Pidato Kawan Sudisman

(Anggota Politbiro CC PKI)

Sumber: Bintang Merah Nomor Special Jilid II, Dokumen-Dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai Komunis Indonesia, 7-14 September 1959. Yayasan Pembaruan, Jakarta 1960


Kongres yang mulia!

Kawan-kawan yang tercinta!

Dalam Kongres Nasional ke-VI Partai sekarang ini yang dihadiri oleh para kader terpilih dari Partai Komunis Indonesia yang telah mempertaruhkan segala sesuatunya tanpa mengenal mengaso untuk melahirkan kehidupan yang lebih indah daripada lagu serta musim semi, saya ingin menyambut Laporan Umum Kawan D. N. Aidit yang menekankan bahwa di lapangan politik luar negeri kita harus lebih sungguh-sungguh lagi melanjutkan politik anti-kolonial dan cinta damai. (tepuk tangan). Tugas utama ini mendorong kepada setiap orang Komunis, supaya berjuang untuk memperkokoh perdamaian dan persahabatan antara Rakyat-Rakyat sedunia, dan bersamaan dengan itu memperjuangkan supaya politik luar negeri Indonesia diabdikan untuk memenangkan Revolusi Agustus 1945 sampai ke akar-akarnya. (tepuk tangan). Dwitugas ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Kawan-kawan!

Rakyat Indonesia sudah bertahun-tahun mengalami sendiri bahwa politik luar negeri dari Sutan Syahrir dan Dr. Hatta yang menyerah mentah-mentah kepada imperialisme Belanda dan Amerika telah berhasil menghambat, membendung, dan akhirnya menggagalkan Revolusi Agustus 1945. Revolusi Rakyat Indonesia yang sedang menggelora telah dikhianati dan dibendung oleh politik luar negeri reaksioner dari suatu golongan yang kebetulan berkuasa di dalam Republik Indonesia pada tahun-tahun pertama Revolusi. Kenyataan-kenyataan tersebut harus kita jadikan pelajaran, supaya kita bertambah waspada dalam mencegah jangan sampai pihak yang berkuasa terlepas dari kontrol Rakyat, sehingga kaum soska dapat menyelundupkan lagi politik khianat untuk “berdamai” dan berkapitulasi kepada kaum imperialis. Tepat sekali peringatan Kawan D. N. Aidit yang menyatakan, bahwa “politik bebas” mereka adalah politik bebas memilih imperialisme. Padahal zaman sekarang bukannya lagi zaman mekarnya imperialisme, tetapi zaman melayunya imperialisme, zaman melebarnya kuburan imperialisme. (tepuk tangan). Ini di satu pihak, sedangkan di pihak lain, zaman sekarang dikenal sebagai zaman mengembangbiaknya cita-cita Komunisme yang tanpa mengenal tapal batas berduri dan rintangan berhasil merebut hati Rakyat dengan kekuatannya yang vital dan kebenarannya. (tepuk tangan lama). Karena melihat keunggulan sistem Sosialis terhadap sistem kapitalis, Rakyat pekerja di negeri-negeri kapitalis, negeri-negeri jajahan dan setengah jajahan makin bertambah banyak yang revolusioner. Kaum teoretikus borjuis dan kaum soska sungguh cemas akan nasib majikannya. (tawa). Mereka berusaha keras untuk menutupi kebobrokan kapitalisme dan berusaha membelanya dengan dalil-dalil baru. Pada waktu-waktu belakangan ini banyaklah disebarkan teori-teori dan rencana-rencana baru untuk “memperbaiki” kapitalisme dengan pupur tebal (tawa) yang dipropagandakan sebagai suatu sistem yang mendatangkan kemakmuran. Dalam usaha sakratul maut mereka (tawa) untuk menipu Rakyat pekerja, para teoretikus borjuis dan kaum soska tanpa mengenal malu sedikit pun mengemukakan pikiran-pikiran tentang evolusi kapitalisme ke Sosialisme. Akan tetapi sungguh kasian (tawa), dalil-dalil itu tidak akan membantu seujung rambut pun, sebab walaupun kaum kapitalis dengan kaki tangannya mencoba menghentikan berputarnya roda sejarah, cita-cita Komunisme tetap hidup dan bangun (tepuk tangan lama) untuk berjuang dan bersorak menang. (tepuk tangan lama). Dalam berjuang tidak sedikit kaum Komunis yang mati, Kawan Lenin telah mati, tetapi Lenin hidup pada jutaan manusia-manusia lain. (tepuk tangan lama).

Kongres yang mulia!

Lima tahun yang lampau Kongres Nasional ke-V Partai sudah menganalisa tentang imbangan kekuatan internasional, yang pada pokoknya menjelaskan bahwa kubu Sosialis makin bersatu dan kompak, sedangkan kubu imperialis mengandung penuh kontradiksi di dalamnya sehingga hubungan mereka satu sama lain menjadi makin retak. Dalam Laporan Umum Kawan D. N. Aidit sekarang persoalan tersebut lebih mendalam lagi dikupas dengan perumusan sebagai berikut: “Tidak ada seorang pun dapat membantah bahwa sekarang Sosialisme sedang mengungguli kapitalisme dalam semua hal yang berarti maju, berguna dan baik bagi Rakyat pekerja dan umat manusia. Sekarang tidak lain dari Amerika Serikat sendiri, negara pimpinan daripada kapitalisme, yang sudah memikirkan bagaimana mengejar Uni Soviet dalam sejumlah cabang penting daripada ilmu teknologi”. Pengaruh internasional dari Uni Soviet akan bertambah besar sebagai akibat kemajuan ekonomi yang dicapai oleh Rakyat Uni Soviet dengan memenuhi Plan Tujuh Tahun dan tindakan-tindakan sosial yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu itu. Semua ini akan makin memperbesar daya tarik Uni Soviet yang sedang membangun Komunisme. (tepuk tangan). Perbaikan taraf hidup dan perbaikan syarat-syarat kehidupan Rakyat Uni Soviet secara tidak langsung akan menyebabkan perbaikan keadaan Rakyat pekerja di negeri-negeri kapitalis, karena perbaikan-perbaikan di atas akan menjiwai mereka untuk lebih menyukseskan perjuangannya melawan kaum pengisap (tepuk tangan) dan akan mempermudah perjuangan mereka, sebab kaum kapitalis terpaksa memberikan konsesi-konsesi kepada proletariat dan kaum tani, untuk sedikit banyak memperbaiki keadaan mereka. Mengenai negeri-negeri Sosialis lainnya yang sedang giat membangun Sosialisme dan berbaris bahu-membahu dengan Uni Soviet menuju kejayaan Komunisme, Plan Tujuh Tahun mencantumkan ketentuan-ketentuan untuk mengadakan kerja sama ekonomi timbal-balik secara sekawan yang lebih erat lagi dalam segala lapangan untuk memperluas lebih lanjut dan mengembangkan segala bentuk hubungan ekonomi antar-negara-negara Sosialis. Kerja sama itu disusun atas dasar yang kokoh yaitu ideologi Marxisme-Leninisme, cita-cita bersama Komunisme, saling membantu secara sahabat antara Rakyat-Rakyat negeri-negeri Sosialis dan perjuangan bersama melawan imperialisme, serta membela perdamaian dan sosialisme. Belakangan ini kaum imperialis dengan pembantu setianya, kaum revisionis anti-Tiongkok dalam pers Yugoslavia membual dan berkhayal (tawa) bahwa antara Uni Soviet dan Tiongkok terdapat perselisihan-perselisihan. Bualan kaum revisionis adalah impian kosong di siang bolong (tawa), sebab kenyataannya justru kebalikannya. Hal ini dapat dibuktikan oleh Komunike Tentang Pertemuan Kawan Mau Ce-tung dan Kawan Chrusyov pada tanggal 31 Juli sampai 3 Agustus 1958, yang antara lain mengemukakan, bahwa:

Kedua belah pihak mencapai persetujuan sepenuhnya dalam taksiran mereka akan tugas-tugas yang dihadapi bersama-sama oleh Partai Komunis Tiongkok dan Partai Komunis Uni Soviet. Persatuan yang tak tergoncangkan antara kedua Partai Marxis-Leninis itu selamanya merupakan jaminan yang terpercaya untuk kemenangan usaha kita bersama”. (tepuk tangan).

Partai Komunis Tingkok dan Partai Komunis Uni Soviet akan mencurahkan kegiatannya untuk mempertahankan persatuan yang suci itu, membela kemurnian Marxisme-Leninisme, mempertahankan prinsip-prinsip dalam Deklarasi Moskow yang ditandatangani oleh Partai-Partai Komunis dan Partai-Partai Buruh berbagai negeri, dan berjuang dengan tak mengenal damai terhadap revisionisme, bahaya utama dalam gerakan Komunis, yang ternyata dengan sejelas-jelasnya dalam Program Liga Komunis Yugoslavia”. (tepuk tangan).

“Kedua belah pihak menyatakan kepercayaan yang penuh, bahwa kekuatan perdamaian dan kekuatan Sosialis yang semakin besar itu pasti dapat mengalahkan segala rintangan dalam kemajuannya dan mencapai kemenangan yang jaya”. (tepuk tangan). Inilah persahabatan yang suci-murni, yang kekal dan tak terpatahkan antara Partai-Partai Komunis dan Partai-Partai Buruh sedunia dan antara negeri-negeri Sosialis. (tepuk tangan). Tidak demikian halnya dengan negeri-negeri imperialis yang paling suka menyombongkan pakta-pakta militer dan persekutuan-persekutuan yang mereka bikin. Timbullah pertanyaan, bagaimanakah kenyataan sesungguhnya?

Kawan-kawan!

Kaum imperialis terus-menerus membangga-banggakan NATO-nya sebagai benteng pertahanan “dunia bebas” yang dalam kenyataannya merupakan benteng kertas yang rapuh, karena penuh dengan pertentangan yang tak ada habis-habisnya. (tepuk tangan). Inggris misalnya sangat berkepentingan untuk mempertahankan kedudukannya sebagai negeri kelas satu dan sebagai “pemimpin” Eropa. Untuk mencapai maksud itu Inggris masih membutuhkan bantuan dolar Amerika Serikat, sehingga Inggris harus bersaing dan berusaha menggeser Jerman Barat yang sekarang menempati kedudukan anak emas kesayangan Amerika Serikat. (tawa). Inggris sebagai “junior partner” kedudukannya agak sulit karena Amerika Serikat menyokong sepenuhnya proyek Pasaran Bersama Eropa, dimana Jerman Barat menempati posisi yang kuat dan makin berkuasa di antara enam negeri anggotanya. Hal ini tidak mengherankan karena besarnya penanaman modal Amerika di Jerman Barat. Inggris sendiri tentu saja tidak ingin membuka dan melepaskan kedudukannya yang sangat berpengaruh di pasaran Commonwealth bagi pemasukan barang-barang dan modal Jerman Barat melalui Pasaran Bersama Eropa. Di Eropa dan bahkan di pasaran dalam negeri Inggris sendiri, industri sudah mengalami cukup banyak kesulitan dari saingan barang-barang Jerman Barat. Di Amerika barang-barang Inggris terbentur kepada tembok granit bea cukai yang tinggi. Dari keterangan-keterangan tersebut dapatlah dimengerti mengapa Inggris menolak untuk masuk ke dalam sistem Pasaran Bersama Eropa, dan sebaliknya membikin sistem sendiri, yaitu sistem Daerah Bebas Dagang. Dengan menempuh jalan ini Inggris berusaha keras untuk menjamin keselamatan pasaran yang sekarang sudah dikuasainya. Kecuali itu Inggris, karena kemungkinan ingat akan pengalamannya pada tahun-tahun krisis besar 1930-an, telah mencari jalan sendiri untuk memasuki pasaran kubu Sosialis yang kuat dan stabil. Sudah logis jika tindakan Inggris ini menjadi alasan dari pertentangan baru dengan sekutu-sekutunya. Bersamaan dengan itu borjuasi dagang Inggris menuntut, supaya Inggris meninggalkan politik mengekor kepada Amerika Serikat dan menuntut politik luar negeri yang lebih berani dalam menghadapi Amerika Serikat, terutama dalam soal NATO dan meredakan ketegangan internasional. Apalagi Partai Komunis Inggris yang dengan tidak mengenal susah payah terus-menerus mengajukan politik damainya (tepuk tangan) dengan tuntutan, supaya pembikinan basis-basis roket Amerika di Inggris distop dan diciptakan kemerdekaan sejati Inggris di lapangan militer, ekonomi dan politik dengan jalan pengusiran semua pasukan Amerika dan penghapusan bangunan-bangunan militer Amerika dari tanah Inggris (tepuk tangan lama). Usul-usul Partai Komunis Inggris itu akan sekaligus menetapkan Inggris sebagai bangsa yang tidak tergantung dan yang mampu mempengaruhi bangsa-bangsa lain untuk mengadakan perjanjian internasional menghancurkan sama sekali senjata-senjata nuklir. Persoalan hangat bagi Inggris sekarang sebetulnya bukannya bagaimana dapat melipatgandakan pembikinan bom A dan H, tetapi bagaimana Inggris dapat mengambil andil yang aktif dalam mencegah perang, membebaskan diri dari timbunan bom A dan H dan mematahkan ancaman perang untuk selama-lamanya. Politik damai Partai Komunis Inggris benar-benar segaris dengan hasrat setiap orang yang merindukan perdamaian. (tepuk tangan lama).

Kawan-kawan yang tercinta!

Kembali kepada masalah Pasaran Bersama Eropa dan Daerah Bebas Dagang, saya sepenuhnya menyetujui perumusan Kawan D. N. Aidit yang menegaskan, bahwa: “Pasaran Bersama Eropa maupun Daerah Bebas Dagang, walaupun ada pertentangan-pertentangan di antaranya, kedua-duanya memusuhi gerakan kemerdekaan nasional dan merintangi usaha peredaan ketegangan internasional, karena kedua-duanya tetap bertujuan memonopoli pembelian bahan-bahan mentah dengan harga yang semurah-murahnya dan mempertahankan adanya blok-blok militer”. Sekarang menjadi makin jelas bahwa kedua sistem Pasaran Bersama Eropa dan Daerah Bebas Dagang sama buruknya, karena mempunyai maksud yang sama jeleknya untuk tetap menguasai dan mengurus pasaran dan kekayaan negeri-negeri lain. (tepuk tangan).

Sesudah mengetahui kedudukan Inggris dewasa ini, ada baiknya meninjau kedudukan Perancis yang diperintah oleh sovinis de Gaulle. Perancis sedang memimpikan hendak mengembalikan “kebesaran” Perancis sebagai salah satu negara imperialis yang terkemuka, sebagai negara kelas satu sejajar dengan Amerika Serikat dan Inggris. Untuk mencapai maksud itu, Perancis mengikuti jejak Inggris dengan melaksanakan diplomasi atom di dalam persekutuan NATO. Pada saat pendapat umum sedunia menuntut para wakil Tiga Besar di Konferensi Jenewa yang lalu mencapai persetujuan untuk menghentikan percobaan senjata nuklir, pemerintah Perancis secara membuta-tuli mengaktifkan persiapan-persiapan untuk mencoba bom-bom nuklir mereka di gurun pasir Sahara yang memakan biaya 100.000 juta Franc (suara “waah”), dan pembiayaan seluruh program persenjataan nuklir Perancis sekurang-kurangnya menelan biaya 600.000 juta Franc atau 10% dari seluruh anggaran belanja Perancis. Avontur percobaan bom nuklir Perancis ini terang-terangan merupakan tantangan yang sangat kurang ajar terhadap Rakyat-Rakyat Afrika yang heroik melawan “mission sacre de civilisation” (“perutusan suci untuk peradaban”) dari kaum penjajah dan yang gigih menuntut supaya percobaan ledakan-ledakan bom nuklir dihentikan sama sekali. Rupanya pemerintah Perancis masih ingin sekali memperbesar jumlah bayi tak berdosa menjadi cacat. Perlu diketahui bahwa percobaan-percobaan bom-bom atom yang sudah dilakukan sampai sekarang di dunia, mungkin mempunyai akibat genetika berabad-abad lamanya, dan mungkin menyebabkan  cacat-cacat pada 1.200.000 anak-anak (suara “aduh”). Selanjutnya pemenang hadiah nobel untuk fisika, Dr. Linus Pauling menyatakan, bahwa percobaan-percobaan senjata atom sekarang sudah menyebabkan sejuta peristiwa kanker dan 140.000 peristiwa leukemia. De Gaulle harus menyadari bahwa perintahnya untuk meledakkan sebuah bom atom percobaan akan berarti mengutuk 15.000 bayi (suara “yaah”) yang masih harus dilahirkan; 15.000 bayi tadi akan dilahirkan dengan cacat besar baik jasmani maupun letaknya, dan kalau anak-anak tadi sampai menjadi besar mereka akan menderita seumur hidup. Kalau yang dibidik oleh imperialis Perancis penduduk-penduduk berkulit hitam Afrika, maka bidikan itu tidak kena sasarannya, sebab angin yang akan meniup ke utara tidak dapat dicegah oleh tangan kejam De Gaulle, dan angin itu juga pasti mengotori atmosfir di atas benua Eropa dengan debu radioaktif, terutama daerah-daerah Selatan Italia, Spanyol, dan Perancis sendiri. Dengan peledakan-peledakan nuklir di Sahara itu kaum kolonialis Perancis mengharapkan supaya Rakyat-Rakyat di bekas wilayah kekuasaan Perancis di Afrika mengagumi kebesaran dan wibawa Perancis yang dalam bahasa rakyat biasa berarti rakyat Afrika dipaksa tunduk kepada intimidasi kaum kolonial Perancis. (tawa). Dalam hal ini imperialisme Perancis salah hitung. Afrika sekarang adalah Afrika baru yang dilukiskan oleh Kawan D. N. Aidit sebagai berikut: “Afrika sekarang bukan hanya tempat berdansa kaum imperialis saja, tetapi sudah merupakan cadangan bagi revolusi dunia melawan kapitalisme dan imperialisme. (tepuk tangan). Suara Rakyat Afrika untuk membela hak-hak mereka semakin santer terdengar, memekakkan kuping kaum imperialis”. (tepuk tangan lama).

Kawan-kawan!

Perbuatan tak berhati Perancis tidak berhenti pada percobaan ledakan nuklir di Sahara saja, tetapi juga meluas sampai kepada penganiayaan-penganiayaan biadab selama dipenjara sampai meninggal dunia terhadap Sekretaris Jenderal Gabungan Umum Serikat-Serikat Buruh Aljazair, Kawan Aisat Idir. Tepat sekali tuntutan SOBSI kepada Direktur Jenderal ILO yang mendesak, supaya ILO segera membentuk Komisi Angket Internasional yang terdiri dari Gabungan-gabungan Internasional Serikat-serikat Buruh, untuk menyelidiki keadaan para aktivis SB-SB Aljazair yang berada dalam tahanan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa intimidasi kaum imperialis bukannya menghasilkan bungkamnya rakyat-rakyat sedunia, tetapi malahan sebaliknya menggelorakan kemarahan rakyat-rakyat sedunia dan memperkokoh solidaritas internasional antara rakyat-rakyat sedunia (tepuk tangan). Salah satu bukti kemarahan itu tercermin dalam pesan Presiden Sukarno kepada Konferensi Setia Kawan Asia-Afrika yang menegaskan, bahwa: “jika jumlah negara-negara nuklir dewasa ini akan diperluas, maka akan menjadi lebih sulit untuk mendapatkan suatu penyelesaian bagi jalan buntu, yang dewasa ini dihadapi umat manusia”, dan bahwa “akan bertentangan dengan keadilan yang layak, jika penduduk Afrika akan harus menderita akibat peledakan-peledakan nuklir itu”. (tepuk tangan). Sesuai dengan perasaan rakyat sedunia PKI secara tepat merumuskan tuntutannya dalam Program Tuntutan Partai yang antara lain mengemukakan, supaya percobaan-percobaan, penimbunan dan pembuatan senjata-senjata A dan H dihentikan sama sekali.

Sesuai dengan Program Tuntutan PKI dan Preambul Konstitusi PKI yang menyatakan, bahwa: “PKI berjuang untuk perdamaian dunia dan kerja sama secara damai di antara semua negeri atas dasar kemerdekaan dan persamaan penuh semua rakyat dan nasion. PKI menyokong perjuangan anti-imperialis dari rakyat-rakyat negeri-negeri jajahan dan tergantung”, maka sudah pada tempatnya jika Kongres kita yang bersejarah ini mengambil sikap terhadap kejahatan kriminal imperialis Perancis yang akan mengadakan percobaan ledakan bom nuklir di gurun pasir Sahara, dan memprotes penganiayaan-penganiayaan keji kaum kolonialis Perancis terhadap pemimpin-pemimpin kaum buruh Aljazair. (suara “setuju”). Sikap ini sepenuhnya selaras dengan Deklarasi Partai-Partai Komunis Perancis dan Italia tertanggal 23 Desember 1958 yang antara lain menetapkan, bahwa perjuangan untuk perdamaian, perjuangan menentang ancaman pemusnahan massal oleh senjata-senjata atom dan nuklir dan melawan perang-perang kolonial, aksi-aksi untuk mengurangi persenjataan dan ko-eksistensi secara damai, adalah tetap merupakan tujuan perjuangan objektif dari Partai-partai Komunis, yang sekarang akan dapat berkembang secara efektif jika dihubungkan seerat-eratnya dengan perjuangan untuk menciptakan pembaruan sosial yang demokratis dan melawan rencana-rencana reaksioner. Dalam Deklarasi itu disimpulkan, bahwa Partai-Partai Komunis Perancis dan Italia menyokong sepenuhnya gerakan kemerdekaan dari rakyat-rakyat jajahan terutama di Timur Tengah dan Afrika, memperjuangkan kedaulatan bagi negeri-negeri yang dicengkeram oleh penguasa politik Atlantik, dan mendesak hapusnya diskriminasi. (tepuk tangan). Perancis dan Italia mempunyai kepentingan langsung untuk merealisasi tata tertib internasional baru bagi negeri-negeri di sekitar Lautan Tengah.

Keterangan yang tertib itu sangat tidak disukai oleh Amerika Serikat, sebab imperialis bukan lagi imperialis kalau tidak menggantungkan diri kepada logika imperialis yang reaksioner, yaitu: mengacau, gagal, mengacau lagi, gagal lagi, mengacau lagi (tawa), gagal lagi, dan terus berulang sampai musnah. Ini adalah hukum Marxisme. Kita selalu mengatakan, bahwa imperialisme itu sangat ganas, yang berarti bahwa sifat pokok keganasannya tentu tidak dapat berubah. Kaum imperialis sudah pasti tidak mau meletakkan golok bunuhnya sebelum mati terbunuh. Berlawanan dengan logika imperialis, rakyat pun memiliki logikanya sendiri, yaitu: berjuang, gagal, berjuang lagi, gagal lagi, demikian seterusnya sampai menang. (tepuk tangan). Ini juga hukum Marxisme. Revolusi Rakyat Rusia pernah berjalan menurut hukum ini, revolusi Rakyat Tiongkok juga berjalan menurut hukum ini, dan revolusi Rakyat Indonesia pun sedang dan pasti berjalan menurut hukum ini. (tepuk tangan lama). Oleh karena itu saya menggarisbawahi konstatasi bagian penutup Program PKI yang menandaskan, bahwa tidak meragukan lagi bahwa tujuan PKI akan terlaksana dan sebagainya. Memang setiap Komunis tiada ragu lagi hari ini akan kemenangannya dalam perjuangan yang cukup pedih. (tepuk tangan).

Kawan-kawan!

Logika kaum imperialis, terutama imperialis Amerika, untuk mengacau kita jumpai di mana-mana. Bentuk pengacauan yang khas dari Amerika Serikat ialah membikin ketegangan situasi di mana-mana di dunia ini dengan maksud untuk mengadakan agresi dan memperbudak rakyat berbagai negeri. Amerika mengira bahwa dengan dolarnya bisa membeli dan memaksa menundukkan seluruh dunia dengan tipu muslihat “persekutuan suci” imperialis. Pedoman ini tercermin dalam setiap masalah internasional yang timbul, juga dalam masalah Jerman dan masalah Berlin. Sungguh sangat abnormal, bahwa sekarang sesudah Perang Dunia II hampir 15 tahun berakhir belum dapat ditandatangani suatu perjanjian perdamaian dengan Jerman, dan Berlin Barat masih tetap di bawah kekuasaan tentara pendudukan asing Amerika, Inggris, dan Perancis. Adalah masuk akal jika Uni Soviet mengambil inisiatif untuk mengakhiri peristiwa pincang Eropa ini. Pada tanggal 13 November 1958 Uni Soviet telah mengajukan usul yang terkenal kepada pihak Barat, supaya suka menandatangani suatu perjanjian dengan Jerman dan mengakhiri pendudukan tentara asing di Berlin Barat serta menjadikannya sebagai Kota Bebas. Uni Soviet memberi waktu 6 bulan dan kalau pihak Barat menolak, maka Uni Soviet bebas untuk menandatangani sendiri perjanjian perdamaian tersebut dengan Republik Demokrasi Jerman. Setelah pihak Barat ternyata belum dapat menentukan sikapnya, Uni Soviet memperpanjang batas waktu 6 bulan menjadi 18 bulan. Dan ketika pihak Barat menolak usul yang masuk akal itu, Uni Soviet mengusulkan untuk diadakannya Konferensi Tingkat Tertinggi. Sikap ini sesuai dengan kampanye internasional yang dilancarkan dalam Bulan Perdamaian memperingati genap 10 tahun Gerakan Perdamaian Dunia yang menuntut diadakannya KTT untuk menamatkan “perang dingin”.

Setiap anggota Partai yakin tentang mungkinnya “perang dingin” dihentikan dan diselenggarakan ko-eksistensi secara damai antara negara-negara yang sistem sosialnya berlainan. Setiap anggota Partai harus melakukan segala-galanya untuk memajukan kerja sama antara negara-negara dan untuk membebaskan umat manusia dari bahaya meletusnya perang dunia yang baru. Dalam hal ini penting sekali pernyataan Kawan Chrusyov pada tanggal 3 September yang lalu di depan para perwira lulusan akademi-akademi militer URSS, bahwa: “Suatu pencairan tertentu telah tampak dalam hubungan-hubungan internasional. Batu es ‘perang dingin’ mulai mencair. Pertukaran kunjungan antara kepala-kepala pemerintah Uni Soviet dan Amerika Serikat yang tidak lama lagi akan dilakukan pasti memberikan kemungkinan-kemungkinan besar untuk redanya lebih lanjut ketegangan-ketegangan di dunia dan untuk memperbaiki hubungan Uni Soviet dengan Amerika Serikat. Kita akan berusaha supaya kunjungan-kunjungan itu membawa kegunaan yang setinggi-tingginya kepada rakyat-rakyat dari kedua negara kita, pada usaha memperkokoh perdamaian dunia dan kerja sama internasional”. (tepuk tangan). Setiap orang yang berotak sehat mengharapkan supaya kunjungan tersebut merupakan pendahuluan KTT yang berkewajiban mencari daya upaya menyingkirkan untuk selama-lamanya akibat-akibat Perang Dunia II, mengadakan perjanjian perdamaian dengan Jerman, normalisasi keadaan di Berlin serta di seluruh dunia, dan dengan demikian merupakan permulaan yang baik dalam usaha mengakhiri “perang dingin”.

Kawan-kawan yang tercinta!

Masalah Jerman memang penting, karena Jerman Barat dan Berlin Barat telah dijadikan sumber-sumber provokasi “perang dingin” oleh Amerika Serikat sehingga terus-menerus membahayakan perdamaian di Eropa. Tidak saja negeri-negeri di Eropa, tetapi juga negeri-negeri di Asia-Afrika dan seluruh dunia berkepentingan langsung untuk mencegah jangan sampai perdamaian di Eropa terganggu lagi. Komplotan yang terdiri dari golongan borjuasi besar reaksioner di Jerman Barat bersama-sama dengan kalangan-kalangan yang memerintah di Amerika Serikat dan negara-negara besar Barat lainnya telah memecah kesatuan nasional Rakyat Jerman. Republik Federal Jerman telah didirikan untuk mencegah terbentuknya suatu negara Jerman yang bersatu, cinta damai dan demokratis untuk memperkokoh kedudukan utama Jerman Barat sebagai negeri industri di Eropa Barat dan untuk mempergunakan kekuatan-kekuatan militernya yang kini telah dihidupkan kembali di dalam petualangan-petualangan agresif terhadap negeri-negeri di Eropa Timur, bahkan juga terhadap negara-negara muda di Timur Tengah dan Afrika. Sebagai bukti Menteri Pertahanan Jerman Barat, Strauss, telah mempersiapkan langkah-langkah yang memungkinkan untuk memobilisasi tentara yang berkekuatan satu juta di dalam beberapa hari saja disamping divisi-divisi NATO yang sudah ada. (suara “waah”). Organisasi ini dipimpin oleh Jenderal Hans Joachim von Horn, bekas Kepala Staf Umum dari suatu Corps Tentara yang pernah dianugerahi tanda jasa militer tertinggi Nazi oleh Hitler karena jasa-jasanya dalam persiapan penyerbuan ke negara-negara tetangga Jerman.

Perkembangan dewasa ini di Jerman Barat dengan jelas menunjukkan adanya pemusatan tenaga ekonomi yang senantiasa meningkat di dalam tangan sekelompok kecil orang-orang yang memegang monopoli. Pada tahun 1938, “joint-stock companies” besar dengan modal lebih dari 50 juta Mark merupakan 37,1% dari seluruh modal saham; pada tahun 1958 jumlah itu telah menjadi 62,5%. Bagian modal saham yang dipegang oleh perseroan-perseroan raksasa dengan modal lebih dari 100 juta Mark di dalam masa yang sama itu telah meningkat dari 25,8% menjadi 46%. Pada waktu ini 17 kelompok dari orang-orang yang memegang monopoli mengendalikan 80% dari seluruh modal saham di Jerman Barat. Pada kelompok-kelompok ini kedudukan-kedudukan utama dikuasai oleh tokoh-tokoh keuangan dan perindustrian lama yang telah membantu Hitler merebut kekuasaan, seperti: Otto Ambros (penanggung jawab kamp konsentrasi IG Farben), Karl Krauch, Friedrich Jaehne, Hans Kugler, Fritz Ter Meer (Direktur-direktur Ekonomi Hitler) dan sebagainya, dan sebagainya. Bekas tangan-tangan kanan Hitler telah memegang kembali kedudukan-kedudukan pimpinan di dalam bidang ekonomi. Organisasi-organisasi terpenting kaum monopoli, terutama Gabungan Perserikatan Industri Jerman (Barat) dan Gabungan Perserikatan Himpunan Pengusaha, mempunyai wewenang mengambil putusan-putusan tentang semua undang-undang serta tindakan-tindakan di lapangan perekonomian dan sosial jauh sebelum persoalan-persoalan tersebut diajukan kepada Parlemen Federal. Pemfasisan kembali Republik Federal Jerman erat sekali hubungannya dengan kaum monopolis yang sudah berhasil mempekerjakan 181.202 bekas pejabat-pejabat pemerintahan Hitler dalam aparatur negara Jerman Barat, terutama dalam 339 jawatan-jawatan rahasia imperialis yang dibentuk oleh Amerika Serikat dan yang bertugas melaksanakan kegiatan-kegiatan jahat untuk meruntuhkan Republik Demokrasi Jerman dan negeri-negeri Sosialis lainnya. Kecuali Jawatan Intelijen Federal yang dipimpin oleh bekas jenderal Hitler, Gehlen, masih terdapat beberapa organisasi spionase Amerika Serikat yang terpenting seperti: Central Intelligence Agency, Military Intelligence Service, Military Intelligence Department, Air Intelligence Service, Office of Naval Intelligence, Counter Intelligence Corps, Office of Special Investigation, dan sebagainya. Jawatan-jawatan kasak-kusuk kotor ini yang pas-pus (tawa) membanggakan diri sebagai penyebar ulung peperangan urat syaraf, bertujuan untuk: memperluas propaganda perang dan balas dendam, melawan gerakan anti-persenjataan atom, mengisolasi Republik Demokrasi Jerman dalam melakukan hubungan-hubungan ekonomi serta luar negeri, menyabot usaha meredakan ketegangan internasional dan menghantam gerakan pembebasan nasional bangsa-bangsa.

Kenyataan-kenyataan tersebut di atas menunjukkan, bahwa ciri politik Jerman Barat ialah selalu berdiri di pihak kaum kolonialis apabila terjadi pertikaian antara negara-negara penjajah dengan Rakyat-rakyat Asia-Afrika yang sedang memperjuangkan atau mempertahankan kemerdekaan mereka. Hal-hal ini dibuktikan oleh fakta-fakta sebagai berikut:

  1. Di dalam peperangan kolonial Perancis melawan Rakyat Aljazair terdapat lebih banyak serdadu-serdadu Jerman Barat daripada serdadu-serdadu yang dikirim Hitler ke Spanyol pada tahun 1936 untuk menolong Jenderal Franco. (suara “waah”).

Kassim, seorang anggota Gerakan Pembebasan Nasional Aljazair, dalam suatu pertemuan di Karlshure baru-baru ini menyatakan, bahwa 82% dari seluruh pasukan Legiun Asing Perancis yang bertempur di Aljazair berasal dari Jerman Barat. Pemerintah Jerman Barat memang sudah berkali-kali menyatakan, bahwa Republik Federal Jerman berkepentingan untuk membiarkan puluhan ribu pemuda-pemua Jerman Barat mati berlumuran darah untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan kolonial. Di dalam Parlemen Jerman Barat, Partai Kristen Demokrat, partainya Kanselir Adenauer, dengan terang-terangan menyetujui penggunaan warga negara Jerman Barat dalam perjuangan melawan gerakan pembebasan. Dan sejak bertahun-tahun lamanya rekrutering yang sistematis untuk Legiun Asing Perancis berlangsung di Jerman Barat. Pemuda-pemuda Jerman Barat itu setiap minggu meninggalkan kamp-kamp pangkalan di Strassburg dan Metz untuk diangkut ke Afrika Utara. Selain itu pada permulaan tahun 1958 Perancis telah menerima pinjaman baru yang besar dari Uni Pembayaran Eropa, dalam mana Republik Federal Jerman ikut mengambil bagian dengan modalnya sebesar 100 juta dolar. Inilah sikap sesungguhnya dari kaum neo-imperialis Jerman Barat yang tanpa tedeng aling-aling membeberkan tampang busuknya, tampang Togog kolonial lama.

  1. Menyokong kaum kolonialis Portugis mengenai masalah Goa, dan pers Jerman Barat membenarkan anggapan pemerintah Portugal yang menetapkan “Goa sebagai miliknya yang sah”.
  2. Ketika terjadi agresi Inggris-Perancis terhadap Rakyat Mesir, Pemerintah Jerman Barat memihak kaum agresor imperialis dan menyatakan, bahwa mendapatkan kembali Terusan Suez dengan kekerasan merupakan “sasaran-sasaran politik yang sah”. (tawa).
  3. Pemerintah Jerman Barat telah memberikan sumbangan yang menentukan untuk memperkuat Israel dengan perlengkapan-perlengkapan industri yang berguna bagi peperangan seharga lebih dari 1.557.000.000 Mark, sehingga Israel mampu menyerang Mesir.
  4. Watak kolonialis dari politik luar negeri Jerman Barat sekali lagi dibuktikan oleh bantuan yang langsung diberikan kepada agresi Amerika-Inggris terhadap Libanon dan Yordania dengan jalan menyerahkan kepada penguasa-penguasa militer Amerika pengawasan sepenuhnya terhadap lapangan-lapangan terbang Jerman Barat dari mana pasukan Amerika bertolak untuk melakukan gerakan-gerakannya di Timur Dekat dan pesawat-pesawat Jerman Barat disediakan untuk mengawal pesawat-pesawat transpor Amerika.
  5. Jerman Barat menganggap tindakan Indonesia untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda sebagai ancaman terhadap sistem imperialis pada umumnya, dan dalam hal ini Pemerintah Jerman Barat membantu negeri Belanda, sekutunya dalam NATO. Tuan von Eckard, juru bicara Parlemen Jerman Barat, mengatakan bahwa Pemerintah Federal sangat menyesalkan sekali kejadian-kejadian yang berlangsung di Indonesia. Ditegaskan bahwa Belanda adalah negara yang erat bersekutu dengan Republik Federal (“Der Kurier”, Berlin Barat, 2 Desember 1957) dan pada waktu menandatangani perjanjian Masyarakat Ekonomi Eropa, Pemerintah Federal telah mengakui claim Belanda atas Irian Barat.
  6. Untuk memperkuat claimnya atas daerah-daerah jajahannya yang lama, Pemerintah Federal giat menggali kembali semboyan-semboyan fasis yang lama seperti “Rakyat tanpa ruang”, “keunggulan kebudayaan Jerman”, “semangat pelopor Jerman”, dan sebagainya, dan sebagainya. Malahan pada tanggal 1 Januari 1957, Pemerintah Federal telah membuka kembali “Deutsche Kolonialschule” di Witzenhausen yang lama dengan alasan: “untuk mengikuti aliran zaman”. (tawa). Lembaga ini telah didirikan untuk pertama kalinya dalam tahun 1896 bagi usaha-usaha penjajahan kerajaan Jerman. Cara latihan dalam lembaga ini antara lain telah mengakibatkan pembunuhan atas 150.000 penduduk bekas-bekas koloni Jerman di Afrika. Direktur sekolah ini, Dr. Fischer, ahli urusan jajahan Hitler, menandaskan bahwa tujuan-tujuan latihan di sekolahnya adalah sama seperti waktu yang sudah-sudah dan pemuda-pemuda yang dilatih dalam semangat ini akan tampil di dunia dan mewakili tipe Jerman di sana.

Kawan-kawan!

Fakta-fakta yang diuraikan di atas membuktikan, bahwa Jerman Barat sibuk menyiapkan peperangan baru dengan melalui segala jalan dan menempuh segala jalan untuk mencegah tercapainya keadaan di dalam ketegangan situasi internasional. Tepat sekali Laporan Umum Kawan Aidit yang memperingatkan, bahwa: “Imperialis Jerman yang dihidupkan kembali dengan bantuan kaum monopolis Amerika Serikat merupakan bahaya yang sangat mengganggu keamanan dan perdamaian di Eropa”. Langkah-langkah yang kongkrit perlu kita tempuh untuk menentang bahaya yang mengancam ini, dan Partai berkewajiban membangkitkan perhatian pemerintah dan rakyat terhadap situasi genting di Eropa yang pasti mempengaruhi Indonesia dan mempersatukan segenap kekuatan di dalam perjuangan melawan bahaya yang akut ini. (tepuk tangan).

Kawan-kawan!

Sesudah kita dengan seksama mencurahkan perhatian terhadap masalah-masalah pokok di Eropa, baiklah kita sekarang meninjau situasi negeri-negeri tetangga sekeliling kita. Kemenangan baru dari revolusi nasional Arab di Irak membikin kalang-kabut imperialis Amerika dan mendorong kaum agresor Amerika dan Inggris untuk secara terburu-buru melakukan intervensi bersenjata yang sewenang-wenang dan langsung di Lebanon dan Yordania atas nama melawan “agresi yang tidak langsung”. (tawa). Agresi imperialis Amerika Serikat dan Inggris di Timur Tengah mendapat kecaman dan perlawanan dari semua negeri dan rakyat yang cinta damai di seluruh dunia dan akhirnya agresi imperialis dapat dikalahkan. Ini menggembirakan dan menunjukkan, bahwa pengibaran panji agresif imperialis tidak mungkin menahan reaksi berantai dari gerakan kemerdekaan nasional, malahan sebaliknya mempercepat perkembangan gerakan kemerdekaan nasional yang meluas di Timur Tengah dan Timur Dekat khususnya dan di seluruh dunia pada umumnya. (tepuk tangan). Keganasan imperialisme itu niatnya akan lebih membangkitkan kesadaran rakyat dan sekaligus menyingkap kelemahan-kelemahan imperialisme, sehingga membangkitkan keberanian yang lebih besar kepada rakyat. Hal ini dibuktikan oleh perjuangan gagah berani dari Rakyat Siprus di bawah pimpinan Partai AKEL, Partai Rakyat Pekerja Siprus, untuk membebaskan negeri mereka dari dominasi asing. (tepuk tangan). Contoh lain ialah gerakan solidaritas internasional yang besar memprotes ketidakadilan pengadilan Athena dan menuntut pembebasan pahlawan Acropolis, Manolis Glezos. (tepuk tangan lama). Dari Jepang sampai Venezuela, di Asia, Eropa, dan Amerika, jutaan rakyat melimpahkan kemarahannya terhadap hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan militer Athena. Pemerintah Karamanlis telah mengutuk kaum demokrat Yunani karena ide-ide mereka dan telah melancarkan suatu ofensif terbuka terhadap kaum demokrat. Kaum reaksioner Yunani menjadi tidak berani melaksanakan rencananya semula untuk membunuh Manolis Glezos beserta kawan-kawannya, karena suksesnya kampanye internasional yang meluas untuk pembebasan Manolis Glezos. (tepuk tangan). Sukses ini mendorong kaum demokrat di seluruh dunia untuk melanjutkan perjuangan guna pembebasan terakhir Glezos dengan patriot-patriot Yunani lainnya, sebagai pelaksanaan surat terbuka Glezos kepada semua orang yang berkemauan baik, yang antara lain menyatakan, bahwa: “Pemeriksaan terhadap kami sudah selesai. Akan tetapi di negara dimana dilahirkan demokrasi, demokrasi kini berada dalam belenggu undang-undang fasis (tepuk tangan) pasal 375 dan semua undang-undang perbudakan dari masa peperangan sipil (rezim pembuangan administratif, undang-undang 509), ‘referensi-referensi’ atas pandangan sosial, dan lain-lain. ……… Jadi sahabat-sahabat tercinta, bukan saja pemeriksaan pengadilan yang merupakan tantangan terhadap kepentingan-kepentingan demokratis sedunia, melainkan seluruh sistem tirani di negeri kami yang menyembunyikan diri di belakang wajah demokrasi yang menyedihkan. (tepuk tangan). Kaum demokrat di seluruh dunia, bangkitkan Hellas!” (tepuk tangan).

Kawan-kawan!

Tindakan tak mengenal perikemanusiaan itu tidak hanya menimpa patriot Manolis Glezos di Yunani, tetapi juga sedang diderita oleh Kawan Farjallah Helou, Sekretaris Comite Central Partai Komunis Lebanon. Menurut orang-orang yang melihat sendiri, pembesar-pembesar RAP bagian Siria telah memompakan udara ke dalam perut Kawan Helou sehingga gembung, dan seorang polisi melompat ke atas perutnya (suara “aduh”) yang sudah digembungkan itu, sehingga merusak perut Kawan Helou. Gelombang amarah dunia demokratis meninggi lagi yang menyerukan supaya Farjallah Helou dibebaskan. (tepuk tangan lama). Atas tuntutan massa rakyat banyak, pemerintah Lebanon telah mengajukan beberapa pertanyaan resmi kepada pembesar-pembesar RAP daerah Siria mengenai sebab-sebab penahanan dan nasib Kawan Helou. Disamping itu Partai Komunis Lebanon pada tanggal 4 Juli 1959 telah menyerukan kepada semua Partai-Partai Komunis dan Partai-Partai Buruh seluruh dunia, supaya melantangkan suaranya masing-masing untuk menuntut agar penganiayaan yang membahayakan jiwa Kawan Farjallah Helou segera dihentikan. (tepuk tangan). Surat yang mengharukan itu ditutup dengan seruan: “Aksi bersama yang perkasa dari segenap kekuatan perdamaian, demokrasi, dan kemajuan akan menyelamatkan jiwa Kawan Farjallah Helou dan menolong pembebasannya!” (tepuk tangan). Belum lagi Kawan Helou bebas, dunia demokratis dikejutkan lagi oleh penahanan dan penuntutan di Alexandria terhadap sejumlah besar anggota Dewan Perdamaian Dunia, Dewan Perdamaian Nasional Mesir dari Republik Arab Persatuan dan para peserta Kongres Internasional untuk Perlucutan Senjata dan Kerjasama Internasional di Stockholm. Kekhawatiran dengan sendirinya timbul berhubung dengan lamanya penahanan tanpa pengadilan terhadap sejumlah anggota Dewan Perdamaian Dunia dan partisan-partisan perdamaian di RAP bagian Siria. Tindakan ini merupakan serangan terhadap persatuan kekuatan perdamaian di seluruh dunia, sehingga wajar sekali seruan Dewan Perdamaian Dunia yang mendesak supaya pengejaran terhadap partisan-partisan perdamaian dihentikan dan yang ditahan segera dibebaskan. (tepuk tangan). Politik mengekang dan menindas hak-hak demokratis dari Rakyat-rakyat Mesir dan Siria sama sekali tidak sesuai dengan pernyataan sumpah Presiden Nasser kepada Jenderal Atif el Bisri dari Siria yang menyatakan, bahwa demi kehormatannya ia tidak akan menyingkirkan setiap patriot yang bekerja menentang imperialisme serta akan mengajaknya dalam perjuangan di masa datang. Tetapi omongan Presiden Nasser lain sekali dengan kenyataannya (tawa), pengekangan hak-hak demokrasi makin diperluas dan politik ini merupakan jalan tersesat Nasser yang menjurus ke jabatan tangan dengan kaum imperialis. Tepat sekali canang Kawan Aidit dalam laporannya yang menekankan, bahwa: “Pengalaman Mesir ini memberi pelajaran bahwa tidak mungkin politik luar negeri yang maju dipertahankan, selama politik dalam negerinya anti-demokrasi dan anti-komunis”.

Kawan-kawan!

Baik untuk Manolis Glezos, Farjallah Helou dan para partisan perdamaian Mesir, maupun untuk seluruh umat manusia cinta damai adalah suatu kebahagiaan jika Kongres Partai kita yang bersejarah ini mengambil putusan untuk mengadakan gerakan menuntut pembebasan para demokrat itu. (tepuk tangan).

Tindakan anti-demokratis pemerintah RAP sejalan dengan politik imperialis Amerika yang mengarsiteki (tawa) perjanjian militer dengan Turki, Iran, dan Pakistan. Perjanjian militer tidak akan mungkin dapat menyelesaikan suatu ketegangan di Timur Tengah, sebaliknya akan makin menstabilisasi ketegangan yang sudah ada. Ketegangan yang menggelisahkan Rakyat Iran misalnya, adalah penembakan mati tanpa proses terhadap Kawan Ir. Ali Olowi, anggota Eksekuitf Partai Tudeh, pada tanggal 16 Juni 1959; penewasan terhadap 50 kaum buruh batu bata yang sedang mogok di Teheran; pemberondongan mati belasan kaum buruh tekstil Watan yang sedang mogok di Isfahan; dan yang mengkhawatirkan ialah nasib dari 500 anggota Partai Tudeh serta tahanan-tahanan lainnya dari SB-SB, gerakan pemuda demokratis dan partisan-partisan perdamaian yang meringkuk di berbagai penjara Iran. (suara “yaah”). Kita berkewajiban mengutuk kesewenang-wenangan pemerintah Iran yang melanggar hak-hak asasi manusia. (tepuk tangan). Inilah salah satu hasil jahat dari perjanjian-perjanjian militer AS, Turki, Iran, dan Pakistan.

Padahal negeri-negeri Timur Tengah bukannya membutuhkan perjanjian-perjanjian militer yang mengakibatkan bertambah besarnya anggaran belanja untuk keperluan tentara dan militer, melainkan membutuhkan kemajuan ekonomi, hubungan tetangga baik dengan negara-negara yang berbatasan, konsolidasi kemerdekaan nasionalnya masing-masing, dan penghapusan sisa-sisa serta pengaruh kolonialisme. Ketegangan-ketegangan situasi yang ditimbulkan oleh kaum imperialis dalam rangka politik “tepi perang” pasti dapat diatasi dengan perlawanan yang teguh dan ulet yang telah dibuktikan oleh Rakyat Tiongkok dalam mengatasi masalah Selat Taiwan dan pengacauan reaksioner di Tibet. (tepuk tangan). Pemberontakan kontra-revolusioner dari tuan tanah, tuan budak, dan kaki tangan imperialis di Tibet sudah dapat ditumpas, sehingga jalan bagi pembangunan Tibet yang demokratis dan Sosialis telah dibersihkan dari rintangan. Hari depan gemilang membentang indah di depan Rakyat Tibet. (tepuk tangan).

Sungguh disayangkan bahwa pemberontakan kontra-revolusioner Tibet mendapat pengestu (tawa) dan pembelaan dari Perdana Menteri Nehru, yang baru-baru ini berteriak tentang pelanggaran tapal batas India oleh pasukan-pasukan RRT. Kemudian masalah yang dihebohkan oleh pers imperialis itu terpaksa dibantah oleh Nehru sendiri dengan mengatakan, bahwa berita-berita pers tentang pembuatan pangkalan-pangkalan dan pemusatan pasukan-pasukan RRT di Ladakh (Kasymir) dan dekat tapal batas Sikkim, tidak mengandung kebenaran. (tawa). Sangkalan Nehru itu dikeluarkan sesudah Menteri Luar Negeri RRT, Jenderal Besar Cen Yi menyangkal tuduhan-tuduhan bahwa RRT melanggar batas-batas negara-negara lain, dan diperingatkannya bahwa RRT tidak membolehkan pihak-pihak lain melanggar batas-batasnya. (tepuk tangan). Memang yang benar, ialah India tidak mengakui keadaan belum ditetapkannya garis perbatasan Tiongkok-India dan memperhebat usahanya untuk memberi tekanan terhadap Tiongkok secara militer, diplomasi, dan melalui pendapat umum. Hal ini dengan sendirinya menimbulkan kecurigaan, bahwa India mencoba untuk memaksakan kepada Tiongkok tuntutan-tuntutan sepihaknya mengenai masalah perbatasan dengan jalan:

  1. Pasukan-pasukan India telah menyerbu dan menduduki Shatze, Khinzemane, dan Tamanden, kesemuanya wilayah sah RRT.
  2. Melindungi bandit-bandit pemberontak Tibet di daerah itu.

Sengketa tapal batas sepanjang lebih dari 2000 km itu pasti dapat dipulihkan secara damai antara India-Tiongkok, berdasarkan hubungan-hubungan persahabatan antara Tiongkok dan India yang masing-masing menyandarkan diri kepada 5 prinsip hidup berdampingan secara damai. (tepuk tangan).

Kawan-kawan!

Sesudah gagal di Tibet, kaum imperialis mencetuskan intervensi SEATO-nya yang baru di Laos yang sangat membahayakan perdamaian di Asia Tenggara. Sejak lama Amerika Serikat menghasut kekuatan-kekuatan reaksioner pro-Amerika yang diwakili oleh Sananikone untuk menginjak-injak Persetujuan Jenewa. Amerika secara tidak sah mengirimkan pesawat-pesawat transpor C-47 dari Bangkok, memasukkan sejumlah besar senjata ke Laos dari Filipina dan dengan terang-terangan mengirimkan 82 orang tentara berwarganegara Filipina dari Pangkalan Udara Clark, persis seperti bantuan AS kepada kaum pemberontak “PRRI”-Permesta. Atas petunjuk Amerika, KSAD Laos Rattikul menerangkan, bahwa Laos tergolong dalam lingkungan “pertahanan” blok agresif SEATO, dan menuntut supaya blok agresif tersebut mencampuri peristiwa perbatasan Vietnam-Laos. Juga kongsi “Civil Air Transport” dari Taiwan telah mengangkut bantuan logistik ke daerah-daerah garis belakang tentara kerajaan Laos, sedangkan Misi Militer Laos yang berada di Taiwan telah mengadakan pembicaraan-pembicaraan rahasia tentang kerja sama militer dengan orang-orang Ciang Kai-sek di bawah pengawasan Amerika Serikat. Ini adalah kehancuran dari pembicaraan-pembicaraan dengan blok agresif SEATO, terutama dengan Muangthai. Komplotan ini lebih menggentingkan suasana, dan bertambah gentingnya keadaan di Laos akan menimbulkan kecemasan di semua pihak yang benar-benar berkepentingan dalam terpelihara dan kokohnya perdamaian di Indocina dan Asia Tenggara.

Ketegangan di Laos minta perhatian kita sepenuhnya, dan pemerintah Indonesia supaya melakukan usaha-usaha keras untuk menghentikan intervensi itu, sesuai dengan prinsip-prinsip Bandung dan harapan yang terkandung dalam surat PM Pham van Dong kepada Presiden Sukarno. Komisi Pengawasan di Indocina semestinya harus dipulihkan dan intervensi SEATO harus kita nyatakan stop. Kita harus mendesak supaya Persetujuan-Persetujuan Jenewa dilakukan sepenuhnya dan semua peserta Konferensi Jenewa supaya tidak menangguh-nangguhkan lagi melakukan penyelidikan dan mengambil tindakan-tindakan yang positif untuk memperbaiki situasi di Laos. Tindakan-tindakan demikian tidak bisa tidak akan sesuai dengan tuntutan-tuntutan yang adil dari pendapat umum progresif seluruh dunia, dan menguntungkan masalah memelihara serta mengonsolidasi perdamaian di Asia Tenggara dan di seluruh dunia.

Kawan-kawan!

Asia baru-baru ini telah digoncangkan oleh kesewenang-wenangan pemerintah pusat India yang membubarkan pemerintah pilihan rakyat di negara bagian Kerala yang dipimpin oleh Partai Komunis India. Pelajaran yang dapat diambil, dari peristiwa itu ialah, bahwa oposisi dilantunkan oleh Partai Kongres, Partai Sosialis Praja (soska), Partai Katolik, dan Liga Muslimin di Kerala yang senada dengan oposisi Nasuhi-Saadon yang mencoba membunuh Presiden Sukarno dalam “Peristiwa Cikini” yang terkenal dan menggranat kantor-kantor CC PKI, SOBSI, dan sebagainya. Kaum oposisi tersebut membikin gerombolan-gerombolan teror yang dipersenjatai seperti gerombolan anak-anak muda Kristen dengan diberi nama “Christopher”. Anak-anak ini diperintahkan untuk menyerang dan meneror pemimpin-pemimpin Komunis, kantor-kantor dan rapat-rapat kaum Komunis dan membikin kekacauan dan kegaduhan dalam masyarakat. Dengan adanya oposisi secara kekerasan itu yang membahayakan “ketertiban umum”, maka Pemerintah Kerala harus dibubarkan, padahal golongan yang memerintahkan pembubaran itu sendiri yang mengorganisasi kekacauan dan keributan. Pengalaman Kerala membuktikan bahwa borjuasi tidak mampu mengalahkan pemerintah yang dipimpin oleh Partai Komunis India dengan jalan demokratis parlementer dan konstitusional. (tepuk tangan). Kejadian di Kerala menunjukkan bahwa kaum Komunis senantiasa menjunjung tinggi dan menghormat konstitusi negara, dan untuk sekian kalinya membuktikan bahwa justru kaum borjuis dan bukannya kaum Komunis yang memaksakan dan menggunakan kekerasan. Kaum Komunis dianggap oleh Pemerintah Nehru berdosa karena telah mengadakan pembatalan hak milik tanah dengan maksimum 25 acre, berdosa karena telah dapat mencukupi kebutuhan Rakyat Kerala akan beras (tawa), dan berdosa karena telah membikin UU Pengajaran (tawa) yang menjamin pendidikan demokratis di Kerala. Tuduhan berdosa sudah barang tentu tak beralasan sama sekali, dan rupanya bagi Pemerintah Nehru alasan itu baru sah kalau benar-benar berdosa, seperti ucapan pemimpin Partai Kongres C. M. Stephen, bahwa “Today there is only one slogan. The Government must go”. (“Sekarang hanya ada satu semboyan. Pemerintah harus turun panggung”). Tetapi Rakyat Kerala cukup mengenal Partainya, dan jika benar akan diadakan pemilihan umum lagi yang demokratis, Rakyat Kerala tentu akan memaksa PM Nehru merealisasi omongannya dalam Konferensi persnya tanggal 7 Agustus 1959, yang berisi bahwa: “If the Communist Party wins the election they will be entitled to fruit there of in the sense of forming the government”. (“Jika Partai Komunis memenangkan pemilihan umum mereka berhak untuk ikut dalam pembentukan pemerintahan”), asalkan tidak ditertibkan kembali model Kerala lama. Kawan Aidit menyimpulkan tentang pengalaman Kerala sebagai berikut: “Dengan pembubaran pemerintah Kerala kaum Komunis di seluruh dunia dipermudah dalam memberi contoh dari suatu kebenaran klasik, yaitu bahwa kaum borjuis akan melemparkan jauh-jauh demokrasi, melemparkan jauh-jauh UUD, jika demokrasi dan UUD merugikan kepentingan mereka. Satu bantuan yang ada juga gunanya dari kaum borjuis reaksioner India untuk pendidikan kader-kader revolusioner!

Kawan-kawan yang tercinta,

Masalah yang tidak kalah pentingnya daripada Kerala yang perlu kita mendalaminya, ialah masalah perkembangan Jepang yang oleh Kawan Aidit dalam laporannya ditandaskan sebagai berikut, “Rakyat Indonesia sudah seharusnya dengan teliti memperhatikan Jepang yang berada di bawah kekuasaan AS dan kaum monopolis Jepang sendiri”. Pada saat dunia sedang bergeser setingkat demi setingkat dari “politik kekuatan” dan “politik tepi perang” ke politik berunding, ke politik ko-eksistensi secara damai, Pemerintah Kishi telah mengambil langkah-langkah untuk membarui “Perjanjian Keamanan” Jepang-Amerika yang pasti akan menyeret Jepang ke dalam persiapan perang nuklir. Diteruskannya kontak-kontak militer antara Jepang dan Amerika bermaksud untuk mencegah dipulihkannya hubungan diplomatik dan ekonomi Jepang dengan RRT, untuk memperkokoh persatuan anti-Komunis serta menindas kekuatan-kekuatan demokratis di dalam negeri, untuk menjadikan Jepang sebagai pangkalan nuklir Amerika dan untuk memperlengkapi Jepang dengan senjata nuklir. Sesungguhnya Rakyat-rakyat Asia khususnya Indonesia, yang sudah banyak menderita agresi dan penindasan militerisme Jepang semasa Perang Dunia II, mengharap supaya setelah Perang Dunia II berakhir, Jepang memperoleh kemerdekaan nasional yang penuh, mendirikan sistem demokrasinya sendiri dan mengembangkan ekonomi dan kebudayaan nasionalnya sendiri. Tetapi harapan itu sampai sekarang ternyata sia-sia, karena Pemerintah Nobusuke Kishi telah membenamkan diri dalam pelukan tentara pendudukan AS. (tawa). Kepatuhan di luar batas dari Kishi kepada AS di lapangan ekonomi diperburuk oleh pinjaman-pinjaman dari AS yang berjumlah 2.100 juta dolar, sedangkan penanaman kapital perseorangan AS di Jepang berjumlah 80.000 juta Yen. Ini membuktikan, bahwa walaupun Jepang merupakan negeri monopoli yang berkembang, ia masih berada dalam setengah pendudukan dan terikat kepada imperialisme Amerika, yang secara tidak sah menduduki Okinawa dan Bonin dan menjalankan kekuasaan kolonialnya. Ekonomi Jepang yang bersandar kepada AS ini tidak mendatangkan sesuatu kebaikan terbukti bahwa jumlah penganggur menjadi sangat banyak dan upah jam-jaman buruh Jepang hanyalah sepersepuluh upah buruh AS, seperenam upah buruh Inggris, separuh upah buruh Jerman Barat dan Perancis serta dua pertiga upah buruh Italia. Keadaan yang buruk ini disebabkan karena anggaran belanja pemerintah Kishi lebih mengutamakan kepentingan pertahanan, yaitu untuk tahun fiskal 1959 berjumlah 136.040 juta Yen yang berarti kenaikan 15.980 juta Yen kalau dibandingkan dengan tahun fiskal 1958. (suara “waah”). (“The Japan Times”, 24 Juni 1959).

Dengan bersandar kepada AS, pemerintah Kishi menempuh jalan buntu, jalan militerisme. Hal ini dapat dibuktikan oleh makin besarnya Angkatan Perang Jepang. Dalam bulan Mei 1952 kekuatan Angkatan Darat Jepang baru 75.000 orang dan Angkatan Lautnya 7.500 orang, tetapi sekarang sudah meningkat sangat tinggi, dengan perincian sebagai berikut: Angkatan Darat kekuatannya 170.000 orang dengan 770 tank (suara “waah”); Angkatan Laut memiliki 405 kapal dengan tonase 100.000 ton dan 200 pesawat terbang; dan Angkatan Udaranya mempunyai personil 37.600 orang dengan 1.060 pesawat terbang. Kekuatan Angkatan Perang Jepang tersebut masih dikatakan belum cukup kuat oleh Kishi dan akan diperbesar lagi dalam rangka Plan Lima Tahun Pembangunan Pertahanan Jepang dari tahun 1960-1965. (“The Japan Times, 11 Juli 1959”). Sebagai taraf permulaan dari plan bakaronya (tawa), maskapai-maskapai besar seperti Mitsubishi, Fuji, dan Kawasaki telah memproduksi beberapa jenis peluru kendali. Kegiatan-kegiatan haus darah dari kalangan-kalangan industri perang Jepang ini mencerminkan politik pemerintah Kishi, politik militerisasi yang mendapat bantuan AS untuk membentuk kembali “Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya” yang berarti “romusha”, makan “bekicot” dan pakaian “goni”. Kishi rupanya sedang melamun dengan menumpang perahu AS yang sedang tenggelam (tawa) karena hantaman prahara kemarahan rakyat sedunia termasuk Rakyat Jepang sendiri terhadap agresi AS. (tepuk tangan). Seluruh masyarakat demokratis Jepang di bawah pimpinan Partai Komunis Jepang sedang melancarkan gerakan protes yang luas menentang pembaruan “Perjanjian Keamanan” Jepang-Amerika dan dengan sengit melawan diperkokohnya persekutuan militer dengan AS. Walaupun dalam perjalanan maju ini Rakyat Jepang masih akan menjumpai banyak kesukaran, tetapi Rakyat Jepang yang patriotik pasti dapat mengalahkan segala serangan kaum reaksioner AS dan kaum neo-militeris Jepang. (tepuk tangan). Perhebat aksi-aksi untuk merealisasi Program Tuntutan Partai yang berbunyi: “Lawan remiliterisasi Jepang yang membahayakan keamanan Indonesia serta perdamaian di Asia dan Pasifik”. (tepuk tangan lama).

Kongres yang mulia!

Dari seluruh uraian di atas jelaslah, bahwa kekuatan-kekuatan reaksioner di negeri-negeri seluruh dunia sesudah Perang Dunia II berakhir, bersandar kepada imperialisme Amerika Serikat yang tidak panjang lagi umurnya sebab selalu berbuat jahat, memupuk kekuatan reaksioner anti-rakyat di berbagai negeri, dan mengancam perdamaian dengan perang nuklir. Maka itu penting sekali bagi setiap Komunis untuk menunaikan tugas berjuang memperkokoh perdamaian dan persahabatan antara rakyat-rakyat sedunia dalam melaksanakan pesan Kawan Aidit yang dinyatakan dalam Laporan Umumnya, yaitu sebagai berikut: “Partai harus merumuskan politik luar negerinya yang mampu menghadapi musuh internasional Rakyat Indonesia yang paling berbahaya, yaitu imperialisme AS” dan “Karena sudah ada front internasional anti-kolonial dan cinta damai yang kuat, penguasaan imperialis secara lama sudah tidak dimungkinkan lagi”. (tepuk tangan lama).

Kawan-kawan yang tercinta!

Untuk dapat melaksanakan tugas itu secara baik penting sekali kawan-kawan mengikuti dengan tertib tinjauan luar negeri “Harian Rakyat”, dan memberikan saran-saran serta kritik-kritik kepada redaksinya yang bersangkutan. Mengerti situasi luar negeri akan membantu kita dalam menjalankan kewajiban Partai sehari-hari, karena tugas-tugas nasional Partai tidak dapat dipisahkan dari tugas-tugas internasional Partai, dan memelihara semangat serta jiwa patriotisme adalah satu dengan memelihara semangat serta jiwa internasionalisme proletar. (tepuk tangan). Kewajiban Ruangan Tinjauan Luar Negeri “Harian Rakyat” tidak hanya memberikan informasi soal situasi internasional saja, tetapi sekaligus berusaha supaya dapat menggerakkan massa untuk aksi-aksi solidaritas internasional terhadap salah satu peristiwa penting di dunia. Memang berat melaksanakan tugas untuk rajin membaca, belajar dan menyusun aksi-aksi, tetapi asalkan kita bekerja dengan tekun pasti sukses. (tepuk tangan). Kebenaran ini terukir dalam sajak Kawan Karl Marx yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:

 

Kita pertaruhkan segala

 

Kita pertaruhkan segala,

jangan mengaso, jangan mengaso

jangan membungkam, jangan bermasa bodoh,

tak berhasrat tak berbuat sedikit jua.

 

Asalkan tak bermuram-durja,

gemetar menghindari tindasan hina,

karena rindu serta damba

dan perbuatan, tetap pada kita! (tepuk tangan).

 

Kongres yang mulia!

Untuk demokrasi dan Kabinet Gotong-Royong marilah kita pertaruhkan segala tanpa kenal mengaso! (tepuk tangan lama).

Untuk kepentingan Partai janganlah bermasa bodoh! (tepuk tangan lama).

Hidup Partai Komunis Indonesia, sinar harapan baru Rakyat Pekerja Indonesia! (“Hidup PKI!”, tepuk tangan lama).

Hidup Marxisme-Leninisme, teori revolusioner yang tak terkakan! (“Hidup PKI!”, tepuk tangan lama).

Hidup perdamaian dunia yang kekal abadi! (hadirin berdiri, tepuk tangan lama).