Perbedaan antara titik pandang “revolusi permanen” dan Leninis terekspresikan secara politik dengan membandingkan slogan kediktatoran proletariat dengan mengandalkan kaum tani dengan kediktatoran demokratik dari proletariat dan kaum tani. Perbedaan tersebut tidaklah membicarakan apakah tahapan borjuis-demokratik dapat diloncati dan apakah sebuah aliansi antara pekerja dan kaum tani dibutuhkan – perbedaan tersebut berkaitan dengan mekanika politik dari kolaborasi proletariat dan kaum tani dalam revolusi demokratik.
Sangatlah congkak dan dangkal penegasan Radek bahwa hanya orang “yang belum memikirkan secara keseluruhan metode kompleks Marxisme dan Leninisme” dapat mengajukan persoalan mengenai ekspresi politik-partai dalam kediktatoran demokratik, dimana Radek menyatakan – tanpa bukti – bahwa Lenin mereduksi seluruh persoalan ini menjadi kolaborasi antara kedua kelas dalam tugas-tugas objektif sejarah. Tidak, bukanlah begitu.
Jika di dalam persoalan ini kita meremehkan faktor subjektif revolusi: yakni partai-partai dan program-program mereka – bentuk organisasi dan politik dari kolaborasi kaum proletar dan kaum tani – maka semua perbedaan pendapat akan menghilang, bukan hanya antara Lenin dan saya yang merupakan dua posisi dari sayap revolusioner yang sama, tetapi juga perbedaan opini antara Bolshevisme dan Menshevisme, dan akhirnya perbedaan antara Revolusi Rusia 1905 dan Revolusi 1848[1] dan bahkan Revolusi 1789[2], sepanjang kaum proletar bisa kita diskusikan di dalam Revolusi 1789. Semua revolusi borjuis adalah berdasarkan atas kolaborasi dari massa tertindas di kota dan desa. Inilah yang memberikan revolusi-revolusi tersebut sebuah karakter nasional, yaitu, revolusi yang merangkul seluruh masyarakat.
Perselisihan teoritis dan juga perselisihan politik antara saya dan Lenin bukanlah mengenai kolaborasi kaum pekerja dan kaum tani, namun mengenai program dari kolaborasi tersebut, bentuk partai dan metode politiknya. Dalam revolusi-revolusi sebelumnya, pekerja dan kaum tani “berkolaborasi” di bawah kepemimpinan kaum borjuis liberal atau sayap demokratik borjuis kecil. Komunis Internasional mengulangi pengalaman revolusi yang lama di dalam sebuah situasi sejarah yang baru dengan berusaha keras untuk membuat pekerja dan kaum tani Cina tunduk di bawah kepemimpinan politik kaum liberal nasional Chiang Kai-shek, dan lalu di bawah kepemimpinan kaum “demokrat” Wang Ching-wei. Lenin mengajukan sebuah aliansi kaum pekerja dan kaum tani yang menentang kaum borjuis liberal. Aliansi semacam itu belum pernah terjadi di dalam sejarah. Dalam hal metode, ini adalah sebuah eksperimen yang baru dalam kolaborasi kelas-kelas tertindas dari kota dan pedesaan. Oleh karena itu, masalah bentuk politik dari kolaborasi tersebut adalah hal yang baru. Radek dengan mudahnya mengabaikan hal tersebut. Itulah mengapa dia mengarahkan kita menuju abstraksi sejarah yang kosong.
Iya, selama bertahun-tahun, Lenin menolak untuk mendakwa persoalan bagaimana partai-politik dan organisasi Negara kediktatoran demokratik dari kaum proletar dan kaum tani akan mengambil bentuk, dan dia mendorong ke depan kolaborasi dari kedua kelas tersebut dan menentang koalisi dengan borjuis liberal. Lenin berkata: pada sebuah tahapan sejarah tertentu, karena situasi objektif secara keseluruhan maka akan lahir aliansi revolusioner dari kelas pekerja dengan kaum tani untuk penyelesaian tugas-tugas revolusi demokratik. Apakah kaum tani akan mampu untuk menciptakan sebuah partai yang independen dan apakah mereka akan berhasil dalam menciptakannya? Akankah partai tersebut menjadi mayoritas atau minoritas di dalam pemerintahan kediktatoran? Sebesar apa kekuatan sosial dari perwakilan proletar dalam pemerintahan revolusioner? Tidak satupun pertanyaan tersebut memungkinkan sebuah jawaban a priori. “Pengalaman akan menjawab pertanyaan tersebut!” Selama rumusan dari kediktatoran demokratik membiarkan masalah mekanika politik dari aliansi pekerja dan kaum tani setengah-terjawab, maka ia akan tetap merupakan – tanpa sama sekali berubah menjadi abstraksi miskin milik Radek – sebuah formula aljabar, yang memungkinkan penafsiran-penafsiran politik yang sangat berbeda di masa depan.
Juga, Lenin sendiri tidak berpendapat bahwa persoalan ini akan terjawab secara penuh oleh basis kelas kediktatoran dan tujuan objektif sejarahnya. Pentingnya faktor subjektif – tujuan, metode yang sadar, partai – dipahami dengan baik oleh Lenin dan dia ajarkan kepada kita semua. Dan itulah mengapa Lenin di dalam komentarnya mengenai slogan dia sama sekali tidak menolak sebuah aproksimasi atau hipotesa mengenai bentuk politik apa yang akan diambil oleh aliansi independen pertama di dalam sejarah antara kaum pekerja dan kaum tani. Bagaimanapun juga, pendekatan Lenin terhadap persoalan ini dalam waktu yang berbeda mengambil bentuk yang berbeda-beda. Pemikiran Lenin tidak boleh dilihat secara dogmatis namun harus dilihat di dalam konteks sejarah. Lenin tidak membawa 10 perintah suci dari Gunung Sinai, namun dia menganalisa ide-ide dan slogan-slogan yang disesuaikan dengan realitas, membuatnya konkrit dan tepat, dan pada waktu yang berbeda memenuhinya dengan isi yang berbeda. Namun sisi ini, yang kemudian menjadi penting dan membawa Partai Bolshevik pada ujung perpecahan dipermulaan tahun 1917, sama sekali tidak dipelajari oleh Radek. Dia mengabaikannya.
Adalah sebuah kenyataan bahwa Lenin tidak selalu memberikan karakter terhadap bentuk ekspresi politik partai dan bentuk pemerintahan dari aliansi kedua kelas tersebut dengan cara yang sama. Dia tidak melakukan ini supaya partai Bolshevik tidak terikat oleh interpretasi hipotesis tersebut. Apa alasan untuk kewaspadaan ini? Alasannya terletak pada fakta bahwa formulasi tersebut mengandung sebuah variabel, yang sangat penting, namun secara politik sangat labil: yakni kaum tani.
Saya ingin mengutip beberapa contoh dari interpretasi Lenin mengenai kediktatoran demokratik, dengan peringatan bahwa sebuah presentasi yang penuh dari evolusi pemikiran Lenin mengenai persoalan tersebut akan membutuhkan sebuah tulisan yang terpisah.
Mengembangkan ide bahwa kaum proletar dan kaum tani akan menjadi basis kediktatoran, Lenin menulis pada bulan Maret 1905:
“Dan sebuah komposisi basis sosial dari kediktatoran demokratik revolusioner semacam ini – yang mungkin terjadi dan diharapkan – tentu saja akan menemukan refleksinya di dalam komposisi pemerintahan revolusioner. Dengan komposisi semacam itu, partisipasi atau bahkan dominasi perwakilan yang sangat beragam dari demokrasi revolusioner di dalam sebuah pemerintahan semacam itu tidak akan dapat dihindari.”[3]
Dalam kata-kata tersebut, Lenin mengindikasikan bukan hanya basis kelas dari kediktatoran, namun juga menggambarkan bentuk pemerintahan khusus dari kediktatoran itu dengan kemungkinan dominasi perwakilan dari demokrasi borjuis kecil.
Pada tahun 1907, Lenin menulis:
“Untuk meraih kemenangan, “revolusi agraria kaum tani” yang kalian bicarakan harus, sebagai sebuah revolusi petani, mengambil alih pusat kekuasaan Negara.”[4]
Formulasi tersebut bahkan melangkah lebih jauh. Hal tersebut dapat dipahami dalam makna bahwa kekuasaan revolusioner harus secara langsung dikonsentrasikan ditangan kaum tani. Akan tetapi, dalam interpretasi yang lebih jauh lagi yang muncul karena arus perkembangan, formula tersebut juga mencakup Revolusi Oktober yang membawa kaum proletar ke tampuk kekuasaan sebagai “agen” revolusi kaum tani. Begitulah luasnya kemungkinan interpretasi formulasi kediktatoran demokratik proletariat dan kaum tani. Kita dapat mengatakan bahwa pada titik tertentu, kekuatan dari formulasi ini ada pada karakter aljabarnya namun bahayanya juga terdapat di sana, yang memanifestasikan dirinya sendiri diantara kita dengan cukup nyata setelah Revolusi Februari 1917 dan di Cina[5] yang membawa bencana.
Pada bulan Juli 1905, Lenin menulis:
“Tidak ada yang berbicara mengenai perebutan kekuasaan oleh partai – kita berbicara hanya mengenai partisipasi, sebisa mungkin partisipasi memimpin di dalam revolusi…”[6]
Pada bulan Desember 1906, Lenin mempertimbangkan kemungkinan untuk setuju dengan Kautsky mengenai persoalan perebutan kekuasaan oleh partai:
“Kautsky mempertimbangkan bahwa bukan hanya ‘sangat mungkin’ bahwa ‘kemenangan akan jatuh pada pangkuan Partai Sosial Demokrat dalam jalannya revolusi,’ tetapi juga menyatakan bahwa ini adalah tugas kaum Sosial Demokrat ‘untuk menanamkan pada pengikutnya kepastian kemenangan tersebut, karena seseorang tidak akan bisa berjuang dengan sukses jika sebelumnya mereka sudah menolak kemenangan’.”
Jarak antara kedua interpretasi tersebut yang diberikan Lenin sendiri tidaklah lebih kecil dibandingkan dengan jarak antara formulasi Lenin dan saya. Kita akan melihat hal tersebut lebih jelas nanti. Disini kita akan mengajukan sebuah pertanyaan: Apa makna kontradiksi-kontradiksi tersebut bagi Lenin? Kontradiksi-kontradiksi ini merefleksikan satu “misteri besar” yang sama di dalam formula politik revolusi: kaum tani. Bukan tanpa alasan para pemikir radikal kadang-kadang merujuk kaum tani Rusia seperti Sphinx sejarah Rusia (baca: misteri di dalam sejarah Rusia - Ed). Permasalahan mengenai sifat kediktatoran revolusioner terikat erat dengan permasalahan mengenai kemungkinan sebuah partai kaum tani revolusioner yang bertentangan dengan borjuis liberal dan independen dari kaum proletar. Arti penting dari permasalahan terakhir ini tidak sulit untuk dipahami. Jikalau kaum tani mampu membentuk partai independen mereka sendiri dalam periode revolusi demokratik, maka kediktatoran demokratik ini dapat tercapai dalam makna yang sebenarnya dan paling langsung, dan persoalan mengenai partisipasi minoritas kaum proletar di dalam pemerintah revolusioner akan memiliki arti yang penting tetapi subordinat. Semuanya akan berbeda jika kita mulai dari fakta bahwa kaum tani, karena posisinya yang berada ditengah-tengah dan karena komposisi sosialnya yang heterogen, tidak dapat memiliki sebuah kebijakan yang independen ataupun sebuah partai yang independen, namun mereka dipaksa dalam periode revolusioner untuk memilih antara kebijakan kaum borjuis dan kebijakan kaum proletar. Hanya evaluasi terhadap karakter politik kaum tani ini yang membuka kemungkinan kediktatoran kaum proletar yang tumbuh secara langsung dari revolusi demokratik. Dalam hal ini, sejatinya tidak terdapat “penyangkalan”, “pengabaian” atau “peremehan” terhadap kaum tani. Tanpa pentingnya persoalan agraria untuk kehidupan seluruh masyarakat dan tanpa sapuan yang mendalam dan besar dari revolusi kaum tani, tidak akan ada pembicaraan apapun mengenai kediktatoran proletariat di Rusia. Namun kenyataan bahwa revolusi agraria menciptakan kondisi untuk kediktatoran proletariat muncul dari ketidakmampuan kaum tani untuk menyelesaikan persoalan sejarahnya sendiri dengan kekuatannya sendiri dan di bawah kepemimpinannya sendiri. Di bawah kondisi sekarang ini di negara-negara borjuis, bahkan di negara-negara yang terbelakang, sepanjang mereka telah memasuki era industri kapitalis dan terikat dalam kesatuan oleh rel kereta dan telegraf – hal ini tidak hanya berlaku untuk Rusia namun juga untuk Cina dan India – kaum tani bahkan semakin tidak mampu untuk memimpin atau hanya sekadar memiliki peran politik yang independen dibandingkan pada saat periode revolusi borjuis yang sebelumnya (di Inggris dan Prancis semisalnya – Ed). Kenyataan bahwa saya selalu dan terus menerus menekankan ide ini, yang membentuk salah satu ciri terpenting dari teori revolusi permanen, menyediakan alasan yang tidak memadai, dan pada prinsipnya palsu, untuk menuduh saya meremehkan kaum tani.
Apa pandangan Lenin mengenai persoalan partai kaum tani? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita membutuhkan sebuah tinjauan evolusi pandangan Lenin yang komprehensif terhadap revolusi Rusia dalam periode 1905-17. Saya akan membatasi diri saya pada dua kutipan:
Pada tahun 1907, Lenin menulis:
“Adalah mungkin…bahwa kesulitan objektif dari unifikasi politik kaum borjuis kecil akan menghalangi formasi partai semacam itu dan meninggalkan demokrasi kaum tani untuk waktu yang lama dalam kondisi ketidakpastian, tidak berbentuk, lembek, dan seperti kaum Trudoviki[7]” (VIII,484)[8]
Pada tahun 1909 Lenin mengekspresikan dirinya sendiri pada tema yang sama dengan cara yang berbeda:
“Tidak ada keraguan sama sekali bahwa sebuah revolusi yang mencapai … tingkat perkembangan yang sangat tinggi seperti kediktatoran revolusioner akan menciptakan sebuah partai kaum tani revolusioner yang jauh lebih kuat dan terbentuk dengan kokoh. Untuk menilai masalah ini sebaliknya akan berarti kita mengasumsi bahwa di dalam tubuh seorang yang dewasa, ukuran, bentuk dan tingkat perkembangan dari organ penting tertentu dapat tetap berada di dalam tahapan kanak-kanak.”
Apakah asumsi tersebut terkonfirmasikan? Tidak. Akan tetapi inilah yang mendorong Lenin, hingga saat verifikasi sepenuhnya oleh sejarah, untuk memberikan sebuah jawaban aljabar bagi persoalan pemerintahan revolusioner. Biasanya, Lenin tidak pernah meletakkan formula hipotesisnya melewati realitas. Perjuangan untuk membangun partai politik kaum proletar yang independen adalah tujuan utama dari hidup Lenin. Akan tetapi, para epigone yang menyedihkan ini, dalam perburuan mereka mencari sebuah partai kaum tani, berakhir dengan subordinasi pekerja Cina pada Kuomintang, pencekikan komunisme di India atas nama “Partai Pekerja dan Kaum Tani”, imajinasi berbahaya akan Petani Internasional, topeng Liga Melawan Imperialisme, dan seterusnya.
Garis politik ofisial yang ada sekarang ini tidak berusaha sama sekali untuk meneliti kontradiksi-kontradiksi di dalam tulisan Lenin yang disebutkan di atas, yang sebagian eksternal dan sebagian nyata, namun akan selalu muncul dari persoalan itu sendiri. Sekarang telah muncul diantara kita sebuah spesies khusus profesor “Merah” yang sering sekali dibedakan dari profesor reaksioner sebelumnya bukan oleh pendiriannya yang lebih teguh namun oleh ketidakpeduliannya yang lebih dalam. Secara akademik, Lenin dibersihkan dari semua kontradiksi, yakni dari dinamika pemikirannya; kutipan-kutipan standar Lenin disusun di dalam kategori-kategori yang berbeda, dan lalu rangkaian kutipan tersebut disirkulasikan sesuai dengan kebutuhan “pada saat-saat tertentu”.
Harus selalu diingat bahwa persoalan revolusi di dalam sebuah negeri yang secara politik “perawan” menjadi sangat akut setelah sebuah interval sejarah yang besar, setelah sebuah periode reaksioner yang cukup panjang di Eropa dan di seluruh dunia, dan untuk alasan ini saja persoalan revolusi ini mengandung banyak misteri. Melalui formula kediktatoran demokratik pekerja dan kaum tani, Lenin mengekspresikan keunikan dari kondisi sosial Rusia. Dia memberikan interpretasi-interpretasi yang berbeda terhadap formulasi ini, namun tidak menolaknya hingga dia telah menyelidiki sampai akhir kondisi unik dari revolusi Rusia. Dimana terdapat keunikan ini?
Peran sangat besar dari persoalan agraria dan persoalan petani secara umum, yang merupakan dasar dari semua persoalan, dan banyaknya kaum intelektual tani dan mereka-mereka yang bersimpati terhadap kaum tani dengan ideologi Narodnik mereka, dengan tradisi “anti kapitalis” mereka dan sifat revolusioner mereka – semua hal tersebut secara keseluruhan menandakan bahwa jika sebuah partai petani revolusioner anti-borjuis mungkin terbentuk, maka kemungkinan besar ini akan terjadi di Rusia.
Dan kenyataannya, di dalam usaha untuk menciptakan sebuah partai petani, atau sebuah partai pekerja dan petani – yang berbeda dari partai liberal atau proletar – setiap variasi politik sudah dicoba di Rusia, secara ilegal dan parlementer ataupun kombinasi keduanya: Zemlya i Volya[9] (Tanah dan Kebebasan), Narodnaya Volya[10] (Partai Kehendak Rakyat), Cherny Peredel[11] (Black Redistribution), Narodism legal (Populis), “Sosialis Revolusioner”, “People’s Socialists”, “Trudoviks”[12], “Sosialis Revolusioner Kiri”, dsb. Selama setengah abad kita memiliki sebuah laboratorium besar untuk menciptakan sebuah partai petani “anti kapitalis” dengan sebuah posisi yang independen dari partai proletar. Seperti yang sudah diketahui dengan baik, keberhasilan yang terbesar dicapai oleh Partai Sosialis Revolusioner (SR) yang untuk sementara waktu pada tahun 1917 sebenarnya merupakan partai mayoritas besar dari petani. Tapi apa yang terjadi? Partai tersebut menggunakan posisinya hanya untuk sepenuhnya mengkhianati kaum tani untuk kaum borjuis liberal. SR masuk ke dalam sebuah koalisi dengan para imperialis dari Entente[13] dan bersama-sama dengan mereka menjalankan sebuah perjuangan bersenjata melawan proletariat Rusia.[14]
Pengalaman yang benar-benar klasik ini menunjukkan bahwa partai borjuis kecil yang berdasarkan kelas petani masih mampu mengambil semacam kebijakan yang independen selama periode sejarah yang menjemukan ketika persoalan sekunder ada di dalam agenda; namun ketika krisis revolusioner di dalam masyarakat memunculkan persoalan fundamental mengenai hak kepemilikan, partai “petani” borjuis kecil secara otomatis menjadi alat di tangan kaum borjuis untuk melawan kaum proletar.
Jika perbedaan pendapat lama saya dengan Lenin dianalisa bukan atas dasar kutipan yang secara serampangan diambil dari tahun, bulan dan hari ini atau itu, namun dalam perspektif sejarah yang benar, maka menjadi cukup jelas bahwa perselisihan ini, setidaknya dari sisi saya, bukanlah mengenai apakah aliansi kaum proletar dengan kaum tani dibutuhkan untuk solusi tugas-tugas demokratik, namun perselisihan ini adalah mengenai bentuk partai politik dan bentuk Negara yang akan dicapai oleh kerjasama revolusioner antara kaum proletar dan kaum tani, dan apa konsekwensi yang dapat dihasilkannya untuk perkembangan lebih lanjut dari revolusi. Tentu saja saya berbicara mengenai posisi saya sendiri di dalam perselisihan tersebut, bukan posisinya Bukharin dan Radek pada waktu itu, yang untuk itu mereka sendiri yang harus menjawab.
Seberapa dekat formulasi “revolusi permanen” dengan formula Lenin secara jelas digambarkan oleh perbandingan berikut ini. Pada musim panas tahun 1905 yaitu, sebelum pemogokan umum Oktober[15] dan sebelum pemberontakan Desember[16] di Moskow, saya menulis sebuah kata pengantar untuk salah satu pidato Lassalle[17]:
“Sangatlah jelas bahwa kelas proletar, seperti pada masanya kaum borjuis, memenuhi misinya didukung oleh kaum tani dan borjuis kecil perkotaan. Kelas proletar memimpin pedesaan, menarik mereka ke dalam gerakan, memberikannya sebuah ketertarikan dengan kesuksesan rencana-rencananya. Namun kelas proletar tak terelakkan akan menjadi pemimpin gerakan ini. Ini bukanlah “kediktatoran proletariat dan kaum tani” namun kediktatoran proletariat didukung oleh kaum tani”.[18] (L. Trotsky, The Year 1905, hal 281)
Sekarang coba bandingkan kata-kata tersebut, yang ditulis pada tahun 1905 dan saya kutip dalam artikel Polandia tahun 1909, dengan kata-kata Lenin yang ditulis pada tahun 1909, tidak lama setelah konferensi partai. Di bawah tekanan Rosa Luxemburg, Lenin telah mengadopsi formula “kediktatoran proletariat yang didukung oleh kaum tani” ketimbang formula lama Bolshevik. Terhadap kaum Menshevik, yang berbicara mengenai perubahan radikal dari posisi Lenin, Lenin menjawab:
“… formula yang telah ditetapkan oleh Bolshevik di sini adalah: kelas proletar yang memimpin kaum tani di belakangnya.”[19]
“…Tidakkah jelas bahwa ide dari semua formulasi ini adalah satu dan sama? Tidakkah jelas bahwa ide ini mengekspresikan dengan tepat kediktatoran proletariat dan kaum tani – bahwa “formula” proletariat didukung oleh kaum tani, seluruhnya tetap di dalam batasan kediktatoran proletariat dan kaum tani?”[20]
Dengan demikian Lenin meletakkan sebuah kerangka pada formula “aljabar” tersebut yang tidak mengikutsertakan gagasan sebuah partai petani independen dan bahkan peran dominannya dalam pemerintahan revolusioner: proletariat memimpin kaum tani, proletariat didukung oleh kaum tani, yang berarti kekuasaan revolusioner dikonsentrasikan ke dalam tangan partai proletariat. Tapi, inilah poin utama dari teori revolusi permanen.
Hari ini, yaitu setelah ujian sejarah telah terjadi, yang paling banyak dapat dikatakan mengenai perbedaan lama antara Lenin dan saya mengenai persoalan kediktatoran adalah sebagai berikut:
Sementara Lenin, selalu berangkat dari peran memimpin kaum proletar, menekankan dan mengembangkan dalam setiap cara pentingnya kolaborasi demokratik revolusioner antara kaum pekerja dan kaum tani – dia mengajarkan hal tersebut kepada kita semua. Sedangkan saya, selalu berangkat dari kolaborasi tersebut, memberikan penekanan dalam setiap cara kepentingan kepemimpinan kaum proletar, tidak hanya di dalam blok kolaborasi ini namun juga di dalam pemerintahan yang akan dibangun untuk memimpin blok tersebut. Tidak ada perbedaan lainnya yang dapat dilihat mengenai hal ini.
Berhubungan dengan ini, mari kita ambil dua kutipan: satu dari “Hasil dan Prospek”, yang digunakan Stalin dan Zinoviev untuk membuktikan antagonisme antara pandangan saya dan Lenin, yang satu dari sebuah artikel polemik oleh Lenin melawan saya, yang digunakan Radek untuk tujuan yang sama.
Berikut ini kutipan yang pertama:
“Partisipasi kaum proletar di dalam pemerintahan ini juga sangatlah mungkin secara objektif, dan secara prinsip boleh dilakukan, tetapi hanya sebagai partisipasi yang dominan dan memimpin. Tentu saja kita bisa menggambarkan pemerintahan semacam ini sebagai kediktatoran proletariat dan tani, sebuah kediktatoran proletar, tani, dan kaum intelektual, atau bahkan sebuah pemerintahan koalisi kelas pekerja dan borjuis kecil; tetapi pertanyaannya masih sama: siapakah yang akan mempunyai hegemoni di dalam pemerintahan ini, dan melalui pemerintahan ini maka mempunyai hegemoni di dalam negara? Dan ketika kita berbicara mengenai pemerintahan buruh, kita merespon bahwa hegemoni ini harus dimiliki oleh kelas pekerja.”[21]
Zinoviev (pada tahun 1925!) mengajukan keberatan secara berisik karena saya (pada tahun 1905!) menempatkan kaum tani dan intelektual pada tempat yang sama. Dia tidak mendapatkan kesimpulan yang lain dari kalimat-kalimat yang dikutip di atas. Referensi mengenai kaum intelektual dihasilkan dari kondisi periode tersebut, yang pada saat itu kaum intelektual memainkan peran yang secara politik sepenuhnya berbeda dengan yang dimainkannya saat ini. Pada saat itu, hanya organisasi yang sepenuhnya intelektual yang berbicara atas nama kaum tani; kaum Sosialis-Revolusioner secara resmi membangun partai mereka atas dasar “trio” kaum proletar, kaum tani, dan kaum intelektual. Menshevik, seperti yang saya tulis pada saat itu, mencengkram buntut setiap intelektual radikal untuk membuktikan berseminya demokrasi borjuis. Saya sudah menyatakan ratusan kali pada saat itu mengenai impotennya kaum intelektual sebagai sebuah kelompok sosial yang “independen” dan mengenai pentingnya kaum tani revolusioner.
Namun bagaimanapun juga, kita bukan membicarakan satu kalimat polemik saja, yang saya sendiri tidak punya maksud untuk mempertahankannya. Esensi dari kutipan tersebut adalah: bahwa saya sepenuhnya menerima esensi Leninis mengenai kediktatoran demokratik dan hanya menuntut definisi yang lebih detil mengenai mekanisme politiknya, yakni, pengecualian di dalam koalisi semacam itu dimana kaum proletar hanya akan menjadi sandera dari mayoritas borjuis kecil.
Sekarang mari kita teliti artikel Lenin tahun 1916 yang – seperti telah ditunjukkan oleh Radek sendiri – diarahkan “secara formal melawan Trotsky, namun dalam kenyataan melawan Bukharin, Pyatakov[22], penulis dari kalimat-kalimat berikut (yaitu Radek) dan sejumlah kamerad yang lainnya”. Ini adalah pengakuan yang sangat penting, yang sepenuhnya memastikan kesan saya pada waktu itu bahwa Lenin mengarahkan polemik melawan saya hanya dalam permukaannya saja. Untuk isinya, seperti yang nanti akan saya tunjukkan, dalam kenyataannya tidak sepenuhnya ditujukan kepada saya. Artikel ini mengandung (dalam dua baris) tuduhan mengenai “penyangkalan kaum tani” saya yang kemudian menjadi senjata utama dari para epigone dan pengikutnya. “Inti” dari artikel tersebut – seperti yang dikatakan oleh Radek – ada di dalam kalimat-kalimat berikut:
“Trotsky tidak mempertimbangkan,” kata Lenin, mengutip kata-kata saya sendiri, “bahwa jika kaum proletar menarik di belakangnya massa non-proletar dari pedesaan untuk menyita tanah para tuan tanah dan menggulingkan monarki, maka ini adalah penyelesaian “revolusi nasional borjuis” dan bahwa di Rusia inilah bentuk kediktatoran revolusioner demokratik dari kaum proletar dan kaum tani.”[23]
Dari semua yang telah dikatakan di atas, jelas bahwa Lenin tidak mengarahkan ketidaksepakatannya atas “penyangkalan” saya terhadap kaum tani pada “tempat yang benar”, namun sebenarnya ini ditujukan untuk Bukharin dan Radek, yang sebenarnya telah melompati tahapan demokratik dari revolusi. Ini juga ditunjukkan oleh kutipan yang dikemukakan oleh Radek sendiri, yang dia sebut sebagai “inti” dari artikel Lenin. Dalam kenyataannya, Lenin secara langsung mengutip kata-kata dari artikel saya dimana hanya sebuah kebijakan yang independen dan tegas dari proletariat dapat “menarik di belakangnya massa non-proletar pedesaan utnuk menyita tanah tuan tanah dan menggulingkan monarki”, dsb. Lalu Lenin menambahkan: “Trotsky tidak mempertimbangkan bahwa … inilah bentuk dari kediktatoran revolusioner demokratik.” Dengan kata lain, Lenin menegaskan di sini dan membenarkan bahwa Trotsky dalam kenyataannya menerima keseluruhan isi sejati dari formula Bolshevik (kolaborasi kaum pekerja dan kaum tani dan tugas-tugas demokratik dari kolaborasi tersebut), namun menolak untuk mengakui bahwa inilah bentuk kediktatoran demokratik, bentuk penyelesaian revolusi nasional. Oleh karena itu, dari sini dapat dilihat bahwa perselisihan dalam artikel polemik yang tampaknya “tajam” tersebut bukanlah mengenai program tahapan selanjutnya dari revolusi dan kekuatan kelas penggeraknya, namun sebenarnya mengenai hubungan politik dari kekuatan-kekuatan tersebut, karakter politik dan partai dari kediktatoran ini. Sementara, sebagai akibat dari ketidakjelasan pada waktu itu mengenai proses itu sendiri dan karena pembesar-besaran perjuangan faksional, kesalahpahaman polemik dapat dimengerti dan tidak dapat dihindari pada masa itu. Adalah sepenuhnya tidak dapat dipahami bagaimana Radek dengan sengaja memasukkan kebingungan semacam itu ke dalam permasalahan ini setelah semua yang sudah terjadi.
Polemik saya dengan Lenin secara esensi adalah mengenai kemungkinan independensi (dan tingkat independensi) dari kaum tani di dalam revolusi, terutama sekali mengenai kemungkinan sebuah partai kaum tani yang independen. Di dalam polemik tersebut, saya menuduh Lenin melebih-lebihkan peran independen dari kaum tani. Lenin menuduh saya meremehkan peran revolusioner kaum tani. Ini mengalir dari logika polemik itu sendiri. Tapi apakah tidak menjijikan untuk siapapun hari ini, dua dekade kemudian, untuk menggunakan kutipan-kutipan tua tersebut, merobeknya dari konteks hubungan partai pada waktu itu dan mengambil makna absolut dari setiap polemik yang berlebihan atau kesalahan episodik, ketimbang mengungkapnya dengan sudut pandang pengalaman revolusioner besar yang sudah kita alami, apa sebenarnya poros dari perbedaan tersebut, dan mana yang riil dan bukan verbal dari perbedaan tersebut?
Terpaksa membatasi diri saya sendiri dalam beberapa kutipan-kutipan terpilih, di sini saya akan mengacu hanya pada ringkasan tesis Lenin mengenai tahapan revolusi, yang ditulis pada akhir tahun 1905 namun diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1926 dalam volume kelima Lenin Miscellanies[24]. Saya mengingat bahwa semua kaum Oposisi, termasuk Radek sendiri, menganggap publikasi tesis-tesis tersebut sebagai hadiah besar bagi kelompok Oposisi Kiri, karena ternyata dalam tesis-tesis tersebut Lenin terbukti bersalah atas “Trotskisme”, sesuai dengan semua artikel-artikel hukum Stalinis. Poin paling penting dari resolusi Pleno Ketujuh Komite Eksekutif Komunis Internasional yang mengutuk Trotskisme tampak secara terbuka dan sengaja diarahkan melawan tesis-tesis pokok Lenin. Para Stalinis sangat marah atas penerbitan buku tersebut. Editor dari volume Miscellanies tersebut, yaitu Kamenev, mengatakan kepada saya secara blak-blakan jika sebuah blok antara kita tidaklah dalam persiapan dia tidak akan pernah, dalam kondisi apapun, mengijinkan penerbitan dokumen tersebut. Akhirnya dalam sebuah artikel oleh Kostrzewa dalam buku berjudul Bolshevik, tesis-tesis tersebut dipalsukan supaya Lenin tidak diserang sebagai penganut Trotskisme dalam posisinya terhadap kaum tani secara keseluruhan dan petani menengah secara khusus.
Sebagai tambahan saya mengutip di sini evaluasi Lenin sendiri mengenai perbedaan pendapatnya dengan saya, yang dia buat pada tahun 1909:
“Kamerad Trotsky sendiri menyetujui “partisipasi perwakilan populasi demokratik” di dalam “pemerintahan buruh”, dalam kata lain, dia menyetujui sebuah pemerintahan perwakilan kaum proletar dan kaum tani. Di bawah kondisi apa partisipasi kaum proletar di dalam pemerintahan revolusioner dimungkinkan adalah persoalan terpisah. Dan pada persoalan tersebut, Bolshevik kemungkinan akan gagal untuk bersepakat tidak hanya dengan Trotsky namun juga dengan kaum Sosial Demokrat Polandia. Bagaimanapun juga, persoalan kediktatoran kelas-kelas revolusioner tidak dapat direduksi ke persoalan “mayoritas” dalam pemerintahan revolusioner yang ini atau itu, atau pada kondisi dimana partisipasi kaum Sosial Demokrat dalam suatu pemerintahan dimungkinkan.”[25]
Dalam kutipan dari Lenin tersebut, kembali dikonfirmasikan bahwa Trotsky menerima sebuah pemerintahan dari perwakilan kaum proletar dan kaum tani dan oleh karena itu tidak “melompati” kaum tani. Lenin lalu menekankan bahwa persoalan kediktatoran tidak dapat direduksi ke persoalan mengenai mayoritas pemerintahan. Pertama dan terutama, apa yang terdapat di sini adalah perjuangan bersama kaum proletar dan kaum tani dan sebagai akibatnya maka ini berarti perjuangan kaum proletar pelopor dalam melawan kaum borjuis nasional atau liberal untuk meraih dukungan dari kaum tani. Sementara masalah kediktatoran revolusioner dari pekerja dan kaum tani tidak dapat direduksi ke persoalan sebuah mayoritas ini atau itu di dalam pemerintahan. Akan tetapi, setelah kemenangan revolusi, persoalan kediktatoran proletariat tidak dapat dihindari dan akan muncul sebagai persoalan yang menentukan. Seperti yang telah kita lihat, Lenin berhati-hati dalam membuat sebuah kesimpulan (akan semua yang mungkin terjadi), bahwa bila partisipasi partai di dalam pemerintahan revolusioner sudah tercapai, maka mungkin perbedaan dapat muncul dengan Trotsky dan kamerad-kamerad di Polandia mengenai kondisi partisipasi tersebut. Oleh karena itu, ini semua adalah mengenai kemungkinan perbedaan pendapat, dimana Lenin mempertimbangkan secara teoritis kemungkinan partisipasi dari perwakilan proletariat sebagai minoritas di dalam sebuah pemerintahan demokratik. Bagaimanapun juga kejadian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang muncul antara kita. Pada bulan November 1917, sebuah perjuangan yang tajam terjadi di dalam kepemimpinan utama Partai Bolshevik mengenai permasalahan membentuk pemerintahan koalisi dengan partai Sosialis Revolusioner dan Menshevik. Lenin, yang secara prinsip tidak berkeberatan untuk membentuk sebuah koalisi atas dasar soviet-soviet, dengan tegas menuntut bahwa mayoritas Bolshevik dijaga dengan aman. Saya setuju dan berdiri berdampingan dengan Lenin.
Sekarang mari kita dengar dari Radek. Bagaimana dia mereduksi keseluruhan persoalan kediktatoran demokratik proletariat dan kaum tani?
“Dimana”, dia bertanya, “teori lama Bolshevik 1905 terbukti benar secara fundamental? Dalam fakta bahwa aksi bersama pekerja Petrograd dan kaum tani (prajurit garnisun Petrograd) menggulingkan Tsarisme (pada tahun 1917 – L. T). Bagaimanapun juga, formula 1905 hanya memprediksi secara fundamental hubungan antara kelas-kelas dan bukan sebuah institusi politik yang konkrit.”
Tunggu sebentar! Dengan mengatakan formula lama Leninis sebagai “aljabar,” saya tidak bermaksud bahwa kita diperbolehkan untuk mereduksinya menjadi satu formula yang kosong, seperti yang dilakukan Radek tanpa berpikir sama sekali. “Hal yang fundamental sudah terealisasikan: kaum proletar dan kaum tani bersama-sama menggulingkan Tsarisme.” Namun “hal fundamental” tersebut dicapai tanpa pengecualian di dalam semua revolusi yang menang atau menang sebagian. Tsar, tuan-tuan feodal dan pendeta-pendeta selalu dan dimanapun dikalahkan oleh kepalan tangan kaum proletar atau kaum pra-proletar, kaum plebeian dan kaum tani. Ini terjadi bahkan sejak abad ke-16 di Jerman dan jauh lebih awal lagi. Di Cina juga kaum pekerja dan kaum tanilah yang mengalahkan “kaum militeris”. Apa kaitannya dengan kediktatoran demokratik? Kediktaktoran semacam itu tidak pernah muncul dalam revolusi sebelumnya, ataupun di dalam revolusi Cina. Kenapa tidak? Karena mengangkangi punggung kaum pekerja dan kaum tani, kedua kelas yang melakukan kerja kasar untuk revolusi, duduk sang borjuis. Radek telah mengabstraksikan dirinya sendiri dengan sebegitu kasarnya dari “institusi politik” sehinggal dia melupakan “poin yang paling fundamental” di dalam revolusi, yakni, siapa yang memimpin dan siapa yang merebut kekuasaan. Sebuah revolusi adalah perjuangan untuk merebut kekuasaan. Revolusi adalah perjuangan politik yang dilakukan oleh kelas-kelas tidak dengan tangan kosong namun melalui medium “institusi politik” (partai, dsb).
“Orang yang tidak memahami sepenuhnya kompleksitas metode Marxisme dan Leninisme”, Radek dengan marah memaki kita para pendosa, dan menggagaskan ini: “Semuanya pasti akan berakhir di dalam pemerintahan gabungan kaum pekerja dan kaum tani; dan beberapa orang bahkan berpikir bahwa ini pasti akan mengambil bentuk sebuah pemerintahan koalisi partai pekerja dan partai kaum tani.”
Betapa bodohnya “beberapa orang ini”! Dan apa yang dipikirkan oleh Radek? Apakah dia berpikir bahwa sebuah revolusi yang menang tidak akan mengambil satu bentuk korelasi kelas-kelas revolusioner yang tertentu? Radek telah memperdalam masalah “sosiologis” sampai ke titik dimana tidak ada yang tersisa darinya kecuali kulit verbalistik.
Bagaimana seseorang tidak boleh mengabstraksi persoalan bentuk politik dari kolaborasi pekerja dan kaum tani akan dengan baik ditunjukkan oleh kalimat-kalimat sebagai berikut dari pidato Radek pada Akademi Komunis dibulan Maret 1927:
“Setahun yang lalu saya menulis sebuah artikel di Pravda mengenai pemerintahan (Canton) ini dan menyatakannya sebagai sebuah pemerintahan tani dan buruh. Seorang kamerad di dewan editorial mengira bahwa itu adalah sebuah kekhilafan dari saya dan merubahnya menjadi pemerintahah buruh dan tani. Saya tidak memprotesnya dan membiarkannya: pemerintahan buruh dan tani.”
Jadi, pada bulan Maret 1927 (bukan pada tahun 1905) Radek berpendapat bahwa dimungkinkan sebuah pemerintahan tani dan buruh yang berbeda dengan pemerintahan buruh dan tani. Editor Pravda tidak memahami hal ini. Saya mengaku bahwa saya juga tidak dapat memahaminya. Kita mengetahui dengan baik apa pemerintahan buruh dan tani itu. Namun apa pemerintahan tani dan buruh ini, yang bertentangan dan berlawanan dengan pemerintahan buruh dan tani? Tolong jelaskan pertukaran dua kata yang misterius tersebut. Disini kita menyentuh inti dari masalah ini. Pada tahun 1926, Radek percaya bahwa pemerintahan Canton dari Chiang Kai-shek adalah sebuah pemerintahan tani dan buruh. Pada thaun 1927 dia mengulangi formula tersebut. Namun dalam kenyataan terbukti bahwa pemerintahan tersebut adalah pemerintahan borjuis, yang mengeksploitasi perjuangan revolusioner dari kaum pekerja dan kaum tani dan kemudian membantai mereka. Bagaimana kesalahan tersebut dijelaskan? Apakah Radek hanya salah menilai? Dari jarak jauh memang sangat mudah untuk salah menilai. Maka kenapa tidak mengatakan: Saya tidak memahami, tidak dapat melihat, saya membuat kesalahan. Namun tidak, ini bukan kesalahan fakta karena kurang informasi, seperti yang telah jelas sekarang, ini adalah kesalahan prinsip yang dalam. Pemerintahan tani dan buruh, yang kontras dengan pemerintahan buruh dan tani, tidak lain adalah Kuomintang. Tidak ada makna yang lainnya. Jika kaum tani tidak mengikuti kaum proletar, dia mengikuti kaum borjuis. Saya percaya bahwa persoalan ini telah cukup dijelaskan di dalam kritik saya terhadap ide faksional Stalinis mengenai “dua kelas, partai pekerja-tani” (lihat The Draft Programme of the Communist International; A Criticism of Fundamentals). Dalam bahasa politik Cina saat ini, pemerintahan tani dan buruh Canton, yang kontras dengan pemerintahan buruh dan tani, adalah juga satu-satunya ekspresi yang dapat dipahami dari “kediktatoran demokratik” sebagai lawan dari kediktatoran proletar; dengan kata lain, perwujudan kebijakan Kuomintang Stalinis sebagai lawan dari kebijakan Bolshevik yang dicap sebagai “Trotskis” oleh Komunis Internasional.
[1] Revolusi Prancis 1848, yang merobohkan kekuasaan monarki Raja Louis-Philippe dan membentuk Republik Kedua. Di bawah tekanan dari kaum proletar, pemerintahan ini memberikan konsensi: hak untuk bekerja, upah minimum, jam kerja yang lebih pendek, pensiun untuk orang cacat, dll. Tetapi ini berakhir dengan pengkhianatan kaum borjuis terhadap kaum proletar, dimana pada tanggal 21 Juni, sebuah insureksi rakyat pekerja direpresi, 50 ribu pekerja mati dan 25 ribu lainnya di tangkap. Louis Napoleon Bonaparte terpilih sebagai presiden Republik, dan dia kemudian membubarkan parlemen dan memproklamirkan dirinya sendiri sebagai kaisar, yang lalu berkuasa hingga tahun 1871.
[2] Revolusi Prancis 1789 adalah revolusi demokratik di Prancis yang menumbangkan sistem absolut monarki dan feudalisme. Ini menandai awal dari kebangkitan kaum borjuis dan kapitalisme.
[3] Social Democracy and the Revolutionary Provisional Government, edisi ke-4, VIII, 262-263; Kumpulan Karya Lenin, edisi Inggris, III, 35.
[4] Political and Tactical Considerations in Questions of the Agrarian Programme (Bab 4 dari The Agrarian Programme of the Social-Democrats in the Russian Revolution of 1905-1907), edisi ke-4, XIII, 262-263; Kumpulan Karya Lenin, edisi Inggris, III, p.243.
[5] Stalin, melalui Komunis Internasional, menerapkan formulasi kediktatoran demokratrik kaum buruh dan kaum tani yang vulgar di Cina, sehingga menyebabkan kekalahan Revolusi Cina 1927, dimana anggota PKT dibantai oleh Kuomintang atas perintah Chiang Kai Sek di dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pembantaian Shanghai 1927.
[6] The Paris Commune and the Tasks of the Democratic Dictatorship, 4th edition, IX, 120, hanya memberikan kesimpulan dari artikel ini, yang tidak meliputi kutipan di atas karena manuskrip ini tidak tertulis dengan tulisan-tangan Lenin, walaupun manuskrip ini diedit secara menyeluruh oleh Lenin.
[7] Trudoviks adalah perwakilan kaum tani di Duma Keempat, secara terus menerus bimbang antara partai Kadet (Liberal) dan Sosial Demokrat – L. T
[8] Revolution and Counter-Revolution, Edisi ke-4, XIII, 104.
[9] Zemlya i Volya adalah koran harian yang diterbitkan oleh Komite Regional Partai Sosialis Revolusioner di Petrograd dari 21 Maret 1917 hingga 13 Oktober 1917
[10] Narodnaya Volya, atau Partai Kehendak Rakyat. Pada musim gugur tahun 1879, sebuah kelompok dari Narodnik membentuk Partai Kehendak Rakyat. 30 orang anggota yang membentuk partai tersebut, setelah gagal membangkitkan kaum tani Rusia untuk memberontak dan justru menghadapi represi brutal, berubah arah untuk menggulingkan monarki dengan terorisme. Pada saat pendirian kelompok tersebut, mereka memutuskan hukuman mati untuk Tsar Alexander II
Partai ini mewarisi teori jalur terpisah (teori bahwa Rusia dapat melompat dari feudalisme ke sosialisme tanpa melalui kapitalisme, dan bahwa kaum tani adalah kelas revolusioner di Rusia) dari akar Narodnik mereka. Meskipun mereka percaya terhadap kaum tani sebagai kelas revolusioner, tidak ada kaum petani yang pernah menjadi anggota organ-organ yang memimpin di dalam partai tersebut.
Taktik teroris yang diciptakan partai ini disebut sebagai teori perjuangan langsung, yang diarahkan untuk menunjukkan: “sebuah demonstrasi tak terinterupsi dari kemungkinan perjuangan melawan pemerintah, dalam hal ini mengangkat semangat revolusioner rakyat dan keyakinannya dalam keberhasilan dari tujuannya dan mengorganisir mereka yang mampu berjuang.” (Program People’s Will, 1879)
Pada tanggal 1 Maret 1881 sebuah serangan yang dilakukan oleh partai ini membunuh Alexander II. Populasi Rusia sebagian besar ketakutan oleh kejadian ini dan Tsar meresponnya dengan kampanye teror dan represi terhadap semua gerakan kiri. Partai ini kemudian dibubarkan.
[11] Cherny Peredel atau Black Redistribution, dibentuk pada tahun 1879 dari perpecahan kelompok Land and Freedom. Pecahan yang lainnya adalah Narodnaya Volya. Cherny Peredel memilih jalan gradualisme dan propaganda untuk mengembangkan kesadaran rakyat. Mereka tidak setuju dengan jalan terorisme. Pada tahun 1881, sebagai akibat dari pembunuhan raja Alexander II, organisasi-organisasi kiri menderita represi dan ini menyebabkan kehancuran Cherny Peredel. Pada musim gugur 1881, partai ini bubar.
[12] Trudovik adalah sebuah kelompok petani dan intelektual revolusioner yang mendukung program revolusioner agraria untuk kaum tani, untuk sepenuhnya mengintegrasikan mereka ke dalam negara Rusia kapitalis. Pada April 1906 sebuah kelompok 130-140 perwakilan petani di Duma Rusia mulai memisahkan diri mereka sendiri dari PartaiKadet untuk membentuk sebuah partai independen. Mereka memiliki sebuah program agraria yang mengikuti tuntutan kaum tani untuk kepemilikan semua tanah. Namun sebaliknya mereka tidak berusaha untuk menggulingkan pemerintah, namun menggulingkan sistem agraria. Dengan demikian gerakan tersebut mewakili sebuah usaha untuk membersihkan masyarakat Rusia dari semua sisa feodalisme dan untuk memastikan semua petani mendapatkan kebebesan kapitalistik.
Di Duma, Trudoviks tidak pernah independen dan terombang-ambing diantara Partai Kadetdan Sosial Demokrat revolusioner. Selama Perang Dunia Pertama kebanyakan Trudoviks mengambil posisi sosial-sovinis. Setelah Revolusi Februari 1917, Trudoviks sepenuhnya mendukung Pemerintahan Sementara. Setelah revolusi Oktober Trudoviks menyerukan penggulingan Soviet dan akhirnya dilarang.
[13] Entente, juga disebut “The Allies” adalah kelompok kekuatan imperialis yang berperang melawan Jerman dan Austria-Hungaria pada Perang Dunia Pertama. Kelompok tersebut termasuk Perancis dan Inggris, kemudian bergabung Italia, Romania, Portugal dan Amerika Serikat, dan hingga Oktober 1917 Rusia tergabung di dalamnya.
[14] Yang dimaksud di sini adalah Perang Sipil Rusia dari tahun 1918-1922 dimana 18 pasukan imperialis bersama-sama dengan Tentara Putih berusaha menggulingkan pemerintahan Soviet. Partai SR bergabung dengan para imperialis tersebut untuk menggulingkan Soviet. Sebelum Revolusi Oktober, SR juga mendukung kaum borjuasi liberal dengan mendukung Pemerintahan Sementara.
[15] Pada bulan Oktober 1905, Soviet St. Petersburg dibentuk, dan organ ini menyerukan mogok umum.
[16] Pada bulan Desember 1905, yakni akhir dari Revolusi 1905, antara tanggal 5 Desember dan 7 Desember, ada pemogokan umum di Moskow. Ini disusul dengan pengiriman tentara pada tanggal 7 Desember, dimana terjadi pertempuran di jalanan yang mengambil korban sekitar seribu orang.
[17] Ferdinand Lassale (1825-1864) adalah pendiri partai Sosialis Demokratik, dan ikut serta di Revolusi Prancis 1848.
[18] Kutipan tersebut, diantara ratusan lainnya, menunjukkan secara singkat bahwa saya memang memiliki sebuah gagasan mengenai keberadaan kaum tani dan pentingnya persoalan agraria jauh kebelakang sejak permulaan Revolusi 1905, yaitu beberapa saat sebelum pentingnya kaum tani dijelaskan kepada saya oleh Maslov, Thalheimer, Thaelmann, Remmele, Cachin, Monmousseau, Bela Kun, Pepper, Kuusinen dan sosiolog Marxis lainnya. – L. T
[19] Pada Konferensi tahun 1909, Lenin mengajukan formula “proletariat yang memimpin kaum tani di belakangnya,” namun pada akhirnya dia menghubungkan dirinya dengan formula kaum Sosial Demokrat Polandia, yang memenangkan mayoritas pada konferensi melawan Menshevik. – L. T
[20] The Aim of the Struggle of the Proletariat in Our Revolution, Edisi ke-4, XV, 333 dan 339.
[21] Hasil dan Prospek, Bab 5: Kaum Proletar Berkuasa dan Kaum Tani, oleh Leon Trotsky.
[22] Yuri Pyatakov (1890-1937) menjadi Bolshevik sejak 1912, memainkan peran memimpin pada Revolusi Oktober dan perang sipil dan memegang banyak posisi partai dan pemerintahan. Dia bergabung dengan Oposisi Kiripada tahun 1923, dikeluarkan pada tahun 1927, namun menyerah pada tekanan ideologi Stalinis dan diterima kembali ke partai pada tahun 1928. Sebagai wakil ketua komisariat industri berat, dia membantu melakukan industrialisasi USSR pada tahun 1930-an. Dia didakwa atas tuduhan penghianatan dan dieksekusi pada Pengadilan Moskowkedua.
[23] About the Two Lines of the Revolution, edisi ke-4, XXI, 382.
[24] The Stages, Direction and Prospects of the Revolution, Edisi ke-4, X, 73-74. Little Lenin Library, edisi Inggris, Vol.VI, The Revolution of 1905 (1931), 54-55.
[25] The Aim of the Struggle of the Proletariat in Our Revolution, Edisi ke-4, XV, 344.