoreksi karya-karya lama saya mengenai persoalan revolusi permanen. Saya berharap pembaca juga akan menjadi yakin akan hal tersebut setelah membaca halaman-halaman berikut ini.
Bagaimanapun juga, dalam batasan kata pendahuluan ini, kita perlu mengajukan setepat mungkin karakterisasi elemen-elemen penyusun dari teori revolusi permanen, dan keberatan-keberatan yang paling pokok terhadap teori revolusi permanen ini. Perselisihan ini telah begitu meluas dan mendalam sehingga sekarang secara esensi ini mencakup semua pertanyaan penting mengenai gerakan revolusioner dunia.
Revolusi permanen, dalam penjelasan Marx, berarti sebuah revolusi yang tidak membuat kompromi dengan bentuk kekuasaan klas apapun, revolusi yang tidak berhenti pada tahapan demokratik namun terus bergerak pada pelaksanaan langkah-langkah sosialis dan berperang melawan reaksi dari luar: yaitu, sebuah revolusi yang setiap tahapan suksesnya berakar pada tahapan sebelumnya dan yang hanya berakhir pada likuidasi masyarakat kelas secara total.
Untuk menghilangkan kekacauan yang telah diciptakan di seputar teori revolusi permanen, sangat perlu untuk membedakan tiga garis pemikiran yang disatukan dalam teori ini.
Pertama, teori tersebut mencakup persoalan transisi dari revolusi demokratik menuju revolusi sosialis. Hal ini secara esensial adalah asal historis teori tersebut.
Konsep revolusi permanen dimajukan oleh para tokoh-tokoh Komunis pada pertengahan abad kesembilan belas, Marx dan para kawan pemikirnya, dalam pertentangannya dengan ideologi demokratik yang mengklaim bahwa dengan pendirian sebuah negara ‘rasional’ atau demokratik semua permasalahan dapat diselesaikan secara damai melalui langkah-langkah reformis atau evolusioner. Marx menganggap revolusi borjuis tahun 1848 sebagai pengantar bagi revolusi proletariat. Marx ‘keliru’. Namun kekeliruan dia memiliki karakter faktual dan bukan metodologis. Revolusi 1848 tidak berubah menjadi revolusi sosialis. Namun karena itu pulalah revolusi tersebut tidak mencapai demokrasi. Sedangkan pada Revolusi Jerman 1918, tidak ada penuntasan demokratik dalam revolusi borjuis. Revolusi tersebut adalah revolusi proletar yang dipancung lehernya oleh kaum Sosial Demokrat; lebih tepatnya, revolusi tersebut adalah kontra-revolusi borjuis yang terpaksa menjaga bentuk demokrasi palsu setelah kemenangan atas proletariat.
‘Marxisme’ vulgar telah memunculkan sebuah pola perkembangan sejarah, yang menurutnya setiap masyarakat borjuis cepat atau lambat akan membentuk sebuah rejim demokratik. Setelah rejim demokratik ini tercapai, kaum proletar di bawah kondisi demokrasi secara bertahap diorganisir dan dididik untuk sosialisme. Transisi nyata menuju sosialisme ini sudah dipikirkan dalam berbagai bentuk: para reformis ini menggambarkan transisi tersebut sebagai sesuatu yang terjadi seiring kaum reformis mengisi demokrasi dengan isi sosialis (Jaurès[22]); para revolusionis formal mengakui tak terelakannya penggunaan kekerasan revolusioner dalam transisi menuju sosialisme (Guesde[23]). Namun kedua pihak tersebut menganggap demokrasi dan sosialisme, untuk semua rakyat dan semua negeri, sebagai dua tahap perkembangan masyarakat yang tidak hanya berbeda namun juga dipisahkan oleh jarak waktu yang sangat panjang. Pandangan tersebut juga mendominasi kaum Marxis Rusia, yang pada periode 1905, berada pada Sayap Kiri dari Internasionale Kedua[24]. Plekhanov, bapak Marxis Rusia, menganggap ide kediktatoran proletariat sebuah khayalan di dalam kondisi Rusia kontemporer. Titik pandang yang sama dibela bukan hanya oleh kaum Menshevik namun juga oleh mayoritas pemimpin Bolshevik, terutama sekali oleh pemimpin-pemimpin partai saat ini, tanpa terkecuali. Pada masa kejayaan mereka, mereka semua adalah kaum demokrat revolusioner yang tegas, namun bagi mereka persoalan revolusi sosialis, tidak hanya pada tahun 1905 namun juga menjelang 1917, masih merupakan musik samar-samar dalam kejauhan.
Teori Revolusi Permanen, yang berawal pada tahun 1905, menyatakan perang terhadap ide-ide dan kecenderungan-kecenderungan tersebut. Teori Revolusi Permanen menjelaskan bahwa, dalam era kita saat ini, tugas-tugas demokratik bangsa borjuis terbelakang akan mengantarkan kita langsung ke kediktatoran proletariat, dan bahwa kediktatoran proletariat ini menempatkan tugas-tugas sosialis pada saat itu juga. Inilah ide utama Teori Revolusi Permanen. Sementara pandangan tradisional mengatakan bahwa jalan menuju kediktatoran proletariat harus melewati periode demokrasi yang panjang, teori revolusi permanen menegakkan fakta bahwa bagi negeri-negeri terbelakang jalan menuju demokrasi adalah melewati kediktatoran proletariat. Dengan demikian demokrasi bukanlah sebuah rejim yang tetap statis selama puluhan tahun, namun hanyalah sebuah pengantar (pendahuluan) langsung untuk revolusi sosialis. Keduanya saling terkait satu sama lain oleh rantai yang tidak terpatahkan. Dengan demikian diantara revolusi demokratik dan rekonstruksi sosialis masyarakat terdapat sebuah perkembangan revolusioner yang bersifat permanen.
Aspek kedua dari teori ‘permanen’ berkaitan dengan revolusi sosialis ini. Dalam waktu yang sangat panjang dan di dalam perjuangan internal yang terus menerus, semua hubungan sosial mengalami transformasi. Masyarakat terus berganti kulit. Setiap tahap transformasi muncul langsung dari tahapan sebelumnya. Proses ini secara tak terelakkan akan mengambil sebuah karakter politik, yakni dia berkembang melalui benturan antara berbagai macam kelompok dalam masyarakat yang sedang ber-transformasi. Pecahnya perang sipil dan perang melawan kekuatan asing diikuti oleh periode reformasi ‘damai’, lalu diikuti kembali oleh perang sipil, dan seterusnya secara bergantian. Revolusi dalam ekonomi, teknik, ilmu pengetahuan, keluarga, moral dan kehidupan sehari-hari berkembang di dalam aksi timbal-balik yang kompleks dan tidak memungkinkan masyarakat mencapai keseimbangan. Disitulah terdapat karakter permanen dari revolusi sosialis.
Karakter internasional dari revolusi sosialis, yang menyusun aspek ketiga dari teori revolusi permanen, muncul dari kondisi ekonomi dan struktur sosial masyarakat saat ini. Internasionalisme bukanlah prinsip yang abstrak namun ia merupakan sebuah refleksi teoritis dan politik dari karakter ekonomi dunia, dari perkembangan kekuatan produksi dunia dan perjuangan klas skala dunia. Revolusi sosialis dimulai pada pondasi nasional – namun tidak dapat dituntaskan di dalam pondasi tersebut. Berjalannya revolusi proletariat di dalam kerangka nasional hanya merupakan sebuah kondisi sementara, meskipun seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman Uni Soviet kondisi sementara ini dapat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Dalam kediktatoran proletariat yang terisolasi, kontradiksi-kontradiksi internal dan eksternal niscaya tumbuh seiring dengan keberhasilan-keberhasilan yang dicapainya. Jika dia tetap terisolasi, negara proletar pada akhirnya akan menjadi korban dari kontradiksi tersebut. Jalan keluar darinya hanya terdapat pada kemenangan proletariat di negeri-negeri maju. Dilihat dari sudut pandang tersebut, revolusi nasional tidaklah cukup; dia hanyalah satu mata rantai dari rantai internasional. Revolusi internasional merupakan sebuah proses permanen, walaupun ia mengalami kemunduran-kemunduran yang sementara.
Meski tidak selalu jelas, perlawanan para epigone diarahkan melawan ketiga aspek teori revolusi permanen ini. Dan bagaimana mungkin tidak, ketika ini adalah tiga aspek yang saling bertautan dalam satu kesatuan? Para epigone secara mekanik memisahkan kediktatoran demokratik dan sosialis. Mereka memisahkan revolusi sosialis nasional dari internasional. Secara esensi mereka menganggap bahwa penaklukan kekuasaan di dalam batasan nasional bukanlah tindakan awal namun tindakan akhir dari revolusi; setelah itu diikuti oleh periode reformasi yang menuju pada masyarakat sosialis nasional. Pada tahun 1905, mereka bahkan tidak menyetujui gagasan bahwa kaum proletar dapat menaklukan kekuasaan di Rusia lebih dahulu dibandingkan Eropa Barat. Pada tahun 1917, mereka menyerukan revolusi demokratik yang mandiri di Rusia dan menolak kediktatoran proletariat. Pada tahun 1925-27, mereka mengarahkan revolusi nasional di Cina di bawah kepemimpinan borjuis nasional. Kemudian, mereka menyerukan slogan kediktatoran buruh dan petani di Cina, dan menentang slogan kediktatoran proletariat. Mereka menyerukan kemungkinan pembangunan sebuah masyarakat sosialis yang terisolasi dan mandiri di Uni Soviet. Revolusi dunia bagi mereka hanya menjadi sebuah kondisi yang menguntungkan, ketimbang sebuah kondisi yang dibutuhkan bagi kemenangan mutlak revolusi. Perpecahan yang mendalam dengan Marxisme dicapai oleh para epigone dalam proses perjuangan permanen melawan teori revolusi permanen.
Konflik ini, yang dimulai dengan membangkitkan kembali secara artifisial kenang-kenangan historis dan pemalsuan masa lalu, menuju pada transformasi total dari cara pandang dunia strata penguasa dalam revolusi. Kita telah berulang-kali menerangkan bahwa evaluasi ulang terhadap nilai-nilai revolusi ini dilakukan di bawah pengaruh kebutuhan sosial dari kaum birokrasi Soviet; yakni birokrasi yang menjadi semakin konservatif, mengejar stabilitas nasional dan menuntut bahwa revolusi yang telah dicapai, revolusi yang sudah menjamin posisi istimewa untuk birokrasi, dianggap cukup untuk pembangunan sosialisme secara damai. Kami tidak ingin kembali pada tema ini di sini. Cukup untuk dicatat bahwa birokrasi ini sangat sadar akan hubungan posisi material dan ideologis-nya dengan teori sosialisme nasional. Hal ini diekspresikan dengan sembrono saat ini, meskipun, atau lebih tepatnya disebabkan karena mesin pemerintah Stalinis, di bawah tekanan kontradiksi yang tidak diperkirakannya, dipaksa bergerak menuju ke kiri dan mengantarkan pukulan yang sangat kuat terhadap Sayap Kanan yang dahulu memberikannya inspirasi. Rasa bermusuhan para birokrat terhadap kelompok Oposisi Marxis[25], yang slogan dan argumentasinya mereka pinjam secara serampangan, seperti yang kita ketahui, tidaklah menghilang sama sekali. Kaum Oposisi yang memohon supaya mereka diterima kembali ke dalam partai untuk mendukung jalan industrialisasi, dsb, dituntut oleh birokrasi Stalinis, pertama dan terutama, untuk mengutuk teori revolusi permanen, dan mengakui, bahkan jika secara tidak langsung, teori sosialisme di satu negara. Hal ini mengungkapkan karakter taktikal dari gerak ke kiri birokrasi Stalinis, sambil memegang pondasi nasional-reformisnya yang bersifat strategis.Kita tidak perlu lagi menjelaskan ini; bahwa di dalam politik seperti di dalam perang, taktik pada akhirnya adalah subordinat terhadap strategi.
Konflik ini telah melewati batasan perjuangan melawan ide ‘Trotskisme'. Secara berangsur-angsur melampaui dirinya sendiri, konflik ini sekarang secara harafiah telah mencakup semua permasalahan cara pandang dunia revolusioner. Revolusi permanen atau sosialisme di satu negara – pilihan ini mencakup persoalan internal Uni Soviet, prospek-prospek revolusi di Timur, dan pada akhirnya, nasib Komunis Internasional secara keseluruhan.
Karya ini tidak menganalisa permasalahan ini dari semua sisi tersebut; kita tidak perlu mengulangi apa yang telah tertulis di dalam karya-karya yang lainnya. Dalam “Criticism of the Draft Programme of the Communist International”[26], saya telah berusaha untuk membongkar secara teori bahwa sosialisme nasional tidaklah dapat dipertahankan secara ekonomi dan politik. Teoritikus dari Komintern tetap bungkam mengenai hal ini. Bungkam memang satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan. Di dalam buku ini, di atas segalanya, saya memulihkan teori revolusi permanen seperti ketika diformulasikan pada tahun 1905 berkaitan dengan persoalan internal revolusi Rusia. Saya menunjukkan dalam persoalan apa posisi saya sebetulnya berbeda dengan posisi Lenin, serta bagaimana dan kenapa dalam setiap situasi yang menentukan posisi saya berkesinambungan dengan posisi Lenin. Akhirnya, saya berusaha untuk mengungkapkan pentingnya teori revolusi permanen bagi proletariat di negeri-negeri terbelakang dan oleh karena itu bagi Komunis Internasional secara keseluruhan.
Tuduhan-tuduhan apa saja yang telah dilontarkan oleh para epigone ini untuk melawan teori revolusi permanen? Jika kita buang banyak sekali kontradiksi dari kritikus saya, maka secara keseluruhan tulisan mereka dapat direduksi menjadi beberapa proposisi sebagai berikut:
Tema-tema di atas bukan hanya terdapat di dalam tulisan-tulisan dan pidato-pidatonya Zinoviev, Stalin, Bukharin dan yang lainnya, namun juga diformulasikan di dalam resolusi-resolusi yang paling tinggi dari Partai Komunis Uni Soviet dan Komunis Internasional. Dan meskipun begitu, seseorang akan mengatakan bahwa kritik-kritik ini berdasarkan atas campuran ketidakjujuran dan kebodohan.
Dua poin pertama dari kritik-kritik tersebut, seperti akan kita lihat nanti, adalah keliru sampai ke akar-akarnya. Tidak, saya memulai justru dari karakter demokratik borjuis dari revolusi Rusia dan tiba pada kesimpulan bahwa dalamnya krisis agraria dapat mendorong proletariat di Rusia yang terbelakang untuk mengambil kekuasaan. Betul, ini adalah gagasan yang saya pertahankan pada permulaan Revolusi 1905. Ini adalah gagasan yang digambarkan oleh penamaan revolusi sebagai ‘permanen’, yaitu sebuah revolusi yang tidak terinterupsi, sebuah revolusi yang langsung bergerak dari tahapan borjuis ke sosialis. Untuk mengekspresikan ide yang sama, Lenin kemudian menggunakan ekspresi yang luar biasa: yakni revolusi borjuis yang tumbuh menuju revolusi sosialis. Konsepsi ‘tumbuh menuju’ oleh Stalin, setelah kematian Lenin (pada tahun 1924), dipertentangkan dengan revolusi permanen, yang diajukan oleh Stalin sebagai sebuah lompatan langsung dari dunia otokrasi ke dunia sosialisme. “Teoritikus” yang tidak-bermasa-depan ini bahkan tidak mencoba untuk mempertimbangkan: Apakah yang dimaksudkan dengan ke-permanen-an dari revolusi, yaitu, perkembangan yang tidak terinterupsi-nya, jika semua yang dimaksudkan adalah hanya sekadar lompatan?
Mengenai tuduhan ketiga, ini didikte oleh kepercayaan (yang berumur pendek) dari para epigone terhadap kemungkinan menetralisir kaum borjuis imperialis untuk waktu yang tidak terbatas dengan bantuan dari tekanan kaum proletar yang terorganisir “secara cerdik”. Pada tahun 1924-27, ini merupakan gagasan utama Stalin. Komite Inggris-Rusia[27] adalah hasilnya. Kekecewaan terhadap kemampuan untuk mengikat tangan dan kaki borjuis dunia dengan bantuan Purcell[28], Radic[29], LaFollette[30] and Chiang Kai-shek[31] berujung pada ketakutan yang hebat atas bahaya perang yang segera. Komintern masih melewati periode ini.
Keberatan keempat terhadap teori revolusi permanen sebenarnya hanya mengatakan bahwa saya pada tahun 1905 tidak mendukung teori sosialisme di satu negara, teori yang pertama kali dibuat Stalin untuk birokrasi Soviet pada tahun 1924. Tuduhan ini adalah sebuah keanehan historis belaka. Seseorang mungkin dapat percaya bahwa lawan-lawan saya, bila mereka berpikir secara politik pada tahun 1905, mendukung gagasan bahwa Rusia telah matang untuk sebuah revolusi sosialis independen. Namun sebenarnya, dalam periode 1905-17, mereka tanpa henti menuduh saya sebagai utopis karena saya mempertimbangkan kemungkinan bahwa proletariat Rusia dapat merebut kekuasaan sebelum proletariat Eropa Barat. Kamenev dan Rykov menuduh Lenin sebagai utopis pada bulan April 1917. Mereka menjelaskan kepada Lenin dalam kata-kata yang sederhana bahwa revolusi sosialis harus pertama kali dicapai di Inggris dan di negeri-negeri maju lainnya sebelum tercapai di Rusia. Cara pandang yang sama juga dipertahankan oleh Stalin, hingga tanggal 4 April 1917. Hanya secara gradual dan dengan penuh kesulitan dia mengadopsi formula Leninis tentang kediktatoran proletariat yang berbeda dengan kediktatoran demokratik. Pada musim semi tahun 1924, Stalin masih mengulangi apa yang dikatakan oleh orang lain kepadanya: secara sendirian, Rusia tidak matang untuk pembangunan sebuah masyarakat sosialis. Pada musim gugur tahun 1924, Stalin, dalam perjuangannya melawan teori revolusi permanen, untuk pertama kalinya menemukan kemungkinan pembangunan sebuah sosialisme terisolasi di Rusia. Hanya setelah itulah profesor-profesor Merah mengumpulkan kutipan-kutipan untuk Stalin yang menuduh bahwa Trotsky pada tahun 1905 memiliki kepercayaan – Alangkah buruknya! – bahwa Rusia hanya dapat mencapai sosialisme dengan bantuan kaum proletar Barat.
Jika seseorang mengambil sejarah perjuangan ideologis ini selama seperempat abad, memotongnya menjadi bagian-bagian kecil, mencampur adukannya dalam satu wadah dan kemudian memerintahkan seorang buta untuk menyatukannya kembali, kekacauan historis dan teoritis yang dihasilkan tidak akan lebih kacau dari apa yang diberikan oleh para epigone kepada para pendengar dan pembaca mereka.
Untuk menerangkan hubungan antara persoalan-persoalan kemarin dengan persoalan-persoalan hari ini, seseorang harus mengingat, bahkan jika hanya secara umum, apa yang telah dilakukan oleh Komintern, yaitu Stalin dan Bukharin, di Cina.
Dengan argumentasi bahwa Cina dihadapkan pada revolusi pembebasan nasional, peran kepemimpinan revolusi pada tahun 1924 diserahkan kepada kaum borjuis Cina. Partai borjuis nasional, Kuomintang[32], secara resmi diakui sebagai partai yang memimpin revolusi. Bahkan pada tahun 1905 kaum Menshevik Rusia tidak bergerak dalam kaitannya dengan partai Kadet[33] (partai borjuis liberal di Rusia).
Namun kepemimpinan Komintern tidak berhenti disitu saja. Mereka memaksa Partai Komunis Tiongkok[34] untuk masuk ke dalam Kuomintang dan tunduk pada disiplinnya. Dalam telegram khusus dari Stalin, kaum Komunis Cina didesak untuk membatasi gerakan agraria. Para buruh dan kaum tani yang bangkit memberontak dilarang untuk membentuk soviet-sovietnya[35] sendiri supaya tidak mengasingkan Chiang Kai-shek, yang dibela oleh Stalin dari serangan Kaum Oposisi sebagai seorang “sekutu yang dapat diandalkan” pada saat pertemuan partai di Moskow diawal bulan April 1927, yaitu, berapa hari sebelum kudeta kontra revolusioner di Shanghai.
Subordinasi resmi Partai Komunis Tiongkok terhadap kepemimpinan borjuis dan larangan resmi terhadap pembentukan soviet-soviet (Stalin dan Bukharin mengira bahwa Kuomintang adalah “pengganti” soviet-soviet), adalah penghianatan yang lebih besar dan jelas terhadap Marxisme ketimbang semua yang dilakukan oleh kaum Menshevik pada tahun 1905-1917.
Setelah kudeta oleh Chiang Kai-shek pada bulan April 1927, sebuah sayap kiri Koumintang di bawah kepemimpinan Wang Ching-Wei[36] pecah sementara dari Kuomintang. Wang Ching-wei dengan cepat dipuji di Pravda sebagai sekutu yang dapat dipercaya. Secara fundamental, Wang Ching-wei memiliki hubungan yang sama dengan Chiang Kai-shek seperti hubungan antara Kerensky[37] dengan Milyukov[38]. Perbedaannya di Cina adalah bahwa Milyukov dan Kornilov[39] disatukan dalam satu orang yaitu Chiang Kai-shek.
Setelah April 1927, partai Komunis Cina diperintahkan untuk masuk ke dalam Kuomintang “Kiri” dan untuk tunduk pada disiplin Kerensky Cina ini (Whang Ching-wei) ketimbang mempersiapkan perang terbuka melawannya. Wang Ching-wei “yang dapat dipercaya” ini menghancurkan Partai Komunis dan bersama dengannya gerakan buruh dan petani; sama brutalnya dengan apa yang dilakukan oleh Chiang Kai-shek, yang sebelumnya disebut sebagai sekutu yang dapat dipercaya oleh Stalin
Meskipun Menshevik mendukung Milyukov pada tahun 1905 dan setelahnya, mereka tidak pernah masuk ke dalam partai liberal. Meskipun Menshevik bergandeng tangan dengan Kerensky pada tahun 1917, mereka masih memiliki organisasinya sendiri. Kebijakan Stalin di Cina adalah sebuah karikatur buruk dari Menshevisme. Inilah isi bab pertama dan bab yang paling penting dari Komintern.
Setelah konsekuensi ini – yakni penurunan drastis dari gerakan buruh dan petani, demoralisasi dan perpecahan di dalam Partai Komunis – kepemimpinan Komintern memberikan perintah: “Belok ke Kiri!” dan menuntut transisi secepatnya menuju pemberontakan bersenjata buruh dan tani. Hingga kemarin Partai Komunis Tiongkok yang masih muda ini, yang baru saja dihancurkan dan dilumpuhkan, masih berfungsi sebagai roda kelima untuk Chiang Kai-shek dan Wang Ching-wei, dan sebagai akibatnya tidak memiliki pengalaman politik yang independen. Dan sekarang tiba-tiba partai ini diperintahkan untuk memimpin kaum buruh dan tani – yang hingga kemarin oleh Komintern ditahan di bawah bendera Kuomintang – dalam sebuah pemberontakan bersenjata melawan Kuomintang, yang pada saat bersamaan telah memiliki waktu untuk mengkonsentrasikan kekuasaan dan tentara ditangannya. Dalam waktu 24 jam sebuah soviet fiktif dibentuk di Canton. Sebuah pemberontakan bersenjata, dilaksanakan sebelum pembukaan Kongres Kelima Belas Partai Komunis Uni Soviet, mengekspresikan secara simultan heroisme kaum buruh Cina yang maju serta kriminalitas pemimpin-pemimpin Komintern. Petualangan-petualangan yang lebih kecil terjadi sebelum dan sesudah pemberontakan Canton. Inilah bab kedua dari strategi Komintern di Cina. Hal tersebut dapat dicirikan sebagai karikatur terburuk dari Bolshevisme. Bab-bab liberal-oportunis dan adventurisme memberikan sebuah pukulan kepada Partai Komunis Tiongkok yang hanya dapat membaik setelah bertahun-tahun lamanya, bahkan dengan kebijakan yang tepat.
Kongres Keenam Komintern memformulasikan sebuah neraca perimbangan dari semua kejadian ini di Cina. Kongres ini memberikannya persetujuan sepenuhnya. Ini tidaklah mengejutkan, karena Kongres ini dilaksanakan untuk tujuan tersebut. Kedepannya, Kongres memajukan slogan “kediktatoran demokratik proletariat dan petani”. Bagaimana kediktatoran tersebut akan berbeda dengan kediktatoran Kanan atau kediktatoran Kuomintang Kiri di satu sisi, dan kediktatoran proletariat di sisi yang lainnya – hal ini tidak dijelaskan kepada para Komunis Cina. Ataupun ini mustahil bisa dijelaskan.
Kongres Keenam menyerukan slogan kediktatoran demokratik dan pada saat yang sama mengutuk slogan-slogan demokratik sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima (majelis konstituante, hak pilih universal, kebebasan berpendapat dan kebebasan pers, dsb), dan oleh karena itu sepenuhnya melucuti Partai Komunis Tiongkok dihadapan kediktatoran oligarki militer. Selama bertahun-tahun, kaum Bolshevik Rusia telah memobilisasi buruh dan kaum tani dengan slogan-slogan demokratik. Slogan-slogan demokratik memainkan peran besar pada tahun 1917. Hanya setelah kekuasaan Soviet benar-benar muncul dan mengalami pertentangan politik dengan Majelis Konstituante, pertentangan yang tidak dapat didamaikan dan mendapat perhatian dari seluruh rakyat, maka baru kemudian partai kita melikuidasi institusi dan slogan demokrasi formal (demokrasi borjuis) dengan mengedepankan demokrasi soviet sejati, yaitu, demokrasi proletar.
Kongres Keenam Komintern, di bawah kepemimpinan Stalin dan Bukharin, membalikkan semua itu. Disatu sisi mereka menganjurkan slogan kediktatoran “demokratik” dan bukan “proletar” untuk Partai Komunis Tiongkok. Namun di sisi yang lain, mereka melarang penggunaan slogan demokratik untuk mempersiapkan kediktatoran tersebut. Partai Komunis Tiongkok tidak hanya dilucuti namun juga ditelanjangi. Dengan tujuan menghibur, Partai Komunis Tiongkok akhirnya diijinkan di dalam periode dominasi kontra-revolusioner yang luas untuk menggunakan slogan soviet, sebuah slogan yang sebelumnya dilarang sepanjang masa kebangkitan revolusi. Seorang pahlawan dalam dongeng Rusia yang sangat populer menyanyikan lagu-lagu pernikahan saat pemakaman dan himne pemakaman saat pernikahan. Dia dipukuli dalam kedua acara tersebut. Jika apa yang menjadi permasalahan hanya mendera administrasi para ahli strategi dari kepemimpinan Komintern, kita bisa saja berdamai dengannya. Namun sebenarnya ada hal yang jauh lebih besar yang dipertaruhkan di sini. Hal tersebut berkaitan dengan nasib kaum proletar. Taktik Komintern tersebut adalah sebuah sabotase yang tidak sadar, tapi terorganisir, terhadap Revolusi Cina. Sabotase tersebut dicapai dengan keberhasilan yang pasti, karena kebijakan Menshevik Kanan pada tahun 1924-27 disamari oleh Komintern dengan otoritas Bolshevisme dan pada saat yang sama dilindungi oleh kekuasaan Soviet dari kritik Oposisi Kiri melalui mesin represinya yang perkasa.
Sebagai akibatnya, kita menyaksikan dicapainya penuntasan percobaan strategi Stalinis, yang dimulai dari awal hingga akhir di bawah bendera perjuangan melawan revolusi permanen. Oleh karena itu cukup wajar kalau ahli teori Stalinis yang terutama yang memformulasikan gagasan subordinasi Partai Komunis Tiongkok terhadap Kuomintang borjuis-nasional adalah Martynov[40]. Martynov yang sama ini adalah anggota Menshevik yang mengkritik teori revolusi permanen dari tahun 1905 hingga 1923, tahun dimana dia mulai memenuhi misi historisnya di dalam jajaran Bolshevisme.
Fakta-fakta penting mengenai asal mula karya ini akan dibahas pada bab pertama. Di Alma-Ata saya tidak terburu-buru dalam mempersiapkan polemik teoritis melawan para epigone. Teori revolusi permanen akan menempati bagian yang besar dalam buku ini. Ketika sedang menulis buku ini, saya menerima manuskrip karya Radek[41] yang didedikasikan untuk membantah revolusi permanen dengan menggunakan garis strategis Lenin. Radek perlu menulis karya yang tidak terduga ini karena dia sendiri terlibat dalam kebijakan Cina-nya Stalin: Radek (bersama dengan Zinoviev) membela subordinasi Partai Komunis Tiongkok kepada Kuomintang tidak hanya sebelum kudeta Chiang Kai-shek namun juga setelahnya.
Untuk menyediakan basis bagi perbudakan proletariat pada borjuis, Radek tentu saja mengutip kebutuhan akan aliansi dengan kaum tani dan “peremehan” saya atas kebutuhan tersebut. Mengikuti Stalin, dia juga membela kebijakan Menshevik dengan fraseologi Bolshevik. Dengan formula kediktatoran demokratik proletariat dan kaum tani-nya Stalin, Radek sekali lagi menutupi fakta bahwa kaum proletar Cina telah dialihkan dari perjuangan independen untuk kekuasaan sebagai pemimpin massa tani. Ketika saya mengekspos topeng ideologis tersebut, dalam diri Radek bangkit kebutuhan mendesak untuk membuktikan bahwa perjuangan saya melawan oportunisme yang menyamarkan diri dengan kutipan-kutipan Lenin pada kenyataannya merupakan kontradiksi antara teori revolusi permanen dan Leninisme. Radek, berbicara sebagai pengacara untuk membela dosa-dosanya sendiri, merubah pidatonya menjadi tuduhan dari jaksa agung terhadap revolusi permanen. Ini hanya merupakan jembatan baginya untuk kapitulasi. Saya mempunyai banyak alasan untuk mencurigai hal tersebut karena Radek, dalam tahun-tahun sebelumnya telah berencana untuk menulis sebuah pamflet yang membela revolusi permanen. Namun saya tidak terburu-buru untuk mengabaikan Radek. Saya mencoba menjawab artikelnya secara jujur dan eksplisit tanpa pada saat yang bersamaan memotong pengunduran dirinya. Saya mencetak balasan saya untuk Radek seperti yang tertulis, mengisinya dengan sedikit catatan penjelasan dan koreksi tatabahasa.
Artikel Radek tidak diterbitkan di koran dan saya percaya artikel tersebut tidak akan diterbitkan. Karena dengan bentuk seperti yang tertulis pada tahun 1928, artikel tersebut tidak akan lolos dari penyensoran Stalin. Bahkan bagi Radek sendiri artikel tersebut akan menjadi sangat fatal hari ini, karena artikel tersebut akan memberikan gambaran jelas akan evolusi ideologinya. Sebuah evolusi ideologi yang sangat mengingatkan kita akan “evolusi” seseorang yang melemparkan dirinya sendiri dari lantai enam sebuah gedung.
Asal mula karya ini menjelaskan dengan cukup kenapa Radek mendapatkan porsi yang besar di sini, lebih dari yang seharusnya dia dapat. Radek tidak mengformulasikan satu argumentasi baru untuk melawan teori revolusi permanen. Dia maju kedepan hanya sebagai epigone dari para epigone. Para pembaca oleh karena itu direkomendasikan untuk melihat Radek tidak hanya sebagai Radek, namun Radek sebagai perwakilan kelompok tertentu, dimana dia membeli keanggotaan untuk masuk ke dalam kelompok tersebut dengan bayaran menyangkal Marxisme. Jika Radek secara personal merasa bahwa terlalu banyak beban yang dipikulnya akibat karya ini, maka dia harus dengan caranya sendiri menyerahkannya kepada para epigone-epigone yang tepat. Itu adalah urusan internal kelompok mereka. Bagi saya, saya sama sekali tidak keberatan.
Bermacam-macam kelompok dari Partai Komunis Jerman telah meraih kursi kekuasaan atau berjuang untuknya dengan menunjukkan kualifikasi kepemimpinan mereka dengan cara mengkritik revolusi permanen. Namun keseluruhan kritik tersebut, yang muncul dari Maslow[42], Thalheimer[43] dan yang lainnya, adalah sangat menyedihkan dan bahkan tidak menyediakan alasan untuk sebuah jawaban yang kritikal. Para pengikut Thaelmann[44], Remmele[45] dan para pemimpin yang ditunjuk saat ini, bahkan membawa konflik ini ke dalam tingkatan yang lebih rendah lagi. Semua kritik mereka menunjukkan bahwa mereka bahkan tidak mampu memahami dasar dari pertanyaan mengenai revolusi permanen. Untuk alasan ini, saya akan mengabaikan mereka. Setiap orang yang tertarik pada kritik teoritis Maslow, Thalheimer dan yang lainnya, setelah membaca buku ini dapat melihat tulisan mereka dan menyaksikan kebodohan dan ketidakjujuran para penulis tersebut. Ini akan menjadi hasil sampingan dari karya yang saya tawarkan kepada para pembaca.
L. TROTSKY. Prinkipo[46], 30 November 1929.
[1] Yaitu Revolusi 1905, Revolusi Februari 1917, dan Revolusi Oktober 1917
[2] Partai Komunis Uni Soviet muncul dari sayap Bolshevik dalam Partai Buruh Sosial Demokratik Rusia (Russian Social Democratic Workers' Party). Setelah Revolusi Oktober, Partai Bolshevik berganti nama menjadi Partai Komunis Uni Soviet.
[3] Komunis Internasional (1917-1943), disebut juga Internasionale Ketiga. Setelah kemenangan Revolusi Rusia pada tahun 1917 dan sementara republik Soviet masih berjuang dalam Perang Sipil, Bolshevik menyerukan kepada kaum revolusioner sedunia untuk datang ke Moskow dan membentuk sebuah Organisasi Internasional baru dari kaum komunis yang revolusioner. Setelah Uni Soviet sendiri mulai mengalami degenerasi, yakni setelah kematian Lenin dan pengasingan Trotsky, dan Josef Stalin duduk sebagai pemimpin, Komunis Internasional mulai mengalami degenerasi. Komunis Internasional dibubarkan oleh Stalin pada tahun 1943 untuk berkompromi dengan kekuatan Sekutu.
[4] Revolusi Cina tahun 1927, dihancurkan oleh sekutunya Stalin, Chiang Kai-shek. Revolusi Cina pada tahun 1927 adalah isu utama dalam perjuangan faksi-faksi pada tahun yang sama antara Oposisi Kiri dan Stalin. Kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok, memutuskan untuk mengikuti garis perwakilan Komintern dan mengorganisir klas pekerja di Shanghai dan Canton untuk menyambut tentara nasionalis revolusioner Chiang Kai-shek. Tidak lama berselang, ribuan anggota Partai Komunis dieksekusi dan kaum Komunis di sebagian besar pusat-pusat perkotaan Cina dibasmi.
[5] Epigone, yang berarti pengikut atau peniru. Trotsky memakai istilah ini untuk merujuk pada para Stalinis yang memalsukan sejarah Revolusi Rusia, dan lebih luasnya pada mereka-mereka yang mendeklarasikan kesetiaan mereka kepada revolusi tetapi tidak memahami sama sekali dan tidak memiliki komitmen sama sekali pada gagasan yang menjadi pondasi revolusi tersebut.
[6] Gregory Zinoviev (1883-1936) adalah Presiden Komintern 1919-1926. Bersama dengan Kamanev, Zinoviev menentang rencana Revolusi 1917. Penentangan mereka dikalahkan dalam voting oleh suara mayoritas partai, yang kemudian mereka tanggapi dalam tulisan di Novaya Zhizn (harian Menshevik) pada tanggal 18 November mengenai rencana Bolshevik untuk memberontak terhadap pemerintah dan mereka berpendapat bahwa pemberontakan ini akan mengalami kekalahan. Dengan Stalin dan Kamenev, ia melancarkan perang melawan Trotskisme pada tahun 1923. Kemudian membuat blok Oposisi Bersatu bersama Trotsky untuk melawan Stalin, pada tahun 1926-27. Dikeluarkan dari Partai Komunis pada tahun 1927 sebagai akibatnya, dia kemudian menyerah pada Stalin dan diijinkan masuk kembali ke dalam Partai Komunis. Dikeluarkan lagi pada tahun 1932, dia kemudian menyangkal pemikirannya, namun kemudian dihukum sepuluh tahun penjara. Pada tahun 1935 Zinoviev diadili lagi di Moskow Trial yang pertama tahun 1936 dan kemudian dieksekusi.
[7] Joseph Stalin (1879-1953), sebuah nama samaran yang berarti Manusia Besi. Anak seorang pembuat sepatu, dia kemudian bergabung dengan partai Sosial Demokrat setelah dikeluarkan dari sekolah teologi karena ketidakpatuhannya. Setelah Russian Social Democratic Labor Party pecah pada tahun 1903, Stalin menjadi anggota partai Bolshevik.
Setelah Revolusi Oktober, Stalin terpilih untuk menduduki posisi Komisariat Untuk Persoalan Kebangsaan. Sepanjang perang sipil, jabatan Stalin menanjak melalui manuver birokratik. Pada tahun 1922, dia mendapatkan suara mayoritas untuk menjadi Sekertaris Jenderal Partai Komunis. Pada tahun yang sama Lenin menyerukan penggantiannya, menjelaskan bahwa Stalin telah memusatkan terlalu banyak kekuasaan. Lenin menjelaskan hal tersebut dalam tulisan yang dikenal sebagai Lenin's last testament.
Setelah kematian Lenin pada tahun 1924, gelombang reaksi melanda seluruh pemerintahan Soviet. Stalin memperkenalkan teori sosialisme di satu negara, dimana dia menjelaskan bahwa Sosialisme dapat dicapai oleh satu negara tunggal.
Pada tahun 1927, setelah bertahun-tahun manuver birokratik, dia menendang keluar anggota-anggota Oposisi Kiri dari partai. Dari tahun 1934 hingga 1939 Stalin memerintahkan serangkaian eksekusi dan pemenjaraan, sebagian besar diarahkan terhadap orang-orang di dalam pemerintahan Soviet. Setengah dari anggota Dewan Komisaris Rakyat yang pertama dieksekusi pada tahun 1938 (seperempat darinya telah meninggal akibat sebab-sebab “alami”, dari seperempat sisanya hanya Stalin yang hidup melewati tahun 1942). Beberapa pegawai pemerintahan yang dieksekusi, dituduh sebagai agen atau simpatisan Nazi, sementara yang lainnya dituduh merencanakan penggulingan pemerintahan Soviet. Anggota Oposisi Kiri diijinkan kembali masuk ke Partai setelah menerima Stalinisme. Namun tidak lama kemudian dieksekusi. Mereka yang tetap berada di luar negeri diburu dan dibunuh. Jumlah tepat orang yang dieksekusi tidak diketahui, perkiraan bervariasi antara ribuan hingga jutaan.
[8] Nikholai Bukharin (1888-1938) adalah salah satu angggota faksi ‘Komunis-Kiri’ yang beroposisi terhadap penandatanganan Perdamaian Brest-Litovsk pada tahun 1917. Dia membentuk blok kanan bersama Zinoviev, Kamenev dan Stalin pada tahun 1923 untuk melawan Trotsky. Dia juga merupakan juru bicara utama dalam mendukung petani kaya pada saat NEP (New Economic Policy). Editor Pravda dari tahun 1918 hingga 1929. Kepala Komintern pada tahun 1926-1929. Pecah dengan Stalin pada tahun 1928 untuk memimpin Oposisi Kanan. Trotsky mengatakan bahwa Bukharin “harus selalu menempelkan dirinya pada seseorang, menjadi tidak lebih dari medium bagi aksi dan perkataan orang lain. Kau harus selalu mengawasinya.” Dia dikeluarkan dari partai pada tahun 1929 karena pemikirannya dan dieksekusi setelah Moskow Trial Ketiga pada tahun 1938.
[9] Revolusi Oktober adalah revolusi sosialis pertama di dunia yang berhasil meletakkan kaum buruh di tampuk kekuasaan dan menghapus kapitalisme. Pada tanggal 24-25 Oktober 1917, Bolshevik bersama dengan Soviet-soviet dari kota-kota besar Rusia menggulingkan Pemerintahan Sementara. Revolusi ini lalu diikuti dengan Kongres Kedua Soviet Seluruh Rusia, dimana dibentuk Republik Sosialis dari Federasi Soviet Rusia dan kemudian Pemerintahan Soviet berdiri.
[10] Revolusi Februari adalah Revolusi Rusia yang terjadi pada tanggal 24-27 Februari 1917 dimana kerajaan Tsar ditumbangkan dan digantikan oleh kekuasaan ganda Soviet dan Pemerintahan Sementara.
[11] Tesis April adalah tesis yang dibacakan oleh Lenin pada dua pertemuan All-Russia Conference of Soviets of Workers and Soldiers Deputies pada tanggal 4 April 1917, setelah dia kembali ke Rusia. Tesis tersebut berisi program-program yang harus dijalankan oleh Soviet, tugas-tugas Bolsheviks serta menekankan pengambilalihan kekuasaan dari Pemerintahan Sementara ke Soviet-soviet. Tesis ini diformulasikan oleh Lenin untuk mempersenjatai ulang Partai Bolshevik, yang sebelumnya mengambil posisi mendukung Pemerintahan Sementara.
[12] Leon Kamenev (1883-1936) adalah anggota pendiri Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia dan setelah perpecahan bergabung dengan Bolshevik. Kamenev juga merupakan teman lama Lenin. Bersama dengan Zinoviev, dia menentang rencana revolusi Oktober. Sehari setelah revolusi, Kamenev dipilih menjadi ketua Komite Sentral Eksekutif oleh Kongres Kedua Soviet-soviet dan kemudian merupakan salah satu dari anggota pertama politbiro pada tahun 1919. Pada tahun 1923 Kamenev bergabung bersama Stalin dan Zinoviev membentuk troika untuk melawan Trotskisme. Tiga tahun kemudian Kamenev membentuk sebuah blok Oposisi Kiri (1926-27) bersama Trotsky untuk melawan Stalinisme. Sebagai akibatnya, Kamenev dikeluarkan dari Partai Komunis pada tahun 1927. Kamenev meminta pengampunan agar diijinkan kembali masuk ke dalam partai. Kamenev masuk kembali ke partai pada tahun 1928. Pada tahun 1932, Kamenev dikeluarkan kembali, namun kembali meminta pengampunan kepada Stalin untuk dapat masuk kembali ke Partai, dan kemudian dimaafkan. Tiga tahun kemudian, Kamenev dihukum penjara sepuluh tahun atas konspirasi untuk membunuh Stalin. Selama permulaan Moskow Trials tahun 1936, Kamenev kembali diadili dengan tuduhan penghianatan terhadap Negara Soviet dan kemudian ditembak.
[13] Narodnik pada awalnya ini adalah nama untuk kaum revolusioner Rusia pada tahun 1860an dan 1870an, narodniki berarti “bergerak ke rakyat”. Kelompok Narodnik dibentuk unuk merespon konflik yang semakin besar antara kaum tani miskin dan kaum tani kaya (kulak). Kelompok tersebut tidak mendirikan organisasi yang konkrit, namun memiliki tujuan umum sama untuk menggulingkan monarki dan kulak, serta mendistribusikan tanah untuk kaum tani. Kaum Narodnik secara umum percaya bahwa kapitalisme bukan merupakan sebuah keharusan akibat perkembangan industri, dan bahwa dimungkinkan untuk melewati kapitalisme secara langsung dan masuk ke dalam masyarakat sejenis Sosialisme.
Kaum Narodnik percaya bahwa kaum tani adalah klas revolusioner yang akan menggulingkan monarki, menganggap komune desa sebagai embrio Sosialisme. Namun mereka tidak percaya bahwa kaum tani akan mampu mencapai revolusi dengan usahanya sendiri. Sejarah hanya dapat dibuat oleh pahlawan, individu yang luar biasa, yang akan memimpin kaum tani menuju revolusi.
[14] Vera J. Zasulich (1851-1919). Saat menjadi mahasiswa bergabung dengan Narodniki. Bersama dengan Plekhanov dia menjadi pendiri kelompok Marxis pertama dalam gerakan buruh Rusia (Kelompok Emansipasi Buruh, 1885). Dia juga yang pertama memulai perjuangan melawan Narodniki demi terbentuknya partai revolusioner proletariat. Bersama dengan Lenin dan Plekhanov dia menjadi anggota Dewan Editorial Iskra. Setelah perpecahan di PBSDR dia kemudian bergabung dengan Mensheviks.
[15] Yuli Osipovich Tsederbaum Martov (1873-1923) adalah pemimpin Menshevik. Dia memulai karir politiknya pada tahun 1895 bekerja bersama Lenin di Liga Perjuangan Untuk Emansipasi Klas Pekerja (League of Struggle for the Emancipation of the Working Class) di kota St Petersburg. Berkolaborasi dengan Lenin untuk mendirikan Iskra namun pecah dengannya pada tahun 1903 dalam persoalan peraturan organisasi PBSDR.
[16] Revolusi 1905, revolusi ini dipicu oleh pembantaian demonstrasi damai para pekerja St Petersburg pada tanggal 9 Januari 1905. Dalam Revolusi ini soviet-soviet pertama kali muncul dibeberapa kota di Rusia, terutama di Saint Petersburg dimana Trotsky terpilih menjadi presiden soviet tersebut. Setelah revolusi ini, monarki Tsar mulai dibatasi dengan pembentukan Duma (parlemen Rusia).
[17] Baca Frederick Engels, The Peasant War in Germany, 1850
[18] Alexei Rykov (1881-1938) adalah anggota Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia sejak 1899. Pada tahun 1903 dia bergabung dengan Bolshevik. Rykov terpilih menjadi Komisaris Dalam Negeri dalam Dewan Komisaris Rakyat dari pemerintahan Soviet. Setelah kematian Lenin, Rykov dipilih menjadi Ketua Dewan Komisaris Rakyat dan selama enam tahun berada dalam posisi tersebut, dari tahun 1924 hingga 1930. Rykov dieksekusi setelah dinyatakan bersalah atas penghianatan pada Moskow trial 1938.
[19] Vyacheslav Mikhailovich Molotov (1890-1986) menjadi Bolshevik sejak 1909; bertemu dengan Lenin saat dalam pengasingan di London. Dia menjadi editor Pravda pada tahun 1917 sampai saat Kamenev dan Stalin menyerang dia karena oposisi membaranya terhadap Pemerintahan Sementara. Kemudian dia ditunjuk menjadi anggota Komite Militer Revolusioner yang mengorganisir Revolusi Oktober.
Pada tahun 1920 dia dipilih masuk ke dalam Komite Sentral Partai Komunis dan pada tahun 1924 dia menjadi anggota Politbiro. Molotov menjadi Presiden Komintern dari tahun 1928-1934, Presiden Dewan Komisaris Rakyat 1930-41 dan Menteri Luar Negeri 1939-49, 1953-56, dalam kapasitasnya sebagai Menteri Luar Negeri dia merupakan salah satu yang menandatangani Pakta dengan Hitler pada tahun 1939. Untuk “menghormati” peran dia dalam perjanjian tersebut serta aneksasi Soviet terhadap Polandia Timur dan Finlandia dalam kesepakatan perjanjian tersebut, pejuang-pejuang Finlandia memberikan namanya untuk “Molotov cocktail” (yaitu, campuran peledak dari Jerman dan Rusia, minyak dan air). Pada tahun 1957 Molotov disingkirkan dari posisinya di Komite Sentral dan menjadi Duta Besar USSR untuk Mongolia. Hal tersebut terjadi karena dia menentang program de-Stalinisasi oleh Khruschev. Sejak tahun 1960-62 Molotov menjabat Duta Besar untuk International Atomic Energy Commission. Dan setelah 45 tahun duduk dalam pemerintahan, Molotov dikeluarkan dari partai. Setelah usaha berpuluh-puluh tahun untuk mengembalikan status keanggotaannya, pada tahun 1984 keanggotaan Molotov di partai dikembalikan.
[20] Komune Paris (1871) merupakan revolusi pekerja pertama yang berhasil. Komune Paris berdiri dari 26 Maret hingga 30 Mei 1871.
Setelah kekalahan Perancis (yang diperintah oleh Louis Bonaparte) dalam perang Franco-Prussian tahun 1871, Pemerintahan Pertahanan Nasional (Government of National Defense) mengakhiri perang melawan Jerman dengan syarat-syarat yang kejam – salah satunya pendudukan Paris, yang secara heroik telah bertahan selama enam bulan melawan pengepungan oleh tentara Jerman.
Pekerja Paris sangat marah terhadap pendudukan ini dan menolak untuk bekerja sama dengan tentara Jerman. Pekerja Paris bahkan membatasi daerah pendudukan Jerman hanya pada beberapa taman kecil di pojokan kota Paris. Dan terus mengawasi tentera Jerman untuk memastikan mereka tidak melewati batas. Pada tanggal 18 Maret, pemerintahan Perancis yang baru, dipimpin oleh Thiers, setelah mendapatkan ijin dari Jerman, mengirim tentara ke Paris untuk merebut persenjataan di dalam kota. Serta untuk memastikan agar pekerja Paris tidak dipersenjatai dan melawan Jerman. Pekerja Paris menolak Tentara Perancis untuk mengambil persenjataan. Akibatnya Pemerintahan “Pertahanan Nasional” Perancis menyatakan perang terhadap kota Paris. Pada tanggal 26 Maret 1871, dengan gelombang dukungan popular, dewan kota dibentuk yang terdiri dari para pekerja dan prajurit – Komune Paris – yang terpilih. Di keseluruhan Perancis dukungan menyebar dengan cepat untuk pekerja Paris. Kurang dari tiga bulan setelah anggota-anggota Komune Paris dipilih, kota Paris diserang dengan kekuatan penuh oleh tentara pemerintah Perancis. Tiga puluh ribu pekerja tanpa senjata dibantai, ribuan orang ditembaki dijalan-jalan kota Paris. Ribuan lainnya ditangkap dan 7.000 pekerja diasingkan dari Perancis selamanya.
[21] Alma-Ata adalah kota terbesar di Kazakstan. Trotsky diasingkan di kota ini pada bulan Januari 1928.
[22] Jean Jaurès (1859-1914) adalah kaum Sosialis Perancis, aktivis radikal dari kaum kiri Perancis. Di adalah pendiri l’Humanité. Dibunuh oleh Raoul Villain seorang ekstrimis nasionalis pada tahun 1914. Dia mempercayai bahwa Marxisme terlalu menekankan peran kepentingan material dalam sejarah. Dan dia mendukung pendekatan gradual kepada demokratik sosialisme. Pada tahun 1905, dua partai sosialis yang tersisa bergabung di bawah kepemimpinannya. Dia membentuk seksi Francaise de l'Internationale Ouvrière.
[23] Jules Guesde (1845-1922) adalah seorang sosialis dari Perancis dan pemimpin sayap Marxis dalam gerakan pekerja Perancis. Sejak 1877 seterusnya dia menerbitkan karya sosialis berjudul Égalité. Pada tahun 1879-80, bersama dengan Lafargue dan yang lainnya dia mendirikan Partai Pekerja Perancis (Parti Ouvrier) yang poin-poin pokok program-programnya diformulasikan dengan bantuan Marx. Pada tahun 1980an dan 90an, Guesde memimpin perjuangan melawan kaum Possibilists dan dengan teguh melawan kaum Millerandisme (orang-orang Sosialis yang bekerja dalam pemerintahan borjuis). Namun pada tahun 1890an dia mulai mundur menjadi sosial-sovinis dan reformis. Kemudian dia menjadi salah satu pemimpin utama dari kaum sentris dalam Internasionale Kedua. Selama masa perang dia menjadi sosial-sovinis dan pada tahun 1914-15 menjadi anggota pemerintahan.
[24] Internasional Kedua - Pada tahun 1880, Partai Sosial Demokrat Jerman mendukung seruan dari kamerad-kamerad Belgia untuk mengadakan kongres sosialis internasional pada tahun 1881. Kota kecil bernama Chur dipilih dan kaum sosialis Belgia, Parti Ouvrier dari Perancis, Sosial Demokrat Jerman dan Sosial Demokrat Swiss berpartisipasi dalam persiapan kongres yang akhirnya menuju pada pembentukan Sosialis Internasional atau Internasionale Kedua. Tidak seperti Internasionale Pertama, Internasionale Kedua terdiri dari partai-partai politik yang memiliki pemimpin terpilih, program politik dan keanggotaan yang berbasiskan di negerinya masing-masing. Seksi nasional dari Internasionale Kedua membangun serikat buruh, terlibat dalam pemilihan umum dan sangat terlibat dalam kehidupan klas pekerja di negerinya masing-masing.
Permulaan Perang Dunia pada tahun 1914 dan krisis nasional dan revolusioner yang disebabkan perang menyebabkan krisis di dalam Internasionale Kedua, dimana sebagian besar partai-partai di dalam Internasionale Kedua mendukung peperangan ini dan jatuh pada sosial-sovinisme. Inilah awal dari kejatuhan Internasional Kedua.
[25] Oposisi Marxis atau lebih dikenal sebagai Oposisi Kiri yang dipimpin oleh Leon Trotsky. Oposisi Kiri dibentuk di Rusia tahun 1923 untuk merespon gelombang Stalinisme. Kaum Oposisi diberi label sebagai Troskyis, sementara sayap kanan partai disebut sebagai Stalinis. Salah satu pertentangan utama adalah kemungkinan mempertahankan revolusi Sosialis tanpa revolusi dunia. Oposisi Kiri mendukung revolusi permanen, sementara sayap kanan mendukung sosialisme di satu negara. Pada tahun 1927 anggota Oposisi Kiri dikeluarkan dari Partai Komunis Uni Soviet dan dipaksa meninggalkan Uni Soviet. Tidak lama kemudian Oposisi Kiri Internasional dibentuk. Hampir semua anggota partai yang mengikuti atau mendukung Oposisi Kiri dengan cara apapun dieksekusi pada saat Moskow Trial (1936-38). Tokoh-tokoh terkemuka di Oposisi Kiri adalah: Karl Radek (1885-1939), Ivan T. Smilga (1892-1937), Eugene Preobrazhensky (1886-1937), Ivan N. Smirnoy (1881-1936), Mikhail Boguslavsky (1886-1937), Sergei Mrachkovsky (1883-1936), Alexander Beloborodov (1891-1938), Christian Rakovsky (1873-1941), Lev S. Sosnovsky (1886-1937), Nikolai L. Muralov (1877-1937)
[26] Karya Leon Trotsky pada tahun 1928.
[27] Anglo-Russian Trade-Union Unity Committee (Komite Persatuan Serikat Buruh Inggris-Rusia). Didirikan pada bulan Mei 1925 oleh Kongres Serikat Buruh Inggris dan pemimpin Stalinis dari Uni Soviet. Pendirian Komite Persatuan tersebut diperdebatkan di Komite Sentral Soviet pada tahun 1926. Setelah anggota-anggota yang berasal dari Inggris mengkhianati pemogokan umum, kaum Oposisi Kiri berpendapat bahwa Komite Persatuan tersebut harus dibubarkan; sementara kaum Stalinis percaya bahwa Komite Persatuan harus terus dipertahankan. Pada bulan September 1927, serikat buruh Inggris pecah dari partai Komunis atas kehendaknya sendiri.
[28] Albert A Purcell (1872-1935) adalah pemimpin kiri dari gerakan serikat buruh Inggris dan Komite Inggris-Rusia
[29] Stefan Radich (1871-1928) adalah pendiri Partai Petani Kroasia pada tahun 1905. Dia mengunjungi Moskow pada tahun 1923, dimana dia dipuji sebagai “pemimpin sejati rakyat”, sejalan dengan orientasi Stalin terhadap kaum tani dan kebijakan “Kediktaktoran Proletariat dan Kaum Tani”. Setelah kembali ke Yugoslavia dia dipenjara dan Partai Petani Kroasia dilarang. Dia meninggal akibat luka setelah mengalami percobaan pembunuhan di dalam gedung parlemen.
[30] Robert M. La Follette (1855-1925) adalah senator Partai Republik AS dari Wisconsin. Setelah pecah dengan Partai Republik dia mengorganisir League for Progressive Political Action dan menjadi kandidat presidennya pada tahun 1924. Partai Komunis telah mengintervensi Konferensi Farmer-Labor Party pada tahun 1923 dan merubah namanya menjadi Federated Farmer-Labor Party, namun kehilangan dukungan dari pekerja. Kepemimpinan Ruthenberg-Pepper-Lovestone dari Partai Komunis kemudian mengadopsi kebijakan mengaitkan Federated Farmer-Labor Party pada kampanye pencalonan presiden dari League for Progressive Political Action yang dipimpin oleh La Follette.
[31] Chiang Kai-Shek (1887-1975). Dia menggantikan Sun Yat Sen sebagai pemimpin Kuomintang setelah kematiannya pada tahun 1925. Di bawah kepemimpinan Chiang Kai-Shek, pada tahun 1927, dia memerintahkan pasukannya untuk membantai kaum komunis di Shanghai. Semenjak itu, dia berperang melawan gerilyawan Partai Komunis pada perang sipil dari tahun 1927-1949. Setelah Revolusi Cina, dia lari ke Taiwan dengan pasukannya pada bulan Januari 1949.
[32] Partai Koumintang adalah partai borjuis nasionalis Cina. Partai ini memerintah Cina dari tahun 1928 hingga 1949 dan kemudian memerintah Taiwan di bawah Chiang Kai-shek dan penerusnya hingga abad keduapuluh. Dari tahun 1924-27 Kuomintang bekerja sama dengan Partai Komunis Tiongkok, tetapi kemudian mengkhianati front ini dan membantai kaum komunis Cina.
[33] Partai Kadet (Constitutional Democrats) dibentuk pada bulan Oktober 1905. Juga dikenal sebagai “Party of the People’s Freedom”. Partai Kadet adalah partainya kaum borjuis liberal Rusia yang menyerukan untuk mempertahankan monarki namun dengan mendirikan tatanan parlemen diseluruh Rusia. Selama Revolusi Februari 1917, partai Kadet beberapa kali mencoba untuk menyelamatkan monarki namun gagal. Setelah Revolusi Oktober 1917, mereka dibantu tentara Perancis, Amerika Serikat, Jepang dan Inggris menginvasi Uni Soviet. Setelah kekalahan tentara putih pada tahun 1922, para Kadet lari keluar negeri. Beberapa anggotanya terus membantu kaum Imperialis dalam usaha untuk menggulingkan pemerintahan Soviet.
[34] Partai Komunis Tiongkok didirikan pada bulan Juli 1921 oleh Chen Duxiu dan Li Dazao. Partai ini mengalami kekalahan besar dari Kuomintang pada tahun 1926-27 dan dibangun kembali oleh Mao Zedong dan Zhou Enlai. Partai Komunis Tiongkok yang baru mengkonsolidasikan kepemimpinan dan kadernya selama Long March, 1934-37 dan setelah Jepang kalah, mampu menyingkirkan Kuomintang. Pada tahun 1949 mereka mendeklarasikan Republik Rakyat Cina.
[35] Soviet berarti “dewan” dalam bahasa Rusia, soviet adalah dewan yang dipilih secara lokal, kotapraja dan regional di Rusia dan kemudian Uni Soviet. Sebelum Revolusi Oktober 1917, sekitar 900 soviet berdiri. “Soviet adalah poros dari semua kejadian, setiap hal berjalan menujunya, setiap seruan aksi muncul darinya.“ (Leon Trotsky, 1905)
Soviet adalah perwakilan pekerja, kaum tani dan tentara dilokasi tertentu (soviet pedesaan terdiri dari campuran kaum tani dan tentara, sementara soviet perkotaan adalah campuran dari pekerja dan tentara).
Soviet adalah badan yang anggotanya adalah sukarelawan; rakyat yang terlibat melakukan hal tersebut untuk memperkuat posisi kelas mereka di politik Rusia. Soviet mendapatkan kekuatan politik setelah revolusi Bolshevik, bertindak sebagai badan eksekutif lokal pemerintah. Delegasi dipilih dari Soviet untuk All-Russian Congress of Soviets (Kongres Soviet Seluruh Rusia), dimana pondasi pemerintahan Soviet seharusnya berada. Namun lambat laun, soviet mulai kehilangan kekuasaan akibat kondisi yang sangat keras akibat Perang Sipil dan pada akhir 1920 an menjadi perluasan top down dari partai “Komunis”.
[36] Wang Ching-wei (1884-1944) adalah pemimpin Kuomintang Kiri dari pemerintahan di kota industri Wuhan. Dia didukung oleh Komunis Internasional dan Partai Komunis setelah kegagalan dukungan untuk Chiang Kai-Shek.
[37] Alexander Kerensky (1882-1970) adalah anggota sayap kanan partai Sosialis Revolusioner. Saat Revolusi Februari, Kerensky adalah wakil ketua Soviet Petrograd. Dia menjadi Menteri Kehakiman dalam pemerintahan yang baru dibentuk. Dia lalu menjabat sebagai Perdana Menteri yang terakhir dari Pemerintahan Sementara sebelum digulingkan oleh Revolusi Oktober.
[38] Pavel Nikolayevich Milyukov (1859-1943). Profesor di Universitas Sejarah Moskow. Anggota Duma Ketiga dan Keempat. Seorang organiser dan pemimpin Partai Kadet. Setelah Revolusi Februari, Milykov menjadi Menteri Luar Negeri dalam Pemerintahan Sementara. Dia adalah seorang sosial-sovinis selama Perang Dunia Pertama, yang mengirim surat atas nama pemerintahan sementara untuk pemerintahan Allied bahwa Rusia siap untuk melanjutkan perang hingga “kemenangan akhir “. Dia menjadi anti Bolshevik pada tahun 1918-19. Dia disingkirkan dari posisinya pada April 1917, sebagai akibat dari demonstrasi massa pekerja dan tentara melawan dilanjutkannya perang. Pada Agustus 1917, Milyukov mendukung oposisi Kornilov terhadap pemerintahan sementara. Mengikuti kegagalan ini, Milyukov meninggalkan Rusia, kemudian membantu White Armies yang menginvasi Rusia tahun berikutnya.
[39] Lavr Georgiyevich Kornilov (1870-1918) adalah Panglima Tentara Rusia setelah Revolusi Februari. Pada bulan Agustus/September dia mencoba menggulingkan Pemerintahan Sementara tetapi digagalkan oleh Soviet-Soviet di bawah kepemimpinan Bolshevik. Lalu, dia bergabung dengan Aleeksev untuk memimpin Tentara Putih. Kornilov mati dalam peperangan melawan Tentara Merah, 18 April 1918.
[40] Alexander Martinov (1865-1935) adalah anggota Menshevik sayap kanan sebelum 1917 dan untuk beberapa tahun setelah revolusi menjadi oposisi dari pemerintahan Soviet. Pendukung kuat dari teori dua tahap: bahwa pemerintahan yang sepenuhnya kapitalistik dibutuhkan untuk berjalan dahulu di Rusia sebelum sosialisme dimungkinkan. Dia bergabung dengan Partai Komunis pada tahun 1923 dan menjadi lawan dari Oposisi Kiri. Dia adalah arsitek utama dari teori-teori Stalinis yang digunakan untuk membenarkan subordinasi pekerja pada borjuis “progresif” termasuk juga konsep “blok empat kelas”.
[41] Karl Radek (1885-1939) adalah anggota PBSDR sejak permulaan, dimana dia aktif di Galicia, Polandia Rusia dan Jerman. Pada tahun 1923 dia menjadi anggota Oposisi Kiri; akibatnya dikeluarkan dari partai pada tahun 1927. Radek masuk ke partai kembali pada tahun 1930, namun kembali dikeluarkan pada tahun 1936. Diadili pada Moskow Trial Kedua dan meninggal di penjara.
[42] Pyotr Pavlovich Maslov (1867-1946) adalah anggota Menshevik. Dia menulis banyak karya mengenai persoalan agraria. Selama perang dunia pertama dia mengambil posisi sosial-sovinis. Setelah Revolusi Oktober, Pyotr mundur dari politik dan melakukan kerja-kerja mengajar dan ilmu pengetahuan.
[43] August Thalheimer (1884-1948) adalah anggota Partai Sosial Demokratik Jerman sebelum Perang Dunia Pertama dan editor dari salah satu korannya, Volksfreund. Sejak tahun 1916 dia membantu produksi Spartakusbriefe dan pada tahun 1917 menjadi anggota dari USPD (Independet Socialists). Dia merupakan pendiri Partai Komunis Jerman (KPD). Dia dengan cepat muncul sebagai teoritikus utama partai.
[44] Ernst Thälmann (Aprli 1886-Agustus 1944) adalah pemimpin Komunis Jerman. Dengan terjadinya Stalinisasi di Uni Soviet, Komintern memilih dia untuk menjalankan proses tersebut di Jerman. Saat terjadinya Depresi dan menguatnya Nazi, KPD mengikuti kepemimpinan Komintern dengan terus memfokuskan musuh utamanya adalah sosial demokrat. KPD hampir sepenuhnya tidak siap ketika pada awal 1933 Adolf Hitler memerintahkan penangkapan massal terhadap fungsionaris komunis. Penangkapan tersebut menghancurkan struktur KPD. Pengangkapan Thälmann terjadi pada 3 Maret 1933. Semua usaha untuk membebaskan dia gagal. Dia tetap dipenjara lebih dari satu dekade hingga akhirnya dia dieksekusi di kamp konsentrasi Buchenwald.
[45] Adam Remmele (1877 – 1951) adalah kaum Sosial Demokrat Jerman
[46] Prinkipo, sebuah pulau kecil di Turki, adalah tempat pengasingan Trotsky selama empat tahun, dari tahun 1929, saat dia diusir dari Uni Soviet oleh Stalin.