Revolusi Rusia (yang dimaksud di sini adalah Revolusi 1905 – Ed.) datang secara tiba-tiba dan mengejutkan semua orang, kecuali kaum Sosial-Demokrat[1]. Marxisme telah lama memprediksikan ketidakterelakkan Revolusi Rusia, yang pasti akan pecah sebagai akibat dari konflik antara perkembangan kapitalisme dan kekuasaan absolutisme yang sudah tua. Marxisme telah memprediksikan karakter sosial dari revolusi yang akan datang. Dengan menamakan revolusi ini sebagai sebuah revolusi borjuis, Marxisme maka menunjukkan bahwa tugas-tugas objektif yang mendesak dari revolusi ini adalah untuk menciptakan kondisi ‘normal’ bagi perkembangan masyarakat borjuis secara keseluruhan.
Marxisme telah terbukti benar, sekarang bukan waktunya lagi untuk berdiskusi atau mencari bukti mengenai ini. Sekarang, kaum Marxis dihadapkan dengan sebuah tugas yang benar-benar unik: yakni untuk menganalisa ‘kemungkinan-kemungkinan’ dari revolusi yang sedang berkembang dengan cara memeriksa mekanisme internalnya. Adalah sebuah kesalahan yang bodoh bila kita menyamakan revolusi kita dengan peristiwa 1789-93[2] atau 1848[3]. Analogi sejarah, yang merupakan sumber kehidupan liberalisme, tidak bisa menggantikan analisa sosial.
Revolusi Rusia memiliki sebuah karakter yang unik, yang merupakan hasil dari tren yang unik dari seluruh perkembangan sosial dan sejarah kita, yang kemudian membuka prospek-prospek sejarah yang baru.
[1] Sosial Demokrat: pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, semua kaum revolusioner tersatukan di dalam Sosial Demokrasi, dan Sosial Demokrasi sangat dipengaruhi oleh ide-ide Marx. Saat itu, semua kaum Marxis menyebut diri mereka Sosial Demokrat. Tetapi setelah pengkhianatan partai-partai Sosial Demokrasi yang tersatukan di Internasional Kedua dimana pada tahun 1914 mereka mendukung Perang Dunia Pertama, maka kaum Marxis revolusioner mencampakkan Sosial Demokrasi dan pecah dari Internasional Kedua.
[2] Revolusi Prancis 1789 adalah revolusi demokratik di Prancis yang menumbangkan sistem absolut monarki dan feudalisme. Ini menandai awal dari kebangkitan kaum borjuis dan kapitalisme.
[3] Revolusi Prancis 1848, yang merobohkan kekuasaan monarki Raja Louis-Philippe dan membentuk Republik Kedua. Di bawah tekanan dari kaum proletar, pemerintahan ini memberikan konsensi: hak untuk bekerja, upah minimum, jam kerja yang lebih pendek, pensiun untuk orang cacat, dll. Tetapi ini berakhir dengan pengkhianatan kaum borjuis terhadap kaum proletar, dimana pada tanggal 21 Juni, sebuah insureksi rakyat pekerja direpresi, 50 ribu pekerja mati dan 25 ribu lainnya di tangkap. Louis Napoleon Bonaparte terpilih sebagai presiden Republik, dan dia kemudian membubarkan parlemen dan memproklamirkan dirinya sendiri sebagai kaisar, yang lalu berkuasa hingga tahun 1871.