Brumaire XVIII Louis Bonaparte

Karl Marx (1852)


BAB I

PEBRUARI 1848 HINGGA DESEMBER 1851

Di sesuatu tempat, Hegel mengungkapkan bahwa semua kenyataan dan tokoh-tokoh yang sangat penting di dalam sejarah dunia terjadi, seakanakan, dua kali. Hegel lupa menambahan: yang pertama kali sebagai tragedi, yang kedua kali sebagai lelucon. Causidière untuk Danton, Louis Blanc untuk Robespierre, Montagne[2] tahun 1848 hingga 1851 untuk Montagne tahun 1793 hingga 1785, si kemenakan laki-laki untuk si paman. Dan karikatur yang sama terdapat di dalam situasi-situasi yang menyertai edisi kedua Brumaire ke Delapanbelas!

Manusia membuat sejarahnya sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya tepat seperti yang mereka sukai; mereka tidak membuatnya dalam situasi-situasi yang dipilih oleh mereka sendiri, melainkan dalam situasisituasi yang langsung dihadapi, ditentukan dan ditransmisikan dari masa-lalu. Tradisi dari semua generasi-yang mati membeban bagaikan sebuah impian-buruk atas benak yang hidup. Dan tepat manakala mereka tampak terlibat dalam merevolusionerkan diri mereka sendiri dan segala sesuatu, dalam menciptakan sesuatu yang belum pernah ada, justru pada periode-periode krisis revolusioner seperti itu mereka dengan cemas membangkitkan roh-roh masa lalu untuk melayani mereka dan meminjam darinya nama-nama, teriakan-teriakan dan busana-busana perang untuk menyajikan adegan baru sejarah dunia dalam samaran lama dan bahasa pinjaman ini. Demikian Luther mengenakan kedok Rasul Paulus, Revolusi 1789 hingga 1814 mengenakan pada dirinya secara bergantian jubah sebagai republik Romawi dan kekaisaran Romawi, dan Revolusi tahun 1848 tidak mengetahui untuk berbuat yang lebih baik daripada memparodikan, sebentar 1789, sebentar lagi tradisi revolusioner tahun 1793 hingga 1795. Dengan cara yang sama seorang pemula yang telah belajar suatu bahasa baru selalu menerjemahkannya kembali ke dalam bahasa ibunya, tetapi ia telah mengasimilasi semangat dari bahasa baru itu dan dapat dengan bebas mengekspresikan dirinya sendiri dalam bahasa itu hanya ketika ia menemukan jalannya dalam bahasa itu tanpa mengingat-ingat bahasa lama dan melupakan bahasa kelahirannya dalam penggunaan bahasa baru itu.

Pembahasan pembangkitan yang mati dari sejarah dunia ini seketika mengungkapkan suatu perbedaan penting. Camille Desmoulins, Danton, Robespierre, Saint-Just, Napoleon, para pahlawan maupun partai-partai dan massa-massa Revolusi Prancis lama, melaksanakan tugas jaman mereka dalam busana Romawi dan dengan ungkapan-ungkapan Romawi, tugas pelepasan rantai-rantai dan penyusunan masyarakat burjuis modern. Orang-orang yang terdahulu menghancur-leburkan dasar feodal dan membabat kepala-kepala feodal yang telah tumbuh di atasnya. Yang lainnya menciptakan kondisi-kondisi di Prancis di mana hanya persaingan bebas dapat dikembangkan, hak pemilikan tanah yang dieksploitasi yang telah dibagi-bagikan dan tenaga produktif industri yang telah dibebaskan (dari rantai-rantainya) bangsa yang dipekerjakan; dan di luar perbatasan-perbatasan Prancis ia di mana-mana menyapu bersih lembaga-lembaga feodal, sejauh yang diperlukan untuk membekali masyarakat burjuis di Prancis dengan suatu lingkungan mutakhir yang cocok di Benua Eropa. Begitu susunan sosial baru itu ditegakkan, Colossi antediluvian[3] menghilang dan dengannya Romanitas yang dibangkitkan kembali – para Brutus, Gracchi, publikola-publikola, tribun-tribun, para senator, dan Caesar sendiri. Masyarakat burjuis dalam realitas sederhananya telah melahirkan/beranakkan para penafsir dan corong-corong (jurubicara)-nya yang sesungguhnya pada (orang-orang seperti) Say, Cousin, Royer-Collard, Benjamin Constant dan Guizot; para pemimpin militernya yang sesungguhnya duduk di belakang meja-meja kantor, dan Louis XVIII yang berkepala-kosong menjadi pemimpin politiknya. Sepenuhnya terpikat dalam produksi kekayaan dan dalam perjuangan persaingan secara damai, ia tidak memahami lagi bahwa hantu-hantu dari jaman Romawi telah mengamatinya di atas tempatlahirnya. Sekalipun masyarakat burjuis itu tidak heroik, betapapun ia juga memerlukan heroisme, pengorbanan, teror, perang-saudara dan perang-perang nasional untuk melahirkannya. Dan dalam tradisi-tradisi keras yang klasik dari republik Romawi para gladiatornya menemukan cita-cita dan bentuk-bantuk seni, pembohongan diri yang mereka perlukan untuk menyembunyikan dari diri mereka sendiri keterbatasanketerbatasan burjuis dari isi/kandungan perjuangan-perjuangan mereka dan untuk memelihara antusiasme mereka di atas penarah tinggi tragedi besar sejarah. Secara serupa, di atas pentas lain, satu abad lebih dini, Cromwell dan orang Inggris telah meminjam cara-bicara, emosi-emosi dan ilusi-ilusi dari kitab Perjanjian Lama untuk revolusi burjuis mereka. Manakala tujuan sesungguhnya telah tercapai dan transformasi burjuis atas masyarakat Inggris telah dilaksanakan, Locke menggantikan Habakkuk.

Demikian kebangkitan yang mati di dalam revolusi-revolusi itu melayani maksud memuliakan perjuangan-perjuangan baru, bukan memparodikkan yang lama; membesar-besarkan tugas yang diberikan dalam imajinasi, tidak akan lari dari penyelesaiannya dalam realitas; menemukan kembali semangat revolusi itu, tidak akan membuat hantunya berkeliaran lagi.

Dari tahun 1848 hingga 1851 hanya hantu dari revolusi lama yang berkelana, dari Marrast, sang républicain en gants jaunes,[4] yang menyamarkan dirinya sebagai si Bailly tua, hingga si petualang, yang menyembunyikan ciri-ciri yang remeh dan menjijikan di balik topengkematian Napoleon yang dari besi itu. Seluruh rakyat, yang telah membayangkan bahwa lewat sebuah revolusi telah mendapatkan suatu daya gerak yang dipercepat, tiba-tiba mendapatkan dirinya sendiri dikembalikan dalam suatu kurun yang sudah mati dan, untuk menyingkirkan sesuatu keraguan mengenai kambuhnya kembali, masamasa lampau bangkit kembali –kronologi lama, nama-nama lama, maklumat-maklumat lama, yang telah lama menjadi suatu subyek kesarjanaan kuno, dan antek-antek lama dari hukum, yang tampaknya sudah lama mati. Nasion itu merasa seperti orang Inggris gila di Bedlam[5] yang berkhayal dirinya hidup di masa Firaun kuno dan sehari-hari meratapi kerja keras yang harus dilakukannya di dalam tambangtambang emas Ethiopia, terkurung di dalam penjara bawah-tanah itu, dengan sebuah lampu menyala redup yang diikatkan pada kepalanya, mandor para budak itu dengan sebuah cambuk panjang, dan di pintupintu keluar suatu campuran budak-budak perang barbar yang kacau, yang tidak memahami para pekerja paksa di dalam tambang-tambang itu ataupun tanpa saling-mengerti satu-sama-lain, karena mereka tidak mempunyai suatu bahasa bersama. “Dan semua ini diharapkan dari diriku,”berkeluh orang Inggris gila itu, “dariku, seorang Inggris yang lahir merdeka, untuk membuat emas bagi Firaun-firaun tua itu.” “Agar membayar utang-utang keluarga Bonaparte.” Keluh bangsa Prancis itu. Orang Inggris itu, selama pikirannya waras, tidak dapat melepaskan diri dari ide pembuatan emas yang sudah terpancang dalam benaknya. Orang-orang Prancis, selama mereka terlibat dalam revolusi, tidak dapat menyingkirkan ingatan akan Napoleon, sebagaimana yang dibuktikan oleh pemilihan tanggal 10 Desember [tahun 1848, ketika Louis Bonaparte dipilih sebagai Presiden Republik Prancis lewat plebisit]. Mereka merindukan pulang dari bahaya-bahaya revolusi kepada kehidupan bermewah-mewah di Mesir[6] , dan 2 Desember 1851 [Tanggal coup d’ètat oleh Louis Bonaparte], adalah jawabannya. Kini mereka tidak hanya memiliki sebuah karikatur dari Napoleon tua, melainkan Napoleon tua itu sendiri, dikarikaturkan sebagaimana ia pasti adanya pada pertengahan abad ke sembilanbelas.

Revolusi sosial dari abad ke sembilanbelas tidak dapat mengambil persajakan dari masa lalu, melainkan hanya dari masa-depan. Ia tidak dapat mulai dengan dirinya sendiri sebelum ia melucuti diri dari semua ketakhayulan berkenaan dengan masa-lalu. Revolusi-revolusi sebelumnya menuntut diingatnya-kembali sejarah dunia masa-lalu untuk menyembunyikan isi/kandungan mereka sendiri. Agar sampai pada kandungannya sendiri, revolusi abad ke sembilanbelas mesti membiarkan yang mati mengubur orang-orang mereka sendiri yang mati. Di sana kalimat itu melampaui kandungannya; di sini kandungan itu melampaui ungkapannya.

Revolusi Pebruari merupakan suatu serangan dadakan, suatu perebutan masyarakat lama itu tanpa disadari, dan rakyat memproklamasikan pukulan yang tidak diduga-duga ini sebagai suatu perbuatan yang mempunyai arti-penting dunia, mengantarkan suatu kurun baru. Pada tanggal 2 Desember Revolusi Pebruari disulap hilang dengan suatu tipuan seorang pemain-kartu, dan yang tampak ditumbangkan tidak lagi monarki tetapi konsesi-konsesi liberal yang direbut darinya dengan berabad-abad perjuangan. Gantinya masyarakat yang merebut isi baru bagi dirinya sendiri, tampaknya negara hanya kembali pada bentuknya yang paling tua, pada suatu dominasi sederhana yang tidak-tahu malu dari pedang dan topi runcing biarawan. Inilah jawaban pada coup de main[7] Pebruari 1848, yang diberikan oleh coup de tête[8] Desember 1851. Mudah didapat, mudah hilang. Sementara itu selang waktu tidak berlalu tanpa dimanfaatkan. Selama tahun-tahun 1848 hingga 1851 masyarakat Prancis dengan suatu metode revolusioner yang dipersingkat, telah mengejar studi-studi dan pengalaman-pengalaman yang, dalam sebuah –boleh dikatakan– buku pegangan kursus mengenai perkembangan mestinya mendahului Revolusi Pebruari, jika yang tersebut belakangan itu mestinya lebih daripada sekedar suatu gelepai-gelepaian permukaan belaka. Masyarakat kini tampaknya telah mundur di balik titik keberangkatannya; ia sesungguhnya mesti terlebih dahulu menciptakan bagi dirinya sendiri titik pangkal revolusioner –situasi, hubunganhubungan, kondisi-kondisi yang dengannya saja revolusi modern menjadi bersungguh-sungguh, menjadi serius. Revolusi-revolusi burjuis, seperti yang dari abad ke delapanbelas, dengan cepat merebut keberhasilan demi keberhasilan; akibat-akibat dramatiknya saling melampaui satu sama lain; manusia dan segala sesuatu seakan dipasang di tengah berlian-berlian yang berkilauan; kegairahan menjadi semangat setiap hari; tetapi itu semua berusia pendek; begitu mereka telah mencapai puncaknya, dan suatu depresi yang berkerutkerut ( crapulence = Katzenjammer) mencengkeram masyarakat sebelum ia dengan tenang berlajar mengasimilasi akibat-akibat masa pergolakan dan tekanan itu. Sebaliknya, revolusi-revolusi proletar, seperti yang dari abad ke sembilanbelas, selalu mengritik diri, menyelangi diri terusmenerus dalam prosesnya, balik pada yang kelihatannya telah dilaksanakan, untuk memulainya kembali, mengecam dengan ketuntutasan yang tidak mengenal ampun tindakan-tindakan setengahsetengah, kelemahan-kelemahan dan keremehan usaha-usaha pertama, seakan-akan menjatuhkan lawan-lawan mereka agar yang tersebut belakangan dapat menarik kekuatan baru dari bumi dan bangkit kembali di hadapan mereka secara lebih perkasa, selalu mundur dari sangat banyaknya tujuan-tujuan mereka sendiri yang tidak menentu – hingga telah tercipta suatu situasi yang membuat tidak mungkinnya balikkembali, dan kondisi-kondisi itu sendiri meneriakkan: Hic Rhodus, hic salta![9]

Untuk yang selebihnya, setiap pemantau yang cukup kompeten, bahkan jika ia tidak mengikuti proses perkembangan Prancis langkah-demilankah, mesti telah mempunyai suatu firasat bahwa sesuatu kegagalan yang luar-biasa sedang mengancam revolusi itu. Cukup mendengarkan lolongan kemenangan yang penuh-puas-diri yang dengannya Tuan-tuan Demokrat saling memberi selamat atas konsekuensi-konsekuensi yang sangat ramah yang memang diharapkan dari hari Minggu kedua dalam bulan Mei 1852[10] itu. Dalam pikiran mereka hari Minggu kedua dalam bulan Mei 1852 itu telah menjadi suatu ide tertentu, sebuah dogma, seperti hari permunculan-kembali Kristus dan awal milenium dalam pikiran kaum Chilias[11]. Seperti yang selalu terjadi, kelemahan telah lari pada suatu kepercayaan akan mukjijat-mukjijat, yang menkhayalkan musuh dikalahkan padahal ia –musuh itu– disulap menghilang di dalam imajinasi, dan hilangnya semua pemahaman akan kekinian dalam suatu pemuliaan pasif masa-depan yang menantikan dirinya dan akan perbuatan-perbuatan yang dipunyainya in petto,[12] tetapi yang masih belum mau dilaksanakannya. Pahlawan-pahlawan yang berusahamenyangkal ketidak-mampuan mereka yang – dengan saling menawarkan simpati mereka satu-sama-lain dan kumpul-berkerumun bersama-sama telah menyatukan buntelan-buntelan mereka, terlebih dulu mengumpulkan kalung-kalung daun salam mereka dan baru saja menyibukkan diri mereka dengan mendiskon di pasar pertukaran republik-republik in partibus yang untuknya mereka sudah terlebih dulu mengorganisasi dengan ingat akan hari esok personel pemerintahan dengan segala ketenangan sikap mereka yang tanpa pamrih. Tanggal 2 Desember bagi mereka bagaikan suatu halilintar di siang hari bolong, dan orang-orang yang dalam periode-periode depresi kerdil dengan senang hati membiarkan keperihatinan batin mereka ditenggelamkan oleh para peneriak paling lantang boleh jadi akan meyakinkan diri mereka sendiri bahwa masanya sudah berlalu manakala berkotek-koteknya itik dapat menyelamatkan Capitol.[13]

Konstitusi, Majelis Nasional, partai-partai dinasti, para republiken biru dan merah, para pahlawan Afrika, guruh dari platform, kilat lembar dari pers sehari-hari, seluruh litertatur, nama-nama politik dan reputasi intelektual, hukum sivil dan hukum pidana, libertè (kemerdekaan), egalitè (persamaan), fraternitè (persaudaraan), dan hari Minggu kedua dalam bulan Mei, 1852 –kesemuanya telah lenyap bagaikan sebuah fantasmagoria di depan sihir seseorang yang bahkan musuh-musuhnya tidak menyatakannya sebagai seorang tukang-sihir. Pemilihan umum tampaknya telah bertahan hanya untuk sementara itu, sehingga dengan tangannya sendiri dapatlah ia membuat surat wasiatnya yang terakhir di depan mata seluruh dunia dan menyatakan atas nama rakyat itu sendiri: Segala yang ada layak untuk musnah. [dari karya Goethe Faust, Bagian Satu. –Ed.]

Tidak cukup untuk mengatakan, seperti yang dilakukan orang Prancis, bahwa nasion mereka telah kepergok secara tidak sadar. Nasion-nasion dan kaum wanita tidak memaafkan saat tidak terjaga di mana sembarangan petualang yang lewat dapat memperkosa mereka. Cara bicara seperti itu tidak memecahkan teka-teki itu, dan hanya merumuskannya secara lain. Masih harus dijelaskan bagaimana suatu nasion dari tigapuluhenam juta orang dapat didadak dan diserahkan tanpa perlawanan ke dalam tahanan oleh tiga ksatria industri.

Mari kita merekapitulasi secara umum garis besar tahap-tahap yang dilalui Revolusi Prancis dari tanggal 24 Pebruari, 1848, hingga Desember, 1851.

Tiga periode utama tidak-salah lagi: periode Pebruari periode konstitusi republik atau Sidang Konstituante Nasional –Mei 1848 hingga Mei 1849; dan periode republik konstitusional atau Sidang Legislatif Nasional– 28 Mei 1849 hingga 2 Desember 1851.

Periode pertama – dari 24 Pebruari, penumbangan Louis Philippe, hingga 4 Mei, 1848, rapat Majelis Konsituante – periode Pebruari yang sesungguhnya, dapat ditunjuk sebagai prolog dari revolusi. Sifatnya telah secara resmi dinyatakan dalam kenyataan bahwa pemerintah yang diimprovisasinya sendiri telah menyatakan bahwa ia adalah sementara, dan seperti pemerintahan, segala sesuatu yang telah disebut, berusaha, atau diucapkan selama periode ini memprokla-masikan dirinya sebagai hanya sementara. Tiada ada orang dan tiada apapun yang mencoba mengklaim sesuatu hak untuk hidup dan aksi sesungguhnya. Semua unsur yang telah menyiapkan atau menentukan revolusi itu – oposisi dinasti, burjuasi republiken, republiken burjuis-kecil yang demokratik, dan para pekerja sosial-demokratik, untuk sementara mendapatkan tempat mereka dalam pemerintahan Pebruari.

Memang tidak bisa lain. Hari-hari Pebruari aslinya meniatkan suatu reform pemilihan yang dengannya lingkaran yang berhak-istimewa politik di kalangan kelas pemilik itu sendiri mesti diperluas dan dominasi khusus dari aristokrasi keuangan ditumbangkan. Namun, manakala sampai pada konflik yang sesungguhnya – ketika rakyat membangun berikade-berikade, Garda Nasional mempertahan-kan suatu sikap pasif, tentara tidak melakukan perlawanan yang serius, dan monarki melarikan diri – republik itu tampak sebagai sesuatu yang sudah dengan sendirinya. Setiap partai merancangnya dengan caranya sendiri. Setelah mengamankannya dengan senjata di tangan, proletariat membubuhkan capnya di atasnya dan memproklamasikannya menjadi sebuah republik sosial. Dengan demikian telah diindikasikan isi umum dari revolusi modern, suatu kandungan yang berada dalam kontradiksi yang paling khas dengan segala sesuatu yang, dengan materi yang tersedia, dengan derajat pendidikan yang dicapai oleh massa, dalam situasi-situasi dan hubungan-hubungan tertentu, dapat secara langsung diwujudkan dalam praktek. Sebaliknya, klaim-klaim dari semua unsur yang tersisa yang telah bekerja sama dalam Revolusi Pebruari telah diakui dengan bagian terbesar yang mereka dapatkan di dalam pemerintahan. Oleh karenanya, tiada periode yang manapun dapat kita menjumlahkan suatu campuran yang lebih membingungkan dari ungkapan-ungkapan yang melayang-layang tinggi dan ketidak-tentuan sungguh-sungguh dan kecanggungan, mengenai daya-upaya yang lebih antusias akan inovasi dan dominasi yang berakar lebih dalam dari rutin lama, mengenai keserasian yang lebih tampak dari seluruh masyarakat; dan pengasingan yang lebih mendasar dari unsur-unsurnya. Selagi proletariat Paris masih bersuka-ria di dalam visi prospek-prospek yang luas yang telah terbuka di depannya dan menurutkan kehendak dalam diskusi masalah-masalah sosial yang serius, kekuasaan-kekuasaan lama dari masyarakat telah mengelompokkan diri mereka, telah berkumpul, berpikir, dan mendapatkan dukungan yang tidak terduga-duga dari massa nasion, kaum tani dan burjuis kecil, yang kesemuanya seketika menyerbu ke atas pentas politik setelah rintangan-rintangan Monarki Juli runtuh.

Periode kedua, dari 4 Mei 1848 hingga akhir Mei 1849, adalah periode konstitusi, fondasi dari republik burjuis itu. Segera setelah hari-hari Pebruari oposisi dinasti tidak saja dikejutkan oleh kaum republiken dan kaum republiken oleh kaum sosialis, tetapi seluruh Prancis oleh Paris. Majelis Nasional, yang bersidang pada tanggal 4 Mei, 1848, telah muncul dari pemilihan-pemilihan nasional dan mewakili nasion. Ia merupakan suatu protes yang hidup terhadap dalih-dalih hari-hari Pebruari dan mesti mengurangi hasil-hasil revolusi ke skala burjuis. Dengan sia-sia proletariat Paris, yang langsung menangkap sifat dari Majelis Nasional ini, berusaha pada 5 Mei, sehari setelah majelis itu bersidang, meniadakan keberadaannya secara paksa, membubarkannya, memecahnya kembali bentuk organiknya menjadi bagian-bagian komponen yang dengannya proletariat telah diancam oleh semangat nasion yang bereaksi. Sebagaimana diketahui, tanggal 15 Mei tidak mempunyai hasil lain kecuali telah menyingkirkan Blaqui dan kawankawannya –yaitu, pemimpin-pemimpin sesungguhnya dari partai proletar– dari mimbar publik selama seluruh keberlansungan daur yang kita bahas.

Monarki burjuis dari Louis Philippe hanya dapat disusul oleh sebuah republik burjuis; yaitu berarti, apabila suatu bagian terbatas dari burjuasi memerintah atas nama raja, maka seluruh burjuasi sekarang akan memerintah atas nama rakyat. Tuntutan-tuntutan proletariat Paris adalah omong-kosong utopi, yang mesti diakhiri. Pada deklarasi Majelis Konstituante Nasional ini proletariat Paris menjawab dengan pemberontakan Juni, peristiwa paling besar dalam sejarah peperanganpeperangan saudara Eropa. Republik burjuis berjaya. Di sisinya berdirilah aristokrasi keuangan, burjuasi industri, kelas menengah, burjuis kecil, tentara, lumpen-proletartiat yang diorganisasi sebagai Garda Mobile, para intelektual, golongan pendeta, dan penduduk pedesaan. Di pihak proletariat Paris tiada siapapun kecuali dirinya sendiri. Lebih dari tigaribu pemberontak telah dibantai setelah kemenangan, dan limabelasribu dibuang tanpa pengadilan. Dengan kekalahan ini proletariat tergusur ke latar-belakang pentas revolusioner. Ia berusaha mendesak maju lagi pada setiap kesempatan, begitu gerakan itu tampak membuat suatu awal; baru, namun dengan pengeluaran tenaga yang semakin berkurang dan selalu dengan hasil-hasil yang semakin tak-berarti. Segera setelah salah-satu dari lapisan sosial di atasnya berada dalam pergolakan revolusioner, proletariat masuk ke dalam suatu persekutuan dengannya dan dengan begitu berbagi semua kekalahan yang diderita berbagai partai secara berturut-turut. Tetapi pukulan-pukulan berikut ini menjadi lebih lemah, dengan semakin besar permukaan masyarakat yang di atasnya pukulan-pukulan itu didistribusikan. Para pemimpin proletariat yang lebih penting di dalam Majelis dan di dalam pers secara berturut-turut menjadi korban pengadilan-pengadilan, dan lebih banyak tokoh yang tidak tegas menjadi pemimpinnya. Untuk sebagian ia terjunkan diri sendiri ke dalam eksperimen-eksperimen doktriner, bank-bank pertukaran dan asosiasi-asosiasi buruh, dari situ ke dalam suatu gerakan yang di dalamnya ia menolak direvolusionerkannya dunia lama dengan jalan sumber-sumber besar yang terpadu dari yang tersebut terakhir itu, dan lebih berusaha daripada mencapai keselamatannya di belakang punggung masyarakat, dengan gaya perseorangan, di dalam kondisi-kondisi keberadaannya yang terbatas, dan karenanya niscaya mengalami karam. Tampaknya ia tidak mampu ataupun menemukan-kembali kebesaran revolusioner dalam dirinya sendiri atau untuk mendapatkan enerji baru dari koneksi-koneksi yang baru dibuatnya, hingga semua kelas yang dengannya ia bersaing pada bulan Juni itu sendiri tergeletak tak-berdaya di sisinya.

Tetapi setidak-tidaknya ia menyerah dengan kehormatan-kehormatan perjuangan besar yang bersejarah-dunia; tidak hanya Prancis, tetapi seluruh Eropa bergemetar dengan gempa-bumi bulan Juni itu, sedangkan kekalahan-kekalahan yang berikutnya dari kelas-kelas atas telah dibeli dengan begitu murah sehingga mereka memerlukan pelebihan-pelebihan tak-tahu-malu oleh pihak pemenang agar dapat dianggap sebagai benarbenar peristiwa-peristiwa, dan menjadi semakin tercela dengan semakin jauhnya pihak yang dikalahkan digusur dari pihak proletar itu.

Kekalahan para pemberontak bulan Juni, sebenarnya, kini telah mempersiapkan, telah meratakan jalan yang di atasnya republik burjuasi itu dapat dilandaskan dan dibangun, tetapi pada waktu bersamaan telah terbukti bahwa di Eropa isu-isu yang dipersoalkan adalah lain daripada soal republik atau monarki. Ia telah mengungkapkan bahwa di sini republik burjuis berarti despotisme yang tidak terbatas dari satu kelas atas kelas-kelas lainnya. Ia telah membuktikan bahwa di negeri-negeri dengan suatu peradaban tua, dengan suatu susunan kelas-kelas yang telah berkembang, dengan kondisi-kondisi produksi yang modern, dan dengan suatu kesadaran intelektual dimana semua gagasan tradisional telah dibubarkan oleh kerja berabad-abad, republik itu pada umumnya hanya berarti bentuk politik revolusi masyarakat burjuis dan bukan bentuk kehidupan konservatifnya –seperti, misalnya, di Negara-negara Persatuan Amerika Utara, di mana, sekalipun kelas-kelas sudah ada, mereka belum menjadi tetap, melainkan selalu berubah dan salingberganti unsur-unsur mereka dalam perubahan terus-menerus, di mana alat-alat produksi modern, gantinya bertepatan dengan suatu kelebihan penduduk yang macet, lebih mengkompensasi untuk kekurangan relatif akan kepala dan tangan, dan di mana, pada akhirnya, gerakan produksi materi yang tampak muda, yang mendemam, yang mesti membuat suatu dunia barunya sendiri, tidak mempunyai waktu maupun kesempatan tersisa untuk menghapuskan dunia hantu-hantu lama.

Selama hari-hari Juni semua kelas dan partai telah bersatu di dalam partai Ketertiban melawan kelas proletar sebagai partai anarki, partai sosialisme, partai komunisme. Mereka telah menyelamatkan masyarakat dari musuh-musuh masyarakat. Mereka telah mengumumkan semboyansemboyan masyarakat lama, hak-milik, keluarga, agama, ketertiban, kepada tentara mereka sebagai kata-sandi dan telah memproklamasikan kepada para peserta perang-salib kontra-revolusioner: Dengan tanda ini kalian akan menaklukkan! Dari saat itu, segera setelah salah-satu dari partai yang banyak jumlahnya berkumpul di bawah tanda ini terhadap para pemberontak bulan Juni berusaha mempertahankan medan perang revolusioner untuk kepentingan kelasnya sendiri, ia runtuh di depan seruan: Hak-milik, keluarga, agama, ketertiban. Masyarakat sama kerapnya diselamatkan seperti lingkaran para penguasanya mengkerut, karena suatu kepentingan yang lebih khusus dipertahankan terhadap suatu kepentingan yang lebih luas. Setiap tuntutan reform keuangan burjuis yang paling sederhana, atau liberalisme yang paling biasa, republikenisme yang paling formal, demokrasi yang paling dangkal, secara serentak dihukum sebagai suatu serangan terhadap masyarakat dan diberi-cap sebagai sosialisme. Dan akhirnya para pendeta tinggi dari agama dan ketertiban itu sendiri digusur dengan tendangantendangan dari tumpuan-tumpuan kaki-tiga Pythian mereka, diseret keluar dari tempat-tempat tidur mereka di kegelapan malam hari, dimasukkan ke dalam kereta-kereta pesakitan, dilempar ke dalam tempat-tempat penahanan di bawah tanah atau dibuang; candi-candi mereka diratakan dengan tanah, mulut mereka disumbat, pena-pena mereka dipatahkan, hukum-hukum mereka disobek-sobek hingga berkeping-keping atas nama agama, hak-milik, keluarga, ketertiban. Para burjuis yang fanatik akan ketertiban ditembak mati di atas balkonbalkon mereka oleh gerombolan-gerombolan serdadu mabuk, tempattempat perlindungan mereka di rumah dicemari, rumah-rumah mereka dibom sebagai hiburan – atas nama hak-milik, keluarga, agama, dan ketertiban. Akhirnya, sampah masyarakat burjuis membentuk barisan suci ketertiban dan pahlawan Crapulinski melantik dirinya sendiri di Tuileries sebagai penyelamat masyarakat.


[2] Montagne = gunung. Le Montagne = yang dimaksud berkaitan dengan kaum Jacobin, yang duduk di Montagne, atau di atas kursi-kursi yang tinggi letaknya, di Konvensi Nasional Prancis.

[3] Yang kuno sekali.

[4] Republiken dengan kaos-tangan kuning.

[5] Bedlam merupakan sebuah rumah-sakit (asilum) yang terknal buruknya di Inggris.

[6] to sigh for the flesh-pots of Egypt= merindukan kehidupan bermewah-mewah di Mesir, diambil dari dongeng kitab Injil, yang mengisahkan bahwa selama eksodus kaum Israel dari Mesir, yang goyah di antara mereka (merasa) lebih suka mati ketika mereka sedang hidup mewah di Mesir, daripada mengalami/menjalani cobaan-cobaan berat yang mereka alami sekarang dalam menyeberangi gurungurun pasir.

[7] Coup de main: Pukulan dadakan – ed.

[8] Coup de tête: Tindakan gegabah – ed.

[9] Di sini mawar itu, di sini berdansalah! –Ungkapan ini diambil dari salah-sebuah dongeng Aesop: Seorang pejalan yang bergaya angkuh mengklaim mempunyai saksi untuk membuktikan bawa dirinya telah pernah melakukan suatu lompatan yang menakjubkan di Rhodes, yang untuk itu ia menerima jawaban: “Buat apa menyebutkan saksi-saksi apabila kisah itu benar? Di sini Rhodes, melompatlah di sini!” Dengan kata lain: Buktikan di tempat ini juga dengan perbuatan yang anda dapat lakukan itu! –ed.

[10] Pada hari ini masa jabatan Presiden republik berakhir, dan sesuai konstitusi tiada yang dapat dipilih untuk kepresidenan itu untuk kedua kalinya.

[11] Chiliasts (dari kata Yunani chillias –seribu): para pengkhotbah mengenai suatu doktrin religius yang mistikal mengenai datangnya Kristus untuk kedua kalinya dan pendirian milenium manakala keadilan, persamaan universal dan kemakmuran akan menang.

[12] in petto = dalam pikiran, secara diam-diam, secara rahasia.

[13] Capitol: Sebuah bukit di Roma, sebuah benteng yang diperkuat di mana candicandi Jupiter, Juno dan dewa-dewa lainnya dibangun. Menurut sebuah dongeng, Roma diselamatkan pada tahun 390 Sebelum Masehi dari suatu penyerbuan bangsa Gaul, berkat berkotek-koteknya bebek/itik dari candi Juno telah membangunkan para penjaga Capitol yang tertidur