Pidato Kawan Wikana

(Jogjakarta)

Sumber: Bintang Merah Nomor Special Jilid II, Dokumen-Dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai Komunis Indonesia, 7-14 September 1959. Yayasan Pembaruan, Jakarta 1960


Kawan-kawan pimpinan dan

Kawan-kawan hadirin lainnya.

Ketika rancangan Laporan CC ditawarkan kepada seluruh masyarakat, saya masih dalam badan kolektif fraksi P.K.I. dalam Konstituante. Satu-satunya badan kolektif di mana saya ada. Badan ini tidak mengadakan diskusi tentang rancangan Laporan tersebut. Sampai bubarnya Konstituante dan bubarnya fraksi.

Mengingat hal di atas, dan mengingat volume, luas dan padatnya Laporan, saya sudah merasa kecil untuk mengemukakan pendapat saya terhadap Laporan itu.

Meskipun demikian, saya berusaha sekerasnya mempelajari Laporan itu.

Didorong oleh keyakinan, bahwa Laporan ini akan menjadi pedoman kerja dan pedoman perjuangan berjuta Rakyat Indonesia. Dan pula, sesedikit-sedikit saya dapat menguasai persoalan yang menjadi isi Laporan, pasti sangat berharga bagi saya, sebagai bekal dan senjata dalam hidup dan perjuangan saya sebagai orang Komunis, sebagai manusia. (tepuk tangan).

Kawan-kawan.

Dalam pengantar ke Laporan CC Kawan Aidit menyatakan, bahwa regu-regu kerja bakti sangat penting untuk dikembangkan sesudah Kongres.

Saya sepenuhnya menyokong pendapat itu. Kerja bakti , selain akan mengeratkan hubungan Partai dengan massa, selain memperbesar amal kepada rakyat, selain mendorong maju kesenian rakyat, selain meluaskan anggota dan organisasi Partai serta menggiatkan pendidikan dalam Partai, selain dan selebihnya dari semua itu, khusus dalam pendidikan dalam Partai, Kerja bakti itu akan melatih setiap anggota Partai, setiap oknum dalam Partai, bekerja untuk masyarakat, untuk rakyat dan untuk Partai, di bawah slogan yang dalam bahasa Jawa berbunyi: sepi ing pamrih, rame ing gawe. Inilah Kerja bakti. (tepuktangan). Lebih meluas dan mendalam, dan lebih merata Kerja bakti, kerja sepi ing pamrih rame ing gawe itu. Kerja bakti dengan huruf-huruf besar ini, lebih menguntungkan bagi Masyarakat, Rakyat, Partai dan oknumnya sendiri.

Kawan-kawan.

Dalam pengantar yang saya sebut tadi, Kawan Aidit mengajak kita mengheningkan cipta bagi putra-putra terbaik dari tanah air dan pahlawan-pahlawan yang tercinta, ajakan sebagai salah satu segi penyimpulan pada uraian yang singkat-padat tentang perjuangan dan kepahlawanan putra-putra umat manusia yang terbaik itu.

Andaikata saya menguasai palet dan kanvas, atau menguasai piano dan biola, betapa menjiwainya perjuangan dan kepahlawanan itu, untuk karya-karya yang besar. Akan tetapi saya sedih, karena saya tak mampu melukis atau menyusun lagu. Tetapi saya girang juga, karena dalam barisan kita terdapat seniman-seniman, yang selain dapat menyumbangkan tenaganya pada Kongres kita ini, juga akan dapat memperkaya khazanah seni Indonesia dan seni Komunis dengan lagu-lagu dan lukisan-lukisan yang dijiwai kepahlawanan putra-putra umat manusia, yang Kawan Aidit ajak kita semua untuk menghormatinya. (tepuktangan).

Saya kemukakan hal ini karena, pertama, saya yakin akan kemampuan kawan-kawan seniman kita, kedua, karena menurut hemat saya, khazanah yang demikian akan menambah kesatuan jiwa kita dengan pahlawan-pahlawan itu, dan last but not least, khazanah itu, khazanah demikian pasti dapat membantu memelihara jiwa kepahlawanan itu. Menurut hemat saya semuanya itu akan tetap dibutuhkan dalam perjuangan kita selanjutnya.

Kawan-kawan.

Masih tetap dalam bidang pengantar ke Laporan, mengenai tugas-tugas kita selanjutnya saya sepenuhnya mendukung penjelasan yang berbunji:

“Sekarang kita menghadapi pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat. Makin bertambah besar kepercayaan yang diberikan oleh rakyat kepada Partai, makin berat kewajiban dan tanggung jawab yang dipikul oleh tiap-tiap anggota Partai. Persoalan-persoalan yang dihadapi Partai makin pelik.

“Di lapangan politik luar negeri kita harus lebih sungguh-sungguh lagi melanjutkan politik anti-kolonial dan cinta-damai, sedangkan di lapangan politik dalam negeri kita harus terus memperjuangkan supaya lebih banyak hak-hak politik berpindah ke tangan rakyat pekerja.” Demikian Kawan Aidit dalam pengantar Laporan.

Menurut pendapat saya peringatan dan canang ini amat penting sekali kita goreskan sekuat-kuatnya dalam hati, otak dan pekerjaan kita.

Kita goreskan anti-kolonialisme, cinta damai dan setiakawan internasional proletar, kita goreskan patriotisme, kita goreskan semboyan: pertahankan yang ada dan perjuangkan supaya lebih banyak lagi hak-hak politik berpindah ke tangan rakyat pekerja. (tepuk tangan).

Selanjutnya saya sepenuhnya menyokong dan menyetujui dua tugas pokok Partai, 4 semboyan pokok dan tujuan pokok dari Kongres Nasional Ke-VI Partai.

Kawan-kawan.

Dibatasi oleh keadaan yang saya kemukakan pada permulaan sambutan ini, saya ingin mengakhirinya dengan meminjam istilah-istilah Kawan Aidit:

Mari kita berjalan dengan dua kaki. (tepuk tangan)