Mengenai Otoritas

Friedrich Engels (1873)


Sumber: On Authority. Friedrich Engels, 1873

Penerjemah:: Ted Sprague (Februari 2010)


Baru-baru ini sejumlah kaum Sosialis melancarkan sebuah perang suci untuk melawan apa yang mereka sebut prinsip otoritas. Kita cukup mengatakan kepada mereka bahwa perbuatan ini atau itu adalah otoriter dan mereka akan mengutuknya. Cara berpikir seperti ini sudah sangat disalahgunakan sehingga kita perlu menelaah masalah ini lebih dekat.

Otoritas, dalam makna yang dipakai di sini, berarti: pemaksaan kehendak pihak lain terhadap kehendak kita; selain itu, otoritas mensyaratkan subordinasi. Karena kedua kata ini terdengar buruk, dan relasi yang mereka wakilkan tidak diminati oleh pihak yang tertundukkan, maka pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah ada cara untuk menyingkirkan otoritas, apakah – menilik kondisi dari masyarakat hari ini – kita dapat menciptakan sebuah sistem dimana otoritas tidak akan lagi diberikan ruang dan oleh karena itu harus menghilang.

Dengan memperhatikan kondisi-kondisi ekonomi, industri, dan pertanian yang membentuk dasar dari masyarakat borjuis hari ini, kita menemukan bahwa kondisi-kondisi tersebut semakin menggantikan aksi yang terisolasi dengan aksi gabungan dari individu-individu. Industri moderen, dengan pabrik-pabrik besarnya, dimana ratusan buruh menjalankan mesin-mesin yang kompleks yang dijalankan oleh tenaga uap, telah menggantikan bengkel-bengkel kecil dari produsen-produsen yang terpisah; gerobak-gerobak dan kereta kuda telah digantikan dengan rel kereta api, seperti halnya kapal layar kecil telah digantikan dengan kapal uap. Bahkan pertanian semakin didominasi oleh mesin dan uap, yang perlahan-lahan tetapi tanpa kompromi menggantikan para petani kecil dengan kapitalis-kapitalis besar, yang dengan bantuan buruh bayaran membajak lahan yang luas.

Dimana-mana aksi gabungan, proses yang menjadi semakin kompleks yang bergantung satu sama lain, menggantikan aksi independen individu. Tetapi siapapun yang berbicara mengenai aksi gabungan harus berbicara mengenai organisasi; sekarang, apakah mungkin sebuah organisasi eksis tanpa otoritas?

Andaikata sebuah revolusi sosial menumbangkan kelas kapitalis, yang sekarang memiliki otoritas atas produksi dan sirkulasi kekayaan. Andaikata, dengan mengadopsi sudut pandang kaum anti-otoritas secara keseluruhan, tanah dan alat produksi telah menjadi properti kolektif dari buruh yang menggunakan mereka. Apakah otoritas akan menghilang, atau apakah ia hanya akan berubah bentuk? Mari kita lihat.

Mari kita ambil contoh sebuah pabrik pemintal kapas. Kapas ini harus melewati setidaknya enam proses produksi berturut-turut sebelum ia menjadi benang, dan proses-proses produksi ini dilakukan sebagian besar di ruang-ruang terpisah. Terlebih lagi, untuk menjaga jalannya mesin-mesin kita membutuhkan seorang teknisi untuk mengawasi mesin uap, mekanik untuk memperbaiki mesin tersebut, dan banyak buruh lainnya yang pekerjaannya adalah memindahkan produk-produk dari satu ruang ke ruang yang lain, dan seterusnya. Semua buruh ini, pria, perempuan dan anak-anak, harus memulai dan mengakhiri kerja mereka pada waktu yang ditentukan oleh otoritas mesin uap, yang tidak memperdulikan otonomi individual. Maka dari itu, para buruh harus pertama-tama memahami waktu kerja; dan waktu ini, setelah mereka ditentukan, harus dipatuhi oleh semua buruh, tanpa ada pengecualian. Dari sini, bila ada masalah yang timbul di satu ruang produksi dan pada setiap saat mengenai cara produksi, distribusi barang, dll., yang harus diselesaikan oleh keputusan dari seorang delegasi yang dipilih di setiap cabang produksi, atau jika memungkinkan diselesaikan dengan keputusan mayoritas, kehendak seorang individu harus selalu tunduk, yang berarti bahwa masalah tersebut diselesaikan dengan cara yang otoriter. Mesin-mesin otomatis di pabrik besar jauh lebih despotik daripada kapitalis-kapitalis kecil. Setidaknya berhubungan dengan waktu kerja, kita dapat menulis di pintu masuk pabrik-pabrik ini: Lasciate ogni autonomia, voi che entrante! [Kalian yang masuk kesini, tinggalkan semua otonomi Anda!]

Bila manusia, dengan menggunakan pengetahuan dan kejeniusan mereka, telah menundukkan kekuatan alam, maka yang belakangan ini membalas dendam dengan menundukkan manusia di bawah despotisme yang independen dari semua organisasi sosial, selama manusia menggunakan kekuatan alam ini. Ingin menghapus otoritas di dalam industri skala besar berarti ingin menghapus industri itu sendiri, menghancurkan mesin tenun untuk kembali ke pemintal tangan.

Mari kita ambil contoh yang lain – rel kereta api. Disini juga kerjasama dari banyak individu sangat dibutuhkan, dan kerjasama ini harus dilakukan dengan ketepatan waktu yang ketat supaya kecelakaan tidak terjadi. Disini, juga, syarat pertama dari pekerjaan ini adalah sebuah kehendak yang dominan yang akan menyelesaikan semua masalah sekunder, baik kehendak ini diwakilkan oleh seorang delegasi atau sebuah komite yang diberi tanggungjawab untuk melaksanakan keputusan-keputusan dari mayoritas orang yang terlibat. Dalam kedua kasus ini, ada sebuah otoritas yang sangat jelas. Terlebih lagi, apa yang akan terjadi pada sebuah kereta api bila otoritas pekerja kereta api atas para penumpang yang terhormat dihapuskan?

Tetapi perlunya otoritas, dan otoritas yang penuh dalam hal ini, paling jelas ditemukan di atas sebuah kapal laut di tengah samudra. Di sana, pada saat yang berbahaya, nyawa dari semua penumpang tergantung pada kepatuhan yang segera dan langsung dari semua penumpang pada kehendak satu orang.

Ketika saya menghantarkan argumen seperti ini kepada kaum anti-otoritas yang paling fanatik, satu-satunya jawaban yang bisa mereka berikan ke saya adalah: Ya, itu benar, tetapi itu bukanlah otoritas yang kita berikan kepada delegasi kita, tetapi yang dipercayakan kepada sebuah komisi! Orang-orang terhormat ini mengira bahwa dengan merubah nama mereka telah merubah arti sesungguhnya dari suatu hal. Beginilah cara para pemikir terpandai ini mengejek seluruh dunia.

Maka dari itu, kita telah melihat di satu pihak sebuah otoritas tertentu, biarpun bagaimanapun ia didelegasi, dan di pihak lain sebuah subordinasi tertentu, adalah satu hal yang, independen dari semua organisasi sosial, dipaksakan kepada kita semua oleh kondisi material dimana kita memproduksi dan mendistribusikan barang.

Selain itu, kita telah melihat bahwa kondisi material produksi dan distribusi secara tak terelakkan berkembang dengan industri dan pertanian skala-besar, dan cenderung semakin memperluas cakupan otoritas ini. Oleh karena itu, adalah konyol untuk mengganggap prinsip otoritas sebagai sesuatu yang jahat secara absolut, dan prinsip otonomi sebagai sesuatu yang baik secara absolut. Otoritas dan otonomi adalah hal yang relatif yang cakupannya berubah sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangan masyarakat yang berbeda-beda. Bila kaum otonomis berpendapat bahwa organisasi sosial masa depan akan membatasi otoritas sejauh yang diperbolehkan oleh kondisi produksi, maka kita dapat mengerti satu sama lain; tetapi mereka buta terhadap semua kenyataan yang penting dan mereka secara bersemangat memerangi dunia.

Mengapa kaum anti-otoritas tidak membatasi diri mereka mengutuk otoritas politik, yakni negara? Semua kaum Sosialis setuju bahwa negara, dan dengannya otoritas politik, akan menghilang sebagai hasil dari revolusi sosial yang mendatang, yakni fungsi-fungsi publik akan kehilangan karakter politiknya dan akan diubah menjadi sekedar fungsi-fungsi administratif untuk mengawasi kepentingan sejati dari seluruh masyarakat. Tetapi kaum anti-otoritas menuntut negara dihapuskan dalam satu malam, bahkan sebelum kondisi sosial yang melahirkan negara tersebut dihancurkan. Mereka menuntut bahwa tindakan pertama dari revolusi sosial adalah penghapusan otoritas. Apakah orang-orang terhormat ini tidak pernah menyaksikan revolusi? Sebuah revolusi adalah hal yang paling otoritas; sebuah revolusi adalah satu tindakan dimana sebagian populasi memaksakan kehendaknya pada sebagian populasi lainnya dengan senapan, bayonet, dan meriam – yakni cara yang otoriter; dan bila pihak yang menang tidak ingin berjuang sia-sia, maka ia harus mempertahankan kekuasaannya dengan meneror kaum reaksioner melalui senjatanya. Dapatkah Komune Paris bertahan satu hari bila ia tidak menggunakan otoritas rakyat bersenjata melawan kaum borjuis? Sebaliknya, tidakkah kita seharusnya mengeritik Komune Paris karena mereka tidak menggunakan otoritasnya dengan penuh?

Oleh karena itu, hanya ada satu jawaban: kaum anti-otoritas tidak tahu apa mereka bicarakan, dalam hal ini mereka hanya menciptakan kebingungan; atau mereka tahu  apa yang mereka bicarakan, dan dalam hal ini mereka mengkhianati gerakan proletariat. Biar bagaimanapun, mereka membantu kaum reaksi.