Pidato Kawan Agam Wispi

(Redaktur Kebudayaan "Harian Rakyat")

Sumber: Bintang Merah Nomor Special Jilid II, Dokumen-Dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai Komunis Indonesia, 7-14 September 1959. Yayasan Pembaruan, Jakarta 1960


Kawan-kawan presidium yang tercinta, hadirin yang berbahagia.

Rasanya tidak adalah orang yang lebih berbahagia pada waktu ini selain kita, orang Komunis, yang telah berkumpul, banting otak dan berbicara bukan hanya untuk kepentingan orang Komunis yang satu setengah juta itu sendiri, tapi untuk kebebasan seluruh rakyat pekerja dan untuk kemerdekaan tanah airnya yang penuh. Dan dengan rasa bahagia ini juga saya menyampaikan salam selamat para seniman yang maju kepada pimpinan Comite Central Partai yang baru terpilih dan yang senantiasa segar itu.

Saya menyetujui sepenuhnya Laporan Umum yang telah disampaikan Kawan Aidit, Perubahan Konstitusi oleh Kawan Lukman, dan Perubahan Program oleh Kawan Njoto. Sebagai penyair saya diperkaya oleh apa-apa yang kawan-kawan semua bicarakan di sini, suatu hal yang tidak mungkin ada pada seniman borjuis, bahwa seorang penyair, seorang pelukis, seorang pematung, seorang penari, seorang kritikus sastra dan kesenian diperkaya oleh pejuang-pejuang rakyatnya sendiri, Rakyat Indonesia yang berjuang bersama simpati rakyat sedunia atas perjuangan heroiknya.

Kaum intelektual dan budayawan borjuis begitu sering bicara dengan deretan istilah “politik, ekonomi dan sosial” yang diartikan secara remang-remang untuk tidak mengatakan “main sunglap”. Mereka sok dengan istilah “politik”, tapi ketakutan seniman borjuis ini akan politik sungguh-sungguh menggelikan, seolah-olah mereka hidup dalam peti besi. Padahal jika mereka akan ke luar negeri mereka akan berhadapan dengan soal paspor dan pajak yang memualkan, padahal sekian persen dari honorarium karya-karyanya dimakan pajak, sekian persen lagi dikuras kemiskinan moral dan materiil: mulai dari rokok ketengan dan majalah kebudayaan yang nafasnya senen-kemis sampai kepada pabrik mimpi MGM dan Hollywood. Mereka takut politik, dan mereka dimakan politik. Mereka menderetkan istilah “politik, ekonomi dan sosial”, kita berkata “politik, ekonomi dan kebudayaan”. Mereka begitu ketakutan akan politik, kita berkata (sebagaimana telah disimpulkan secara tepat dalam Kongres Lekra baru-baru ini), bahwa “Politik adalah panglima”.

Jelas bagi kita bahwa Partai kita menempatkan kebudayaan tidak kurang pentingnya  daripada lainnya, bahkan saya bisa katakan: Partai membuka jalan selebar-lebarnya bagi perkembangan kebudayaan di tanah air kita. Kebudayaan bagi kaum borjuis bukanlah untuk membangkitkan rakyat kita untuk membebaskan dirinya dan mengabadikan heroismenya, tapi sekedar semacam buku dibaca melepas iseng atau semacam parfum karena di kamar makan digantungkan lukisan “mooi Indie”, atau di atas meja bisa dipacakkan Marylin Monroe yang provokatif.

Mereka tidak kritis terhadap kebudayaan asing yang meracuni muda-muda kita dengan buku-film-musik dan tari cabul yang dimasukkan importir-importir kebudayaan kita. Mereka buta terhadap kekayaan terpendam pada rakyatnya sendiri, kesenian yang begitu banyak ragam warna-warni, kebudayaan yang penjajahan 350 tahun pun tidak mampu menghancurkannya. Siapakah yang lebih patriotik: kaum borjuis yang begitu keranjingan bicara soal tanah air tapi membiarkan rakyat diperas modal asing atau kaum tani yang bangkit berlawan karena tanah dan air saja dia tidak

miliki? Saya teringat ucapan Nj. Simorangkir pada “Gelanggang Buku ke-II 1959” di Jakarta ini tentang intelektual-intelektual kita yang begitu lantam bisa menanyakan buku “Dr. Zivago” yang jelek itu, tapi tidak kenal siapa Abdul Muis dan Amir Hamzah...... Kita malah jadi bertanya apakah sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman yang sezaman dengan mereka sendiri sekarang mereka kenal agak baik?

Pada waktu ini, ketika kita semua dibanggakan oleh peluncuran roket kosmos Soviet ke bulan, kita bisa katakan, bahwa kata “nasional” dan “tanah air” (apalagi rakyat), lebih padat dalam diri tiap Komunis, karena dia dipadu dengan solidaritas yang dalam terhadap perjuangan rakyat negeri lainnya. Kepadatan ini tidak saja seperti yang dikupas oleh Kawan Karel Supit tentang masalah suku bangsa, tapi juga di lapangan kebudayaan tentu, karena di tiap sudut di mana Partai ada dan Komunis ada, maka kebudayaan di daerah itu makin berkembang pesat, makin indah, tapi juga makin gigih melawan kebudayaan imperialis. Kita lihatlah contoh yang paling dekat: kegiatan kesenian di segala bidang menjelang Kongres Nasional ke-VI ini saja.

Mengapa kawan-kawan? Karena para seniman kita yang bekerja dan belajar sebaik mungkin itu telah mendapatkan jalannya yang benar yang disoroti oleh Partai, oleh Marxisrne-Leninisme, bahwa seni dan ilmu adalah untuk rakyat. Tapi bukan seni untuk seni atau ilmu untuk ilmu yang akhirnya adalah seni untuk kantong borjuasi dan ilmu untuk algojo perang. Seniman-seniman kita memakai metode realisme-sosialis dan langgam kerjanya adalah “turun ke bawah”, bukan melihat kehidupan ini dari belakang meja tulis lalu berkhayal di bawah bintang kerlap-kerlip. Seniman-seniman rakyat bekerja dengan garis “meluas dan meninggi”, maka kehadiran Partai di suatu wilayah tanah air kita merupakan peranan utama apakah garis ini berkembang atau tidak. Kongres Lekra yang pertama dan sukses itu telah menetapkan bahwa seniman-seniman rakyat harus memiliki “dua tinggi”, yaitu tinggi dalam mutu ideologi serta tinggi dalam mutu artistik. Tinggi dalam mutu ideologi tidak bisa lain berarti menguasai Marxisme-Leninisme sebaik-baiknya, sebab tanpa ini seorang seniman sukar mengerti apa itu “tiga sama” sebagai jalan bersentuhan rasa dengan derita dan bahagia kaum tani, dengan masalah-masalah mereka.

Kawan-kawan, kita bukan hanya berhak mengatakan bahwa adalah patriot-patriot terbaik, putra-putra Indonesia terbaik yang berjuang untuk kebebasan rakyat dan tanah airnya, tapi kita juga adalah pewaris-pewaris dan pencipta-pencipta yang paling maju atas kekayaan-kekayaan kesenian tanah air kita. Patung “buruh dan tani” yang mengisi presidium kita di sini dan lukisan-lukisan di pameran yang sekarang sedang berlangsung di Wisma Nusantara berbicara dengan megahnya, sajak Kawan Hr. Bandaharo, penyair pertama yang kawan-kawan percayakan sebagai calon anggota CC — ia, sajak Banda yang dengan hangat dan mesra pernah berkata bahwa “jalan ini bukan jalan bertabur bunga” tapi adalah jalan juang tak kunjung padam dimana beribu kaki berderap di sini, seni tari kita yang menggambarkan juang dan kerja, gembira dan duka kaum tani serta kaum buruh, drama “Batu merah lembah Merapi” Bakhtiar Siagian yang mengisahkan kejantanan putra-putra Minang menghancurkan bandit-bandit “PRRI”, film “Turang” yang merekamkan Revolusi 45......, ah, banyak lagi yang membuat kaum borjuis terpaksa mengaku, bahwa seniman-seniman yang bergabung dalam Lekra adalah eksponen yang tidak bisa dibantah......

Tapi kita bukanlah orang-orang yang jingkrak-jingkrak kesenangan dengan apa yang sudah ada saja. Bagi kita, tanpa pengakuan kaum borjuis, kita jalan terus. Masih banyak lagi yang harus dikerjakan, masih banyak kelemahan yang harus diatasi. Tapi kita tidak pernah khawatir terhadap “jalan panjang yang bukan bertabur bunga” itu, karena kita memiliki senjata yang paling ampuh, tidak hanya organisasi dan tenaga yang militan di dalamnya, tapi juga teristimewa adalah Partai kita yang berkembang prakasa dan indah ini. Penerimaan tanpa reserve atas pimpinan Partai, hubungan yang

seerat-eratnya antara seniman dan massa, penguasaan atas Marxisme-Leninisme dan penguasaan atas kecakapan teknik dan artistik, adalah langkah-langkah besar di lapangan kebudayaan untuk masa kini dan nanti, untuk turut memenangkan apa yang menjadi harapan kita semua waktu ini, yaitu kebebasan demokrasi dan kemerdekaan nasional yang penuh.