Bila kita membandingkan perkembangan sosial di Rusia dengan perkembangan sosial di negara-negara Eropa lainnya – dengan mengelompokkan negara-negara Eropa yang memiliki sejarah yang serupa dan yang membuatnya berbeda dengan sejarah Rusia – kita dapat mengatakan bahwa karakter utama dari perkembangan sosial Rusia adalah keprimitifannya dan kelambanannya secara komparatif.
Disini kita tidak akan berbicara mengenai penyebab dasar dari keprimitifan ini, tetapi kenyataan ini tidak terelakkan: bahwa kehidupan sosial di Rusia dibangun di atas pondasi ekonomi yang lebih miskin dan lebih primitif.
Marxisme mengajarkan bahwa perkembangan kekuatan produksi-lah yang menentukan proses historis-sosial. Pembentukan unit-unit ekonomi, kelas-kelas dan estate[1] (kelompok sosial – Ed.) hanyalah mungkin terjadi bila perkembangan kekuatan produksi telah mencapai suatu level tertentu. Diferensiasi estate dan kelas, yang ditentukan oleh perkembangan pembagian kerja dan penciptaan fungsi-fungsi sosial yang lebih terspesialisasi, membutuhkan satu bagian dari populasi yang diperkerjakan untuk memproduksi nilai-lebih yang melampaui kebutuhan konsumsinya. Kelas-kelas yang tidak berproduksi (non-producing classes) hanya bisa lahir dan mengambil bentuk melalui pengasingan nilai-lebih ini. Lebih jauh lagi, pembagian kelas di antara kelas yang berproduksi (producing classes) hanya mungkin tercapai bilamana perkembangan pertanian telah mencapai tingkatan tertentu, sehingga mampu menyediakan produk pertanian kepada populasi yang tidak bertani. Teori-teori fundamental dari perkembangan sosial ini sudah diformulasikan secara jelas oleh Adam Smith[2].
Oleh karena itu, walaupun periode Novgorod[3] dari sejarah kita berlangsung bersamaan dengan permulaan Zaman-Pertengahan[4] di Eropa, lambatnya perkembangan ekonomi di Rusia yang disebabkan oleh kondisi geografi dan historis (kondisi geografi yang tidak menguntungkan, populasi yang tersebar luas) menghambat proses pembentukan kelas dan memberinya sebuah karakter yang lebih primitif.
Sulit untuk memprediksi seperti apa bentuk perkembangan sosial di Rusia bila ia tetap terisolasi dan hanya berada di bawah pengaruh tendensi internal saja. Cukup jelas bahwa hal tersebut tidak terjadi. Kehidupan sosial Rusia, yang dibangun di atas pondasi ekonomi internal tertentu, selalu berada di bawah pengaruh dan tekanan sosial dan historis eksternal dari sekelilingnya.
Ketika organisasi sosial dan negara ini, di dalam proses pembentukannya, berbenturan dengan organisasi-organisasi sosial dan negara dari tetangganya, keprimitifan relasi ekonomi Rusia dan perkembangan ekonomi negara-negara tetangga yang relatif lebih tinggi memainkan peran yang besar dalam menentukan proses selanjutnya.
Negara Rusia, yang tumbuh dari sebuah basis ekonomi yang primitif, memasuki hubungan dan pertentangan dengan negara-negara yang dibangun dari pondasi yang lebih tinggi dan lebih stabil. Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi: Negara Rusia runtuh dalam perlawanannya dengan negara-negara tersebut, seperti halnya Golden Horde[5] yang runtuh dalam pertentangannya dengan Rusia; atau Rusia akan melampaui negara-negara tersebut dalam relasi ekonomi dan menyerap kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan bila ia tetap terisolasi. Ekonomi Rusia sudah cukup berkembang, dan ini mencegah skenario runtuhnya Rusia. Negara Rusia tidak hancur tetapi mulai tumbuh di bawah tekanan yang sangat besar dari kekuatan-kekuatan ekonomi.
Ini bukan karena Rusia dikelilingi oleh musuh-musuhnya dari segala arah. Ini tidak menjelaskan apa-apa. Semua negara Eropa dikelilingi oleh musuh-musuhnya, kecuali mungkin Inggris. Di dalam perjuangannya untuk eksis, negara-negara ini bergantung pada basis ekonomi yang kurang lebih sama, dan maka dari itu perkembangan organisasi negara mereka tidak terlalu dipengaruhi oleh tekanan eksternal yang besar.
Perang melawan Crimea dan Nogai Tatar memberikan tekanan yang paling besar pada negara Rusia. Tetapi ini tidaklah lebih besar dibandingkan dengan perang antara Prancis dan Inggris yang berlangsung ratusan tahun. Bukanlah orang Tatars yang memaksa Rusia untuk memperkenalkan senjata api dan membentuk tentara tetap (standing army) Streltsi[6]; bukanlah orang Tatar yang memaksa Rusia untuk membentuk pasukan berkuda dan tentara infantri; yang melakukan itu adalah tekanan dari Lithuania, Polandia, dan Swedia.
Sebagai akibat dari tekanan Eropa Barat, Negara Rusia menelan produk nilai-lebih yang sangatlah besar; dalam kata lain, ia hidup dari menghisap kelas atas yang sedang dalam proses pembentukan, dan oleh karena itu menghambat perkembangan kelas ini yang memang sudah lambat. Bukan hanya itu saja. Negara Rusia merampas ‘hasil produksi yang penting’ dari petani, merampas sumber penghidupannya, memaksa petani untuk mengungsi dari tanah mereka – dan oleh karena itu menghambat pertumbuhan populasi dan perkembangan kekuatan-kekuatan produksi. Maka dari itu, karena Negara menelan produk nilai-lebih yang teramat besar, ia menghambat diferensiasi estate (kelompok sosial – Ed.) yang memang sudah lambat; karena ia merampas produk yang penting. Negara Rusia menghancurkan bahkan basis produksi primitif yang dia butuhkan.
Tetapi, untuk bisa eksis, untuk bisa berfungsi, dan yang paling penting untuk bisa mengasingkan produk nilai-lebih yang dia butuhkan, Negara Rusia membutuhkan organisasi estate yang hirarkikal. Inilah mengapa, walaupun Negara Rusia melemahkan pondasi ekonomi untuk perkembangannya, pada saat yang sama ia berusaha keras untuk mendorong perkembangan pondasi ekonomi ini dengan kebijakan-kebijakan pemerintahan, dan – seperti negara-negara yang lain – berusaha keras untuk mendorong perkembangan estate ini untuk kepentingannya sendiri. Milyukov[7], seorang ahli sejarah budaya Rusia, melihat di sini sebuah kontras dari sejarah Eropa Barat. Tetapi sebenarnya tidak ada kontras di sini.
Estate-Monarki Zaman Pertengahan, yang tumbuh dari absolutisme birokratik, membentuk sebuah bentuk negara yang memperkuat kepentingan-kepentingan dan relasi-relasi sosial tertentu. Tetapi bentuk negara ini sendiri, setelah ia lahir dan eksis, mempunyai kepentingannya sendiri (dinasti, monarki, birokrat …) yang bertentangan dengan kepentingan kelompok estate yang lebih bawah dan juga kelompok estate yang lebih tinggi. Kelompok estate yang mendominasi, yang merupakan ‘tembok penengah’ antara rakyat dan Negara, menekan negara tersebut dan membuat kepentingan mereka menjadi bagian dari aktivitas Negara. Pada saat yang sama, kekuasaan Negara, sebagai sebuah kekuatan yang independen, juga memandang kepentingan kelompok estate yang lebih tinggi dari sudut pandang mereka sendiri. Ia mulai menolak aspirasi kelompok estate tersebut dan mencoba menekukkan lutut mereka. Relasi historis antara Negara dan kelompok-kelompok estate mengikuti garis konsekuensi yang ditentukan oleh korelasi kekuatan-kekuatan sosial.
Sebuah proses yang serupa dalam basis fundamentalnya mengambil tempat di Rusia. Negara Rusia berusaha keras untuk memanfaatkan kelompok-kelompok ekonomi yang sedang berkembang, untuk menguasai mereka di bawah kepentingan-kepentingan finansial dan militer yang terspesialisasi. Kelompok-kelompok ekonomi yang mendominasi ini, seiring dengan pertumbuhan mereka, berusaha untuk menggunakan Negara untuk mengkonsolidasikan keunggulan mereka dalam bentuk hak-hak istimewa. Di dalam permainan kekuatan-kekuatan sosial ini, hasil akhirnya jauh lebih menguntungkan Negara Rusia, tidak seperti sejarah Eropa Barat. Pertukaran jasa antara Negara dan kelompok-kelompok sosial atas, yang mengorbankan rakyat pekerja, yang menemukan ekspresinya di dalam distribusi hak dan kewajiban, distribusi beban dan hak istimewa; pertukaran jasa ini lebih kurang menguntungkan bagi kelas ningrat dan kaum pendeta di Rusia bila dibandingkan dengan estate-Monarki pada saat Zaman Pertengahan di Eropa. Ini sangatlah jelas. Akan tetapi, walaupun di Eropa Barat kelompok-kelompok estate menciptakan Negara, akan sangat berlebihan kalau kita lalu mengatakan bahwa di Rusia kekuasaan Negara menciptakan kelompok-kelompok estate (seperti yang dikatakan oleh Milyukov).
Estate tidak dapat diciptakan melalui kebijakan-kebijakan negara dan hukumnya. Sebelum sebuah kelompok sosial dapat mengambil bentuk sebagai kelompok estate yang memiliki hak istimewa dengan bantuan kekuasaan Negara, ia harus berkembang terlebih dahulu secara ekonomi dengan semua kemajuan-kemajuan sosialnya. Estate tidak dapat dimanufaktur berdasarkan hirarki sosial yang sebelumnya, atau berdasarkan undang-undang Legion d’Honneur[8]. Dengan sumberdayanya, Negara hanya dapat membantu proses ekonomi dasar yang menyebabkan formasi ekonomi yang lebih tinggi. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, Negara Rusia mengkonsumsi bagian yang sangat besar dari kekuatan produksi bangsa, dan oleh karena itu menghambat proses kristalisasi kelas sosial, tetapi ia membutuhkan proses ini untuk kepentingannya sendiri. Maka dari itu, sangatlah lazim kalau di bawah pengaruh dan tekanan dari Eropa Barat yang ditransfer melalui organisasi militer-negara, Negara Rusia merespon dengan memaksa perkembangan diferensiasi kelas sosial di atas sebuah pondasi ekonomi yang primitif. Dan tidaklah aneh kalau Negara di dalam usahanya sebagai wali dari perkembangan diferensiasi kelas ini akan menggunakan kekuasaannya untuk mengarahkan perkembangan kelas-kelas atas sesuai dengan kepentingannya. Tetapi dalam perjalanannya untuk mencapai tujuan ini, Negara Rusia terhambat oleh kelemahannya sendiri dan keprimitifan organisasinya, yang disebabkan oleh keprimitifan struktur sosial.
Maka dari itu, Negara Rusia, yang dibangun di atas basis kondisi ekonomi Rusia, terdorong maju oleh tekanan bersahabat, dan bahkan lebih oleh tekanan yang bermusuhan, dari Negara-Negara tetangga yang telah berkembang di atas basis ekonomi yang lebih tinggi. Semenjak itu – terutama semenjak akhir abad ke 17 – Negara Rusia berusaha keras dengan seluruh kekuatannya untuk mempercepat perkembangan ekonomi bangsa. Cabang-cabang baru dari kerajinan-tangan, mesin-mesin, pabrik-pabrik, industri besar, kapital, boleh dibilang dicangkok di batang pohon ekonomi. Kapitalisme tampak seperti dilahirkan oleh Negara.
Dari sini, dapat dibilang kalau semua ilmu pengetahuan di Rusia adalah produk artifisial dari pemerintahan, sebuah cangkokan artifisial dari kebodohan nasional[9].
Kebudayaan Rusia, seperti halnya ekonomi Rusia, berkembang di bawah tekanan langsung dari kebudayaan dan ekonomi Eropa yang lebih tinggi. Karena karakter alami dari ekonomi Rusia (yakni perdagangan asing yang lemah) maka relasi-relasi dengan bangsa-bangsa yang lain didominasi oleh karakter Negara. Pengaruh dari negara-negara ini diekspresikan di dalam perjuangan untuk kelangsungan Negara sebelum diekspresikan di dalam kompetisi ekonomi secara langsung. Ekonomi Eropa Barat mempengaruhi ekonomi Rusia melalui Negara. Supaya bisa bertahan hidup di tengah-tengah negara-negara musuh yang lebih bersenjata, Rusia terpaksa harus membangun pabrik-pabrik, membuka sekolah navigasi, mencetak buku mengenai pertahanan, dsb. Secara umum, arah ekonomi internal dari bangsa yang besar ini bergerak ke arah yang sama, perkembangan kondisi ekonomi menciptakan permintaan untuk ilmu pengetahuan umum dan teknik. Kalau tidak begitu, usaha Negara Rusia akan sia-sia saja. Ekonomi nasional Rusia, yang berkembang dari ekonomi alami ke ekonomi moneter-komoditi, hanya dipengaruhi oleh kebijakan negara yang sesuai dengan perkembangannya. Sejarah perindustrian Rusia, sistem moneter Rusia, dan sistem kredit Negara, adalah contoh yang paling bagus untuk paparan di atas.
“Mayoritas cabang-cabang industri (metal, gula, minyak bumi, kilang minyak, bahkan industri tekstil) dibangun di bawah pengaruh langsung dari kebijakan-kebijakan Pemerintah, kadang-kadang bahkan dengan bantuan subsidi Pemerintah, tetapi terutama karena Pemerintah selalu secara sadar menjalani kebijakan proteksionisme. Selama rejim Alexander, Negara secara terbuka mengadopsi kebijakan tersebut di dalam panji-panjinya … Lingkaran pejabat tinggi Negara, yang secara penuh menerima prinsip-prinsip aplikasi proteksionisme di Rusia, ternyata lebih maju dibandingkan kelas-kelas kita yang terdidik.” (Profesor D. Mendeleyev, Toward the Understanding of Russia, St. Petersburg, 1906, hal. 84)
Para pendukung proteksionisme industri yang terdidik ini lupa menambahkan bahwa kebijakan Negara ini tidak didikte oleh keinginan untuk mengembangkan kekuatan industri, tetapi oleh pertimbangan fiskal dan sedikit banyak oleh pertimbangan militer. Untuk alasan ini, kebijakan proteksionisme sering bertentangan dengan kepentingan fundamental dari perkembangan industri, dan bahkan sering bertentangan dengan kepentingan individual dari banyak kelompok-kelompok pedagang. Para pemilik pemintal-kapas secara terbuka menyatakan bahwa “pajak kapas yang tinggi ini dipertahankan bukan untuk mendorong perkebunan kapas tetapi hanya untuk kepentingan fiskal”. Dalam ‘penciptaan’ estate dan seperti halnya juga dalam penciptaan industri perkebunan, Negara Rusia hanya mengejar kepentingannya sendiri dan pertimbangan utamanya adalah memenuhi pajak negara. Jelas kalau kaum otokrat memainkan peran yang cukup besar dalam mengimplementasikan sistem produksi pabrik di Rusia.
Saat kelas borjuis yang sedang berkembang ini mulai merasa kalau mereka memerlukan institusi-institusi politik Eropa Barat, kaum otokrat sudah dipersenjatai dengan semua kekuatan material Negara Eropa. Negara Rusia adalah sebuah mesin birokrasi yang sentralistis yang tidak berguna untuk membangun relasi-relasi sosial yang baru, tetapi mampu melakukan represi yang sistematis. Daerah negara yang sangat luas sudah teratasi dengan telegraf, yang memberikan kepercayaan-diri terhadap aksi-aksi administrasi dan secara relatif memberikan kesetaraan dan kecepatan dalam tindakan-tindakannya (tindakan represi). Rel kereta api memungkinkan Rusia untuk mengirim tentara dari satu ujung negara ke ujung yang lain dengan cepat. Pemerintahan-pemerintahan pra-revolusi di Eropa tidak memiliki rel dan telegraf. Angkatan bersenjata milik negara absolutisme ini sangatlah besar – dan bila ia tidak berguna di dalam peperangan Rusia-Jepang[10], ia tetap berguna untuk dominasi internal. Bukan hanya Negara Prancis sebelum Revolusi besar (1789-1799), bahkan Negara Prancis tahun 1848 pun tidak memiliki tentara seperti Rusia sekarang ini.
Dengan mengeksploitasi Rusia sebesar-besarnya melalui mesin fiskal dan militernya, Pemerintahan Rusia meningkatkan anggaran tahunannya sampai sebesar dua milyar rubel. Didukung oleh tentaranya dan neraca keuangannya, pemerintah otokrasi ini membuat Bursa Saham Eropa sebagai departemen pajaknya, dan oleh karenanya pembayar pajak Rusia menjadi pembayar upeti kepada Bursa Saham Eropa
Maka, pada tahun 1880-1890an, Negara Rusia menghadapi dunia sebagai sebuah organisasi militer-birokrasi dan fiskal-Bursa-Saham yang teramat kuat.
Kekuatan finansial dan militer dari monarki-absolut ini membingungkan dan membutakan bukan hanya kaum borjuis Eropa tetapi juga kaum liberal Rusia, yang telah kehilangan keyakinan untuk melawan absolutisme. Kekuatan finansial dan militer dari monarki-absolutis ini tampaknya menihilkan kemungkinan Revolusi Rusia. Tetapi kenyataannya justru sebaliknya.
Semakin sebuah negara tersentralisir dan independen dari masyarakat, semakin cepat ia menjadi sebuah organisasi yang otokratik yang berdiri di atas masyarakat. Semakin besar kekuatan finansial dan militer yang dimiliki sebuah negara, semakin lama dan semakin berhasil ia dapat melanjutkan perjuangan untuk mempertahankan keberadaannya. Negara Rusia yang sentralis, dengan anggaran belanjanya yang sebesar 2 milyar, hutangnya sebesar 8 milyar dan angkatan bersenjata dengan jutaan tentara, mampu bertahan jauh setelah ia sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar perkembangan sosial – bukan hanya kebutuhan administrasi internal tetapi bahkan kebutuhan pertahanan militer, yang tujuan awalnya adalah justru pertahanan.
Semakin lama masalah ini tak terpecahkan, semakin besar kontradiksi antara kebutuhan perkembangan ekonomi dan sosial dengan kebijakan Negara, yang telah menjadi inersia ‘jutaan kali lipat’. Setelah era ‘reformasi tambalan’ – yang tidak menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi ini, tetapi sebaliknya mengekspos mereka untuk pertama kalinya – sudah ditinggal di belakang, menjadi semakin sulit dan tidak mungkin secara psikologis bagi pemerintah untuk secara sukarela mengambil jalan parlementer. Satu-satunya jalan keluar dari kontradiksi-kontradiksi ini adalah melalui akumulasi tekanan di dalam mesin uap absolutisme yang cukup besar untuk menghancurkan ketel mesin uap tersebut.
Oleh karena itu, kekuatan administrasi, militer, dan finansial dari absolutisme tidak hanya membuat revolusi suatu hal yang mungkin – seperti pendapatnya kaum liberal – tetapi sebaliknya membuat revolusi sebagai satu-satunya jalan keluar. Terlebih lagi, revolusi ini pasti akan mengambil karakter yang radikal karena jurang antara Negara dan masyarakat yang digali oleh absolutisme. Marxisme Rusia boleh berbangga hati karena dengan sendirinya mampu menjelaskan arah dari perkembangan gerakan ini dan meramal bentuk umumnya[11], sedangkan kaum liberal menyuap diri mereka sendiri dengan ‘praktikalisme’ yang utopis dan kaum ‘Narodnik’[12] yang revolusioner hidup di dalam fantasi dan mempercayai mujizat.
Semua perkembangan sosial yang kita saksikan ini membuat revolusi tidak terelakkan. Lalu, apakah kekuatan pengerak revolusi ini?
[1] Estate, yang dimaksud adalah sebuah golongan dari masyarakat pra-kapitalis atau feudalisme yang memiliki hak-hak dan tugas-tugas yang ditentukan oleh hukum. Ini berbeda dengan kelas. Misalkan kaum pendeta adalah sebuah estate dan bukanlah sebuah kelas. Di Zaman Pertengahan Eropa, secara umum ada tiga estate: kaum pendeta (estate pertama), kaum aristokrat (estate kedua), dan rakyat secara umum (estate ketiga) yang mencakupi kaum tani, para tukang, pekerja dan kaum borjuis (semuanya yang bukan anggota estate pertama dan kedua). Pada tahun 1789, 96% populasi di Prancis adalah dari estate ketiga.
[2] Adam Smith (1723-1790) adalah seorang ahli ekonomi dari Skotlandia, yang pertama kali menyelesaikan sebuah teori komprehensif mengenai ekonomi-politik. Dia dianggap sebagai bapak dari ekonomi moderen.
[3] Periode Novgorod adalah periode republik Novgorod di Rusia, yang merupakan zaman pertengahannya Rusia dari 1136-1478.
[4] Zaman-Pertengahan adalah suatu periode di Eropa, dari jatuhnya Kekaisaran Romawi pada abad ke-5 hingga abad ke-15.
[5] Golden Horde adalah istilah Rusia untuk orang Mongolia.
[6] Streltsi adalah unit rejimen di Rusia dari abad ke-16 hingga abad ke-18
[7] Pavel Nikolayevich Milyukov (1859-1943). Profesor di Universitas Sejarah Moskow. Anggota Duma Ketiga dan Keempat. Seorang organiser dan pemimpin Partai Kadet. Setelah Revolusi Februari, Milykov menjadi Menteri Luar Negeri dalam Pemerintahan Sementara. Dia adalah seorang sosial-sovinis selama Perang Dunia Pertama, yang mengirim surat atas nama pemerintahan sementara untuk pemerintahan Allied bahwa Rusia siap untuk melanjutkan perang hingga “kemenangan akhir “. Dia menjadi anti Bolshevik pada tahun 1918-19. Dia disingkirkan dari posisinya pada April 1917, sebagai akibat dari demonstrasi massa pekerja dan tentara melawan dilanjutkannya perang. Pada Agustus 1917, Milyukov mendukung oposisi Kornilov terhadap pemerintahan sementara. Mengikuti kegagalan ini, Milyukov meninggalkan Rusia, kemudian membantu White Armies yang menginvasi Rusia tahun berikutnya.
[8] Legion d’Honneur adalah sebuah orde kemiliteran Prancis yang diciptakan olej Napolen Bonaparte pada tahun 1802.
[9] Cukup mudah untuk mengingat ciri-ciri khusus dari relasi yang sesungguhnya antara Negara dan sekolah, bahwa sekolah adalah produk ‘artifisial’ dari Negara, seperti halnya pabrik. Usaha pendidikan Negara menggambarkan ‘keartifisialan’ ini. Murid-murid yang bolos dirantai. Seluruh sekolah dirantai. Belajar adalah bentuk pelayanan. Murid-murid dibayar gaji, dsb. dsb. – (Catatan Leon Trotsky)
[10] Peperangan Rusia-Jepang berlangsung dari 1904-1905, dimana Rusia dan Jepang berperang untuk merebut daerah Manchuria dan Korea.
[11] Bahkan kaum birokrat revolusioner seperti Profesor Mendeleyev tidak dapat memungkiri ini. Berbicara mengenai perkembangan industri, dia mengamati: “Kaum sosialis melihat ada sesuatu di sini dan bahkan setengah memahaminya, tapi kemudian mereka takabur, mengikuti Latinisme [!], menyerukan penggunaan kekerasan, memanfaatkan instink massa yang brutal dan berjuang demi revolusi dan kekuasaan.” (Towards the Understanding of Russia, hal. 120) – (Catatan Leon Trotsky)
[12] Narodnik pada awalnya ini adalah nama untuk kaum revolusioner Rusia pada tahun 1860an dan 1870an, narodniki berarti “bergerak ke rakyat”. Kelompok Narodnik dibentuk unuk merespon konflik yang semakin besar antara kaum tani miskin dan kaum tani kaya (kulak). Kelompok tersebut tidak mendirikan organisasi yang konkrit, namun memiliki tujuan umum sama untuk menggulingkan monarki dan kulak, serta mendistribusikan tanah untuk kaum tani. Kaum Narodnik secara umum percaya bahwa kapitalisme bukan merupakan sebuah keharusan akibat perkembangan industri, dan bahwa dimungkinkan untuk melewati kapitalisme secara langsung dan masuk ke dalam masyarakat sejenis Sosialisme.
Kaum Narodnik percaya bahwa kaum tani adalah klas revolusioner yang akan menggulingkan monarki, menganggap komune desa sebagai embrio Sosialisme. Namun mereka tidak percaya bahwa kaum tani akan mampu mencapai revolusi dengan usahanya sendiri. Sejarah hanya dapat dibuat oleh pahlawan, individu yang luar biasa, yang akan memimpin kaum tani menuju revolusi.