Sejarah tidak mengulangi dirinya sendiri. Sebanyak-banyaknya seseorang ingin membandingkan Revolusi Rusia (1905) dengan Revolusi Prancis 1789, Revolusi Rusia tidak akan pernah bisa menjadi pengulangan dari Revolusi Prancis. Abad ke-19 tidak berlalu dengan sia-sia.
Tahun 1848 saja sudah sangat berbeda dari tahun 1789. Dibandingkan dengan Revolusi 1789, Revolusi Austria dan Prussia[1] mengejutkan kita karena sapuannya yang kecil. Dalam satu pihak, mereka terjadi terlalu awal, di pihak yang lain terlalu telat. Kekuatan besar yang dibutuhkan bagi masyarakat borjuis untuk menghancurkan para aristokrat hanya bisa dicapai oleh kekuatan seluruh bangsa dalam melawan despostime-feodal atau oleh perkembangan perjuangan kelas yang kuat di dalam bangsa ini yang berusaha untuk membebaskan dirinya. Dalam kasus yang pertama, yang terjadi pada tahun 1789-93, kekuatan bangsa yang terkompres oleh perlawanan sengit dari orde lama, digunakan seluruhnya untuk melawan reaksi. Dalam kasus yang kedua, yang belum pernah terjadi di dalam sejarah, dan yang hanya kita anggap sebagai sebuah kemungkinan, enerji yang dibutuhkan untuk melawan kekuatan-kekuatan jahat di dalam sejarah dihasilkan di dalam negara borjuis melalui perjuangan kelas internal. Pertentangan internal yang hebat ini, yang menghabiskan cukup banyak enerji dan merampas kemungkinan kaum borjuis untuk memainkan peran utama, memberikan kaum proletar 10-tahun pengalaman dalam waktu satu bulan, mendorongnya menjadi pemimpin, dan memberikannya kekuasaan. Dengan tekad yang bulat dan tidak ragu-ragu, kelas ini memberikan sebuah dorongan yang hebat ke dalam peristiwa-peristiwa.
Revolusi dapat terjadi melalui dua cara: oleh sebuah bangsa yang bersatu seperti seekor singa yang siap menerkam, atau¸ oleh sebuah bangsa di dalam proses perjuangan yang memecahkan bangsa tersebut guna membebaskan bagian terbaiknya yang akan melaksanakan tugas-tugas yang tidak mampu dipenuhi oleh seluruh bangsa. Ini adalah dua set kondisi sejarah yang bertentangan, yang di dalam bentuknya yang murni tentu saja hanya mungkin di dalam kontraposisi yang logis.
Dalam kebanyakan kasus, jalan tengah antara kedua cara ini adalah jalan yang paling parah. Jalan tengah inilah yang terjadi pada tahun 1848 (baca kegagalan Revolusi Austria dan Prusia – Ed.)
Di dalam periode sejarah Prancis yang penuh kepahlawanan, kita melihat sebuah kelas borjuis yang bebas dari prasangka tahayul, yang aktif, yang belum sadar akan kontradiksi di dalam posisinya, yang oleh sejarah dibebankan tugas kepemimpinan perjuangan demi sebuah orde yang baru, bukan hanya melawan institusi-institusi tua di Prancis tetapi juga melawan kekuatan reaksioner dari seluruh Eropa. Dengan konsisten dan di dalam semua faksinya, kaum borjuis menganggap diri mereka sendiri sebagai pemimpin bangsa, menyatukan massa ke dalam perjuangan, memberikan mereka slogan-slogan dan mendikte taktik perjuangan mereka. Demokrasi mengikat seluruh bangsa dengan sebuah ideologi politik. Rakyat – yakni kaum borjuis kota, kaum tani, dan kaum pekerja – memilih kaum borjuis sebagai perwakilan mereka, dan instruksi-instruksi yang mereka berikan kepada perwakilan mereka ini ditulis dengan bahasa kaum borjuis yang menjadi sadar akan misinya sebagai pembebas. Selama revolusi ini sendiri, walaupun antagonisme kelas terkuak, inersia perjuangan revolusioner yang besar ini melempar keluar elemen-elemen kaum borjuis yang lebih konservatif. Tidak ada strata yang akan terguling sebelum ia mentransfer enerjinya ke strata yang ada di bawahnya. Seluruh bangsa lalu melanjutkan perjuangannya dengan metode yang lebih tajam dan tekad yang bulat. Ketika lapisan atas dari kaum borjuis kaya pecah dari gerakan nasional ini dan membentuk aliansi dengan Louis XVI, tuntutan-tuntutan demokratik bangsa ini ditujukan melawan kaum borjuis tersebut, dan ini menghasilkan pemilu universal dan republik sebagai bentuk demokrasi yang logis dan tidak terelakkan.
Revolusi Prancis 1789 memang adalah sebuah revolusi nasional. Dan terlebih lagi, di dalam kerangka nasional, perjuangan mendunia dari kaum borjuis untuk meraih dominasi, kekuasaan, dan kemenangan mutlak menemukan ekspresi klasiknya.
Jacobonisme[2] sekarang adalah sebuah istilah kotor bagi mulut semua kaum liberal yang sok tahu. Kebencian kaum borjuis terhadap revolusi, kebenciannya terhadap rakyat, kebenciannya terhadap kekuatan dan kemegahan sejarah yang tercipta di jalanan, kebencian ini terpusatkan di dalam satu pekik kebencian dan rasa takut – Jacobinisme! Kita, pasukan komunis sedunia, sudah sejak lama menyelesaikan pertentangan historis kita dengan Jacobinisme. Seluruh gerakan proletar internasional sekarang ini dibentuk dan tumbuh kuat di dalam perjuangannya melawan tradisi Jacobinisme. Kita kritiki teori-teorinya, kita ekspos limit-limit historisnya, kontradiksi-kontradiksi sosialnya, utopismenya, kita ekspos retorika-retorikanya, dan hancurkan tradisi-tradisi ini, yang selama puluhan tahun telah dianggap sebagai warisan suci revolusi.
Tetapi kita membela Jacobinisme dari serangan-serangan, fitnah-fitnah dan penyalahgunaan yang dilakukan oleh liberalisme yang impoten. Dengan sangat memalukan, kaum borjuis telah mengkhianati semua tradisi sejarah di saat ia masih muda, dan saat ini agen-agen bayarannya menginjak-injak kuburan leluhurnya dan mentertawakan nilai-nilai idealisme leluhurnya. Kaum proletar telah melindungi kehormatan dari masa-lalu kaum borjuis yang revolusioner. Akan tetapi, seradikal apapun kaum proletar telah putus dari tradisi revolusioner kaum borjuis, mereka tetap melindunginya sebagai sebuah warisan dari nilai-nilai semangat perjuangan, kepahlawanan, dan kreatifitas yang agung, dan hatinya berdentum dengan penuh simpati terhadap pidato-pidato dan aksi-aksi Kelompok Jacobin.
Bukankah liberalisme mendapatkan pesonanya dari tradisi Revolusi Prancis? Bukankah demokrasi borjuis naik ke tempat yang begitu tinggi dan menebarkan api yang begitu menggelora di hati rakyat hanya pada saat periode Jacobin, sans-culotte[3], teroris, dan demokrasi Robespierrian[4] tahun 1793?
Siapa lagi kalau bukan Jacobinisme yang memungkinkan kaum borjuis dari segala aliran untuk memimpin mayoritas rakyat dan bahkan kaum proletar di bawah pengaruhnya, ketika radikalisme borjuis di Jerman dan Austria telah menutup sejarahnya yang pendek dengan aksi-aksi yang memalukan dan mengecewakan?
Siapa lagi kalau bukan Jacobinisme dengan pesonanya, dengan ideologi politiknya yang abstrak, dengan pemujaannya terhadap Republik yang Suci, dengan deklarasi-deklarasinya yang megah, yang bahkan sampai sekarang memberi makan kaum Radikal[5] Prancis dan kaum sosialis-radikal seperti Clemenceau[6], Millerand[7], Briand[8] dan Bourgeois[9], dan semua politisi-politisi yang tahu bagaimana mempertahankan sistem borjuis seperti halnya kaum Junker[10]nya Wilhem II[11]? Mereka dicemburui oleh kaum borjuis demokrat dari negara-negara lain, akan tetapi mereka masih saja menebar fitnah kepada Jacobinisme, sumber kemasyuran politik mereka.
Bahkan setelah banyak harapan sudah dihancurkan, Jacobinisme tetap tinggal di dalam ingatan rakyat sebagai sebuah tradisi. Puluhan tahun lamanya, kaum proletar masih berbicara mengenai masa depannya dengan bahasa masa lalu. Pada tahun 1840, hampir setengah abad setelah pemerintahan ‘La Montagne’[12], 8 tahun sebelum Hari-Hari Juni 1848, Heine[13] mengunjungi beberapa seminar di faubourg (sub-urban) Saint-Marceau dan menyaksikan para pekerja, ‘seksi kelas bawah yang paling bersuara’, sedang membaca. Dalam artikelnya di sebuah suratkabar Jerman, Heine menulis, “Saya menemukan di sana beberapa pidato oleh Robespierre dan juga pamflet-pamflet karangan Marat[14] dalam dua edisi; Sejarah Revolusi oleh Cabet[15]; tulisan-tulisan Cormenin[16] yang tajam; karya-karya Buonarroti[17]; Ajaran-Ajaran dan Konspirasi Babeuf[18]; semua karya-karya yang berbau darah …”, lalu penyair ini meramalkan, “ … sebagai salah satu buah dari benih ini, cepat atau lambat sebuah republik akan lahir di Prancis.”
Pada tahun 1848, kaum borjuis sudah tidak mampu lagi memainkan peran yang sama. Mereka tidak ingin dan tidak mampu melaksanakan likuidasi revolusioner dari sistem sosial yang menghadang jalan mereka ke kekuasaan. Kita tahu mengapa. Tujuan kaum borjuis adalah – dan mereka sepenuhnya sadar akan tujuan ini – untuk memasukkan ke dalam rejim tua ini kebijakan-kebijakan penjamin yang diperlukan bukan untuk dominasi politik mereka tetapi hanya untuk berbagi kekuasaan dengan kekuatan-kekuatan rejim yang lama. Mereka menjadi bijak karena pengalaman kaum borjuis Prancis, yang menjadi korup karena pengkhianatan mereka dan menjadi takut akan kegagalan mereka. Mereka bukan hanya gagal memimpin massa menghancurkan orde yang lama, tetapi mendukung orde lama ini guna mendorong ke belakang massa yang maju ke depan.
Kaum borjuis Prancis berhasil menyelesaikan Revolusi Prancis 1789. Saat itu, kesadarannya adalah kesadaran rakyat, dan tidak ada institusi yang bisa terbentuk tanpa pertama kali menggerakkan kesadarannya sebagai tujuannya, sebagai masalah pembentukan politik. Sering kali mereka menggunakan pose-pose teatrikal guna menyembunyikan diri mereka dari batasan-batasan dunia borjuis mereka – tetapi mereka tetap melangkah maju.
Akan tetapi, kaum borjuis Jerman, dari awalnya, tidak ‘menciptakan’ revolusi, tetapi memisahkan diri mereka dari revolusi. Kesadaran mereka bertentangan dengan kondisi objektif dominasi mereka. Revolusi hanya bisa dilaksanakan bukan oleh mereka tetapi untuk melawan mereka. Di dalam pikirannya, institusi-institusi demokrasi bukanlah merupakan tujuan untuk diperjuangkan, tetapi merupakan halangan bagi kemakmuran mereka.
Pada tahun 1848, sebuah kelas dibutuhkan, sebuah kelas yang mampu mengambil tampuk kepemimpinan gerakan tanpa keberadaan kaum borjuis, sebuah kelas yang bukan hanya mampu mendorong kaum borjuis untuk maju depan tetapi juga mampu menyingkirkan mayat politik kaum borjuis pada saat-saat yang menentukan. Kaum borjuis kecil kota dan kaum tani tidak mampu melakukan hal ini.
Kaum borjuis kecil perkotaan membenci rejim masa lalu dan juga rejim masa depan. Masih terikat oleh relasi Zaman Pertengahan, tetapi sudah tidak mampu berdiri melawan industri ‘bebas’; masih berpengaruh di kota-kota, tetapi sudah tidak mampu melawan kaum borjuis menengah dan besar; penuh dengan prasangka, tuli karena gemuruh peristiwa, tertindas dan menindas, serakah tetapi tidak mampu memenuhi keserakahannya; kaum borjuis kecil tidak mampu memimpin bila ditinggal sendirian.
Kaum tani bahkan lebih tidak memiliki inisiatif politik yang independen. Dirantai selama berabad-abad, miskin, penuh kemarahan, menyatukan semua bentuk penindasan yang lama dan baru di dalamnya, kaum tani pada suatu saat tertentu dapat menjadi sumber kekuatan revolusioner yang besar. Akan tetapi, tidak terorganisir, tercerai-berai, terisolasi dari kota yang merupakan nadi utama dari politik dan kebudayaan, bodoh, pikirannya terbatas pada desa-desa mereka sendiri, tidak peduli pada apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang kota, kaum tani tidak bisa menjadi kekuatan pemimpin. Kaum tani segera menjadi jinak setelah punggungnya telah dibebaskan dari beban feodalisme, dan menunjukkan rasa tidak berterimakasih kepada kota-kota yang telah berjuang demi hak-hak mereka. Kaum tani yang terbebaskan menjadi fanatik ‘orde lama’.
Kaum intelektual demokrat tidak memiliki kekuatan kelas. Pada satu waktu kelompok ini mengekori saudara tuanya, kaum borjuis liberal, pada waktu yang lain mereka meninggalkan kaum borjuis liberal di saat yang kritikal guna mengekspos kelemahan mereka. Mereka membingungkan diri mereka sendiri dengan kontradiksi-kontradiksi yang tidak bisa diselesaikan, dan membawa kebingungan ini kemana saja mereka pergi.
Kaum proletar terlalu lemah, tidak memiliki organisasi, pengalaman, dan pengetahuan. Kapitalisme telah cukup berkembang sehingga membuat abolisi relasi feodal sebagai suatu hal yang harus dilakukan, tetapi pada pihak yang lain kapitalisme belumlah cukup berkembang untuk membuat kelas pekerja – yang merupakan produk dari relasi industri yang baru – sebagai suatu kekuatan politik yang kuat. Antagonisme antara proletar dan borjuis, bahkan di dalam kerangka nasional Jerman, sudah menjadi terlalu besar sehingga kaum borjuis tidak berani mengambil peran hegemoni nasional, tetapi tidak cukup bagi kaum proletar untuk mengambil peran tersebut. Benar kalau pertentangan internal revolusi mempersiapkan kaum proletar untuk keindependenan politik, tetapi pada saat yang sama pertentangan internal ini menghabiskan enerji dan melemahkan persatuan, menyebabkan penghabisan enerji yang sia-sia, dan memaksa revolusi – setelah keberhasilan awalnya – untuk tertunda lama dan kemudian mundur di bawah pukulan reaksioner.
Revolusi Austria merupakan satu contoh yang jelas dan tragis dari karakter relasi politik yang tidak-matang dan tidak-selesai di dalam periode revolusi.
Kaum proletar Vienna pada tahun 1848 menunjukkan kepahlawanan yang hebat dan enerji yang besar. Lagi dan lagi mereka terjun ke medan perang, hanya didorong oleh naluri kelas yang buram, tidak memiliki sebuah gambaran umum dari tujuan perjuangan mereka, dan merubah satu slogan ke slogan yang lain dengan meraba-raba di dalam kegelapan. Cukup luar biasa, kepemimpinan proletar jatuh di tangan pelajar, yang memiliki pengaruh yang besar di hadapan massa karena aktivitas mereka, dan oleh karena itu mereka memiliki pengaruh yang besar di dalam gerakan. Tidak diragukan kalau para pelajar mampu berjuang dengan berani di barikade-barikade dan bergaul dengan para pekerja, tetapi mereka sama sekali tidak mampu memberikan arah kepada jalannya revolusi yang telah memberikan mereka ‘kediktatoran’ di jalanan.
Kaum proletar, tidak terorganisir, tanpa pengalaman politik dan kepemimpinan yang independen, mengikuti para pelajar. Pada setiap momen yang kritikal, para pekerja menawarkan ‘tuan-tuan yang bekerja dengan kepala mereka’ bantuan dari ‘mereka yang bekerja dengan tangan mereka’. Pada satu saat para pelajar memanggil para pekerja untuk berjuang, dan pada saat yang lain para pelajar menghalangi para pekerja dari sub-urban untuk pergi ke kota. Kadang-kadang, dengan menggunakan otoritas politik mereka dan mengandalkan senjatanya Academic Legion, para pelajar melarang para pekerja untuk memajukan tuntutan-tuntutan independen mereka sendiri. Ini jelas-jelas adalah bentuk klasik kediktatoran revolusioner yang baik-hati terhadap kaum proletar. Apakah hasil dari relasi sosial ini? Nah ini: ketika pada tanggal 26 Mei, semua rakyat pekerja Vienna, yang dipanggil oleh para pelajar, bergerak untuk menentang pelucutan senjata para pelajar (Academic Legion); ketika seluruh populasi ibukota yang membangun barikade di seluruh penjuru kota menunjukkan kekuatan yang besar dan mengambil alih kota Vienna; ketika seluruh Austria mendukung mempersenjatai rakyat Vienna; ketika anggota monarki sudah kabur dan kehilangan semua ….; ketika semua tentara telah ditarik keluar dari ibukota karena tekanan dari rakyat; ketika pemerintahan Austria mengundurkan diri tanpa menunjuk penggantinya – tidak ada kekuatan politik yang dapat mengambil tampuk kepemimpinan.
Kaum borjuis liberal sengaja menolak mengambil kekuasaan yang telah ditundukkan dengan cara yang liar; mereka hanya memimpikan kembalinya sang Raja yang telah lari ke Tyrol[19].
Kaum pekerja memiliki cukup keberanian untuk mengalahkan kekuatan reaksioner,tetapi tidak cukup terorganisir dan sadar untuk menggantikan mereka. Sebuah gerakan buruh yang kuat eksis, tetapi perjuangan kelas proletar dengan sebuah tujuan politik yang bulat belumlah cukup berkembang. Kaum proletar, yang tidak mampu mengambil kepemimpinan, tidak mampu menyelesaikan tugas historis ini. Dan kaum borjuis demokrat, seperti yang sering terjadi, kabur dengan diam-diam pada saat yang sangat menentukan.
Untuk memaksa para desertir (pembelot) ini supaya mereka memenuhi kewajiban-kewajibannya mengharuskan kaum proletar untuk memiliki enerji dan kedewasaan seperti yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan buruh sementara.
Sebagai konsekuensinya, kita menyaksikan sebuah situasi yang dapat dijelaskan sebagai berikut: “Republik telah terbentuk di Vienna, tetapi sayangnya tidak ada seorangpun yang sadar akan hal ini.” Republik yang tidak disadari oleh siapapun ini telah lama hilang dari arena, digantikan oleh Habsburg[20] … Sebuah kesempatan yang sekali hilang tidak akan kembali lagi.
Dari pengalaman revolusi Hungaria (Kerajaan Austria-Hungaria, yang dari tahun 1867-1918 merupakan monarki ganda – Ed.) dan Jerman, Lassalle[21] menyimpulkan bahwa dari sekarang revolusi hanya dapat mengandalkan perjuangan kelas kaum proletar. Di dalam suratnya kepada Marx tanggal 24 Oktober 1849, Lassalle menulis: “Hungaria memiliki lebih banyak kesempatan daripada negara-negara lainnya untuk berhasil di dalam perjuangannya. Salah satu penyebabnya adalah karena partai-partai di negara ini tidaklah terpecah-berai dan bertengkar seperti halnya di Eropa Barat; karena revolusi ini mengambil bentuk perjuangan pembebasan nasional. Akan tetapi, Revolusi Hungaria kalah, dan justru karena pengkhianatan partai nasional.”
“Ini, dan sejarah Jerman selama 1848-1849,” lanjut Lassalle, “membawa saya ke kesimpulan bahwa tidak ada revolusi yang akan berhasil di Eropa kecuali bila revolusi tersebut dari awalnya diproklamirkan sebagai sungguh-sungguh sosialis. Tidak ada perjuangan yang akan berhasil bila permasalahan sosialnya buram dan hanya menjadi latarbelakang, dan bila perjuangan tersebut dilaksanakan di bawah panji regenerasi sosial atau republikanisme borjuis.”
Kita tidak akan berhenti untuk mengkritik kesimpulan-kesimpulan di atas yang terlalu kaku. Akan tetapi, sungguh benar kalau pada pertengahan abad ke-19 masalah emansipasi politik sudah tidak bisa diselesaikan oleh perjuangan seluruh bangsa. Hanya taktik independen kelas proletar, yang dari posisi kelasnya menghimpun kekuatan untuk berjuang, dan hanya dari posisi kelasnya, dapat memastikan kemenangan mutlak bagi revolusi.
Kelas pekerja Rusia tahun 1906 tidaklah serupa sama sekali dengan kelas pekerja Vienna tahun 1848. Bukti terbaik untuk hal ini adalah lahirnya Soviet Deputi Buruh di seluruh Rusia. Ini bukanlah organisasi konspirasi yang terbentuk-sebelumnya guna merebut kekuasaan pada saat pemberontakan. Bukan. Ini adalah organ-organ yang diciptakan oleh massa secara terencana untuk mengkoordinasi perjuangan revolusioner mereka. Dan Soviet-Soviet ini, dipilih oleh rakyat dan bertanggungjawab kepada rakyat, adalah institusi yang benar-benar demokratis, yang melaksanakan kebijakan kelas proletar dalam semangat sosialisme revolusioner.
Keunikan sosial dari Revolusi Rusia sangatlah nyata dalam hal mempersenjatai bangsa. Sebuah milisi, Tentara Nasional, adalah tuntutan pertama dan pencapaian pertama dari setiap revolusi, 1789 dan 1848, di Paris, di setiap negara bagian Itali, di Vienna, dan di Berlin. Pada tahun 1848, Tentara Nasional – yakni penyenjataan kelas-kelas pemilik dan ‘terdidik’ – adalah tuntutan dari seluruh kaum oposisi borjuis, bahkan elemen yang moderat. Dan tujuannya adalah bukan hanya untuk melindungi kebebasan yang telah mereka capai dan melawan serangan-balik dari atas, tetapi juga untuk melindungi hak kepemilikan kaum borjuis dari serangan kaum proletar. Oleh karena itu, tuntutan pembentukan milisi adalah sebuah tuntutan kelas dari borjuis. Seorang ahli sejarah Itali dari Inggris menulis, “Orang Itali sangatlah mengerti bahwa sebuah milisi sipil yang bersenjata akan mencegah kelangsungan despotisme. Selain itu, ini adalah jaminan bagi kelas-kelas pemilik dalam mencegah kemungkinan anarki dan gangguan apapun dari bawah.”[22] Dan kaum penguasa yang reaksioner, karena tidak memiliki tentara yang cukup untuk mengatasi ‘anarki’ dari massa revolusioner, lalu mempersenjatai kaum borjuis. Absolutisme pertama-tama mengijinkan para pedagang untuk menindas dan menghancurkan kaum buruh, lalu ia melucuti dan menghancurkan para pedagang ini.
Di Rusia, tuntutan pembentukan milisi tidak menemui dukungan dari partai-partai borjuis. Kaum liberal tidak mampu memahami pentingnya mempersenjatai diri; absolutisme telah memberikan mereka sedikit pelajaran-objektif mengenai ini. Tetapi kaum liberal Rusia juga mengerti bahwa adalah tidak mungkin untuk membentuk sebuah milisi tanpa kelas proletar atau untuk melawan kelas proletar. Buruh Rusia sama sekali tidak serupa dengan buruh Prancis tahun 1848 yang memenuhi kantong mereka dengan batu-batu dan mempersenjatai diri mereka dengan cangkul, sedangkan para penjaga toko, para pelajar, dan para pengacara memanggul senapan di pundaknya dan pedang di pinggangnya.
Mempersenjatai revolusi di Rusia berarti mempersenjatai para pekerja. Memahami dan takut akan hal tersebut, kaum liberal menolak mentah-mentah gagasan pembentukan milisi. Mereka bahkan menyerah kepada absolutisme tanpa perlawanan seperti halnya kaum borjuis Thiers[23] menyerahkan Paris dan Prancis kepada Bismarck[24] guna menghindari memberikan senjata kepada para pekerja.
Di dalam manifesto koalisi liberal-demokrat, sebuah simposium yang menamakan dirinya Negara Konstitusi, Tuan Dzhivelegov, dalam mendiskusikan kemungkinan revolusi, cukup tepat dalam mengatakan bahwa “masyarakat, dalam momen yang menentukan, harus siap untuk berdiri membela Konstitusinya.” Tetapi karena kesimpulan logis dari ujaran ini adalah tuntutan untuk mempersenjatai rakyat, ahli filosofi liberal ini merasa “perlu untuk menambahkan” bahwa “tidaklah perlu bagi semua orang untuk memanggul senjata” guna membela konstitusi. Masyarakat hanya perlu menyiapkan diri untuk melawan – bagaimana caranya tidak diusulkan sama sekali. Hanya ada satu kesimpulan yang bisa ditarik dari ini, yakni bahwa di dalam hati kaum demokrat kita terdapat sebuah rasa takut terhadap kaum proletar yang tersenjatai yang lebih besar daripada rasa takut terhadap tentara kaum otokrat.
Oleh karena itu, tugas mempersenjatai revolusi sepenuhnya jatuh di pundak kaum proletar. Di Rusia, tuntutan pembentukan milisi sipil – yang merupakan tuntutan kelas dari kaum borjuis tahun 1848 – sejak awal merupakan sebuah tuntutan untuk mempersenjatai rakyat dan yang terutama untuk mempersenjatai kaum proletar. Nasib Revolusi Rusia tergantung pada permasalahan ini.
[1] Dari bulan Maret 1848 sampai bulan Juli 1849, seluruh kerajaan Austria dan Prusia diselemuti oleh gerakan-gerakan revolusioner. Pada akhirnya, revolusi tersebut gagal karena pengkhianatan kaum borjuis.
[2] Jacobin adalah sebuah kelompok yang memimpin revolusi borjuis Perancis pada 1789-93. Ungkapan tersebut sekarang digunakan mengacu pada tradisi perjuangan radikal demokratik-revolusioner dari gerakan demokratik borjuis melawan tirani.
[3] Sans-cullote (dari Bahasa Prancis yang berarti ‘tanpa celana-lutut’) adalah istilah yang dibuat sekitar tahun 1790-1792, ditujukan untuk anggota Estate ketiga yang lebih miskin. Ini karena mereka biasanya memakai celana-panjang yang menutupi sampai pergelangan kaki, berbeda dengan celana-lutut yang menutupi hingga tulang kering saja yang saat itu lebih umum.
[4] Maximilien Robespierre (1758-1795) adalah salah satu tokoh ternama dalam Revolusi Prancis, dan ia adalah anggota Jacobin.
[5] Partai Radikal Prancis adalah sebuah partai borjuis liberal yang dibentuk pada tahun 1901.
[6] Georges Benjamin Clemenceau (1841-1929) adalah politisi Prancis yang menjabat sebagai perdana mentri Prancis dari tahun 1906-1909 dan 1917-1920.
[7] Alexandre Millerand (1859-1943) adalah seorang politisi Prancis yang menjadi Presiden Prancis dari tahun 1920-1924 dan Perdana Mentri Prancis pada tahun 1920. Dia adalah anggota Partai Sosialis Prancis yang mendukung Perang Dunia I, dan kemudian ditendang keluar pada tahun 1903 karena semakin bergerak ke kanan.
[8] Aristide Briand (1862-1932) menjabat sebagai Perdana Mentri Prancis 6 kali dalam kurun waktu 1913-1929, dia adalah anggota Partai Sosialis Prancis.
[9] Leon Bourgeois (1851-1925) adalah politis Prancis yang menjadi Perdana Mentri pada tahun 1895-1896. Setelah Perang Dunia Pertama, dia lalu menjadi Presiden dewan Liga Bangsa-Bangsa dan memenangkan hadiah Nobel perdamaian pada tahun 1920.
[10] Junker adalah istilah Jerman untuk kaum ningrat pemilik tanah di Prusia dan Jerman bagian timur.
[11] Wilhem II (1859 -1941) adalah Kaisar Jerman yang terakhir, yang memerintah Kerajaan Jerman dan Prusia dari tahun 1888 hingga 1918, dimana kerajaan dia ditumbangkan oleh Revolusi Jerman.
[12] La Montagne atau dikenal juga sebagai Montagnard adalah sekelompok kaum Jacobin yang memimpin parlemen Prancis selama Revolusi Prancis 1789.
[13] Christian Johann Heinrich Heine (1797-1856) adalah seorang jurnalis dan salah satu penyair yang terkemuka.
[14] Jean-Paul Marat (1743-1793) adalah seorang ahli teori politik dari Prancis. Dia dikenal sebagai seorang jurnalis dan politisi yang radikal dari Revolusi Prancis, dan salah satu tokoh paling berpengaruh di dalam Revolusi Prancis.
[15] Étienne Cabet (1788-1856) adalah seorang filsuf Prancis dan seorang kaum sosialis utopis. Dia adalah pendiri Gerakan Icarian, dimana dia dan pengikutnya pindah ke Amerika untuk membentuk komune-komune egaliter.
[16] Cormenin (1788-1868) adalah seorang penulis politik dari Prancis.
[17] Philippe Buonarroti (1761-1837) adalah seorang kaum sosialis utopis yang dilahirkan di Itali. Dia bergabung dengan Jacobin.
[18] François-Noël Babeuf (1760-1797) adalah seorang radikal dan anggota Jacobin. “Masyarakat harus dibuat sedemikian rupa sehingga nafsu manusia untuk menjadi lebih kaya, lebih bijak, dan lebih berkuasa daripada orang lain akan lenyap untuk selama-lamanya” – Babeuf.
[19] Tyrol adalah sebuah wilayah di Eropa Barat Tengah, yang meliputi negara Austria.
[20] Habsburg adalah keluarga feodal di Eropa yang berasal dari Swiss, ditemukan sekitar tahun 1100. Keluarga ini memegang tahta di Kerajaan Romawi, Spanyol, dan Austria.
[21] Ferdinand Lassalle (1825-1864) adalah seorang sosialis dari Jerman. Lassalle ikut serta di dalam Revolusi 1848 di Jerman. Dia adalah anggota Liga Komunis bersama-sama dengan Marx dan Engels, walaupun Marx dan Engels berpendapat bahwa dia bukanlah seorang komunis yang sejati.
[22] Bolton King, History of Italian Unity, terjemahan Rusia, Moskow, 1901, vol 1, halaman 220 – (Catatan Leon Trotsky)
[23] Louis-Adolphe Thiers (1797-1877) adalah seorang politisi dan ahli sejarah Prancis. Dia menjabat sebagai perdana mentri di bawah Raja Louis-Philippe dari tahun 1836-1839.
[24] Otto von Bismarck (1815-1898) adalah seorang politisi terkemuka dari Prusia dan Jerman. Dia adalah Chancellor pertama dari Kekaisaran Jerman, dari tahun 1871-1890.
[25] The ConstitutionalState, sebuah simposium, edisi pertama, hal 49 – (Catatan Leon Trotsky)