Sumber: Ted Grant Internet Archive. Against the Theory of State Capitalism.
Penerjemah: Ted Sprague (1 Oktober 2026)
Dokumen Kamerad Cliff yang berjudul The Nature of Stalinist Russia sekilas memberi kita kesan adanya analisis ilmiah yang serius. Namun, setelah diperiksa dengan hati-hati, tidak ada satupun babnya yang mengandung tesis yang mumpuni. Metodenya adalah mengajukan serangkaian paralel yang didasarkan pada kutipan, dan kelemahan utamanya terletak pada fakta bahwa kesimpulannya tidak dilandaskan pada analisis. Dari tesisnya, kita tidak dapat menyimpulkan apakah Rusia Stalinis masih merupakan sistem yang progresif (kendati deformasinya), atau bagi Cliff Rusia sekarang sudah memainkan peran yang sama reaksionernya seperti kapitalisme atau fasisme. Kelemahannya terungkap dari fakta bahwa tidak ada kesimpulan praktis yang mengalir darinya. Apakah kita mesti membela Rusia? atau Partai Revolusioner harus mengambil posisi defeatist (posisi mendukung kekalahan Rusia dalam perang)? Kita tidak menemukan jawaban atas pertanyaan ini dari analisanya, tetapi justru harus kita temukan a posteriori (setelah fakta).
Walaupun Kamerad Cliff menekankan bahwa birokrasi Stalinis adalah sebuah kelas yang baru, kita tidak akan menemukan analisa maupun bukti mengapa dan bagaimana kelas semacam ini adalah kelas kapitalis, dan bukanlah kelas tipe baru.
Dan ini bukanlah kebetulan. Ini mengalir dari metode yang dia gunakan. Dimulai dari prasangka yang sudah dibentuk sebelumnya tentang kapitalisme negara, semuanya kemudian secara artifisial dicocokkan dengan konsepsi itu. Alih-alih menerapkan metode teoretis yang telah dikembangkan oleh guru-guru Marxis kita ke masyarakat Rusia dalam proses gerak dan perkembangannya, Tony Cliff justru menyisir karya-karya mereka untuk mengumpulkan kutipan-kutipan dan mencoba memadatkannya menjadi sebuah teori.
Dalam dokumennya, Cliff sama sekali tidak menggunakan kriteria Marxis untuk menganalisis sistem sosial: Apakah formasi baru ini telah mengarah ke perkembangan kekuatan produktif? Teori Marxisme didasarkan pada perkembangan material kekuatan produktif sebagai kekuatan penggerak kemajuan sejarah. Transisi dari satu sistem ke sistem yang lain bukanlah sesuatu yang ditentukan secara subjektif, melainkan berakar dari kebutuhan produksi itu sendiri. Di atas basis inilah, dan hanya di atas basis ini, superstruktur kemudian didirikan: negara, ideologi, seni, sains. Memang benar superstruktur memilih efek sekunder yang penting terhadap produksi dan bahkan dalam batasan tertentu, seperti yang dijelaskan Engels, dapat mengembangkan gerakannya sendiri yang independen. Tetapi pada analisa terakhir, yang menentukan adalah perkembangan produksi.
Marx menjelaskan justifikasi historis bagi kapitalisme, terlepas dari horor yang diciptakan oleh revolusi industri, terlepas dari perbudakan orang kulit hitam di Afrika, terlepas dari pekerja anak-anak di pabrik-pabrik, perang penaklukan yang diluncurkan di seluruh dunia. Kapitalisme merupakan tahapan yang diperlukan dalam perkembangan kekuatan produktif. Marx menunjukkan bahwa tanpa perbudakan, bukan hanya perbudakan di zaman kuno, tetapi juga perbudakan di masa perkembangan awal kapitalisme, maka perkembangan produksi modern akan menjadi mustahil. Tanpa ini, basis material untuk komunisme tidak akan pernah bisa disiapkan. Dalam Kemiskinan Filsafat, Marx menulis:
“Perbudakan langsung sama pentingnya sebagai poros industri borjuis sebagaimana mesin, kredit, dsb. Tanpa perbudakan tidak akan ada kapas; tanpa kapas tidak akan ada industri modern. Perbudakan-lah yang telah memberikan nilai pada koloni-koloni; koloni-koloni inilah yang menciptakan perdagangan dunia, dan perdagangan dunia inilah yang merupakan prasyarat untuk industri skala-besar. Maka dari itu, perbudakan adalah kategori ekonomi yang teramat penting.
“Tanpa perbudakan, Amerika Utara, yaitu negara yang paling progresif, hanya akan menjadi bangsa terbelakang. Hapus Amerika Utara dari peta dunia, dan yang akan kita dapati adalah anarki – kehancuran total perdagangan dan peradaban modern.”
Tentu saja, kita tahu betul bagaimana sikap Marx terhadap horor perbudakan dan revolusi industri. Walaupun dia menulis seperti di atas, ini tidak berarti dia mendukung perbudakan dan pekerja anak. Bila seorang berpikir Marx mendukung perbudakan, ini adalah penyimpangan besar terhadap posisi Marx. Untuk alasan yang sama, seorang juga tidak bisa mengatakan bahwa kaum Marxis hari ini mendukung kamp-kamp kerja paksa dan kejahatan-kejahatan rejim Stalin lainnya hanya karena mereka mendukung kepemilikan negara di USSR.
Dukungan Marx terhadap Bismarck dalam perang Franco-Prusia didikte oleh pertimbangan serupa. Kendati kebijakan “darah dan besi”[1] Bismarck dan rejimnya yang reaksioner, karena perkembangan kekuatan produktif Jerman terfasilitasi oleh unifikasi bangsa Jerman, Marx memberikan dukungan kritis pada perang Prusia dalam melawan Prancis. Kriteria dasarnya adalah perkembangan kekuatan produktif. Dalam jangka panjang, semua hal mengalir dari sini.
Setiap analisis mengenai masyarakat Rusia harus dimulai dari basis ini. Begitu Cliff mengakui bahwa kapitalisme tengah mengalami kemunduran dan pembusukan di seluruh dunia, namun masih memiliki peran progresif di Rusia sehubungan dengan perkembangan kekuatan produktif, maka secara logis dia seharusnya mengatakan bahwa kapitalisme negara adalah tahapan selanjutnya dalam perkembangan masyarakat ke depan, atau setidaknya bagi negara-negara terbelakang. Sebaliknya, dia menunjukkan bahwa borjuasi Rusia tidak mampu memainkan peran yang dipenuhi oleh borjuasi Barat dan sebagai konsekuensinya terjadilah revolusi proletar.
Jika memang di Rusia ada kapitalisme negara (yang lahir lewat revolusi proletar), maka jelas bahwa krisis kapitalisme yang selama beberapa dekade terakhir telah menjadi landasan perspektif kita bukanlah krisis yang tak terpecahkan, melainkan sekadar rasa sakit dari kelahiran tahapan kapitalisme yang baru dan lebih tinggi. Kutipan yang dia ambil dari Marx – bahwa tidak ada masyarakat yang lenyap dari panggung sejarah sebelum seluruh potensinya telah habis digunakan – akan mengindikasikan bahwa, bila argumennya benar, akan ada zaman baru di depan kita, zaman kapitalisme negara. Ini akan menghancurkan seluruh basis teori gerakan Leninis-Trotskis. Cliff mengatakan, tanpa menjelaskan mengapa, bahwa bila kita tetap berpegang pada teori revolusi yang mengalami degenerasi, maka kita harus mencampakkan teori revolusi permanen. Namun dia gagal memahami bahwa dengan menerima teori kapitalisme negara maka dia harus mencampakkan teori revolusi permanen, karena teori revolusi permanen didasarkan pada gagasan bahwa kapitalisme sudah tidak lagi memiliki vitalitas dalam skala global sehingga ia tidak lagi mampu bahkan menuntaskan tugas-tugas revolusi borjuis demokratik di negara-negara terbelakang. Karena di Eropa Timur, rejim-rejim “kapitalisme negara” di sana telah menuntaskan tugas-tugas revolusi borjuis di bidang agraria, dsb. Cliff menghindari masalah revolusi agraria ini, yang di negara-negara terbelakang menurut Trotsky hanya bisa dipenuhi oleh proletariat. Bila partai-partai “kapitalisme negara” Stalinis dapat memenuhi tugas ini, maka kita harus membuang teori revolusi permanen dan kita harus mengakui vitalitas kapitalisme negara yang baru.
Bila tesis Kamerad Cliff benar, bahwa kapitalisme negara eksis di Rusia hari ini, maka dia tidak dapat menghindari kesimpulan bahwa kapitalisme negara telah eksis sejak Revolusi Rusia dan fungsi revolusi itu sendiri adalah memperkenalkan sistem kapitalisme negara ini. Karena, kendati usahanya yang berbelit-belit untuk memisahkan masyarakat Rusia sebelum 1928 dan sesudah 1928, basis ekonomi masyarakat Rusia setelah Revolusi 1917 pada kenyataannya tidak pernah berubah.
Penggunaan Kutipan yang Keliru
Kamerad Cliff berusaha membuktikan Trotsky sedang bergerak ke posisi bahwa birokrasi Stalinis adalah kelas penguasa yang baru. Untuk membuktikan ini, dia mengutip Trotsky dari bukunya Stalin, dan kemudian Living Thoughts of Karl Marx.
Cliff menulis:
“Dalam buku terakhirnya, Stalin, Trotsky jelas sedang mengambil langkah ke arah penilaian baru terhadap birokrasi sebagai kelas penguasa:
“Substansi Thermidor adalah sosial dalam karakternya. Thermidor berarti kristalisasi strata berprivilese yang baru, penciptaan substratum baru bagi kelas yang secara ekonomi dominan. Ada dua pihak yang memainkan peran ini: kaum borjuis kecil dan birokrasi itu sendiri. Mereka bahu membahu berjuang untuk mematahkan perlawanan lapisan pelopor proletariat. Ketika tugas ini sudah selesai, pecahlah perjuangan sengit di antara keduanya. Birokrasi menjadi takut pada keterisolasiannya dan keterpisahannya dari proletariat. Dengan sendirinya mereka tidak dapat mengalahkan kulak [petani kaya] dan borjuasi kecil yang telah tumbuh kuat dan terus tumbuh kuat di atas basis NEP; birokrasi harus mendapatkan bantuan dari proletariat. Oleh karenanya, birokrasi berusaha sekuat tenaga menampilkan persengketaannya dengan borjuis kecil demi produk surplus dan kekuasaan sebagai perjuangan proletariat melawan upaya restorasi kapitalis.” (The Nature of Stalinist Russia, Tony Cliff, Juni 1948, hal. 10)
Dan kamerad Cliff berkomentar:
“Birokrasi, tulis Trotsky, sementara berpura-pura berjuang melawan restorasi kapitalis, pada kenyataannya menggunakan proletariat untuk meremukkan kulak demi ‘kristalisasi strata berprivilese baru, penciptaan substratum baru bagi kelas yang secara ekonomi dominan’. Salah satu pihak yang mengambil peran sebagai kelas yang dominan secara ekonomi, katanya, adalah birokrasi. Ada penekanan besar pada formulasi ini bila kita menghubungkan analisis mengenai perjuangan antara birokrasi dan kulak dengan definisi Trotsky mengenai perjuangan kelas. Dia mengatakan: ‘Perjuangan kelas tidak lain adalah perjuangan untuk produk surplus. Dia yang memilik produk-surplus adalah penguasa, yang menguasai kekayaan, menguasai negara, menguasai akses ke Gereja, pengadilan, sains dan seni.’.” (Cliff, hal. 10)
Dan Cliff menyimpulkan:
“Perjuangan antara birokrasi dan kulak adalah, menurut kesimpulan terakhir Trotsky, ‘perjuangan ... untuk produk surplus’.”
Untuk mengilustrasikan bagaimana Kamerad Cliff membangun argumennya, mari kita periksa kutipan-kutipan ini dalam konteksnya, dan kita akan melihat bahwa kesimpulan yang mengalir darinya justru berkebalikan dengan apa yang dia ajukan:
“Kaum kulak bersatu dengan kaum industrialis kecil untuk memulihkan kapitalisme sepenuhnya. Dengan demikian, pecahlah perjuangan tak-terdamaikan untuk memperebutkan produk surplus kerja nasional. Siapa yang akan menguasainya dalam waktu dekat – borjuasi yang baru atau birokrasi Soviet? Inilah yang jadi isu selanjutnya. Mereka yang menguasai produk surplus akan memiliki kekuasaan negara di tangannya. Inilah yang membuka perjuangan antara borjuasi-kecil, yang telah membantu birokrasi untuk meremukkan perlawanan rakyat pekerja dan perwakilan politik mereka Oposisi Kiri, dan birokrasi Thermidor itu sendiri, yang telah membantu borjuasi kecil untuk menjadi penguasa atas massa tani. Ini adalah perjuangan langsung demi kekuasaan dan pendapatan.”[2]
“Jelas birokrasi ini tidak menghancurkan lapisan pelopor proletariat, menarik dirinya dari problem revolusi internasional yang rumit, dan melegitimasi filsafat ketidaksetaraan hanya untuk lalu menyerah pada borjuasi dan menjadi pelayannya, dan akhirnya kehilangan akses ke privilese yang didapatnya dari negara.”[3] (Trotsky, Leon. Stalin. Harper, London, 1941, hal. 397, penekanan kami)
Cliff membuat Trotsky tampak bodoh di mana Trotsky seolah-olah mengkontradiksi dirinya sendiri dengan mempertentangkan dua kutipan. Dan dari situ dia menarik kesimpulan Trotsky sedang mengubah posisinya mengenai karakter kelas birokrasi. Beberapa halaman kemudian, Trotsky menjelaskan gagasannya. Dia menunjukkan kecenderungan organik pembusukan kapitalisme di mana-mana. Hanya di atas basis inilah kekuatan produktif yang dinasionalisasi dapat dipertahankan di Rusia. Selama 50 tahun terakhir, seluruh kecenderungan ekonomi dalam skala dunia telah mengarah ke meningkatnya kontrol dan peran negara atas kekuatan produktif. Kapitalis sendiri sebagian telah terpaksa ‘mengakui kekuatan produktif sebagai kekuatan sosial’ (Engels). Sesungguhnya, inilah kunci penjelasan mengapa Rusia mampu selamat dari perang. Kebingungan yang melanda gerakan, yang diekspresikan oleh dokumen Cliff, sebagian besar karena kegagalan mereka untuk memahami implikasi kecenderungan ini. Dalam bukunya mengenai Stalin, Trotsky mengajukan kemungkinan teoretis bahwa birokrasi akan dapat terus berkuasa selama puluhan tahun ke depan.
Beberapa halaman setelah kutipan yang diambil oleh Cliff, Trotsky mengatakan:
“Kontra-revolusi terjadi ketika pencapaian-pencapaian sosial yang progresif mulai terurai. Tampaknya penguraian ini tidak ada akhirnya. Namun, sebagian pencapaian revolusi Oktober senantiasa terjaga. Oleh karenanya, kendati distorsi birokratik yang mengerikan ini, basis kelas USSR masihlah proletar. Tetapi marilah kita ingat, proses penguraian ini belumlah selesai, dan masa depan Eropa dan dunia selama beberapa dekade ke depan belumlah ditentukan. Thermidor Rusia sudah pasti akan membuka era baru kekuasaan borjuis, bila saja kekuasaan tersebut tidaklah terbukti usang di seluruh dunia. Meskipun demikian, perjuangan yang diluncurkan birokrasi dalam melawan kesetaraan dan menguatnya diferensiasi sosial yang sangat dalam sejauh ini belum mampu menghilangkan kesadaran sosialis massa atau membatalkan nasionalisasi atas sarana-sarana produksi dan tanah, yang merupakan pencapaian dasar revolusi sosialis...”[4] (Stalin, hal. 405)
Kami percaya ini cukup membuktikan bahwa Cliff telah menggunakan kutipan Trotsky di luar konteks dan menafsirkan sesuatu yang jelas tidak ada. Dalam karyanya yang terakhir ini, seperti halnya semua karya lainnya mengenai problem Rusia, Trotsky selalu konsisten dalam analisanya mengenai karakter Uni Soviet. Mustahil menarik kesimpulan dari semua karyanya bahwa dia sedang mengubah posisi fundamentalnya.
Mungkinkah terjadi perseteruan antara dua lapisan dari kelas yang sama? Revolusi Prancis – Revolusi Rusia
Untuk memahami Revolusi Rusia, kita dapat menggunakan analogi Revolusi Prancis, yang sangatlah serupa dan memiliki alur yang sama walaupun tentunya di atas basis ekonomi yang berbeda. Seperti yang diketahui, revolusi 1789 di Prancis menempatkan borjuasi ke tampuk kekuasaan. Marx menjelaskan peran progresif kaum Jacobin revolusioner: kediktatoran revolusioner sans culottes melangkah lebih jauh daripada rejim borjuis. Berkat itu, mereka mampu menyapu bersih semua sampah-sampah feodal, dan menyelesaikan dalam hitungan bulan sesuatu yang membutuhkan waktu puluhan tahun bagi kaum borjuis. Ini disusul oleh reaksi Thermidor dan kontra-revolusi Bonapartis.
Setiap orang yang membandingkan kontra-revolusi Bonapartis dengan revolusi Prancis – setidaknya dalam superstrukturnya – akan menemukan perbedaan yang sangat besar, seperti perbedaan antara rejim Lenin-Trotsky dengan rejim Stalin di kemudian hari. Bagi pengamat yang dangkal, perbedaan antara kedua rejim ini sangatlah fundamental. Dan memang, sejauh menyangkut superstruktur, perbedaannya sangat mencolok. Napoleon telah memperkenalkan banyak hierarki, dekorasi, dan pangkat yang mirip dengan rejim feodal sebelumnya; dia telah memulihkan otoritas Gereja; dia bahkan mengangkat dirinya sendiri sebagai Kaisar. Namun, kendati kontra-revolusi ini, jelas rejim ini tidak memiliki kesamaan sama sekali dengan rejim feodal sebelumnya. Rejim Bonaparte adalah kontra-revolusi di atas landasan bentuk kepemilikan baru yang diperkenalkan oleh revolusi Prancis. Bentuk kepemilikan atau relasi properti borjuis tetap menjadi landasan ekonomi Prancis di bawah Napoleon.
Ketika kita mempelajari sejarah Prancis lebih lanjut, kita saksikan beragam bentuk pemerintahan dan superstruktur yang berkembang selama perjuangan kelas. Restorasi monarki setelah jatuhnya Napoleon, revolusi 1830an dan 1848 – apa perjuangan kelas di sini? Ada pembagian pendapatan yang berbeda, tetapi setelah semua revolusi ini ekonominya tetapkah ekonomi borjuis.
Sejarah Prancis kemudian menyaksikan bangkitnya kediktatoran Louis Bonaparte, pemulihan demokrasi borjuis dan Republik dan, baru-baru ini, rejim Petain. Di bawah semua rejim ini ada perbedaan dalam pembagian pendapatan nasional di antara kelas-kelas dan di antara berbagai strata kelas penguasa itu sendiri. Kendati demikian, kita menyebut semua rejim ini borjuis. Mengapa? Ini karena bentuk kepemilikan yang berlaku.
Mengingat keterbelakangan Uni Soviet, yang dijelaskan dengan sangat baik oleh Cliff, dan keterisolasian revolusi, mengapa proses serupa tidak dapat terjadi? Faktanya, inilah yang memang terjadi. Mari kita kembali ke buku Trotsky, Stalin. Trotsky menerangkan ini dengan sangat jelas. Setelah kutipan di mana Trotsky menunjukkan bahwa substansi Thermidor tidak bisa bersifat sosial dan substansinya adalah perjuangan untuk produk surplus, dia lalu menjelaskan apa yang dia maksud. Mari kita lanjutkan di mana Cliff berhenti:
“Di sini analogi dengan Thermidor Prancis berakhir. Basis sosial baru Uni Soviet menjadi poin terpenting. Untuk mempertahankan nasionalisasi alat-alat produksi dan tanah adalah masalah hidup dan mati bagi birokrasi, karena nasionalisasi inilah yang menjadi sumber sosial posisi dominannya. Inilah mengapa birokrasi berjuang melawan kulak. Birokrasi dapat mengobarkan perjuangan ini, dan mengobarkannya sampai akhir, hanya dengan dukungan dari proletariat. Bukti terbaik bahwa birokrasi telah menggalang dukungan ini adalah gelombang kapitulasi oleh para perwakilan Oposisi Kiri.”
“Perjuangan melawan kulak, perjuangan melawan sayap kanan, perjuangan melawan oportunisme – inilah slogan-slogan yang diusung oleh rejim Stalin selama periode itu; di mata buruh dan banyak perwakilan Oposisi Kiri slogan-slogan tersebut tampak seperti renaisans kediktatoran proletariat dan revolusi sosialis. Kami memperingatkan mereka pada saat itu: ini bukan hanya masalah apa yang sedang dilakukan, tetapi juga siapa yang melakukannya.”
“Di bawah demokrasi Soviet, yakni di bawah kekuasaan rakyat pekerja, perjuangan melawan kulak tidak akan mengambil bentuk yang begitu bergejolak, begitu penuh kepanikan, dan begitu brutal; sebaliknya di bawah demokrasi Soviet perjuangan tersebut dapat meningkatkan level ekonomi dan kebudayaan massa di atas basis industrialisasi. Tetapi perjuangan yang diluncurkan oleh birokrasi untuk melawan kulak adalah pertempuran yang dilakukan di atas punggung rakyat pekerja; dan karena kedua lawan yang bertikai ini tidak mempercayai massa, karena keduanya takut pada massa, perjuangan ini mengambil bentuk yang sangatlah meledak-ledak dan berdarah-darah. Berkat dukungan proletariat, perjuangan ini berakhir dengan kemenangan birokrasi. Tetapi ini tidak meningkatkan bobot spesifik proletariat dalam kehidupan politik bangsa.”[5] (Stalin hal. 408, penekanan kami)
Ketika Trotsky berbicara mengenai “penciptaan substratum baru kelas yang secara ekonomi dominan”, yang dia maksud dengan “kelas yang secara ekonomi dominan” adalah proletariat, yang mendominasi lewat bentuk kepemilikan. Cliff mengatakan: “Salah satu pihak yang mengambil peran sebagai kelas yang dominan secara ekonomi, katanya, adalah birokrasi. Ada penekanan besar pada formulasi ini ...” Di sini kita saksikan bahaya metode analisis yang berdasarkan prasangka yang sudah terbentuk sebelumnya dan upaya untuk memilah-milah kutipan untuk dicocokkan dengan prasangka tersebut.
Dalam bab yang sama, Trotsky menunjukkan kesamaan dan perbedaan dengan Revolusi Prancis dan mengapa reaksi di Rusia mengambil bentuk yang berbeda di Prancis:
“Privilese birokrasi memiliki asal-usul sosial yang berbeda. Birokrasi mengamankan untuk dirinya sendiri porsi pendapatan nasional dengan menggunakan kekerasan atau menggunakan otoritasnya atau lewat kontrol langsungnya atas relasi-relasi ekonomi. Dalam perjuangan untuk produk surplus nasional, birokrasi dan borjuasi-kecil dengan cepat berubah dari sekutu menjadi musuh. Kontrol atas produk surplus membuka jalan bagi birokrasi untuk merebut kekuasaan.”[6] (Stalin, hal. 40)
Tesis Trotsky cukup jelas. Perjuangan untuk produk surplus dapat dikobarkan tidak hanya di antara kelas-kelas, tetapi juga di antara strata-strata atau kelompok-kelompok yang berbeda di dalam kelas yang sama.
Apakah hukum nilai beroperasi dalam Ekonomi Rusia?
Di dalam dokumennya, seluruh argumen Cliff mengenai hukum nilai sangatlah lemah dan tidak tepat secara Marxis. Dengan cara berbelit-belit, dia berargumen bahwa hukum nilai tidak berlaku dalam ekonomi Rusia, dan hanya berlaku dalam relasinya dengan ekonomi dunia. Dia menemukan basis hukum nilai bukan di dalam masyarakat Rusia tetapi di dalam ekonomi kapitalis dunia.
“Mari kita sekarang ulas signifikansi relasi internal di Rusia bila diabstraksi dari pengaruh ekonomi dunia.
“Abstraksi ini telah menjawab satu masalah fundamental: bahwa sumber aktivitas hukum nilai tidaklah ditemukan dalam relasi internal ekonomi Rusia itu sendiri. Dengan kata lain, ini telah membantu kita memecahkan masalah apakah ekonomi Rusia tunduk pada hukum nilai, dengan menunjukkan bahwa hukum nilai itu tidak akan kita temukan dari ekonomi Rusia.”
Menurut pandangan Marxis, hukum nilai memanifestasikan dirinya lewat pertukaran. Dan ini berlaku untuk semua bentuk masyarakat. Misalnya, bagaimana masyarakat komunis primitif runtuh, yakni lewat pertukaran dan barter antar komunitas-komunitas primitif. Ini menyebabkan perkembangan kepemilikan pribadi. Dalam masyarakat perbudakan, dengan cara yang sama, produk-produk yang dihasilkan oleh para budak menjadi komoditas ketika mereka dipertukarkan. Melalui perkembangan ini lahirlah “komoditas dari komoditas”, yaitu uang. Dengan cara demikianlah produk memperbudak produsen, dan pada akhirnya kontradiksi yang disebabkan oleh ekonomi uang menyebabkan kehancuran masyarakat perbudakan lama. Di bawah feodalisme, pertukaran surplus yang dihasilkan oleh para tuan bangsawan yang swasembada dalam ‘ekonomi alami’ mereka menjadi komoditas; dan inilah yang lalu menjadi titik awal perkembangan kapitalis lewat kemunculan kapital pedagang.
Oleh karenanya, bila hukum nilai memanifestasikan dirinya hanya lewat pertukaran antara Rusia dan dunia luar, ini berarti surplus Rusia dipertukarkan berdasarkan hukum nilai. Apa konsekuensinya terhadap ekonomi internal Rusia adalah pertanyaan lain yang harus dikaji.
Akan tetapi, karena tingkat partisipasi Uni Soviet dalam pasar dunia sangatlah rendah, dibandingkan dengan total produksi Rusia, Cliff mau tidak mau menyadari kelemahan argumennya. Maka dari itu, dengan cara yang luar biasa, Cliff menemukan bahwa hukum nilai mewujudkan dirinya bukan dalam pertukaran, melainkan dalam kompetisi. Argumen ini tidaklah begitu buruk bila yang dibicarakan di sini adalah kompetisi di pasar dunia seturut prinsip kapitalis klasik untuk memperebutkan pangsa pasar. Tetapi dia tidak bisa berpendapat demikian karena ini bertentangan dengan fakta. Jadi dia mengajukan sebuah konsepsi baru. Dia menemukan ‘kompetisi’-nya dan ‘hukum nilai’-nya dalam produksi persenjataan!
Tekanan kapitalisme dunia memaksa Rusia untuk mencurahkan proporsi pendapatan nasional yang sangat besar untuk produksi persenjataan dan industri pertahanan di satu sisi, dan proporsi kapital konstruksi yang terbesar dalam sejarah untuk kebutuhan pertahanan di sisi lain. Di sinilah Cliff menemukan hukum nilainya. Hukum nilai memanifestasikan dirinya dalam kompetisi persenjataan antara dua sistem sosial! Ini hanya bisa dijelaskan sebagai konsesi kepada teori kolektivisme birokratik Shachtman.[7] Bila teori ini benar, maka kita tengah menyaksikan sebuah sistem ekonomi yang sepenuhnya baru, yang belum pernah terlihat dalam sejarah atau diramalkan oleh kaum Marxis.
Cliff dengan serampangan mengutip ke sana ke mari dan mencampuradukkan berbagai gagasan untuk membangun ‘tesisnya’. Pada kenyataannya, dokumen ini bukanlah dokumen mengenai kapitalisme negara, melainkan campuran kolektivisme birokratik dan kapitalisme negara. Seluruh argumen Cliff mengenai hukum nilai hanya membawanya langsung ke gagasan kolektivisme birokratiknya Shachtman.
Gagasan ini sebagian dipinjam dari Hilferding, yang terus berargumen bahwa di Rusia dan di Nazi Jerman hukum nilai tidak berlaku dan negara-negara tersebut merupakan formasi sosial yang sepenuhnya baru. Ini juga didasarkan pada penafsiran yang keliru atas beberapa kalimat di dalam karya Bukharin Imperialism and the World Economy, di mana dia dan Lenin secara brilian meramalkan sebuah bentuk kediktatoran yang di kemudian hari terealisasi dalam fasisme Italia dan Nazi, yang berdasarkan ‘kapitalisme negara’ sebagai persatuan organik antara trust dengan kapital finans. Bukan kepemilikan negara atas alat-alat produksi, melainkan fusi kapital finans dengan negara. Pada kenyataannya, Bukharin memilih Amerika Serikat sebagai salah satu contoh klasiknya.
Argumennya mengenai ekonomi persenjataan memiliki landasan mistis, dan tidak memiliki landasan ekonomi. Kalaupun kita menerima argumennya, paling jauh argumen itu hanya dapat menjelaskan mengapa Rusia memproduksi persenjataan, tetapi tidak mengapa atau di atas basis ekonomi apa persenjataan tersebut diproduksi. Bahkan bila Rusia masihlah negara buruh yang sehat, di tengah kepungan imperialis, Rusia tetap harus memproduksi persenjataan dan bersaing dalam teknologi persenjataan serta produksi dengan sistem-sistem kapitalis yang menjadi lawannya. Namun, argumen mengenai ekonomi persenjataan ini sepenuhnya keliru. Sebagian besar produksi di Rusia bukanlah persenjataan, melainkan alat-alat produksi. Sekali lagi, ini dapat menjelaskan mengapa birokrasi berusaha mengakumulasi alat-alat produksi dengan kecepatan yang begitu tinggi, tetapi ini tidak menjelaskan apapun mengenai sistem ekonomi produksi itu sendiri. Mungkin benar dalam negara buruh yang sehat akumulasi persenjataan akan lebih kecil karena alasan-alasan sosial – yakni adanya kebijakan internasionalis dan revolusioner terhadap kaum buruh di negeri-negeri lain. Namun demikian, akumulasi tersebut tetap akan berlangsung di bawah tekanan imperialisme dunia.
Cepat atau lambatnya tempo perkembangan alat-alat produksi juga tidak otomatis memberitahu kita metode produksi apa yang digunakan. Cliff mengatakan birokrasi tengah mengembangkan alat-alat produksi di bawah tekanan imperialisme dunia. Baiklah. Tetapi semua ini hanya menerangkan mengapa tempo perkembangannya pesat. Bahkan dari sudut pandang ekonomi politik borjuis klasik, argumen Cliff tidak lebih dari sebuah pengelakan. Ia hanya mengemukakan sesuatu yang justru masih harus dibuktikan.
Bukan tanpa alasan Trotsky menunjukkan dalam karyanya Revolusi yang Dikhianati bahwa seluruh konten progresif aktivitas birokrasi Stalinis serta fokus utamanya adalah perkembangan produktivitas kerja dan pertahanan bangsa.
Kita telah melihat, apabila hukum nilai hanya berlaku karena keberadaan kapitalisme dalam perekonomian dunia, maka ini hanya akan berlaku untuk produk-produk yang diperjual belikan di pasar dunia. Tetapi sehubungan dengan perekonomian Rusia, Cliff mengemukakan dua tesis yang kontradiktif. Di satu sisi dia mengatakan:
“Ini tidak berarti sistem harga di Rusia itu ditentukan seenaknya, tergantung pada kehendak birokrasi. Di sini harga juga ditentukan oleh ongkos produksi. Bila birokrasi harus menggunakan harga sebagai sinyal untuk mengarahkan produksi, maka harga harus sesuai dengan tujuannya, dan harga harus sedekat mungkin mencerminkan ongkos sesungguhnya, yakni, kerja yang secara sosial diperlukan untuk memproduksi berbagai produk.” (Cliff, hal 94, penekanan kami)
Dua halaman kemudian, Cliff menjabarkan poin utama yang ingin dia buktikan:
“... Bahwa dalam relasi ekonomi di dalam Rusia itu sendiri kita tidak akan menemukan otonomi aktivitas ekonomi, yaitu sumber dari hukum nilai.” (Cliff, hal. 96, penekenan dari teks asli)
Dalam kutipan pertama, Cliff menunjukkan persis bagaimana hukum nilai memanifestasikan dirinya secara internal di dalam masyarakat Rusia. Bahkan bila kita mengabstraksi dari perekonomian dunia, dan mengesampingkan dampak interaksinya yang jelas-jelas ada, ketika Clif mengatakan bahwa “ongkos sesungguhnya, yakni, kerja yang secara sosial diperlukan untuk memproduksi berbagai produk” harus mencerminkan harga sesungguhnya, dia mengatakan bahwa hukum yang sama juga berlaku dalam masyarakat Rusia seperti halnya dalam masyarakat kapitalis. Perbedaannya ini: sementara di masyarakat kapitalis hukum nilai memanifestasikan dirinya secara buta melalui mekanisme pasar, di Rusia aktivitas sadar memainkan peran penting. Sehubungan dengan ini, kutipan kedua sepenuhnya membantah argumen Cliff bahwa yang ada di Rusia adalah kapitalisme, karena hukum nilai tidak beroperasi secara buta tetapi dimanfaatkan secara sadar. Dalam masyarakat kapitalis, hukum nilai, seperti yang dia katakan, memanifestasikan dirinya lewat ‘otonomi aktivitas ekonomi’, dengan kata lain pasarlah yang mendominasi. Kutipan pertama menunjukkan dengan jelas bahwa pasar – dan di sinilah duduk perkaranya – dalam batasan tertentu dikendalikan secara sadar dan oleh karenanya ini bukanlah kapitalisme sebagaimana yang dipahami oleh kaum Marxis.
Sebelumnya Cliff mengatakan hukum nilai tidak beroperasi di Rusia. Di sini ia justru menunjukkan bagaimana hukum ini beroperasi: bukan seturut kapitalisme klasik, melainkan seturut masyarakat peralihan antara kapitalisme dan sosialisme.
Cliff mengklaim Rusia adalah masyarakat kapitalis, tetapi dia menemukan sumber hukum dasar produksi kapitalis di luar Rusia. Sekarang, di setiap masyarakat kapitalis di mana dana cadangan ada di tangan kelas kapitalis, seperti yang dijelaskan Engels:
“... Bila produksi dan dana cadangan ini memang ada di tangan kelas kapitalis, bila ini memang telah diperoleh melalui akumulasi profit ... maka ia pada dasarnya terdiri dari surplus produk kerja yang terakumulasi, yang diserahkan kepada kelas kapitalis oleh kelas buruh, di atas jumlah upah yang dibayarkan ke kelas buruh oleh kelas kapitalis. Namun, dalam hal ini, bukan upah yang menentukan nilai, melainkan jumlah kerja; dalam hal ini kelas buruh menyerahkan kepada kelas kapitalis dalam bentuk produk kerja jumlah nilai yang lebih besar daripada yang diterimanya kembali dalam bentuk upah; dan dengan demikian, laba dari modal, seperti halnya semua bentuk apropriasi tanpa pembayaran atas produk kerja orang lain, dijelaskan sebagai komponen sederhana dari nilai-lebih yang ditemukan oleh Marx.” (Engels, Frederick. Anti-Dühring. Progress Publishers, Moscow, 1969, hal. 233)
Ini mengindikasikan bahwa di mana ada kerja upahan, di mana ada akumulasi kapital, hukum nilai mesti berlaku, tidak peduli serumit apapun bentuk yang diambilnya. Kemudian, dalam menanggapi teori Dühring mengenai lima jenis nilai dan ‘ongkos produksi alami’, Engels menjelaskan bahwa dalam Das Kapital Marx membahas nilai komoditas dan “di bagian buku Das Kapital yang membahas nilai tidak ada sedikit pun indikasi apakah atau sejauh mana Marx menganggap teori nilai komoditas berlaku untuk bentuk masyarakat lainnya”. Dalam hal ini jelas bahwa dalam masyarakat peralihan juga: “Nilai itu sendiri tidaklah lebih dari ekspresi kerja yang secara sosial diperlukan yang termaterialisasi dalam sebuah objek.” Di sini kita hanya perlu bertanya: apa yang menentukan nilai mesin, barang konsumsi, dan semua barang lainnya yang diproduksi di Rusia? Apakah nilainya ditentukan seenaknya? Apa yang menentukan perhitungan birokrasi? Apa yang mereka ukur dengan harga? Apa yang menentukan upah? Apakah upah merupakan pembayaran untuk daya-kerja (labour power)? Apa yang menentukan ‘uang’? Apa yang menentukan laba perusahaan? Apakah ada kapital? Apakah pembagian kerja telah dihapus?
Cliff memberikan dua jawaban kontradiktif untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Di satu sisi dia setuju bahwa semua kalkulasi dan pergerakan masyarakat Rusia ditentukan oleh hukum nilai. Di sisi lain, dia menemukan hukum nilai hanya beroperasi sebagai akibat dari tekanan dari dunia luar, walaupun dia tidak menjelaskan dengan serius bagaimana tekanan ini bekerja.
Peran Uang di Rusia
Yang mengejutkan, Cliff sendiri yang menunjukkan bahwa birokrasi tidak dan tidak dapat menentukan harga dengan seenaknya; bahwa birokrasi tidak dan tidak dapat menentukan jumlah sirkulasi uang dengan seenaknya juga. Dan demikianlah di setiap masyarakat di mana uang (mari kita ingat, uang adalah komoditas dari komoditas) telah memainkan peran. Engels, dalam membahas persoalan ini, dengan tegas menjawab Dühring:
“Bila pedang [tidak peduli siapa yang memegangnya, entah birokrat, kapitalis, atau pemerintah – EG] memiliki kekuatan ekonomi yang ajaib seperti yang diklaim oleh Herr Dühring, mengapa lantas tidak ada pemerintah yang berhasil secara permanen memaksa uang yang buruk untuk memiliki ‘nilai distribusi’ uang yang baik, atau assignat [semacam surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintahan revolusioner Prancis pada 1789-1796 untuk menghindari pailit negara] untuk memiliki ‘nilai distribusi’ emas?” (Anti-Dühring, hal. 228)
Dalam buku Revolusi yang Dikhianati, Trotsky menjelaskan problem ini dengan sangat jelas. Dia menunjukkan bahwa kategori-kategori ekonomi yang unik dalam kapitalisme masihlah berlaku dalam masyarakat peralihan antara kapitalisme dan komunisme (yaitu masyarakat kediktatoran proletariat). Di sini kuncinya: hukum-hukum tersebut masih ada, tetapi dalam bentuk yang dimodifikasi. Sebagian hukum kapitalisme masih berlaku, sementara sebagian lainnya telah dihapuskan. Trotsky menjelaskan:
“Peran uang dalam perekonomian Soviet bukan hanya belum selesai, seperti yang kita katakan, tetapi masih panjang dan masih harus terus berkembang. Dipandang secara keseluruhan, masa peralihan antara kapitalisme dan sosialisme bukanlah berarti menyusutnya perdagangan, tetapi, sebaliknya, justru perluasannya yang luar biasa. Semua cabang industri mengalami transformasi dan berkembang. Cabang-cabang industri yang baru terus bermunculan, dan semua terdorong untuk mendefinisikan relasi mereka dengan satu sama lain baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Penghapusan ekonomi petani yang konsumtif, dan pada saat yang sama penghapusan kehidupan keluarga yang tertutup, berarti memindahkan seluruh tenaga kerja yang sebelumnya dicurahkan hanya dalam batas pagar lahan petani, atau dalam batas tembok rumahnya, ke dalam ranah pertukaran sosial, dan ipso facto ke dalam sirkulasi uang. Untuk pertama kalinya dalam sejarah semua produk dan jasa mulai dipertukarkan satu sama lain.”
Apa kunci untuk memecahkan teka teki ini? Kuncinya hanya bisa ditemukan dalam kenyataan bahwa yang ada di Rusia adalah masyarakat peralihan. Sekarang negara memang dapat mengatur perekonomian, tetapi bukan dengan seenaknya, melainkan dalam batas-batas hukum nilai. Setiap upaya untuk melanggar dan melampaui batas-batas yang secara ketat ditetapkan oleh perkembangan kekuatan produktif akan segera direspons dengan penegasan kembali dominasi produksi atas para produsen. Inilah yang harus diakui oleh Stalin sehubungan dengan harga dan uang ketika perekonomian Rusia diguncang oleh krisis inflasi, yang sepenuhnya mendistorsi dan mengganggu rencana ekonominya. Hukum nilai tidak dihapuskan, melainkan dimodifikasi. Inilah yang dimaksud Trotsky ketika dia menulis:
“Nasionalisasi alat-alat produksi dan bank, kontrol atas perdagangan internal oleh koperasi dan negara, monopoli perdagangan luar negeri, kolektivisasi pertanian, serta hukum waris – semua ini menetapkan batas-batas yang ketat atas akumulasi uang secara pribadi dan mencegahnya berubah menjadi modal swasta (baik dalam bentuk modal rente, modal dagang maupun modal industri). Akan tetapi, fungsi uang ini, walaupun terikat dengan eksploitasi, tidaklah menghilang pada awal revolusi proletar. Sebaliknya, dalam bentuk yang dimodifikasi, fungsi-fungsi tersebut dialihkan ke negara, yang bertindak sebagai pedagang, kreditor, dan industrialis universal. Pada saat yang sama, fungsi-fungsi uang yang lebih mendasar – sebagai alat ukur nilai, sarana pertukaran, dan alat pembayaran – tidak hanya dipertahankan, tetapi juga bahkan memperoleh ruang gerak yang lebih luas dibandingkan di bawah kapitalisme.” (Trotsky, Revolusi yang Dikhianati)
Kita hanya perlu mengkaji problem ini dengan cara demikian, sehingga analisa ekonomi kita mesti mengarah ke kesimpulan bahwa yang kita saksikan di sini adalah masyarakat peralihan di mana sebagian hukum yang unik sosialis berlaku dan sebagian hukum yang unik kapitalis juga berlaku. Demikianlah makna peralihan.
Walaupun Cliff tidak mengakui ini, pada kenyataannya dia mengakui ini. Sebab, ketika ia menyatakan bahwa birokrasi dapat secara sadar meregulasi (meskipun dalam batas-batas tertentu) laju investasi, proporsi antara alat produksi dan alat konsumsi, harga barang-barang konsumsi, dsb., dia sebenarnya membuktikan ada hukum-hukum kapitalis tertentu yang tidak berlaku.
Apakah ada transformasi uang menjadi kapital di Rusia? Dalam polemiknya melawan Stalin, Trotsky menjawab ini dengan menunjukkan bahwa investasi dibuat berdasarkan rencana, tetapi, meskipun demikian, apa yang diinvestasikan adalah nilai-lebih yang diproduksi oleh buruh. Di sini Trotsky menunjukkan kekeliruan mendasar dalam pandangan Stalin, yang menganggap negara dapat menentukan dan meregulasi ekonomi tanpa titik referensi. Perlu juga ditambahkan, Stalin sendiri tidak pernah menyangkal adanya produksi komoditas di Rusia.
Walaupun hanya ada satu ‘pemberi kerja’ di Rusia, negara tetap membeli daya-kerja. Memang benar bahwa karena tidak ada pengangguran (kondisi full employment), yang biasanya menempatkan penjual komoditas daya-kerja dalam posisi tawar yang kuat, maka negara telah memberlakukan berbagai undang-undang yang membatasi kebebasan menjual daya-kerja – sebagaimana juga terjadi pada masa full employment di bawah fasisme. Bahkan selama pemerintahan Partai Buruh Inggris, di mana ada situasi yang serupa, para pengusaha mendorong pemerintah untuk menyeimbangkan posisi tawar buruh Inggris yang menguat. Tetapi, hanya orang yang berargumen secara abstrak yang lalu bisa menyimpulkan bahwa ini menafikan adanya daya-kerja.
Benar bahwa dalam ekonomi kapitalis klasik daya-kerja dijual secara bebas. Namun, dalam Das Kapital, ada bagian di mana Marx membahas mengenai hukum-hukum keras yang mengekang kebebasan proletariat baru Inggris untuk menjual daya-kerjanya. Saat itu, Wabah Hitam di Inggris telah mengurangi jumlah populasi sedemikian rupa sehingga kaum proletar ada dalam posisi tawar yang lebih menguntungkan untuk menuntut upah yang lebih tinggi.[8] Apakah ini berarti hukum-hukum dasar Marxis tidak berlaku? Sebaliknya, Marx mengkaji kapitalisme ‘murni’ yang tidak pernah ada, yang darinya dia menarik hukum-hukum fundamental. Distorsi elemen ini atau itu tidak akan mengubah hukum-hukum dasar tersebut. Inilah mengapa di Jerman Nazi, kendati begitu banyaknya penyimpangan, sistem perekonomiannya pada dasarnya adalah kapitalis, karena perekonomiannya didominasi oleh produksi di atas basis kepemilikan pribadi.
Kita hanya perlu membandingkan pekerja-budak di Siberia dengan proletariat di kota-kota Rusia untuk melihat perbedaannya. Yang satu adalah budak berdasarkan kerja perbudakan, sementara yang satu lagi adalah budak-upahan. Yang satu hanyalah instrumen kerja itu sendiri, sementara yang satu lagi menjual daya-kerjanya. Inilah perbedaan fundamentalnya.
Bukanlah kebetulan bahwa ‘uang’ yang digunakan oleh negara mesti memiliki landasan yang sama seperti uang dalam masyarakat kapitalis. Bukan kebetulan, seperti yang dijelaskan Trotsky, satu-satunya uang yang riil di Rusia (atau di ekonomi transisional mana pun – bahkan dalam negara buruh yang ideal) haruslah didasarkan pada emas. Devaluasi rubel di Rusia baru-baru ini dengan sendirinya merupakan konfirmasi atas kenyataan bahwa hukum sirkulasi uang, dan oleh karenanya hukum sirkulasi komoditas, mempertahankan validitasnya di Rusia. Dalam ekonomi transisional, kategori-kategori ekonomi seperti uang, nilai, nilai-lebih, dsb., mau tidak mau tetap bertahan sebagai unsur-unsur masyarakat lama di dalam masyarakat yang baru.
Cliff berargumen bahwa “sumber pendapatan negara yang paling penting adalah pajak turnover [contohnya pajak pertambahan nilai], yang merupakan pajak tidak langsung”. Dia menyertakan data-data yang menarik, yang menunjukkan bagaimana pajak turnover ini menjadi beban besar bagi massa.
Namun, pajak turnover yang dia rujuk sebagai pajak yang menghisap massa secara tidak langsung justru membuktikan hukum nilai yang berlaku di dalam masyarakat Rusia. Cliff menunjukkan bagaimana pajak turnover diberlakukan di Rusia. Tetapi dia tidak memahami bagaimana pajak ini harus didasarkan pada sesuatu. Betapa pun besar pajak yang dikenakan pemerintah, yang lalu menaikkan harga suatu barang, harga tersebut tetap harus didasarkan pada sesuatu. Dan sesuatu itu adalah nilai produk itu sendiri, yakni waktu-kerja yang secara sosial diperlukan yang terkandung di dalamnya.
Engels mengolok-olok gagasan Dühring mengenai pajak yang dipaksakan dengan pedang, yang menurutnya merupakan sumber surplus:
“Atau, sebaliknya, apa yang disebut pajak tambahan-harga memang mewakili jumlah nilai yang nyata, yang dihasilkan oleh pekerja sebagai kelas yang menciptakan nilai. Namun nilai ini diapropriasi oleh kelas monopolis. Jika demikian, maka jumlah nilai tersebut tidak lain adalah kerja yang tidak dibayar; dan dalam hal ini, terlepas dari manusia yang memegang pedang di tangannya, dan terlepas pula dari apa yang disebut pajak tambahan-harga tersebut, pada akhirnya kita kembali lagi ke teori nilai-lebih Marx.” (Anti-Dühring, hal. 226)
Pajak turnover di Rusia dan berbagai manipulasi harga lainnya oleh birokrasi sama sekali tidak membatalkan hukum nilai. Apa itu esensi hukum nilai? Bahwa nilai barang ditentukan oleh jumlah rata-rata waktu-kerja yang secara sosial diperlukan. Ini harus jadi titik tolak kita. Nilai ini niscaya terwujud melalui proses pertukaran. Marx mendedikasikan sebagian besar jilid pertama Das Kapital untuk memaparkan sejarah perkembangan komoditas, dari pertukaran yang bersifat aksidental di zaman masyarakat primitif, melalui berbagai transisinya, sampai akhirnya kita tiba di zaman produksi komoditas par excellence, yakni moda produksi kapitalis.
Bahkan dalam ekonomi kapitalis klasik, hukum nilai tidak menampakkan dirinya secara langsung. Sebagaimana telah ketahui, komoditas dijual di atas atau di bawah nilainya. Hanya secara kebetulan komoditas akan dijual sesuai dengan nilai sesungguhnya. Dalam jilid ketiga Das Kapital, Marx menjelaskan harga produksi komoditas. Dia menerangkan, kapitalis hanya memperoleh biaya produksi komoditasnya plus tingkat laba rata-rata. Maka dari itu, sebagian kapitalis akan menerima laba di bawah rata-rata, dan yang lainnya di atas. Karena setiap kapital memiliki komposisi organik yang berbeda-beda, hukum nilai hanya dapat termanifestasi melalui mekanisme yang rumit seperti itu. Tentu saja proses ini berlangsung melalui kompetisi. Monopoli hanyalah bentuk perkembangan hukum nilai yang lebih rumit dalam masyarakat. Karena posisi dominan yang dimiliki oleh sejumlah monopoli, mereka dapat menjual komoditasnya dengan harga di atas nilainya, tetapi hanya dengan membuat komoditas lainnya dijual di bawah nilainya. Total nilai yang diproduksi oleh masyarakat akan tetap sama.
Apakah ada nilai-lebih sebelum 1928?
Sehubungan dengan ini, Cliff sama sekali tidak konsisten. Shachtman, dalam upayanya untuk menyangkal bahwa Rusia adalah sebuah masyarakat peralihan di mana hukum-hukum kapitalis masih beroperasi, dan juga hukum-hukum masyarakat masa depan, setidaknya membangun argumennya secara konsisten. Cliff mengatakan, hukum nilai tidak beroperasi, oleh karenanya semua hukum yang mengalir darinya juga tidak beroperasi. Bukan nilai-lebih yang diproduksi, melainkan produk-lebih; bukan daya-kerja yang dijual oleh buruh, karena mereka adalah budak, dst., dst. Namun Cliff mengakui produksi komoditas masih terus berlangsung, dan daya-kerja dan nilai-lebih masih ada. Tetapi begitu kategori-kategori Marxis ini diterima sebagai kategori yang berlaku di dalam masyarakat Rusia, maka jelas hukum nilai mesti beroperasi di dalamnya pula, bila tidak seluruh posisinya menjadi tidak masuk akal.
Seluruh kontradiksi ini – kontradiksi yang bersumber dari dalam masyarakat itu sendiri, dan bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar dengan sewenang-wenang – terkandung dalam konsep kediktatoran proletariat itu sendiri. Bila kita mempertimbangkan problem ini secara abstrak, kita akan melihat ini sebagai fenomena yang kontradiktif: kapitalisme sudah dihapus namun kelas-kelas masih tetap ada. Proletariat tidak lenyap. Mereka menjadi kelas penguasa dan menghapus kelas kapitalis. Tetapi selama masa peralihan ini mereka masihlah kelas buruh. Oleh karenanya, mereka masih menghasilkan produk-lebih dalam bentuk nilai-lebih. Demikianlah situasinya sekarang, seperti halnya ketika Soviet ada di bawah kepemimpinan Lenin dan Trotsky. Kita hanya perlu mengajukan pertanyaan berikut: apa nilai-lebih yang dihasilkan ketika Rusia masihlah negara buruh – walaupun negara buruh dengan cacat birokratik? Melalui proses apa produk-lebih sebelum tahun 1928 tiba-tiba secara misterius berubah menjadi nilai-lebih setelah tahun 1928? Proses yang ganjil ini tidak pernah ia jelaskan. Di sini kami akan mengajukan pertanyaan lain: Apakah keberadaan kapitalisme di luar Rusia sebelum 1928 memiliki dampak serupa terhadap perekonomian Rusia? Tentu saja. Pada kenyataannya, dampaknya jauh lebih besar mengingat lemahnya perekonomian Rusia saat itu. Lalu, mengapa tidak ada kapitalisme di Rusia sebelum 1928?
Atau lebih jauh lagi: jika kita kesampingkan periode 1917-1923, bagaimana situasinya pada 1923-1928 ketika birokrasi Stalinis tengah mengonsolidasikan dirinya? Ada lebih banyak unsur-unsur kapitalis dalam perekonomian Rusia saat itu dibandingkan hari ini. Tekanan kapitalisme negara dari sudut pandang ekonomi jelas-jelas jauh lebih besar. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kita telah menunjukkan metode Cliff yang sembarangan itu.
Penyelewengan kekuasaan serta konsumsi nilai-lebih oleh birokrasi – baik secara legal maupun ilegal – memang sudah berlangsung sejak periode awal bangkitnya birokrasi. Kamerad Cliff harus membangun sebuah skema kaku yang tidak ada hubungannya dengan realitas guna menciptakan perbedaan antara kedua periode tersebut: periode ketika birokrasi mewakili negara buruh yang mengalami degenerasi, dan periode ketika birokrasi menjadi kelas kapitalis. Menurut Cliff, apa perbedaan ini? Menurutnya, sebelum tahun 1928 birokrasi benar-benar memperoleh nilai-lebih tersebut lewat kerjanya sendiri, dan hanya setelah tahun 1928 mereka mengkonsumsi nilai-lebih yang dihasilkan kaum buruh. Cliff menulis:
“Statistik yang ada secara konklusif menunjukkan bahwa, meskipun birokrasi menempati posisi yang berprivilese selama periode sebelum Rencana Lima Tahun [Rencana Lima Tahun pertama kali diberlakukan pada tahun 1928], kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka menerima nilai-lebih dari kerja orang lain. Dengan diperkenalkannya Rencana Lima Tahun, kita dapat mengatakan dengan konklusif bahwa pendapatan birokrasi datang sebagian besar dari nilai-lebih.” (hal. 45)
Ini bertentangan dengan analisa yang dibuat tidak hanya oleh Trotsky tetapi juga oleh kaum Marxis lainnya pada saat itu berkenaan dengan masalah ini. Pertama-tama, bahkan dalam negara buruh yang paling ideal sekali pun, selama masa transisi para ahli dan birokrat sudah pasti akan mengonsumsi sejumlah nilai-lebih. Ini tak terelakkan. Jika tidak demikian, kita akan langsung memperkenalkan komunisme, di mana sudah tidak ada lagi ketidaksetaraan serta perbedaan antara kerja mental dan kerja fisik. Kita hanya perlu merujuk pada Oposisi Kiri sehubungan dengan problem ini. Seawal 1927, Oposisi Kiri telah menyoroti bagaimana aparatus birokrasi mengonsumsi proporsi nilai-lebih yang sangat besar. Mereka memprotes bagaimana “aparatus administratif yang berprivilese dan semakin membengkak ini tengah melumat proporsi nilai-lebih yang sangat besar.” (Revolution Betrayed, hal. 141)
Jelas bahwa sejak 1920, birokrasi telah mengonsumsi proporsi nilai-lebih yang besar, baik secara sah maupun tidak sah. Seperti yang Marx jelaskan, selama masa peralihan, negara buruh akan menggunakan nilai-lebih untuk mempercepat pembangunan industri dan dengan demikian mempersiapkan jalan bagi transisi secepat mungkin menuju kesetaraan dan kemudian komunisme yang sepenuhnya.
Apa lagi yang dimaksud Lenin pada tahun 1920 dan 1921 ketika ia menekankan langkah mundur yang terpaksa diambil kaum Bolshevik, ketika mereka harus membayar para tenaga ahli menurut standar borjuis dan dengan ‘cara borjuis’ lama?
Ekonomi Peralihan dari Kapitalisme ke Sosialisme
Satu hal yang paling signifikan dari semua tendensi yang ingin merevisi posisi Trotsky mengenai Rusia adalah mereka biasanya mengkaji masalah ini secara abstrak, dan tidak pernah secara konkret menjelaskan hukum-hukum yang berlaku dalam masyarakat peralihan dari kapitalisme dan sosialisme, dan bagaimana masyarakat semacam ini beroperasi. Ini bukanlah kebetulan. Apa bila mereka mempertimbangkan masalah ini secara konkret, ini akan mendorong mereka ke kesimpulan bahwa perekonomian fundamental di Rusia saat ini masihlah sama seperti saat di bawah kepemimpinan Lenin. Tidak bisa tidak.
Benih-benih moda produksi kapitalis, yang mulai muncul di bawah feodalisme melalui perkembangan produksi komoditas, dapat ditemui di dalam fungsi para pengrajin tangan dan pedagang yang mandiri. Ketika perkembangan ini mencapai tahapan tertentu, kita memiliki relasi kapitalis dengan superstruktur feodal. Bangunan superstruktur ini dihancurkan oleh revolusi, dan potensi-potensi yang laten di dalam produksi kapitalis kemudian dapat terealisasi dengan bebas tanpa terhambat oleh kekangan feodal.
Seluruh esensi revolusi (revolusi kapitalis dan revolusi proletar) datang dari fakta bahwa relasi-relasi dan bentuk-bentuk lama sudah tidak lagi sesuai dengan metode atau moda produksi baru yang sudah matang. Untuk membebaskan dirinya dari kekangan ini, kekuatan produktif harus diorganisasi di atas basis yang berbeda. Seluruh sejarah umat manusia digerakkan oleh perkembangan antagonisme ini dalam berbagai tahapannya.
Akan tetapi, revolusi borjuis tidak langsung menghancurkan feodalisme dengan sekali pukul. Elemen-elemen feodal yang kuat masih tetap ada, dan sampai hari ini sisa-sisa feodalisme ini bahkan masih eksis di negeri-negeri kapitalis yang paling maju.
Kita dapat berbicara mengenai moda produksi feodal dalam artian bangunan superstrukturnya, walaupun fondasi kapitalis telah terkembang di bawahnya. Atau kita dapat berbicara mengenai moda produksi feodal di masa awalnya, ketika benih kapitalisme dan potensi perkembangan kapitalisme masih sangat samar-samar.
Kekeliruan fundamental dari teori “kapitalisme negara” ini dan abstraksinya sehubungan dengan periode transisi dapat ditemukan dalam ketidakmampuannya untuk membedakan moda produksi dan moda apropriasi. Di setiap masyarakat kelas, ada eksploitasi dan ada surplus yang digunakan oleh kelas yang menghisap. Tetapi ini sendiri tidak mengatakan apapun tentang moda produksi yang berlaku.
Misalnya, moda produksi di bawah kapitalisme bersifat sosial, yang bertentangan dengan moda apropriasinya yang bersifat individual. Seperti yang dijelaskan Engels:
“Pemisahan ini menjadi sempurna, dengan alat-alat produksi terkonsentrasikan di tangan kaum kapitalis di satu sisi, dan kaum produsen yang tidak memiliki apapun selain tenaga-kerja mereka di sisi lain. Kontradiksi antara produksi sosial dan apropriasi kapitalis [baca, apropriasi individual atau swasta, seperti yang telah dijelaskan Engels – EG] memanifestasikan dirinya sebagai antagonisme antara proletariat dan borjuasi.” (Anti-Dühring, hal. 321)
Seperti yang dijelaskan Lenin, ekonomi transisional dapat dan akan mengambil bentuk-bentuk yang sangat beragam di berbagai negara dan di waktu-waktu yang berbeda, dan bahkan di negara yang sama pada waktu yang berbeda. Ekonomi transisional ini memiliki moda produksi sosial, tetapi dengan apropriasi negara, dan bukan apropriasi individual seperti di bawah kapitalisme. Ini adalah bentuk yang memadukan fitur-fitur sosial dan kapitalis,
Di bawah kapitalisme, sistem produksi komoditas par excellence, produk sepenuhnya mendominasi produsen. Ini mengalir dari bentuk apropriasi yang diambilnya, dan kontradiksi antara bentuk apropriasinya dan moda produksinya; kedua faktor ini mengalir dari kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi. Begitu kepemilikan negara menggantikan ini, apa pun sistem yang lalu dilahirkan, ini tidak bisa disebut kapitalisme karena kontradiksi dasar kapitalisme tersebut sudah dihapus. Karakter anarki yang mengalir dari produksi sosial dengan apropriasi individual menghilang.
Di bawah sosialisme, akan ada moda produksi sosial, tetapi akan ada juga moda distribusi sosial. Untuk pertama kalinya produksi dan distribusi akan berada dalam keselarasan.
Maka dari itu, sekedar menunjuk pada fitur-fitur kapitalis di Rusia hari ini (seperti kerja upahan, produksi komoditas, atau kenyataan bahwa birokrasi mengonsumsi sebagian besar nilai-lebih) belumlah cukup untuk memberitahu kita sistem sosial macam apa yang ada. Di sini kita harus memiliki cara pandang yang komprehensif, yang melihat hal ihwal dari semua sisi. Kita hanya dapat memahami hubungan-hubungan sosial di Uni Soviet dengan mempertimbangkan totalitas dari seluruh hubungan yang ada. Sejak awal revolusi, berbagai mazhab sektarian telah memajukan berbagai gagasan yang rapuh karena ketidakmampuan mereka untuk membuat analisa seperti demikian. Lenin meringkas problemnya seperti berikut:
“Namun, apa arti kata ‘transisi’? Bukankah, dalam konteks ekonomi, ini berarti bahwa sistem yang ada sekarang mengandung unsur-unsur, partikel-partikel, fragmen-fragmen dari baik kapitalisme maupun sosialisme? Semua orang tentu akan mengakui ini. Namun tidak semua orang yang mengakui ini bersedia menelaah secara seksama hakikat unsur-unsur yang membentuk berbagai bentuk sosio-ekonomi yang ada di Rusia hari ini. Dan justru di sinilah inti persoalannya.” (Lenin, Left-wing childishness and the petty-bourgeois mentality)[9]
Bila kita hanya mengabstraksi satu sisi saja, ini pasti akan membawa kita ke kesimpulan yang keliru. Apa yang membuat fenomena Rusia begitu membingungkan adalah karakter ekonominya yang penuh kontradiksi. Ini diperparah lebih lanjut oleh keterbelakangan dan keterisolasian Uni Soviet. Kulminasinya adalah rejim totaliter Stalinis, yang menghasilkan fitur-fitur kapitalisme yang paling buruk – seperti relasi antara manajer dan buruh, sistem kerja borongan, dst. Alih-alih menelaah kontradiksi-kontradiksi ini, Kamerad Cliff berupaya sekeras mungkin memaksakan mereka ke dalam pola hukum ‘normal’ produksi kapitalis.
Selain itu, di bawah kapitalisme, ada kecenderungan di mana kekuatan produktif menjadi tersentralisasi, dan juga kecenderungan menguatnya peran negara dalam perekonomian. Kecenderungan ini dapat membawa seorang ke kesimpulan yang keliru. Cliff berusaha membuktikan bahwa ‘kapitalisme negara’ di Rusia pada analisa terakhir sama dengan kapitalisme individual dengan hukum-hukum yang sama, dan untuk membuktikan ini dia mengutip paragraf berikut dari Anti-Dühring:
“Semakin negara mengambil alih kekuatan produktif, semakin ia sungguh-sungguh menjadi kapitalis nasional, dan semakin banyak penduduk yang dieksploitasinya. Buruh tetap menjadi buruh-upahan, tetap menjadi proletariat. Relasi kapitalis tidak menghilang. Justru relasi kapitalis dibawa sampai ke titik ekstremnya. Tetapi, di titik ekstrem inilah ia lalu berubah menjadi kebalikannya. Kepemilikan negara atas kekuatan produktif bukanlah solusi untuk kontradiksi kapitalis. Tetapi tersembunyi dalam kepemilikan negara adalah syarat-syarat teknis yang membentuk elemen dari solusi yang diperlukan.” (Anti-Dühring, hal. 330)
Pada kenyataannya, Engels sedang mengajukan argumen sebaliknya. Mari kita periksa kembali apa yang dia tulis dan bagaimana kita menarik kesimpulan yang berbeda:
“Bila krisis kapitalisme mendemonstrasikan ketidakmampuan borjuasi dalam mengelola kekuatan produktif modern, maka transformasi perusahaan-perusahaan produksi dan komunikasi raksasa menjadi perusahaan saham-gabungan dan perusahaan milik negara menunjukkan bagaimana borjuasi sudah tidak lagi diperlukan untuk menjalankan produksi. Semua fungsi sosial kaum kapitalis sekarang sudah dikerjakan oleh pekerja upahan. Kelas kapitalis sudah tidak lagi memiliki fungsi apapun selain mengantongi dividen, menerima bunga, dan berjudi di bursa saham, di mana para kapitalis saling merampas kapital satu sama lain. Awalnya moda produksi kapitalis mengusir kaum buruh. Sekarang ia mengusir kaum kapitalis dan mereduksi mereka, seperti halnya ia mereduksi kaum buruh, menjadi populasi surplus, walaupun tidak segera menjadi bagian dari pasukan buruh cadangan.”
“Tetapi transformasi menjadi perusahaan saham-gabungan atau perusahaan milik negara tidak menghilangkan watak kapitalis kekuatan produktif. Ini terlihat jelas dalam perusahaan saham-gabungan. Dan negara modern juga tidak lain adalah organisasi yang digunakan oleh masyarakat borjuis untuk menyokong kondisi-kondisi eksternal yang dibutuhkan oleh moda produksi kapitalis, supaya tidak dilanggar oleh buruh ataupun kapitalis secara individual. Negara modern, apapun bentuk yang diambilnya, pada hakikatnya adalah aparatus kapitalis, negaranya kelas kapitalis, personifikasi ideal dari seluruh kapitalis. Semakin negara mengambil alih kekuatan produktif, semakin ia sungguh-sungguh menjadi kapitalis nasional, dan semakin banyak penduduk yang dieksploitasinya. Buruh tetap menjadi buruh-upahan, tetap menjadi proletariat. Relasi kapitalis tidak menghilang. Justru relasi kapitalis dibawa sampai ke titik ekstremnya. Tetapi, di titik ekstrem inilah ia lalu berubah menjadi kebalikannya. Kepemilikan negara atas kekuatan produktif bukanlah solusi untuk kontradiksi kapitalis. Tetapi tersembunyi dalam kepemilikan negara adalah syarat-syarat teknis yang membentuk elemen dari solusi yang diperlukan.” (Anti-Dühring, hal. 330, penekanan kami)
Gagasan yang dikemukakan oleh Engels di atas ini seharusnya cukup jelas. Ketika kekuatan produktif telah berkembang melampaui kerangka relasi kapitalis (yakni, benih kontradiksi ini telah tumbuh menjadi kanker yang menggerogoti sistem sosial, yang mencerminkan dirinya melalui krisis-krisis ekonomi), kaum kapitalis terdorong untuk ‘mensosialisasi’ sebagian besar alat-alat produksi – pertama, lewat perusahaan saham-gabungan, dan kemudian bahkan memperkuat peran negara dalam cabang-cabang industri tertentu. Gagasan ini dipaparkan dengan tajam oleh Lenin dalam karyanya Imperialisme: Tahapan Tertinggi Kapitalisme, di mana dia menunjukkan bahwa perkembangan monopoli dan sosialisasi kerja pada kenyataannya merupakan elemen-elemen sistem sosial yang baru di dalam sistem sosial yang lama.
Begitu kekuatan produktif telah mencapai tahapan ini, kapitalisme sesungguhnya telah menuntaskan misi historisnya, dan karena itu kaum borjuis semakin hari menjadi semakin tidak diperlukan lagi. Mereka sudah tidak lagi diperlukan bagi perkembangan kekuatan produktif, dan bahkan mereka kini telah menjadi ‘usang’, ‘parasitik’, dan hanya meraup laba dengan menarik dividen. Dengan ini mereka telah berubah menjadi parasit seperti halnya para tuan-tuan feodal menjadi ‘parasit’ begitu misi mereka telah terpenuhi.
Ini hanyalah indikasi yang menunjukkan bahwa kapitalisme sudah matang untuk revolusi sosial. Dalam Das Kapital, Marx telah menunjukkan bagaimana sistem kredit dan perusahaan-perusahaan saham-gabungan sudah merupakan indikasi bahwa kekuatan produktif telah tumbuh melampaui kepemilikan pribadi. Engels telah menunjukkan bagaimana kekuatan produktif yang sosial itu bahkan memaksa kaum kapitalis untuk mengakui karakter kekuatan produktif sebagai sosial, dan bukan sebagai kekuatan produktif individual.
Di mana pun negara kapitalis terpaksa mengambil alih sektor ekonomi ini atau itu, kekuatan produktif tidak kehilangan karakter mereka sebagai kapital. Tetapi inti seluruh permasalahan di sini adalah demikian: apabila negara mengambil alih sepenuhnya ekonomi, kuantitas berubah menjadi kualitas, kapitalisme berubah menjadi kebalikannya.
Bagaimana lagi kita bisa menjelaskan pernyataan Engels ini: “Tetapi, di titik ekstrem inilah ia [relasi kapitalis] lalu berubah menjadi kebalikannya. Kepemilikan negara atas kekuatan produktif bukanlah solusi untuk kontradiksi kapitalis. Tetapi tersembunyi dalam kepemilikan negara adalah syarat-syarat teknis yang membentuk elemen dari solusi yang diperlukan.”
Dalam bab yang sama di buku Anti-Dühring, kutipan di atas menyusul bagian di mana Engels mendefinisikan moda produksi kapitalis – sebagai produksi sosial dengan apropriasi individual. Oleh karenanya, bila kita menerima kesimpulan Cliff, ini berarti kita harus menyimpulkan bahwa Engels telah menjerumuskan dirinya ke dalam kontradiksi yang tak terpecahkan. Namun, jika dibaca dalam keseluruhan konteksnya, maksud Engels sebenarnya sangat jelas. Engels menjelaskan, solusi untuk kontradiksi kapitalisme terletak dalam pengakuan akan watak sosial kekuatan produktif modern: “Dengan menyelaraskan moda produksi, apropriasi, dan pertukaran dengan karakter sosial alat-alat produksi.” Tetapi dia menunjukkan bahwa ‘pengakuan’ ini berarti menegakkan organisasi dan perencanaan ekonomi secara sadar, untuk menggantikan kekuatan pasar yang buta dan berdasarkan kepemilikan pribadi. Namun ini tidak bisa dilakukan dengan sekali pukul. Hanya ‘secara gradual’ kita bisa menegakkan kontrol sosial sepenuhnya. Bentuk peralihannya adalah kepemilikan negara. Tetapi kepemilikan penuh negara atas alat-alat produksi tidak menghapus seluruh fitur kapitalisme dengan segera; sebab, jika demikian, maka sudah akan ada kepemilikan sosial, yakni sosialisme akan langsung terwujud.
Dengan cara yang sama benih-benih masyarakat baru tumbuh di dalam masyarakat yang lama, maka dalam masyarakat peralihan kita masih memiliki fitur-fitur masyarakat lama di dalam masyarakat baru. Kepemilikan penuh negara atas alat-alat produksi menandai batas ekstrem kapital. Relasi kapitalis berubah menjadi kebalikannya. Unsur-unsur masyarakat baru yang sebelumnya tumbuh di dalam masyarakat lama, kini menjadi dominan.
Apa yang menyebabkan konflik di dalam kapitalisme adalah fakta bahwa hukum-hukum ekonominya bekerja secara buta. Tetapi, begitu seluruh industri telah dinasionalisasi, untuk pertama kalinya kontrol dan perencanaan ekonomi dapat secara sadar ditegakkan oleh kaum produsen. Namun, di tahap-tahap awal, kontrol dan perencanaan ekonomi hanya dapat beroperasi dalam batas-batas tertentu. Batas-batas ini akan ditentukan oleh level teknik yang ada saat itu.
Masyarakat tidak dapat melangkah dari alam keniscayaan ke alam kebebasan dalam waktu semalam. Hanya berdasarkan perkembangan kekuatan produktif yang tak terbatas maka kebebasan, dalam arti sepenuhnya, dapat menjadi realitas. Ketika tahapan ini tercapai, kita akan menyaksikan ‘administrasi atas hal ihwal’.[10]
Sebelum tahapan ini tercapai, masyarakat harus melalui periode peralihan. Tetapi, begitu kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi telah dihapus, maka kontrol dan perencanaan ekonomi menjadi mungkin untuk pertama kalinya, dan untuk pertama kalinya alam keniscayaan mulai ditinggal di belakang. Tetapi, sejauh sekarang kita dapat berbicara mengenai ‘kebebasan’, ini hanya dapat terjadi bila keniscayaan telah diakui secara sadar. Pada tahapan ini (tahapan peralihan), Engels menunjukkan:
“Karakter sosial alat-alat produksi dan produk ... dengan sadar ditegaskan oleh para produsen, dan diubah dari sumber kekacauan dan krisis ekonomi yang terjadi secara periodik menjadi tuas yang kuat untuk memajukan tingkat produktivitas.
“Kekuatan-kekuatan yang beroperasi di dalam masyarakat bekerja seperti kekuatan-kekuatan yang beroperasi di alam; secara buta, keras, dan merusak, selama kita tidak memahami mereka dan gagal memperhitungkan mereka. Tetapi, begitu kita telah mengakui mereka dan memahami bagaimana mereka beroperasi, memahami arah mereka dan dampak mereka, maka penundukan mereka secara bertahap di bawah kehendak kita dan penggunaannya untuk memenuhi tujuan-tujuan kita sepenuhnya bergantung pada diri kita sendiri. Dan ini terutama berlaku untuk kekuatan-kekuatan produktif hari ini yang sangat besar hari ini.” (Anti-Dühring, hal. 331, penekanan kami)
Engels, dengan mengutip Hegel, kemudian meringkas hubungan antara kebebasan, keniscayaan, dan periode peralihan:
“Kebebasan adalah pemahaman akan keniscayaan. ‘Keniscayaan itu buta sejauh ia tidak dipahami’.” (Anti-Dühring, hal. 136)
Marx dan Engels hanya menyentuh karakter kontradiktif periode peralihan. Mereka tidak mengelaborasinya dan hanya merumuskan hukum-hukum umumnya. Tugas mengelaborasinya mereka serahkan ke generasi masa depan. Tetapi mereka jelas-jelas menunjukkan bahwa kepemilikan negara adalah tahapan peralihan yang diperlukan untuk perkembangan kekuatan produktif. Engels menjelaskan, selama tahapan peralihan ini kita membutuhkan negara untuk dua alasan:
1) Untuk melawan kelas penguasa lama;
2) Karena masyarakat peralihan tidak bisa segera menjamin pemenuhan kebutuhan yang memadai untuk semua orang.
Logikanya tesis Cliff demikian, dalam masyarakat peralihan tidak ada sisa-sisa kapitalisme dalam ekonomi internalnya. Kamerad Cliff mungkin saja akan mengatakan dia setuju dengan perlunya negara selama masa peralihan, tetapi jelas dia tidak memahami secara mendalam alasan-alasan ekonomi yang membuat negara itu diperlukan, serta karakter ekonomi masyarakat tersebut selama periode ini. Sebelum sosialisme dapat diperkenalkan, kekuatan produktif harus terlebih dahulu dikembangkan sampai ke tingkatan yang luar biasa tinggi, jauh melampaui apa yang dicapai di bawah kapitalisme.
Seperti yang dijelaskan Trotsky, bahkan di Amerika tingkat produksi yang ada belumlah memadai untuk menjamin berdirinya sosialisme dengan segera. Oleh karenanya, masih harus ada periode peralihan di mana hukum-hukum kapitalis akan beroperasi dalam bentuk yang dimodifikasi. Tentu saja di Amerika periode ini akan mengambil durasi yang pendek. Tetapi mustahil untuk melompati tahapan ini dengan begitu saja. Apa hukum-hukum kapitalis yang masih terus beroperasi? Kamerad Cliff bukan hanya tidak mampu menjawab ini, dia juga jatuh ke perangkap kolektivisme birokratik. Ini karena dia gagal memahami bahwa uang, daya-kerja, keberadaan kelas buruh, nilai-lebih, dsb., semua ini adalah sisa-sisa dari sistem kapitalisme yang lama, yang masih bertahan bahkan di bawah rejim Lenin. Kita tidak mungkin bisa langsung memperkenalkan produksi sosial dan distribusi sosial secara langsung. Terutama di Rusia yang terbelakang.
Menulis kepada Conrad Schmidt pada 1890, Engels memberikan contoh yang luar biasa bagaimana menerapkan pendekatan materialis pada problem ekonomi peralihan dari kapitalisme ke sosialisme. Dia menulis:
“Ada diskusi di Volkstribune mengenai pembagian produk dalam masyarakat di masa depan, apakah ini akan dilakukan berdasarkan jumlah kerja yang telah dicurahkan atau dengan cara lain. Masalah ini telah didekati dengan metode yang sangat ‘materialis’, dan bukan dengan metode idealis yang penuh dengan frasa-frasa mengenai keadilan. Tetapi anehnya, tidak seorang pun tampaknya menyadari bahwa, entah bagaimanapun, metode pembagiannya pada dasarnya tergantung pada berapa banyak yang ada untuk dibagikan, dan ini pastinya akan berubah seiring dengan kemajuan produksi dan organisasi sosial. Jadi, metode pembagiannya pun dapat berubah. Namun, di mata semua orang yang terlibat dalam diskusi ini, ‘masyarakat sosialis’ tampak bukan seperti tatanan yang terus berubah dan berkembang, melainkan sesuatu yang ajek untuk selama-lamanya, dan oleh karenanya metode pembagiannya pun akan sama untuk selama-lamanya. Namun sebenarnya, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah: (1) mencoba menemukan metode pembagian yang akan digunakan pada tahap awal, dan (2) mencoba menemukan kecenderungan umum ke arah mana perkembangan selanjutnya akan bergerak. Sayangnya, mengenai ini, saya tidak menemukan sepatah kata pun dalam seluruh diskusi ini.” (Marx, Engels, Selected Correspondence, Progress, Moscow, 1975, hal. 393)[11]
Menulis di Anti-Dühring, Engels menunjukkan:
“Produksi sosial secara langsung dan distribusi sosial secara langsung meniadakan seluruh pertukaran komoditas, dan oleh karenanya produk-produk tidak lagi berubah menjadi komoditas (setidaknya di dalam komunitas tersebut), dan sebagai konsekuensinya tidak berubah menjadi nilai.” (Anti-Dühring, hal. 366, penekanan kami)
Tetapi hanya sosialisme yang dapat mewujudkan ini. Selama masa peralihan, distribusi masihlah tidak langsung. Hanya secara bertahap masyarakat dapat memiliki kontrol penuh atas produk. Oleh karenanya, selama masa peralihan, produksi komoditas dan pertukaran komoditas antar berbagai sektor ekonomi masih harus berlangsung. Hukum nilai berlaku dan mesti berlaku sampai ada akses langsung terhadap produk oleh produsen. Ini hanya bisa terjadi di atas basis kontrol penuh atas produksi sosial, dan dengan demikian distribusi sosial, yakni, setiap orang dapat mengambil apa yang dia perlukan. Marx membahas problem ini secara singkat di Jilid ke-3 Das Kapital (Bab 49), di mana dia membahas problem produksi kapitalis secara keseluruhan:
“Dengan demikian, sebagian dari laba, nilai-lebih dan produk-lebih – yang, sejauh menyangkut nilainya, hanya merepresentasikan kerja baru yang ditambahkan – berfungsi sebagai dana cadangan ... Ini juga satu-satunya porsi nilai-lebih dan produk-lebih dan oleh karenanya kerja-lebih, yang akan terus ada, di luar porsi yang digunakan untuk akumulasi dan untuk ekspansi proses reproduksi, bahkan setelah dihapusnya sistem kapitalis ... dan kenyataan bahwa semua kapital baru berasal dari laba, sewa, atau bentuk-bentuk pendapatan lainnya, yakni, dari kerja-lebih. ...” (Capital, Volume III, Progress, Moscow, 1971, page 847-8, penekanan kami)
Dalam bab ini, Marx sedang menganalisis proses produksi dan berbicara mengenai “jumlah total hasil kerja tahunan (yang) sedang didiskusikan, dengan kata lain, jumlah produk dari total kapital sosial.”
Dalam bab yang sama, dalam jawabannya kepada Storch, salah satu ekonom borjuis, Marx menyatakan:
“Pertama-tama, merupakan suatu abstraksi yang keliru untuk memandang sebuah bangsa, yang moda produksinya berdasarkan nilai atau terorganisir secara kapitalis, sebagai suatu kesatuan kolektif yang bekerja semata-mata demi pemenuhan kebutuhan nasional.
“Kedua, setelah moda produksi kapitalis dihapuskan, tetapi produksi sosial masihlah utuh, penentuan nilai tetap berlaku dengan sedemikian rupa sehingga regulasi waktu-kerja dan distribusi kerja-sosial di antara berbagai cabang produksi, dan juga pembukuan sehubungan dengan semua ini, menjadi bahkan lebih esensial daripada sebelumnya.” (Das Kapital, Volume III, hal. 851, penekanan kami)
Ini sejalan dengan sejumlah komentar Marx dan Engels dalam berbagai kesempatan mengenai masa peralihan: di mana Engels menjelaskan bahwa di bawah kapitalisme perusahaan saham-gabungan dan kepemilikan negara adalah institusi yang sesungguhnya telah melampaui kerangka produksi kapitalis; di mana Marx sudah menunjukkan bahwa kredit juga memperluas produksi melampaui kerangka kapitalisme bahkan sebelum transisi ke kediktatoran proletariat. Setelah itu, seperti yang ditunjukkan di kutipan-kutipan di atas dan juga di Kritik Terhadap Program Gotha, Marx menganggap hukum borjuis, distribusi borjuis, dan dalam pengertian itu bahkan negara borjuis, masih ada selama masa peralihan.
Berbicara mengenai peran uang dan negara selama periode peralihan, Trotsky mengembangkan gagasan ini lebih lanjut:
“Kedua problem ini, negara dan uang, memiliki sejumlah ciri-ciri yang sama, karena pada analisa terakhir keduanya tereduksi ke problem dari semua problem: produktivitas kerja. Koersi negara, seperti halnya koersi uang, merupakan warisan dari masyarakat kelas, yang tidak mampu mendefinisikan hubungan antar manusia kecuali dalam bentuk fetis, baik yang bersifat religius maupun sekuler. Yang menjadi pelindung bagi semua bentuk fetis ini adalah fetis terkuat dari semua fetis yang ada, yakni negara, dengan alat-alat kekerasan yang senantiasa mengancam. Dalam masyarakat komunis, negara dan uang akan lenyap. Mereka akan lenyap secara bertahap, dan proses melenyapnya ini akan dimulai di bawah sosialisme, pada tahapan historis ketika negara berubah menjadi semi-negara, dan uang mulai kehilangan kekuatan magisnya. Ini berarti sosialisme, setelah membebaskan dirinya dari fetis-fetis kapitalis, akan mulai menciptakan hubungan antar manusia yang lebih jernih, bebas, dan pantas. Tuntutan-tuntutan seperti ‘penghapusan’ uang, ‘penghapusan’ negara, atau ‘likuidasi’ negara dan keluarga – yang biasanya datang dari kaum anarkis – hanya menarik bagi kita sebagai contoh cara berpikir yang mekanis. Uang tidak bisa begitu saja ‘dihapus’. Begitu juga dengan negara dan keluarga lama, mereka tidak bisa seenaknya ‘dilikuidasi’ begitu saja. Mereka harus menuntaskan misi historis mereka, dan kemudian menguap dan lenyap dengan sendirinya. Pukulan mematikan terhadap fetis uang hanya akan dihantarkan ketika kita sudah mencapai tahapan di mana pertumbuhan kekayaan sosial yang tiada henti membuat manusia melupakan sifat kikirnya yang berlebihan itu, yang menghitung setiap menit kerja mereka, yang selalu merasa takut jatah makan mereka tidak cukup. Setelah kehilangan kemampuannya untuk membuat manusia senang atau menginjak-injak manusia, uang akan berubah menjadi kuitansi pembukuan untuk keperluan ahli statistik dan perencanaan ekonomi. Di masa depan yang bahkan lebih jauh lagi, mungkin saja kuitansi-kuitansi ini tidak lagi dibutuhkan. Tetapi kita akan serahkan persoalan ini kepada generasi di masa depan, yang akan lebih cerdas daripada kita.”
“Nasionalisasi alat-alat produksi dan bank, kontrol atas perdagangan internal oleh koperasi dan negara, monopoli perdagangan luar negeri, kolektivisasi pertanian, serta hukum waris – semua ini menetapkan batas-batas yang ketat atas akumulasi uang secara pribadi dan mencegahnya berubah menjadi modal swasta (baik dalam bentuk modal rente, modal dagang maupun modal industri). Akan tetapi, fungsi uang ini, walaupun terikat dengan eksploitasi, tidaklah menghilang pada awal revolusi proletar. Sebaliknya, dalam bentuk yang dimodifikasi, fungsi-fungsi tersebut dialihkan ke negara, yang bertindak sebagai pedagang, kreditor, dan industrialis universal. Pada saat yang sama, fungsi-fungsi uang yang lebih mendasar – sebagai alat ukur nilai, sarana pertukaran, dan alat pembayaran – tidak hanya dipertahankan, tetapi juga bahkan memperoleh ruang gerak yang lebih luas dibandingkan di bawah kapitalisme.” (Revolusi yang Dikhianati, hal. 65-6, penekanan dari teks asli)
Mari kita ringkas semuanya. Sebelum kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dihapus, pasar mendominasi manusia, yang tidak berdaya di hadapan hukum-hukum ekonomi yang ia ciptakan sendiri. Setelah kepemilikan pribadi itu dihapus, manusia mulai untuk pertama kalinya secara sadar memegang kendali. Tetapi “secara sadar” di sini sekedar berarti mereka mengenal hukum-hukum ini, tetapi bukan berarti penghapusannya. Inilah uniknya masa peralihan, karena sekarang manusia memahami watak kekuatan produktif, dan lewat pengetahuan ini dia dapat mengendalikan kekuatan produktif tersebut. Tetapi dia tidak bisa melampaui batas-batas yang ditentukan oleh tingkat perkembangan kekuatan produktif yang ada saat itu.
Namun, sekarang ketika kekuatan produktif telah dibebaskan dari kekangan produksi kapitalis, mereka dapat dikembangkan dengan kecepatan dan perluasan yang begitu pesat, dan dengan demikian kekuatan-kekuatan produktif ini bisa berubah dari kepemilikan negara – yang merupakan bentuk kepemilikan perantara – ke kepemilikan sosial oleh masyarakat. Begitu tahapan ini dicapai (tahapan sosialisme), akan ada produksi sosial dan distribusi sosial yang sesungguhnya untuk pertama kalinya. Uang akan melenyap; hukum nilai akan melenyap; negara akan melenyap. Dengan kata lain, semua kekuatan pengekang yang merupakan cerminan niscaya dari keterbatasan level teknik dan tingkat perkembangan produksi di tahapan tertentu, kini menghilang dengan menghilangnya pembagian kerja [baca: pembagian kerja mental dan kerja fisik]. Selama kita belum mencapai tahapan sosialis ini, semua fitur-fitur kapitalis yang disebut di atas, yang diwariskan dari masyarakat kapitalis lama, akan masih bertahan selama masa peralihan.
Kamerad Cliff, seperti halnya Shachtman dan yang lainnya, yang telah merevisi posisi Trotsky mengenai Rusia, sama sekali tidak menyentuh problem masa peralihan. Dan untuk alasan yang sangat baik. Bila kita mempertimbangkan teori masa peralihan sehubungan dengan pengalaman Rusia, maka hanya ada satu dari dua kesimpulan yang bisa kita tarik: entah Rusia hari ini ada dalam masa peralihan, yang telah mengambil bentuk yang begitu terdistorsi dan mengerikan, atau sedari awal Rusia bukanlah negara buruh. Tidak ada alternatif lain.
Teori Marxis mengenai Negara. Dua Kelas Satu Negara – Kontradiksi Cliff
Di bab pertama karyanya, Kamerad Cliff berupaya membuktikan bahwa analisa Trotsky mengenai negara Rusia bertentangan dengan teori negara yang dikembangkan oleh Marx dan dielaborasi oleh Lenin.
Bab pertama mengurai sebuah skema yang berbelit-belit, yang bertujuan membuktikan bahwa dua kelas tidak dapat menggunakan satu mesin negara. Di sini Cliff percaya dia telah menemukan kekeliruan fundamental dalam analisa Trotsky. Mengutip gagasan-gagasan yang dikembangkan oleh Trotsky di berbagai waktu yang berbeda dan di berbagai situasi yang berbeda, dia mempertentangkan mereka satu sama lain.
Misalnya, kutipan dari karya Trotsky di tahapan awal degenerasi birokratik Uni Soviet dan ketika Oposisi Kiri dipecat[12], di mana dia mengajukan tuntutan untuk mereforma negara soviet dan juga mereforma Partai Bolshevik yang menguasai pemerintah. (Pada tahapan ini, Trotsky menulis surat ke Komite Pusat Partai Komunis Uni Soviet, yang menuntut agar Stalin diturunkan dari posisinya sebagai sekjen partai). Siapa yang bisa menyangkal seandainya peristiwa-peristiwa internasional berkembang secara berbeda, ada kemungkinan teoretis bahwa Partai Bolshevik dapat mengenyahkan birokrasi yang menjangkitinya dan menegakkan kembali negara buruh yang sehat?
Kutipan ini dia pertentangkan dengan kutipan dari Revolusi yang Dikhianati,[13] di mana Trotsky mengatakan bila buruh Rusia mengambil kekuasaan mereka akan membersihkan aparatus negara; dan bila borjuasi merebut kekuasaan “pembersihan aparatus negara tentu saja juga diperlukan dalam kasus ini. Tetapi restorasi borjuis mungkin harus membersihkan lebih sedikit orang daripada yang harus dilakukan oleh partai revolusioner.” Cliff menjawabnya dengan demikian:
“Entah kita berasumsi proletariat harus menghancurkan mesin negara yang ada begitu mereka berkuasa, sementara borjuasi dapat menggunakannya, atau kita berasumsi baik proletariat maupun borjuasi tidak dapat menggunakan aparatus negara yang ada (‘pembersihan aparatus negara’ jelas akan membutuhkan perubahan yang begitu mendalam sehingga kuantitas berubah menjadi kualitas) – di atas dua asumsi ini kita mesti mencapai kesimpulan bahwa Rusia bukanlah negara buruh. Untuk berasumsi bahwa proletariat dan borjuasi dapat menggunakan mesin negara yang sama sebagai instrumen kekuasaan mereka sama saja dengan memberikan pembenaran pada landasan teori sosial-demokrasi dan menyangkal teori revolusioner mengenai negara yang dipaparkan oleh Marx, Engels, Lenin dan Trotsky. Untuk mengasumsikan bahwa berbagai lapisan, kelompok atau partai dari kelas yang sama tidak dapat mendasarkan dirinya pada mesin negara yang sama juga berarti menyangkal teori Marxis mengenai negara.”
Seluruh metode berpikir yang formalistik ini merupakan kelemahan fatal Cliff. Pada tahap-tahap awal, Trotsky tidak mungkin menganalisis problem degenerasi birokratik Soviet secara abstrak. Dia harus mengkaji situasi yang konkret dan memberikan jawaban yang konkret pula. Tetapi, degenerasi Soviet yang lebih lanjut mengajukan problem ini dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Begitu menjadi jelas bahwa Partai Stalinis tidak mungkin lagi bisa direforma, bahwa negara Soviet juga tidak mungkin lagi bisa direforma (kami berasumsi bahwa sampai pada 1928 Cliff juga sependapat dengan kami bahwa tugasnya adalah mereforma partai dan negara Stalinis, karena dia menganggap Rusia masihlah negara buruh yang mengalami degenerasi sampai pada 1928), maka problem ini harus dikaji dari sudut pandang yang berbeda. Metode Marxis bukanlah mencari-cari kontradiksi secara terisolasi, entah yang riil ataupun yang hanya di permukaan. Yang dibutuhkan adalah menelaah teori dalam perkembangan umumnya secara luas, dalam geraknya, dan dalam kontradiksinya.
Mari kita periksa metode berpikir Cliff sehubungan dengan subjek ini. Dia pun ternyata tidak bisa menghindari perangkap yang dia sendiri buat untuk Trotsky. Di Bab 1 (yang tidak kurang dari 18 halaman), dia berupaya membuktikan bahwa mustahil bagi dua kelas untuk menggunakan satu negara. Tetapi, lihatlah apa yang terjadi di bab ke-4: keajaiban! Jurang yang katanya mustahil diseberangi itu tiba-tiba lenyap! Baik kelas kapitalis dan proletariat Rusia telah menggunakan mesin negara yang sama. Mengapa? Karena ada lebih banyak nilai-lebih yang dihasilkan! Menyadari dilema ini, Cliff terpaksa memajukan sebuah teori yang sungguh-sungguh baru dan unik di dalam gerakan: bahwa sebelum tahun 1928 birokrasi tidak mengonsumsi nilai-lebih, tetapi dengan diperkenalkannya Rencana Lima Tahun, negara berubah dari negara buruh menjadi negara kapitalis. (Semua musuh Internasional Keempat dapat segera membantah bahwa negara di bawah kepemimpinan Stalin hanyalah perluasan dan pendalaman negara di bawah Lenin. Karena secara ekonomi tidak ada yang secara fundamental berubah. Kita telah menjawab ini di bab-bab sebelumnya.) Terlebih, Cliff hanya memajukan teorinya dari sudut pandang ekonomi, dan ini mengejutkan. Walaupun judul bab pertamanya “Pemeriksaan Definisi Rusia Sebagai Negara Buruh yang Mengalami Degenerasi”, dia sama sekali tidak memeriksanya dari sudut pandang politik, baik di bab ini maupun di bab-bab lainnya. Begini caranya Cliff memahami transformasi dari negara buruh menjadi negara kapitalis:
“Statistik yang ada secara konklusif menunjukkan bahwa, meskipun birokrasi menempati posisi yang berprivilese selama periode sebelum Rencana Lima Tahun [Rencana Lima Tahun pertama kali diberlakukan pada tahun 1928], kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka menerima nilai-lebih dari kerja orang lain. Dengan diperkenalkannya Rencana Lima Tahun, kita dapat mengatakan dengan konklusif bahwa pendapatan birokrasi datang sebagian besar dari nilai-lebih.” (Cliff, hal. 45)
Dengan kata lain, Cliff memandang transisi dari satu sistem ke sistem lainnya bukan sebagai hasil dari penghancuran mesin negara. Bagaimana pandangan ini bisa diselaraskan dengan skema yang ia bangun di Bab 1?
Upaya Cliff untuk membangun jembatan artifisial antara negara buruh dan negara kapitalis – karena dia tidak berhasil menemukan adanya penghancuran mesin negara buruh – mendorongnya untuk mencari perbedaan ekonomi antara periode sebelum-1928 dan sesudah-1928. Dengan demikian, dia terjerumus ke dalam konsepsi yang paling formalistik dan abstrak mengenai negara buruh sebelum tahun 1928. Seperti yang telah kita bahas dalam bab-bab sebelumnya, bahkan di dalam negara buruh yang paling sehat sekali pun, menurut Marx, nilai-lebih tetap harus diproduksi untuk memajukan industri sampai ke titik di mana negara, uang, dan proletariat itu sendiri dan semua sisa-sisa kapitalisme dapat melenyap. Selama kelas buruh masih eksis sebagai sebuah kelas, maka nila-lebih akan terus dihasilkan.
Pernyataan dari Oposisi Kiri pada 1927 menunjukkan bahwa birokrasi tengah mengonsumsi nilai-lebih dalam jumlah yang sangat besar. Metode Cliff dalam menganalisis topik ini sepenuhnya keliru. Alih-alih berupaya membuktikan tesisnya, dia hanya menyatakannya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah terbukti benar. Bahwa Bab Keempat bertentangan dengan seluruh isi Bab Pertama adalah persoalan lain! Coba perhatikan bagaimana Kamerad Cliff merangkum Bab Keempat ini, di mana dia secara terbuka mengklaim bahwa transisi dari negara buruh ke negara kapitalis telah terjadi tanpa revolusi dan tanpa penghancuran mesin negara.
Dia memulai:
“Dalam bab ini, kami akan menjabarkan transformasi karakter kelas negara Rusia dari negara buruh ke negara kapitalis. Kami akan melakukan ini dengan menelaah poin-poin berikut.” (Cliff, hal. 33)
Dia kemudian menjabarkan secara rinci sejumlah perubahan-perubahan ekonomi yang tidak ada hubungannya dengan struktur atau transformasi kekuasaan negara, dan mengakhiri Bab Keempatnya dengan sub-bab yang berjudul: “Mengapa Rencana Lima Tahun Menandai Transformasi Birokrasi Menjadi Kelas Penguasa”. Semua argumen ekonomi dalam bab ini tidak ada hubungannya dengan negara atau penggulingannya.
Cliff membahas panjang lebar diferensiasi di dalam angkatan bersenjata, privilese-privilese yang diberikan untuk para perwira, disiplin militer, dsb. Di sini dia hanya mengulang apa yang telah dikatakan Trotsky ribuan kali mengenai transformasi birokrasi menjadi kasta yang tidak lagi berada di bawah kontrol proletariat. Tetapi mari kita periksa kesimpulan Cliff. Dia menulis:
“Sekali lagi, Rencana Lima Tahun merupakan titik balik. Kemudian organisasi dan struktur angkatan bersenjata mulai berubah secara fundamental. Dari tentara rakyat dengan cacat birokratik, ini berubah menjadi badan bersenjata yang melayani birokrasi sebagai kelas penguasa. ...” (Cliff, hal. 59)
Mari kita lihat bagaimana Cliff membangun argumennya bahwa revolusi tidaklah gradual tetapi kontra-revolusi akan bersifat gradual:
“Jika para prajurit dalam sebuah angkatan bersenjata yang dibangun secara hierarkis mencoba untuk mengambil kendali atas angkatan bersenjata tersebut, mereka akan segera berhadapan dengan perlawanan dari kasta perwira. Tidak ada cara lain untuk menyingkirkan kasta semacam itu kecuali dengan kekerasan revolusioner. Sebaliknya, jika para perwira milisi rakyat menjadi semakin mandiri dari kehendak prajuritnya – sesuatu yang dapat terjadi karena mereka tidak menghadapi birokrasi yang melembaga – transformasi mereka menjadi kasta perwira yang terpisah dari prajurit dapat tercapai secara gradual. Transisi dari tentara tetap ke milisi rakyat mesti terjadi lewat kekerasan revolusioner; sebaliknya, transisi dari milisi rakyat ke tentara tetap, selama ini adalah hasil dari tendensi di dalam milisi itu sendiri, akan dan mesti terjadi secara gradual. Para prajurit mungkin saja menggunakan kekerasan untuk melawan birokrasi yang sedang bangkit itu. Tetapi ini tidak meniadakan kemungkinan transisi gradual dari milisi rakyat ke tentara tetap. Apa yang berlaku bagi tentara juga berlaku bagi negara. Sebuah negara tanpa birokrasi, atau dengan birokrasi lemah yang bergantung pada tekanan massa, dapat perlahan-lahan berubah menjadi sebuah negara di mana birokrasinya bebas dari kontrol buruh.” (Cliff, hal. 82, penekanan kami)
Cliff sekarang mencoba membuktikan bahwa transisi dari negara buruh ke negara kapitalis dapat terjadi secara gradual. Untuk melakukan ini, dia menutup babnya dengan mengutip siapa lagi kalau bukan Trotsky. Padahal sebelumnya dia telah mendiskreditkan Trotsky dalam Bab 1.
Cliff menulis:
“Pengadilan Moskow adalah perang sipil yang diluncurkan birokrasi terhadap massa, sebuah perang di mana hanya satu pihak yang bersenjata dan terorganisir. Pengadilan-pengadilan ini menandai titik di mana birokrasi akhirnya sepenuhnya bebas dari kontrol rakyat. Trotsky, yang menganggap bahwa Pengadilan Moskow[14] dan ‘Konstitusi’[15] [yang disahkan oleh rejim Stalin pada 1936] adalah langkah menuju restorasi kapitalisme melalui cara legal, kemudian menarik kembali argumennya yang sebelumnya, bahwa perubahan gradual dari negara proletar ke negara borjuis itu sama saja ‘memutar balik film reformisme.’ Dia menulis:
“‘Pada kenyataannya, konstitusi baru ini ... membuka jalan ‘legal’ bagi birokrasi untuk meluncurkan kontra-revolusi ekonomi, yakni restorasi kapitalisme melalui “pukulan Dingin”.’ (Fourth International and the Soviet Union. Thesis adopted by the First International Conference for the Fourth International, Geneva, July 1936.)” (Cliff, hal. 82)
Di sini terpampang jelas tesis Cliff dan metode analisanya yang buruk. Dimulai dari tesis bahwa Trotsky bukanlah Marxis karena dia mengatakan dua kelas dapat menggunakan satu mesin negara yang sama, Cliff berakhir mengatakan persis hal yang sama dan menggunakan Trotsky sebagai otoritasnya.
Nasionalisasi dan Negara Buruh
Di halaman kedua karyanya, Cliff mengutip dari Revolusi yang Dikhianati:
“Nasionalisasi tanah, sarana-sarana produksi industri, transportasi, dan perdagangan, bersamaan dengan monopoli atas perdagangan luar negeri, menjadi basis bagi struktur sosial Soviet. Melalui relasi-relasi ini, yang dibentuk oleh revolusi proletar, watak Uni Soviet sebagai negara proletar pada dasarnya ditentukan bagi kita.” (Revolusi yang Dikhianati, hal. 248)
Dalam hal ini, salah satu kesimpulan Cliff adalah “baik Komune Paris maupun kediktatoran Bolshevik bukanlah negara buruh, karena Komune Paris sama sekali tidak menasionalisasi alat-alat produksi, dan pemerintahan Bolshevik juga tidak melakukan ini sampai beberapa waktu.” Di sini, Cliff mendasarkan argumennya pada persoalan apakah kelas buruh memiliki kontrol atas mesin negara atau tidak. Masalah kontrol buruh akan kita bahas di bab berikutnya. Tetapi, untuk sekarang, mari kita periksa metode Cliff yang memisahkan basis ekonomi negara buruh dari masalah kontrol buruh atas mesin negara. Untuk jangka waktu sementara, entah itu durasinya pendek atau panjang, proletariat dapat mengambil kekuasaan politik tanpa segera meluncurkan transformasi ekonomi atas masyarakat. Demikianlah situasi di Rusia di mana proletariat merebut kekuasaan pada Oktober 1917, tetapi baru melakukan nasionalisasi secara besar-besaran pada tahun 1918 ketika keadaan memaksanya untuk melakukan itu. Namun, seandainya proletariat tidak segera melakukan transformasi ekonomi, maka rejim proletar ini sudah pasti akan runtuh. Hukum ekonomi akan selalu menegaskan dirinya pada akhirnya. Hanya ada dua kemungkinan: entah proletariat menasionalisasi seluruh perekonomian, atau sistem kapitalis niscaya akan bangkit kembali dan mendominasi. Cliff gagal menunjukkan bagaimana bentuk dasar perekonomian Rusia akan berbeda di bawah negara buruh yang sehat. Dia telah berlindung di balik argumen bahwa birokrasi mengonsumsi nilai-lebih, tetapi ini hanya menghindari persoalan fundamental yang sesungguhnya.
Argumen Cliff yang didasarkan pada Komune Paris dan tahapan awal Revolusi Rusia juga tidak lebih baik. Rejim-rejim ini adalah rejim peralihan ke kekuasaan ekonomi sepenuhnya oleh proletariat. Peralihan seperti ini hampir tak terelakkan ketika masyarakat tengah berubah dari satu sistem ke sistem lain. Tetapi dalam kasus Komune Paris dan Revolusi Rusia, rejim peralihan ini tidak akan bisa bertahan lama apabila proletariat tidak melangkah lebih lanjut ke nasionalisasi industri. Apakah Cliff telah lupa bahwa salah satu pelajaran utama yang diajarkan oleh Marx dan yang dengan sangat baik dipelajari oleh kaum Bolshevik adalah kegagalan proletariat Prancis untuk menasionalisasi Bank Prancis? Jadi, kita lihat bagaimana sebuah negara dapat menjadi negara proletar di atas basis kekuasaan politik, atau ia dapat menjadi negara proletar di atas basis ekonomi; atau dapat pula berada dalam tahapan peralihan menuju kedua tipe negara proletar tersebut, sebagaimana akan kami tunjukkan nanti.
Hukum yang sama akan berlaku untuk kontra-revolusi borjuis. Trotsky dengan tepat menjelaskan, bila ada kontra-revolusi borjuis di Rusia, borjuasi dapat, untuk sementara, bahkan mempertahankan kepemilikan negara sebelum kemudian membongkarnya dan menyerahkannya ke kepemilikan swasta. Bagi seorang akademisi, tampaknya bisa ada negara buruh atau negara borjuis yang berdasarkan kepemilikan negara, atau bisa ada negara buruh atau negara borjuis yang berdasarkan kepemilikan pribadi. Namun, seorang hanya bisa berpikir seperti itu bila dia tidak mempertimbangkan arah perkembangan masyarakat, ke arah mana masyarakat itu tengah berkembang.
Bukan hanya itu saja. Berbagai macam relasi yang tak terduga dapat berkembang karena struktur kelas dalam masyarakat dan negara. Misalnya Rusia, seperti yang digambarkan oleh Trotsky dalam History of the Russian Revolution. Pada 1917, sebelum kaum Bolshevik memenangkan mayoritas dalam soviet,[16] ketika mayoritas masih dipegang oleh kaum Menshevik, ada situasi di mana borjuasi berkuasa melalui soviet. Padahal, semestinya soviet adalah organ kekuasaan buruh par excellence! Menurut skema Cliff, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Tentu saja, seandainya kaum Bolshevik tidak merebut kekuasaan, kaum borjuis – setelah memanfaatkan kaum Menshevik, dan melalui mereka, memanfaatkan soviet selama periode transisi – akan membubarkan soviet seperti yang mereka lakukan di Jerman setelah 1918.
Dalam transisi dari satu bentuk masyarakat ke bentuk masyarakat lainnya, jelas tidak ada jurang yang tidak dapat dijembatani. Metode dialektika tidak melihat hal ihwal sebagai kategori-kategori yang sudah selesai, di mana misalnya negara hanya bisa mengambil bentuk negara buruh atau negara kapitalis yang sudah selesai, dengan mengabaikan peralihan atau gerak di antara keduanya. Jelas bahwa ketika Marx berbicara mengenai penghancuran bentuk negara lama dalam kaitannya dengan Komune Paris, ia menganggap bahwa perekonomian akan mengalami transformasi, cepat atau lambat, dan akan menjadi selaras dengan bentuk politik yang ada. Kita akan lihat bagaimana Cliff menggunakan metode formalistik yang sama sehubungan dengan Eropa Timur.
Konsep Negara yang Dialektis
Ada baiknya kita bahas di sini hakikat negara. Menurut kaum Marxis, negara lahir sebagai instrumen yang dibutuhkan oleh satu kelas untuk menindas kelas lainnya. Negara, pada analisa terakhir, seperti yang dijelaskan oleh Marx dan Lenin, terdiri dari badan orang-orang bersenjata dan perangkat-perangkat pendukungnya. Inilah esensi definisi Marxis mengenai negara. Namun, kita harus hati-hati dalam menggunakan generalisasi-generalisasi luas Marxis ini. Generalisasi ini jelas benar, tetapi tidak bisa digunakan secara absolut. Kebenaran selalu bersifat konkret. Apabila kita tidak menganalisasi kondisi-kondisi dan konsekuensi-konsekuensi yang partikular dan konkret, kita pasti akan jatuh ke dalam abstraksi dan kesimpulan yang keliru. Perhatikan bagaimana Engels membahas masalah ini dengan hati-hati, bahkan ketika dia menggeneralisasi. Dalam Asal-usul Keluarga, dia menulis:
“Tetapi agar antagonisme-antagonisme ini, yaitu kelas-kelas dengan kepentingan ekonomi yang bertentangan, tidak lantas menghancurkan diri mereka sendiri dan masyarakat dalam perjuangan yang sia-sia, maka diperlukan sebuah kekuasaan, yang tampaknya berdiri di atas masyarakat, untuk melunakkan konflik tersebut dan menjaganya dalam batas-batas ‘ketertiban’, dan kekuasaan ini, yang muncul dari masyarakat, tetapi menempatkan dirinya di atasnya dan semakin mengasingkan dirinya dari masyarakat, inilah negara.” (The Origin of the Family, Lawrence & Wishart, London, 1946, hal. 194)
Di halaman berikutnya, dia melanjutkan:
“Kita hanya perlu melihat Eropa saat ini, di mana perjuangan kelas dan persaingan dalam penjajahan telah memperkuat kekuasaan publik sedemikian rupa sehingga mengancam menelan seluruh masyarakat dan bahkan negara itu sendiri.”
Engels menunjukkan, begitu negara itu muncul, negara dapat dalam batas-batas tertentu mengembangkan geraknya sendiri secara independen dan dalam kondisi tertentu ini memang tak terelakkan:
“Dengan memiliki kekuasaan publik dan hak untuk memungut pajak, para pejabat kini menampilkan dirinya sebagai organ masyarakat yang berdiri di atas masyarakat.”
Bertentangan dengan konsepsi Cliff bahwa negara memainkan perannya secara langsung, kita dapat melihat ketelitian Engels dalam menelaah masalah peran independen negara, relatif tentu saja terhadap masyarakat. Dalam seluruh karya Cliff, dia mengabaikan fakta bahwa negara, dalam kondisi-kondisi tertentu, dapat dan memang memainkan peran yang relatif independen dalam perjuangan antar kelas. Skema Cliff bersifat ‘logis’: negara buruh itu harus secara langsung dikendalikan oleh buruh, bila tidak maka ini mesti negara kapitalis. Dalam metode Cliff tidak ada ruang bagi interaksi antar kekuatan. Sekali lagi, bandingkan ini dengan metode Engels:
“Karena negara muncul dari kebutuhan untuk mengendalikan antagonisme kelas, tetapi pada saat yang sama negara muncul di tengah konflik antar-kelas ini, maka biasanya negara adalah negara dari kelas yang paling kuat, yang dominan secara ekonomi, yang, melalui perantaraan negara, juga menjadi kelas yang dominan secara politik, dan dengan demikian memperoleh cara-cara baru untuk menekan dan mengeksploitasi kelas tertindas. ... Namun, sebagai pengecualian, terdapat masa-masa di mana kelas-kelas yang bertikai saling menyeimbangkan satu sama lain sedemikian rupa sehingga kekuasaan negara memperoleh, untuk sementara waktu, kemandirian tertentu dari keduanya dan seolah-olah tampil sebagai penengah….” (hal. 196, penekanan kami)
Lagi, di halaman 201, Engels menulis:
“Rantai penghubung utama dalam masyarakat beradab adalah negara, yang dalam semua masa tipikal (penekanan kami) tanpa pengecualian merupakan negara kelas penguasa, dan dalam semua kasus terus merupakan mesin untuk merepresi kelas yang tertindas dan tereksploitasi...”
Bandingkan formula hitam-putih Cliff dengan formulasi Engels yang hati-hati. “Biasanya”, “dalam masa tipikal”, dst.
Mengapa proletariat tidak dapat begitu saja mengambil alih mesin negara yang sudah jadi? Bukan karena alasan-alasan mistis, melainkan karena fakta-fakta tertentu yang sangan konkret. Dalam negara modern, semua posisi kunci ada di tangan orang-orang yang dikontrol kelas penguasa. Orang-orang ini telah diseleksi secara khusus – berdasarkan pendidikan mereka, cara pandang mereka, dan kondisi kehidupan mereka – untuk melayani kepentingan borjuasi. Para perwira militer, terutama yang berpangkat tinggi, para pegawai negeri, dan dalam industri-industri milik negara hari ini para teknisi kunci, semuanya memiliki gagasan dan pandangan yang telah dibentuk sedemikian rupa untuk melayani kepentingan kelas kapitalis. Semua posisi kepemimpinan dalam masyarakat ada di tangan orang-orang yang dapat dipercaya oleh borjuasi. Inilah mengapa mesin negara adalah alat di tangan kelas borjuasi, alat yang tidak bisa digunakan oleh proletariat dan harus mereka hancurkan. Sekarang, apa artinya menghancurkan mesin negara? Gagasan Cliff mengenai pertanyaan ini tampak sangat kabur.
Mungkin saja banyak, dan bahkan mayoritas administrator negara borjuis, yang akan digunakan oleh proletariat begitu mereka mengambil kekuasaan. Tetapi para administrator ini akan tunduk pada komite-komite buruh dan organisasi-organisasi buruh. Misalnya di Uni Soviet, di masa-masa awal setelah angkatan bersenjata Tsar baru saja dibubarkan, Tentara Merah dipimpin oleh mantan perwira Tsar. Begitu juga dalam aparatus negara, di mana sebagian administrator pemerintah adalah orang-orang yang sebelumnya bekerja untuk pemerintahan Tsaris. Karena faktor-faktor historis yang tidak menguntungkan, ini di kemudian hari memainkan peran penting dalam degenerasi birokratik rejim Rusia. Bukan tanpa alasan Lenin pernah mengatakan bahwa negara Soviet itu adalah “mesin negara Tsaris ... [yang] diurapi dengan minyak soviet”.[17] (Karakterisasi Lenin yang jujur ini jauh sekali dari potret ideal dan palsu yang digambarkan oleh Cliff mengenai situasi negara buruh di bawah Lenin dan Trotsky. Kita akan kesulitan untuk memahami proses degenerasi negara buruh bila kita memulai dari gambaran yang ideal seperti itu. Kita akan kupas ini di bab selanjutnya).
Proletariat, seturut konsep klasik mengenai negara, menghancurkan mesin negara yang lama dan kemudian membangun sebuah semi-negara. Meskipun demikian, mereka terpaksa menggunakan tenaga-tenaga ahli dari mesin negara yang lama. Tetapi negara, bahkan dalam kondisi yang terbaik sekalipun, katakanlah di sebuah negara maju dengan proletariat yang terdidik, masih merupakan instrumen borjuis, dan oleh karena itu kemungkinan degenerasi itu implisit di dalamnya. Untuk alasan itu, kaum Marxis menekankan pentingnya kontrol oleh buruh, untuk memastikan agar negara tidak berkembang menjadi kekuatan yang independen. Secepat mungkin, negara harus dilenyapkan untuk melebur ke dalam masyarakat.
Karena alasan yang dikemukan di atas, dalam kondisi-kondisi tertentu, negara dapat memperoleh kemandirian dari basis kelas yang awalnya ia wakili. Engels menjelaskan, walaupun bangunan superstruktur tergantung pada fondasi ekonominya, ia dapat memiliki gerak independennya sendiri. Untuk masa yang cukup panjang, dapat terjadi konflik antara negara dan kelas yang diwakili oleh negara tersebut. Inilah mengapa Engels berbicara mengenai negara “biasanya” atau dalam “masa tipikal” secara langsung mewakili kelas penguasa. Para guru Marxis besar kita telah menganalisis fenomena Bonapartisme, seperti yang dirujuk oleh Engels di atas. Dalam Eighteenth Brumaire, Marx menunjukkan bagaimana tentara-tentara pemabuk Louis Napoleon, atas nama “hukum, ketertiban dan keluarga’, menembaki kaum borjuis yang semestinya mereka wakili.[18]
Maka dari itu, kita hanya mampu memahami masyarakat kelas bila kita mempertimbangkan dari segala sisi kesalingtergantungan dan antagonisme dialektis dari semua faktor di dalamnya. Kaum formalis biasanya tersesat dalam satu sisi atau sisi lainnya dari problem yang mereka kaji. Misalnya, Cliff dapat menulis:
“Kita akan membutuhkan akrobat mental yang luar biasa untuk bisa berpikir bahwa Mikolajcik dkk. yang melarikan diri ke luar negeri atau membusuk di penjara adalah kelas penguasa Polandia, seperti halnya apabila kita berpikir penguasa di Rusia adalah para pekerja paksa di Siberia.” (Cliff, hal. 13)
Apakah kaum borjuis di bawah Louis Napoleon kelas penguasa? Kita tidak perlu melakukan akrobat mental yang luar biasa untuk menjawab ini.
Ketika mempertimbangkan perkembangan masyarakat, ekonomi harus dianggap sebagai faktor yang dominan. Bangunan superstruktur yang berkembang di atas basis ekonomi ini memisahkan dirinya dari basis tersebut dan menjadi antagonistis terhadapnya. Pada akhirnya, esensi teori Marxis mengenai revolusi adalah seiring dengan perubahan gradual dalam produksi di bawah bentuk yang lama (yakni superstruktur baik dalam relasi kepemilikan maupun negara), berkembanglah kontradiksi yang hanya bisa dipecahkan dengan menghapus superstruktur yang ada dan merombak-ulang masyarakat berdasarkan moda produksi baru yang telah berkembang di dalam masyarakat yang lama.
Dalam jangka panjang, yang menentukan adalah ekonomi. Oleh karena itu, seperti yang telah coba dijelaskan oleh semua guru Marxis kita dengan susah payahnya, dalam jangka panjang superstruktur harus menjadi selaras dengan basis ekonominya. Bila kita mencampakkan kriteria struktur dasar ekonomi dalam masyarakat, maka seorang pun bisa sembarangan membangun segala macam konstruksi yang dangkal. Seorang pun akan tersesat dalam labirin sejarah, seperti Perseus[19] dalam mitologi Yunani kuno yang tersesat di dalam Istana Raja Minos, tetapi tanpa benang yang bisa membantunya keluar. Benang sejarah ini adalah struktur ekonomi dasar masyarakat, atau bentuk kepemilikan, sebagai cerminannya dalam undang-undang.
Mari kita ambil contoh sejarah Prancis yang begitu kaya. Revolusi borjuis terjadi pada 1789. Pada 1793, kaum Jacobin sepenuhnya merebut kekuasaan. Sebagaimana dijelaskan oleh Marx dan Engels, kaum Jacobin bergerak melampaui kerangka relasi borjuis dan memenuhi tugas historis yang besar karenanya. Hanya dalam beberapa bulan, mereka mampu menuntaskan tugas-tugas yang biasanya akan membutuhkan kelas borjuis waktu puluhan tahun atau bergenerasi: pembersihan total semua sisa-sisa feodalisme di Prancis. Namun rejim ini tetap berakar di atas basis bentuk kepemilikan borjuis. Rejim Jacobin ini disusul oleh Thermidor Prancis dan kekuasaan Direktori, dan lalu disusul oleh kediktatoran klasik Napoleon Bonaparte. Napoleon memperkenal kembali banyak bentuk-bentuk feodal, menobatkan dirinya sendiri sebagai Kaisar dan mengkonsentrasikan kekuasaan absolut ke tangannya. Tetapi kita masih menyebut rejim ini rejim borjuis. Dengan restorasi Louis XVIII [restorasi monarki Bourbon pada 1815], rejim ini masihlah rejim kapitalis. Dan kemudian ini disusul bukan dengan satu revolusi, tetapi dua revolusi: 1830 dan 1848. Revolusi-revolusi ini memiliki konsekuensi sosial yang penting. Mereka menghasilkan perubahan signifikan dalam personel-personel negara. Meskipun demikian, kita mendefinisikan kedua revolusi ini sebagai revolusi borjuis, karena tidak ada perubahan dalam kelas yang memegang kekuasaan.
Mari kita lanjutkan. Setelah Komune Paris 1871 dan perubahan-perubahan yang disebabkan olehnya, ini disusul dengan Republik Ketiga dengan demokrasi borjuis yang bertahan selama puluhan tahun. Ini disusul oleh rejim Petain [rejim Vichy yang diktatorial, yang terbentuk setelah Prancis tunduk pada Nazi Jerman dari 1940-1944], kemudian rejim De Gaulle-Stalinis [dari 1945-1948][20], dan sekarang rejim Quielle. Mari kita periksa untuk sejenak keberagaman bentuk rejim ini. Bagi seorang yang bukan Marxis, tidak masuk akal mendefinisikan semua rejim ini dalam kategori yang sama, katakanlah rejim Robespierre dan rejim Petain. Namun, kaum Marxis mendefinisikan semua rejim tersebut sebagai rejim yang secara fundamental sama, yakni rejim borjuis. Apa kriterianya? Hanya satu: bentuk kepemilikan, yang mengambil bentuk kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi.
Bila kita saksikan keberagaman rejim di jaman modern hari ini, kita akan temui berbagai bangunan superstruktur yang sangatlah berbeda namun berdiri di atas basis ekonomi yang sama. Misalnya, bandingkan rejim Nazi Jerman dengan rejim sosial demokrasi Inggris. Mereka memiliki superstruktur yang begitu berbeda hingga banyak teoretikus non-Marxis atau eks-Marxis mencoba memformulasikan struktur kelas yang baru atau sistem masyarakat yang sepenuhnya baru. Lantas, mengapa kaum Marxis mengatakan bahwa superstruktur-superstruktur yang berbeda ini mewakili kelas yang sama dan rejim yang sama? Kendati perbedaan dalam superstruktur, basis ekonomi mereka tetap sama.
Bila kita tinjau sejarah masyarakat modern, kita akan menemukan banyak contoh di mana borjuasi terekspropriasi secara politik, namun mereka masihlah kelas yang berkuasa. Trotsky menggambarkan rejim Bonapartis sebagai “kekuasaan telanjang pedang atas masyarakat”, seperti yang juga disebut oleh Marx.
Tengok apa yang terjadi di China setelah Chiang Kai-shek telah meremukkan kelas buruh Shanghai [pada tahun 1927], dengan bantuan preman-preman Shanghai. Kaum bankir ingin menggelar pesta-pesta kehormatan untuknya dan menyanjungnya sebagai pelindung dan penyelamat peradaban.
Tetapi Chiang menginginkan sesuatu yang lebih material daripada sanjungan tuannya. Tanpa banyak basa-basi, dia menjebloskan semua kaum industrialis kaya dan kaum bankir di Shanghai ke penjara, lalu memeras mereka untuk membayar tebusan jutaan perak. Dia telah memenuhi tugasnya untuk mereka dan kini menagih pembayaran. Dia tidak meremukkan kaum buruh Shanghai demi kepentingan kaum kapitalis, tetapi demi kekuasaan dan kekayaan dirinya sendiri serta gerombolan premannya. Namun, para bankir yang mendekam di penjara itu masihlah kelas yang berkuasa di China walaupun mereka tidak memegang kekuasaan politik. Borjuasi China (yang bukanlah Marxis) tentunya meratapi betapa kompleksnya masyarakat kelas, ketika sebagian besar nilai-lebih yang mereka hisap dari buruh harus diserahkan ke anjing penjaga mereka, dan ketika banyak sekali anggota kelas mereka yang mendekam di penjara.
Di bawah kondisi demikian, borjuasi China secara politik diekspropriasi; kekerasan terbuka mendominasi masyarakat. Sebagian besar nilai-lebih dilahap oleh para petinggi militer dan birokrat. Namun, birokrasi ini memiliki kepentingan untuk mempertahankan keberlanjutan eksploitasi kapitalis terhadap buruh. Oleh karenanya, walaupun mereka memeras sebanyak mungkin dari kaum borjuis, mereka tetap mempertahankan kepemilikan pribadi. Inilah mengapa borjuasi tetap merupakan kelas penguasa.
Di sinilah kita temui jawaban bagi orang-orang yang menganggap bahwa merupakan sofisme belaka untuk mengklaim bahwa kelas buruh dapat menjadi kelas penguasa ketika banyak sekali dari mereka yang dipenjara di Siberia. Bila kita tidak mendasarkan analisis kita pada bentuk dasar kepemilikan yang ada dalam masyarakat, kita akan kehilangan kompas Marxis kita. Banyak contoh yang bisa diambil dari sejarah di mana satu lapisan kelas penguasa menyerang lapisan lainnya. Misalnya, dalam Perang Mawar di Inggris, dua faksi baron penguasa praktis saling memusnahkan satu sama lain. Di berbagai masa dalam sejarah, selapisan besar kelas penguasa entah dipenjara atau dieksekusi. Kita hanya perlu melihat bagaimana Hitler memperlakukan oposisi borjuis. Mereka tidak hanya kehilangan properti mereka, tetapi juga nyawa mereka.
Dalam membahas peran negara, pertanyaan paling penting yang harus dijawab dan yang tidak bisa dijawab oleh Cliff adalah: negara harus menjadi instrumen kelas tertentu – kelas mana yang diwakilinya di Rusia dan Eropa Timur? Tidak mungkin negara di sana mewakili kelas kapitalis karena mereka telah diekspropriasi. Tidak mungkin juga mengatakan bahwa negara di sana mewakili kepentingan kelas tani, atau para pengusaha kecil di kota. Di bawah rejim fasis atau Bonapartis, walaupun gerombolan preman ini telah mencekik kelas borjuis, ekonomi secara keseluruhan beroperasi demi kepentingan kelas kapitalis. Pada kelas inilah benalu yang parasitik itu menempel.
Bila birokrasi Soviet tidak mewakili proletariat, seperti yang dikatakan Trotsky, sebagai bentuk khusus Bonapartisme dalam artian mereka membela nasionalisasi alat-alat produksi, perencanaan ekonomi dan monopoli perdagangan luar neger, maka siapa yang diwakili oleh birokrat Stalinis ini? Jawaban Cliff adalah birokrasi ini merupakan kelas penguasa yang baru, kelas kapitalis di Rusia. Tetapi, bila kita mempertimbangkan dengan serius pertanyaan ini, maka kita tahu jawaban Cliff itu salah. Apa yang dia katakan adalah negara adalah suatu kelas. Birokrasi memiliki negara; negara memiliki alat-alat produksi; maka dari itu, birokrasi adalah suatu kelas. Cliff hanya mengelak. Pada dasarnya dia mengatakan negara memiliki negara.
Menurut Lenin, negara:
“ ... selalu merupakan aparatus yang berdiri di luar masyarakat dan terdiri dari sekelompok orang yang okupasi satu-satunya, atau hampir satu-satunya, atau okupasi utamanya, adalah memerintah. Masyarakat terbagi menjadi mereka yang diperintah dan para spesialis dalam memerintah, yaitu mereka yang telah menempatkan dirinya di atas masyarakat dan disebut sebagai penguasa, pejabat pemerintah. Aparatus ini, sekelompok orang yang memerintah orang lain ini, selalu memiliki sarana koersi tertentu, alat kekerasan fisik. Kekerasan atas orang lain ini bisa saja terekspresikan dalam pentungan yang primitif, atau dalam bentuk senjata yang lebih sempurna pada jaman perbudakan, atau dalam bentuk senjata api yang muncul di Abad Pertengahan, atau, akhirnya, dalam bentuk senjata modern, yang pada abad ke-20 merupakan keajaiban teknologi dan didasarkan sepenuhnya pada pencapaian teknologi modern yang paling mutakhir. Metode kekerasannya berubah, tetapi di mana pun ada negara maka ada sekelompok orang yang memerintah, yang memberi perintah, yang mendominasi, dan yang, untuk mempertahankan kekuasaan mereka, memiliki aparatus pemaksa fisik, aparatus kekerasan, dengan persenjataan yang sesuai dengan level teknologi pada jamannya. Dan hanya dengan memeriksa fenomena-fenomena umum ini, dengan bertanya pada diri kita sendiri mengapa tidak ada negara ketika tidak ada kelas, ketika tidak ada yang menghisap dan yang terhisap, dan mengapa negara muncul ketika kelas-kelas muncul – hanya dengan cara ini kita dapat menemukan jawaban yang pasti atas pertanyaan apa itu watak dan signifikansi negara.”
“Negara adalah mesin untuk mempertahankan kekuasaan satu kelas atas kelas lainnya.” (The State. Lenin Collected Works, Volume 29, hal. 477)
Negara pada hakikatnya terdiri dari para birokrat, perwira, jendral, kepala polisi, dsb. Namun, mereka bukanlah kelas; mereka adalah instrumen suatu kelas tertentu, bahkan bila mereka berkonflik dengan kelas tersebut. Mereka sendiri tidak dapat menjadi kelas.
Kita harus bertanya pada Cliff: lapisan birokrasi mana yang memiliki negara? Tidak mungkin semua birokrat, karena birokrasi itu sendiri terbagi secara hierarkis. Pegawai negeri rendahan adalah bagian dari birokrasi, seperti halnya para birokrat besar. Lantas, apakah lapisan kepemimpinan Soviet yang memiliki negara? Ini jelas tidak masuk di akal. Dalam masyarakat kapitalis, atau dalam masyarakat kelas mana pun, tidak peduli bila sebesar apa privilese yang dimiliki petinggi negara, mereka adalah instrumen untuk melindungi kelas penguasa, yang memiliki hubungan langsung dengan alat produksi, dalam artian kepemilikan mereka. Kita tahu siapa yang diwakili oleh Napoleon. Kita tahu siapa yang diwakili oleh Louis Napoleon, Bismarck, Chiang Kai-shek, Hitler, Churchill dan Attlee. Tetapi siapa yang diwakili oleh kaum birokrat: kaum birokrat itu sendiri? Jelas ini keliru. Di bab sebelumnya, kita telah menunjukkan bahwa hubungan antara birokrasi dengan alat-alat produksi adalah hubungan yang parasitik. Ini adalah parasitisme yang sama seperti birokrasi Nazi. Birokrasi bukanlah kategori yang diperlukan dan niscaya bagi moda produksi tertentu. Paling banter, para birokrat memperoleh gaji mandor. Bila mereka memperoleh lebih, ini seperti birokrasi Nazi yang mengonsumsi sebagian nilai-lebih yang dihasilkan oleh buruh. Tetapi mereka bukanlah kelas.
Tak terhitung banyaknya rujukan yang bisa kita berikan untuk menunjukkan bahwa negara kapitalis mensyaratkan kepemilikan pribadi, kepemilikan individual atas alat-alat produksi. Negara adalah aparatus untuk berkuasa; negara sendiri tidak bisa menjadi kelas yang berkuasa. Birokrasi hanyalah bagian dari aparatus negara. Birokrasi mungkin saja ‘memiliki’ negara, dalam artian birokrasi meletakkan dirinya di atas masyarakat dan menjadi relatif independen dari kelas yang secara ekonomi dominan. Ini yang kita saksikan di Nazi Jerman, di mana birokrasi mendikte kepada kapitalis apa yang harus mereka produksi, bagaimana mereka harus memproduksinya, dsb., demi keperluan perang. Begitu pula selama ekonomi perang di Inggris, AS, dan negara-negara lain; negara mendikte kepada kapitalis apa dan bagaimana mereka harus memproduksi. Ini tidak mengubah birokrasi menjadi kelas penguasa. Mengapa? Karena ini dilakukan untuk mempertahankan kepemilikan pribadi.
Cliff berargumen bahwa birokrasi mengelola dan merencanakan industri. Benar. Tetapi, industri siapa yang mereka kelola dan rencanakan? Dalam masyarakat kapitalis, para manajer merencanakan dan mengelola industri milik perusahaan swasta dan trust. Tetapi ini tidak membuat mereka menjadi pemilik perusahaan dan trust tersebut. Birokrasi mengelola seluruh industri. Dalam artian ini, memang benar mereka memiliki lebih banyak kemandirian dari basis ekonominya dibandingkan birokrasi mana pun atau mesin negara mana pun dalam seluruh sejarah umat manusia. Tetapi seperti yang ditekankan Engels, dan kita harus menekankan ini kembali, pada analisa terakhir yang menentukan adalah basis ekonominya. Bila Cliff ingin berargumen bahwa lewat fungsinya sebagai manajer maka kaum birokrat adalah kelas penguasa, maka jelas dia tidak mendefinisikan kelas kapitalis dengan metode Marxis. Dia menyebut birokrasi Rusia sebagai kelas, tetapi dia harus mengembangkan sebuah teori yang menjelaskan kelas macam apa itu.
Negara adalah instrumen kekuasaan kelas, instrumen pemaksa, polisi yang diagungkan. Tetapi polisi bukanlah kelas penguasa. Polisi bisa saja jadi tak terkendali, bisa jadi bandit, tetapi ini tidak mengubah mereka menjadi kelas kapitalis, kelas feodal, ataupun kelas pemilik budak.
Apa yang Terjadi di Eropa Timur
Peristiwa di Eropa Timur dan watak negara-negara yang telah muncul di sana hanya bisa dijelaskan dengan teori Marxis-Leninis mengenai negara. Dan hanya konsepsi Trotsky yang bisa menjelaskan peristiwa-peristiwa di Eropa Timur dari sudut pandang ini.
Pertama, kita harus memahami apa yang terjadi di Eropa Timur ketika Tentara Merah menyerbu masuk. Tidak ada yang dapat menyangkal (bila kita kesampingkan Jerman untuk sementara) bahwa di semua negara Balkan dan Eropa Timur masuknya Tentara Merah ke sana memicu gerakan revolusioner tidak hanya di antara buruh tetapi juga di antara petani. Alasannya terletak pada keseluruhan latar belakang negara-negara tersebut. Sebelum perang, selain Cekoslowakia, kapitalisme di sana sangatlah lemah. Ada kediktatoran feodal-militer-kapitalis yang sedang membusuk, yang rejimnya sama sekali tidak mampu mengembangkan kekuatan produktif lebih lanjut.
Krisis kapitalisme dunia memperburuk situasi di sana, karena kawasan di sana terbelakang dan terpecah-pecah secara artifisial sebagai konsekuensi dari perang dunia pertama. Istilah Balkanisasi datang dari wilayah Eropa ini. Terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil yang lemah, dengan ekonomi agraris yang mendominasi, dengan industri yang sangat rapuh, wilayah ini niscaya menjadi semi-koloni bagi kekuatan-kekuatan imperialis besar. Prancis, Inggris, pada tingkatan tertentu Italia, dan lalu Jerman, menjadi kekuatan yang mendominasi wilayah ini. Melalui hubungan perdagangan, industri Jerman mendominasi perekonomian Eropa Timur dan Balkan yang terbelakang. Di semua negara ini, modal asing memainkan peran penting. Di kebanyakan negara di sana, investasi asing mendominasi industri yang ada, yang jumlahnya sangat kecil.
Dengan okupasi negara-negara ini oleh Hitler, tidak hanya kapital ‘non-Aryan’ yang disita, tetapi kapitalis-kapitalis pribumi juga tersingkir dan digantikan oleh bank-bank dan trust-trust Jerman. Kapital Jerman merebut semua posisi dan sektor ekonomi penting. Kapital pribumi yang tersisa dimiliki oleh kaum kolaborator, yang tunduk pada kapital Jerman.
Rejim-rejim di Eropa Timur dipimpin oleh kaum kolaborator, yang bergantung pada bayonet Jerman untuk menopangnya. Sejak awal, bahkan sebelum perang, dukungan rakyat terhadap rejim-rejim kediktatoran militer-polisi di sana sudah sangat kecil. Selama perang, dukungan ini menguap hilang. Dengan robohnya imperialisme Jerman dan kemenangan Tentara Merah, ada dorongan besar untuk revolusi sosialis. Di Bulgaria misalnya, pada 1944, setelah Tentara Merah menyeberangi perbatasan ke Bulgaria, ada insureksi di Sofia dan kota-kota besar lainnya. Massa mulai mengorganisir soviet-soviet atau komite-komite buruh. Tentara dan kaum tani mengorganisir komite-komite dan buruh merebut pabrik-pabrik.
Gerakan-gerakan serupa terjadi di semua negara Eropa Timur, selain Jerman. Mari kita periksa apa yang terjadi di Cekoslowakia. Di sini juga, masuknya Tentara Merah disusul dengan insureksi di Praha, perebutan pabrik-pabrik oleh buruh dan penyitaan tanah oleh kaum tani. Di sini juga, ada fraternisasi di perbatasan Bohemia dan Moravia antara rakyat Cekoslowakia dan rakyat Jerman-Sudeten.[21]
Elemen-elemen revolusi proletar dengan cepat disusul oleh kontra-revolusi Stalinis. Masalahnya dengan Cliff, dia gagal memisahkan elemen-elemen revolusi proletar ini dari kontra-revolusi Stalinis yang dengan cepat menyusulnya.
Mari kita ambil dua contoh: Bulgaria dan Cekoslowakia. Di Bulgaria, kita saksikan situasi yang telah berulang kali terjadi sepanjang sejarah rakyat pekerja yang tragis. Kekuasaan sudah ada di tangan kelas buruh. Negara borjuis sudah hancur. Mengapa? Pasukan Jerman sudah diusir; para perwira sudah tidak lagi memiliki kendali atas prajuritnya; polisi sudah menghilang; kaum tuan tanah dan kapitalis tidak memiliki kontrol. Ada vakum. Ada periode kekuasaan ganda, di mana massa belumlah cukup sadar untuk menegakkan kekuasaan mereka sendiri, dan borjuasi terlalu lemah untuk memulihkan kembali dominasi mereka.
Ini adalah situasi yang tidak asing bagi kaum Marxis: Rusia 1917, Jerman 1918, Spanyol 1936. Mungkin perbandingan dengan Spanyol akan berguna. Di sini juga massa telah menyita pabrik-pabrik dan tanah di Catalonia dan Aragon. ‘Pemerintahan’ borjuis sudah menggantung di udara. Massa telah sepenuhnya menghancurkan polisi dan tentara. Hanya ada satu angkatan bersenjata: milisi buruh. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan massa adalah mengorganisir soviet atau komite, dan menyingkirkan pemerintahan bayangan yang ada dan merebut kekuasaan.
Apa yang terjadi diketahui dengan cukup baik. Kaum Stalinis justru membentuk koalisi bukan dengan borjuasi tetapi dengan ‘bayangan borjuasi’. Ini karena para pemilik pabrik dan borjuasi telah bergeser ke sisi Franco sebagai konsekuensi dari insureksi massa. Kaum Stalinis melakukan ini dengan tujuan mematahkan revolusi sosialis di Spanyol, karena mereka takut kemenangan revolusi ini akan berdampak di Rusia. Ini juga mereka lakukan karena perhitungan diplomasi internasional mereka; kaum Stalinis ingin menunjukkan kepada imperialisme Inggris dan Prancis bahwa mereka tidak perlu khawatir dengan revolusi di Spanyol. Oleh karena itu, kaum Stalinis perlahan-lahan membantu bayangan tersebut untuk memperoleh substansi.
Perlahan-lahan, mereka membangun kembali angkatan bersenjata kapitalis dan kepolisian kapitalis, di bawah kendali kelas kapitalis. Setelah mereka menunaikan tugas ini, tanah dikembalikan ke tuan tanah dan pabrik-pabrik ke pemilik mereka. Konsekuensinya terlihat pada akhir perang sipil, ketika negara borjuis ini – mesin militer borjuis yang telah mereka bantu bangun – mengorganisir kudeta yang menegakkan kediktatoran militer di wilayah Republik dan langsung melarang Partai Komunis.
Di Bulgaria, seperti halnya di semua negara Eropa Timur lainnya, kaum Stalinis mencapai kesepakatan dengan bayangan borjuasi. Revolusi sosialis telah dimulai dan ada bahaya ini akan dibawa sampai ke kesimpulannya. Tentu saja hal ini ditakuti oleh kaum Stalinis. Tetapi di sisi lain, mereka juga tidak ingin kekuasaan jatuh ke tangan borjuasi. Mereka menggelincirkan revolusi sosialis dengan mengorganisir apa yang disebut Front Tanah Air di Bulgaria, dan mengalihkan gerakan massa dengan slogan-slogan sauvinisme dan anti-Jerman. Fraternisasi dengan rakyat Jerman segera dilarang; soviet-soviet tentara yang telah terbentuk dibubarkan; soviet-soviet buruh dan tani dikebiri. Tetapi perbedaannya dengan Spanyol adalah ini: posisi-posisi kunci dalam apa-yang-disebut koalisi ini tetap ada di tangan kaum Stalinis. Kaum borjuis tidak memiliki kekuasaan. Kaum Stalinis mengambil alih polisi dan tentara. Merekalah yang menyeleksi personel-personel kunci dalam pemerintah. Semua posisi penting dalam administrasi sipil ada di tangan orang-orang yang patuh pada mereka. Di balik tabir persatuan nasional, mereka memusatkan kekuasaan negara di tangan mereka. Mereka telah menciptakan mesin negara seturut model Moskow.
Di Cekoslowakia, prosesnya jelas. Ketika Stalinis masuk ke sana, tidak ada pemerintah. Pasukan Jerman dengan para kolaborator mereka telah melarikan diri. Komite-komite yang dibentuk rakyat pekerja memegang kendali atas semua sektor industri dan tanah. Kaum Stalinis membawa masuk pemerintah Benes[22] dari Moskow. Kekuasaan yang sesungguhnya, posisi-posisi kunci, ada di tangan mereka. Mereka mempertahankan substansinya, dan memberi kaum borjuis kekuasaan bayangan.
Sebagian untuk mematahkan revolusi sosialis, sebagian untuk mencapai kompromi dengan imperialisme Amerika, mereka membiarkan sejumlah sektor ekonomi untuk tetap di tangan swasta. Tetapi kekuatan yang sesungguhnya, yakni badan orang-orang bersenjata, diorganisir oleh mereka dan di bawah kendali mereka. Ini bukanlah mesin negara yang sama seperti sebelumnya. Ini adalah mesin negara yang sepenuhnya baru yang mereka ciptakan.
Untuk menggelincirkan revolusi, kaum Stalinis menggunakan sauvinisme dan mengusir orang Jerman-Sudeten.[23] Pengusiran ini merupakan pukulan besar bagi bangsa Cekoslowakia. Rakyat pekerja awalnya memiliki naluri internasionalis. Laporan-laporan dari Cekoslowakia menunjukkan bahwa pada awalnya ada fraternisasi antara rakyat Cekoslowakia dan rakyat Jerman-Sudeten. Kita lihat bagaimana Cliff mengabaikan elemen kontra-revolusi, aktivitas-aktivitas yang dilakukan birokrasi untuk menghancurkan revolusi.
Tentu saja, upaya kaum Stalinis untuk mempertahankan kompromi mereka dengan kaum borjuis – mari kita ingatkan lagi bahwa kaum Stalinis memegang kendali kekuasaan negara – tidak dapat berlanjut selamanya. Bayangan dapat memperoleh substansi. Upaya borjuasi Amerika untuk memperkuat sisa-sisa kaum borjuis di Eropa Timur dan sektor ekonomi yang mereka kendalikan dengan menggunakan Bantuan Marshal menjadi sinyal bahaya. Dengan cepat birokrasi Stalinis bertindak dan memerintahkan semua negara Eropa Timur untuk menolak Bantuan Marshall. Seluruh sejarah telah menunjukkan kemustahilan mempertahankan dua bentuk kepemilikan yang bertentangan. Walaupun kaum borjuis sangatlah lemah, mereka mulai membangun kekuatan fondasi mereka karena mereka mempertahankan sebagian besar industri ringan di bawah kendali mereka. Antagonisme Amerika Serikat yang semakin tajam, kemustahilan mengandalkan kaum borjuis, ketidakcocokan mereka dengan negara proletar yang kekuasaannya ada di tangan birokrasi, semua ini memaksa birokrasi untuk mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan proses ini. Di sini kita perlu tambahkan, Trotsky melihat perluasan nasionalisasi alat-alat produksi di wilayah-wilayah yang ada di bawah dominasi Rusia sebagai bukti bahwa Rusia adalah negara buruh. Peristiwa-peristiwa Februari yang telah menjadi sorotan dunia menggarisbawahi secara dramatik proses yang berlangsung di semua wilayah yang didominasi oleh kaum Stalinis. Faktor yang menentukan adalah dukungan buruh dan tani atas kebijakan nasionalisasi dan pembagian tanah yang diluncurkan kaum Stalinis. Namun, Cliff hanya bisa melihat bahwa mesin negara yang ada tetap sama, barangkali sebagaimana ketika berada di bawah kekuasaan Jerman. Yang jelas kaum borjuis berharap demikian!
Menurut semua pengamat, kaum Stalinis – karena kebijakan kompromi mereka dan ketidakpuasan massa di pabrik-pabrik – kemungkinan akan kalah dalam pemilu mendatang. Elemen-elemen borjuis tengah memperkuat posisi mereka, dengan mendasarkan diri mereka pada kaum borjuis-kecil di kota-kota dan lapisan-lapisan buruh dan tani yang kecewa. Perlahan-lahan, borjuasi berharap dapat memenangkan kembali kendali atas negara dan memulai kontra-revolusi dengan bantuan imperialisme Anglo-Amerika. Walaupun birokrasi memegang kendali atas mesin negara, kendali ini rapuh karena cara kekuasaan tersebut diperoleh.
Untuk menyelesaikan proses ini, seperti yang telah diramalkan Trotsky, birokrasi terpaksa memobilisasi massa, meskipun ini mereka lakukan dengan hati-hati. Mereka mengeluarkan seruan untuk membentuk Komite-komite Aksi yang secara birokratik dikendalikan dari atas, tetapi masih relatif demokratik di tingkat akar-rumput. Kaum Stalinis mempersenjatai buruh, dengan membentuk milisi-milisi buruh. Antusiasme massa di bawah kondisi seperti ini menjadi jelas. Bahkan buruh-buruh Sosial Demokrat, yang biasanya membenci kaum Stalinis dan tidak mempercayai mereka, berpartisipasi dengan antusias dalam langkah-langkah melawan borjuasi tersebut. Trotsky pernah mengatakan, untuk melawan singa kita harus menggunakan senapan, untuk melawan kutu cukup menggunakan kuku. Dihadapkan dengan aparatus negara Stalinis, dengan gerakan massa sebagai ancaman, borjuasi pun menjadi tidak berdaya.
Namun, terbentuknya Komite-komite Aksi, dipersenjatainya buruh, berarti embrio rejim soviet yang baru sedang mulai terbentuk. Tentu saja, birokrasi dengan cepat menghancurkan kemandirian massa dan membentuk rejim yang totaliter. Pemilu baru langsung digelar menurut pola Moskow, dengan satu daftar calon dan pengawasan ketat.
Dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa ini, Cliff bertanya:
“Lalu apa masa depan Internasional Keempat? Apa justifikasi historisnya? Partai-partai Stalinis memiliki semua keunggulan di atas Internasional Keempat – aparatus negara, organisasi massa, uang, dst. dst. Satu-satunya hal yang tidak mereka miliki adalah ideologi kelas yang internasionalis ...
“Bila revolusi sosial terjadi di negara-negara Eropa Timur tanpa adanya kepemimpinan proletariat revolusioner, kita harus menyimpulkan bahwa dalam revolusi-revolusi sosial di masa depan, seperti halnya di masa lalu, massa akan berjuang tetapi tidak memimpin revolusi ini. Dalam semua revolusi borjuis, bukan borjuasi sendiri yang bertempur, melainkan massa rakyat yang percaya bahwa revolusi tersebut demi kepentingan mereka. Kaum sans-culottes dalam Revolusi Prancis berjuang demi kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan, sementara tujuan sesungguhnya revolusi ini adalah menegakkan kekuasaan borjuasi. Demikianlah ketika borjuasi masih progresif pada saat itu. Dalam perang-perang imperialis yang reaksioner, semakin massa yang jadi umpan meriam tidak mengetahui tujuan perang ini, semakin baik mereka menjadi prajurit. Untuk menganggap bahwa rejim-rejim ‘demokrasi baru’ ini [baca negara-negara Eropa Timur] adalah negara buruh berarti menerima dalam prinsip bahwa revolusi proletar itu, seperti halnya perang borjuis, didasarkan pada penipuan terhadap rakyat. ...
“Bila negara-negara ini adalah negara buruh, lalu buat apa Marxisme? Buat apa Internasional Keempat? Kita hanya akan dilihat oleh massa sebagai petualang, atau paling banter kaum revolusioner yang tidak sabaran, yang perbedaannya dengan kaum Stalinis hanyalah perbedaan taktik belaka.” (Cliff, hal 14-15.)
Cliff mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini pada orang-orang yang salah. Sebenarnya, dia seharusnya bertanya pada dirinya sendiri dan menjawabnya. Bila teorinya benar, maka seluruh teori Marx menjadi Utopia. Cliff berpikir, bila dia menempelkan label ‘kapitalisme negara’ pada fenomena Stalinisme, dia dapat menenangkan hati nuraninya dan mengembalikan peran Internasional Keempat yang telah hilang, dan ini akan memuaskan dirinya. Di sini kita saksikan fetisisme yang dikritik oleh Marx, yang bahkan mempengaruhi gerakan revolusioner: ubah nama sesuatu dan kau dapat mengganti esensinya.
Kita tidak akan mungkin bisa menjelaskan atau menelusuri alur historis perjuangan kelas hari ini tanpa keberadaan dan degenerasi negara buruh di Rusia. Kita hanya dapat menelusuri peristiwa-peristiwa di Eropa Timur dengan menariknya kembali ke Revolusi Oktober 1917. Tidaklah berguna bagi Cliff untuk berargumen bahwa birokrasi memanfaatkan massa di Cekoslowakia, tanpa mengajukan pertanyaan siapa yang dimanfaatkan pada 1917. Bukankah Revolusi Oktober disusul oleh kemenangan Stalinisme? Maksud baik, atau kehendak subjektif kepemimpinan Bolshevik atau kelas buruh, bukanlah faktor yang menentukan. Menurut teori Marx, tidak ada masyarakat yang akan menghilang dari panggung sejarah sebelum ia telah menghabiskan potensi di dalamnya. Bila di depan kita terpampang periode baru kapitalisme negara – dan ini mengalir dari teori Cliff karena tidak akan ada limit ekonomi dalam perkembangan produksi di bawah apa-yang-disebut kapitalisme negara ini – maka berbicara mengenai disintegrasi kapitalisme dunia hanya menjadi celoteh belaka. Kita dapati absurditas sebuah revolusi yang baru: revolusi proletar pada 1917, yang secara organik mengubah ekonomi menjadi ... kapitalisme negara. Kita juga dapati postulat yang sama absurdnya mengenai revolusi di Eropa Timur, di mana seluruh kelas kapitalis telah diekspropriasi untuk lalu mendirikan apa? Kapitalisme! Bila kita berpikir sejenak dengan serius, akan jelas bahwa Cliff tidak mungkin dapat mempertahankan posisinya mengenai Eropa Timur tanpa juga menarik kesimpulan yang sama mengenai Rusia.
Cliff sendiri yang mengatakan bahwa dalam revolusi borjuis rakyatlah yang berjuang dan kaum borjuis memetik buahnya. Rakyat tidak tahu apa yang sedang mereka perjuangkan, tetapi mereka sesungguhnya berjuang demi menegakkan kekuasaan borjuis. Ambil saja Revolusi Prancis. Ideologi revolusi ini dipersiapkan oleh para filsuf Pencerahan seperti Voltaire, Rousseau, dll. Namun, mereka sungguh percaya pada idealisasi masyarakat borjuis. Mereka percaya pada cita-cita kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan yang mereka ajarkan. Seperti yang diketahui dengan baik, dan seperti yang Cliff sendiri kutip dari Marx, Revolusi Prancis bergerak melampaui basis sosialnya. Revolusi ini menghasilkan kediktatoran revolusioner sans-culottes, yang bergerak melampaui batas-batas masyarakat borjuis. Seperti yang Marx jelaskan, ini memungkinkan Revolusi Prancis menuntaskan dalam waktu beberapa bulan apa yang semestinya akan memakan waktu puluhan tahun bila diserahkan pada kaum borjuis. Para pemimpin sayap revolusioner borjuis-kecil yang memegang kediktatoran ini (Robespierre, Danton, dll.) sungguh-sungguh percaya pada doktrin para filsuf Pencerahan dan berusaha mempraktikkannya. Mereka tidak dapat melakukan ini karena mustahil melampaui basis ekonomi masyarakat borjuis. Bila argumen Cliff benar, kita hanya dapat menyimpulkan bahwa hal yang sama terjadi di Rusia seperti halnya di Prancis. Marx adalah nabi kapitalisme negara yang baru. Lenin dan Trotsky adalah Robespierre dan Carnot Revolusi Rusia. Maksud baik Lenin dan Trotsky tidaklah relevan, begitu juga maksud baik para pemimpin revolusi borjuis. Mereka hanya membuka jalan bagi kekuasaan kelas kapitalis-negara yang baru.
Oleh karenanya, bila birokrasi memanfaatkan rakyat Cekoslowakia, dan ini dianggap sebagai bukti bahwa Cekoslowakia adalah kapitalisme negara, maka begitu juga dengan birokrasi Rusia yang memanfaatkan proletariat pada Revolusi 1917. Akan tetapi, teori ini tidak akan dapat memuaskan siapa pun.
Faktanya demikian. Karena Rusia adalah negara buruh dengan segala degenerasinya, birokrasi Rusia mengasimilasi Eropa Timur ke dalam ekonominya dan pada saat yang sama mencekik revolusi sosialis yang saat itu tengah berkembang di sana. Ini berarti, bersamaan dengan revolusi sosialis, mereka juga secara sadar mendorong proses degenerasi birokratik seperti yang terjadi di Rusia. Di Rusia proses degenerasi ini membutuhkan waktu bertahun-tahun, tetapi di Eropa Timur mereka mempercepat proses tersebut. Yang jelas ini: tanpa keberadaan sebuah negara buruh yang cacat seperti Rusia, sebuah negara yang kuat, yang berbatasan langsung atau dekat dengan negara-negara tersebut, perkembangan ini tidak mungkin terjadi. Entah proletariat merebut kekuasaan lewat revolusi yang sehat, dan menyebarkan revolusi tersebut, atau imperialisme akan meremukkannya.
Apakah ini berarti kaum Stalinis telah memenangkan revolusi dan oleh karenanya tidak ada gunanya membangun Internasional Keempat? Sering kali dalam sejarah kita dihadapkan dengan situasi yang kompleks. Misalnya, dalam Revolusi Februari yang menumbangkan Tsar, rakyat lalu jatuh di bawah pengaruh Partai Menshevik dan Sosialis-Revolusioner. Ini berarti, setelah berhasil memenangkan revolusi politik, yakni menumbangkan Tsarisme, rakyat lalu menciptakan rintangan baru di jalannya dan harus membayarnya dengan revolusi kedua, yakni revolusi sosial dalam bentuk Revolusi Oktober. Kenyataan bahwa rakyat telah memenangkan revolusi sosial di Eropa Timur dan lalu revolusi ini segera mengalami degenerasi birokratik di tangan birokrasi Thermidor, ini berarti mereka kini harus membayarnya dengan revolusi kedua – revolusi politik.
Cliff hanya perlu mengajukan pertanyaan ini: apa tugas Internasional Keempat di Rusia? Tugasnya sama seperti di Eropa Timur. Untuk mencapai sosialisme, rakyat harus memiliki kontrol atas administrasi dan negara. Kaum Stalinis tidak akan pernah menyerahkan ini tanpa perlawanan. Ini hanya bisa dicapai dengan meluncurkan revolusi yang baru. Ini hanya bisa dicapai dengan menggulingkan birokrasi di Eropa Timur dan Rusia. Tugas Internasional Keempat sudah jelas: berjuang untuk revolusi politik yang akan menegakkan kembali demokrasi buruh, mendirikan semi-negara, dan peralihan segera ke sosialisme di atas basis kesetaraan. Bentuk kepemilikan tidak akan berubah. Fakta bahwa Cliff menyebut ini revolusi sosial tidaklah mengubah apapun.
Sementara Trotsky menemukan bukti adanya negara buruh dalam perluasan bentuk kepemilikan, Cliff justru menemukan bukti yang sebaliknya.
Cliff mungkin bisa berargumen, bahwa kecuali kelas pekerja memiliki kendali langsung atas negara, negara tersebut tidak bisa disebut negara buruh. Dalam hal ini, dia harus menolak gagasan bahwa pernah ada negara buruh di Rusia, kecuali mungkin selama bulan-bulan pertama. Bahkan di sini kita harus menegaskan kembali bahwa kediktatoran proletariat terwujud lewat lapisan pelopor kelas proletariat, yakni lewat partai proletariat, dan di dalam partai lewat kepemimpinannya. Di bawah kondisi terbaik, kediktatoran proletariat ini akan dijalankan dengan demokrasi seluas-luasnya di dalam negara maupun di dalam partai. Namun, keberadaan kediktatoran itu sendiri, fakta bahwa kita memerlukan kediktatoran untuk mencapai perubahan dalam sistem sosial, sudah merupakan bukti adanya kontradiksi-kontradiksi sosial yang dalam. Kontradiksi-kontradiksi ini, di bawah kondisi historis yang tidak menguntungkan, menemukan refleksinya di dalam negara dan di dalam partai. Partai, seperti halnya negara, tidak dapat secara otomatis dan secara langsung mencerminkan kepentingan kelas yang menjadi basisnya. Bukan tanpa sebab Lenin berpendapat bahwa serikat buruh dapat menjadi faktor yang diperlukan untuk membela buruh dari negara mereka sendiri, dan juga sebagai benteng untuk melindungi negara mereka.
Bila partai kelas buruh (partai sosial demokrat), terutama melalui kepemimpinan mereka, dapat mengalami degenerasi dan gagal mencerminkan kepentingan kelas buruh, mengapa mustahil bagi negara yang dibentuk oleh buruh untuk mengalami degenerasi pula? Mengapa mustahil bagi negara untuk menjadi independen dari kelasnya, dan menjadi parasit yang menghisapnya sementara pada saat yang sama (demi kepentingannya sendiri) mempertahankan bentuk ekonomi baru yang diciptakan oleh revolusi? Seperti yang telah kita tunjukkan sebelumnya, Cliff menarik garis metafisik pada tahun 1928, di mana sebelumnya nilai-lebih tidak dikonsumsi oleh birokrasi dan sesudahnya nilai-lebih dihisap oleh birokrasi. Selain keliru secara faktual, ini adalah metode yang kaku dan tidak-hidup untuk menganalisa fenomena.
Pada kenyataannya, peralihan dari satu bentuk masyarakat ke bentuk lainnya terbukti jauh lebih kompleks daripada yang pernah dibayangkan oleh para pendiri sosialisme ilmiah. Sebagaimana halnya kelas atau formasi sosial lainnya, kelas proletar tidak pernah memiliki privilese di mana mereka niscaya akan menjadi kelas yang dominan lewat proses yang mulus, yang lalu disusul dengan menghilangnya kelas proletariat secara damai, dengan transisi ke sosialisme yang tanpa gejolak. Ini adalah salah satu varian yang memungkinkan. Tetapi degenerasi sosial demokrasi dan negara soviet bukanlah sesuatu yang aksidental. Ini mencerminkan hubungan yang kompleks antara kelas dengan perwakilannya dan negara. Lebih dari sekali dalam sejarah, kelas penguasa (kaum borjuis, kaum feodal, dan kaum pemilik budak) menyesali ini. Dalam kata lain, ini mencerminkan multisiplitas faktor-faktor historis yang merupakan latar belakang dari faktor yang menentukan: ekonomi.
Bandingkan cara pandang Lenin yang komprehensif dengan cara pandang Cliff yang mekanistik. Lenin menekankan lagi dan lagi perlunya mempelajari masa-masa peralihan di jaman-jaman sebelumnya, terutama peralihan dari feodalisme ke kapitalisme, guna memahami hukum peralihan di Rusia. Dia akan menolak konsepsi bahwa negara yang lahir dari Revolusi Oktober harus mengikuti skema yang baku, dan bila tidak maka negara itu bukanlah negara buruh.
Lenin mafhum betul bahwa proletariat dan partainya dan kepemimpinannya tidak memiliki kekuatan ilahi yang dapat memimpin Rusia dengan mulus – tanpa kontradiksi – menuju sosialisme setelah ditumbangkannya kapitalisme. Ini satu-satunya kesimpulan yang mesti mengalir dari kategori-kategori Kantian yang dipaparkan oleh Cliff. Inilah mengapa sedari awal Lenin menekankan bahwa kediktatoran proletariat dapat mengambil bentuk-bentuk yang sangatlah beragam di negara-negara yang berbeda dan di bawah kondisi-kondisi yang berbeda.
Akan tetapi, Lenin menekankan, dalam transisi dari feodalisme ke kapitalisme, kediktatoran borjuis tercermin dalam kediktatoran satu orang. Suatu kelas dapat memerintah melalui kekuasaan pribadi seorang individu. Ex post facto Cliff cukup bersedia menerima konsepsi ini sejauh ini berlaku bagi borjuasi. Tetapi dia berargumen ini mustahil dalam kasus proletariat. Karena kekuasaan satu orang menyiratkan absolutisme, kediktatoran sewenang-wenang yang dianugerahi ke satu individu; sementara kelas penguasa tidak memiliki hak politik, walaupun pada analisa terakhir sang diktator tersebut mewakili kelas penguasa tersebut. Lenin menekankan poin ini untuk menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu kediktatoran proletariat juga dapat diwujudkan melalui kediktatoran satu orang. Tetapi hari ini, dengan pengalaman dari Rusia, Eropa Timur, dan China[24], kita dapat memperdalam pemahaman kita tidak hanya mengenai perkembangan masyarakat di masa kini tetapi juga di masa lalu.
Kediktatoran proletariat dapat diwujudkan melalui kediktatoran satu orang, dan ini menyiratkan terpisahnya negara dari kelas yang diwakilinya. Namun, ini juga berarti aparatus negara ini hampir pasti menjadi independen dari basisnya dan oleh karenanya menjadi sadar akan kepentingannya sendiri. Aparatus negara ini bahkan menjadi bermusuhan dengan dan terasing dari kelas yang ia wakili, sebagaimana yang terjadi di Rusia Stalinis. Ketika kita mempelajari perkembangan masyarakat borjuis, kita melihat bagaimana autokrasi seorang individu, dengan kontradiksi-kontradiksi sosialnya sendiri, dapat melayani kepentingan perkembangan masyarakat tersebut. Ini terlihat jelas dalam kekuasaan Cromwell dan Napoleon. Walaupun kedua orang ini berdiri di atas basis borjuis, kediktatoran ini – dari yang sebelumnya merupakan faktor menguntungkan bagi perkembangan masyarakat kapitalis – pada tahapan tertentu menjadi penghambat bagi perkembangan moda produksi borjuis yang bebas dan sepenuhnya. Namun, kediktatoran ini tidak begitu saja menghilang dengan sendirinya. Di Prancis dan Inggris, ini membutuhkan serangkaian revolusi politik tambahan sebelum autokrasi borjuis ini bisa diganti menjadi demokrasi borjuis. Tanpa demokrasi borjuis, perkembangan kekuatan produktif yang bebas dan sepenuhnya – dalam batasan kapitalisme – akan menjadi mustahil.
Bila ini berlaku untuk evolusi historis kelas borjuis, apalagi kelas proletar di sebuah negara yang terbelakang dan terisolasi, di mana kediktatoran proletariat telah mengalami degenerasi menjadi kediktatoran satu orang.
Agar bisa menempuh jalan ke sosialisme, proletariat membutuhkan sebuah revolusi yang baru, sebuah revolusi politik tambahan, yang akan mengubah negara proletar Bonapartis menjadi demokrasi buruh. Konsepsi ini selaras dengan pengalaman masa lalu. Sebagaimana kapitalisme harus melalui berbagai tahapan yang penuh kontradiksi dan bergejolak (kita masih belum selesai dengan ini, seperti yang disaksikan oleh jaman kita), begitu juga dengan kekuasaan proletariat di Rusia, terutama dalam kondisi historis yang ada hari ini. Demikian juga, melalui proses yang saling memengaruhi, Eropa Timur dan China tengah melalui tahapan Bonapartis ini, yang berarti negara-negara ini membutuhkan revolusi politik yang baru untuk mendirikan demokrasi buruh sebagai prasyarat bagi transisi ke sosialisme.
Penjelasan mengenai degenerasi Stalinis dapat ditemukan dalam hubungan timbal-balik antara kelas dan negaranya di bawah kondisi-kondisi historis tertentu, bukan dalam gagasan mistis bahwa negara buruh, dalam keadaan apa pun, harus selalu merupakan demokrasi buruh yang sempurna atau gagasan transformasi negara menjadi kelas. Dalam jangka panjang, yang akan menentukan adalah faktor ekonomi, sebagaimana dalam masyarakat borjuis, dengan semua gejolak dan bencananya. Kelas buruh, setelah diperkaya oleh pengalaman historis ini dan menimba pelajaran darinya, pada akhirnya akan menumbangkan absolutisme Stalinis dan mengorganisir demokrasi buruh yang sehat pada tingkat yang lebih tinggi. Pada saat itu, negara akan, kurang lebih, menjadi sesuai dengan bentuk ideal yang diformulasikan oleh Marx dan Lenin.
[1] Besi dan darah (Blut und Eisen) adalah judul pidato Otto van Bismarck yang dihantarkannya pada 30 September 1862 mengenai unifikasi Jerman. Dalam pidatonya, dia mengajukan bahwa unifikasi Jerman hanya bisa dicapai lewat perang penaklukan: “posisi Prusia di Jerman tidak akan ditentukan oleh liberalismenya tetapi oleh kekuatannya ... problem besar ini [unifikasi Jerman] tidak akan ditentukan oleh pidato dan keputusan mayoritas, tetapi lewat besi dan darah.”
[2] Trotsky, Leon. Stalin An Appraisal of the Man and His Influence. Wellred Books, 2016, hal. 563.
[3] Trotsky, Stalin 581.
[4] Trotsky, Stalin 729.
[5] Trotsky, Stalin 716.
[6] Trotsky, Stalin 595.
[7] Max Shachtman, aktif dalam gerakan Trotskis di Amerika pada 1930an. Pada 1939-1940 dia membentuk faksi minoritas dalam Socialist Workers Party (seksi Internasional Keempat di AS) karena berseberangan dengan Trotsky mengenai karakterisasi Uni Soviet. Dia menolak gagasan Trotsky bahwa Uni Soviet adalah negara buruh yang mengalami degenerasi, dan berpendapat bahwa Uni Soviet adalah bentuk masyarakat eksploitatif yang baru, yang dia sebut sebagai masyarakat kolektivis birokratik. Di sini, kaum birokrat adalah kelas tipe Pada 1940 dia keluar dari Internasional Keempat. Artikel-artikel polemik Trotsky melawan faksi Shachtman-Burnham dikumpulkan dalam buku In Defence of Marxism.
[8] Dari 1348 hingga 1350, Wabah Hitam menyapu Inggris dan menewaskan kira-kira 30-50% populasi Inggris. Ini menciptakan kondisi kekurangan tenaga kerja, sehingga petani dan pekerja dapat menuntut upah yang lebih tinggi. Untuk mengendalikan upah, pemerintah memberlakukan Statute of Labourers pada 1349 yang menetapkan upah maksimum. Marx membahas ini dalam bab ke-28 Das Kapital:
“Undang-undang yang mengatur kerja upahan (sedari awal, selalu ditujukan untuk menghisap pekerja, dan seiring perkembangannya, selalu menindasnya) dimulai di Inggris dengan Statute of Labourers pada masa kerajaan Edward III, pada tahun 1349. ... Undang-undang ini menetapkan tarif untuk upah di kota dan di desa, untuk kerja borongan atau kerja harian. ... Orang dilarang, dengan ancaman hukuman penjara, membayar upah yang lebih tinggi daripada yang telah ditetapkan oleh undang-undang ini; tetapi orang yang menerima upah yang lebih tinggi akan dihukum jauh lebih keras daripada yang memberinya. [Begitu juga di pasal 18 dan 19 Statute of Apprentices of Elizabeth, yang membayar upah yang lebih tinggi akan dipenjara 10 hari, sementara yang menerima upah yang lebih tinggi akan diganjar 21 hari].”
[9] Lenin, V.I. “Left-wing childishness and the petty-bourgeois mentality.” Lenin Collected Works Vol. 27. Progress Publishers, 1974, hal. 335.
[10] Ini merujuk pada gagasan Engels mengenai melenyapnya negara. Dalam Anti-Duhring, Engels menulis: “Pemerintahan atas manusia diganti dengan administrasi atas hal-ihwal, dan dengan pengarahan proses produksi. Negara tidak ‘dihapus’. Negara melenyap.”
[11] Engels to Conrad Schmidt in Berlin. London, August 5, 1890.
[12] Oposisi Kiri mulai dipecat dari Partai Komunis Uni Soviet pada 1927. Trotsky dipecat pada November 1927, dan semua anggota dan pendukung Oposisi Kiri lainnya dipecat saat Kongres Partai ke-15 pada Desember 1927.
[13] Dalam bab 9 Revolusi yang dikhianati, Trotsky menulis:
“Untuk memahami dengan lebih baik karakter Uni Soviet hari ini, mari kita mengandaikan dua hipotesis mengenai masa depannya. Dalam hipotesis pertama, mari kita asumsikan birokrasi Soviet digulingkan oleh sebuah partai revolusioner yang memiliki semua atribut Bolshevisme lama ... Bersama dengan massa, dan sebagai pemimpin mereka, partai ini akan meluncurkan pembersihan tanpa ampun terhadap aparatus negara. ... Setelah revolusi politik – yakni, setelah menumbangkan birokrasi – proletariat harus memperkenalkan serangkaian reforma yang sangat penting di bidang ekonomi, tetapi mereka tidak perlu meluncurkan revolusi sosial yang baru lagi.”
“Apabila kita mengadopsi hipotesis kedua, yakni partai borjuis menggulingkan kasta penguasa Soviet, maka partai ini akan menemukan cukup banyak pelayan yang siap sedia di antara para birokrat, administrator, teknisi, direktur, sekretaris partai, dan anggota lingkaran penguasa. Pembersihan aparatus negara tentu juga diperlukan dalam kasus ini. Tetapi restorasi kapitalis kemungkinan hanya perlu membersihkan lebih sedikit orang daripada yang harus dilakukan oleh partai revolusioner.”
[14] Pengadilan Moskow adalah serangkaian pengadilan fitnah yang diluncurkan Stalin pada 1936-38 untuk membasmi generasi Bolshevik Tua dan semua oposisi, dengan tuduhan-tuduhan bahwa mereka bersekongkol dengan Hitler, Mikado, imperialis, dll. Para tertuduh ditahan, disiksa, dan ‘diinterogasi’ selama berbulan-bulan sampai mereka setuju untuk memberikan kesaksian palsu. Pada periode yang sama, pembersihan besar-besaran juga diluncurkan tanpa lewat pengadilan, dengan eksekusi-eksekusi ekstra-judisial terhadap semua generasi lama Bolshevik dan siapapun yang dituduh “Trotskis”. Puluhan ribu tahanan “Trotskis” di gulag di Siberia dieksekusi massal.
[15] Pada 1936, rejim Stalin mengganti konstitusi Soviet dengan yang konstitusi yang baru, yang Stalin elu-elukan sebagai konstitusi yang “paling demokratik di seluruh dunia”. Pada kenyataannya, ini menjadi konstitusi yang paling munafik, di mana di atas kertas semua orang bebas tetapi represi dari rejim birokrasi menjadi semakin kejam.
[16] Bolshevik memenangkan mayoritas dalam soviet Petrograd pada akhir Agustus 1917. Sebelum itu, kaum Menshevik dan SR yang memegang mayoritas soviet, dan kebijakan Menshevik dan SR adalah mendukung pemerintahan provisional borjuis. Dengan demikian, de fakto kelas borjuis bisa berkuasa hanya lewat dukungan soviet yang dipimpin oleh Menshevik-SR.
[17] Lenin, V.I. The Question of Nationalities or "Autonomisation", 30 Desember 1922.
[18] Baca Bab VII The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte.
[19] Ted Grant membuat kesalahan di sini, yang dimaksud adalah Theseus.
[20] Dari 1945-48, Partai Komunis Prancis memegang berbagai posisi kabinet dalam Pemerintahan Persatuan Nasional yang dikepalai oleh de Gaulle.
[21] Rakyat Jerman-Sudeten adalah populasi etnik Jerman yang telah bermukim di wilayah perbatasan antara Jerman dan Cekoslowakia sejak abad ke-11, di wilayah yang dikenal dengan nama Bohemia dan Moravia. Populasinya berjumlah sekitar 3 juta. Pada 1938, Hitler mencaplok wilayah tersebut. Setelah kekalahan Jerman dalam Perang Dunia Kedua, awalnya ada persaudaraan antara rakyat Cekoslowakia dan rakyat Jerman-Sudeten. Namun kaum Stalinis meluncurkan kampanye sauvinis dan mendeportasi semua populasi Jerman-Sudeten pada 1946, dalam proses deportasi paksa yang menewaskan puluhan ribu orang.
[22] Edvard Benes, anggota Partai Nasionalis Sosial, adalah presiden Cekoslowakia dari 1935-38. Pada 1941 dia mengepalai pemerintahan provisional Cekoslowakia di London. Pada 1945, dia menjadi presiden pemerintahan provisional Cekoslowakia. Dia mengundurkan diri pada Juni 1948 setelah Partai Komunis Cekoslowakia merebut kekuasaan penuh negara.
[23] Pada 1946, tiga juta rakyat etnik Jerman-Sudeten dideportasi paksa dari wilayah Cekoslowakia di mana mereka telah bermukim sejak abad pertengahan. Kampanye deportasi yang didukung oleh Stalin ini menewaskan antara 25-30 ribu orang.
[24] Ketika artikel ini ditulis Ted Grant pada 1949, Mao Zedong dan Tentara Pembebasan Rakyatnya sudah di atas angin dan Kuomintang sudah dalam posisi terdesak dan pasti kalah. Pada 23 April 1949, ibukota pemerintahan KMT di Nanjing jatuh ke tangan kaum Komunis, dan hanya tinggal menunggu waktu sebelum Partai Komunis Tiongkok mengambil kekuasaan penuh. Ini berarti ditegakkannya kediktatoran proletariat di China, yang akan terwujud lewat kediktatoran Mao.