Suksesnya Kongres Nasional Ke-VI PKI Kemenangan Demokrasi Yang Besar!

Pidato Ketua CC PKI, Kawan D.N. AIDIT pada malam resepsi Penutupan Kongres Nasional ke-VI PKI tanggal 16 September 1959

Sumber: Bintang Merah Nomor Special Jilid I, Dokumen-Dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai Komunis Indonesia, 7-14 September 1959. Yayasan Pembaruan, Jakarta 1960


Paduka Yang Mulia Presiden Sukarno, Bung Karno yang tercinta !

Yang Mulia para Menteri. Anggota-Anggota Dewan Pertimbangan Agung, Anggota-Anggota Parlemen , Anggota-Anggota Dewan Perancang Nasional dan para pembesar lainnya !

Para tamu dari Perwakilan negara-negara sahabat !

Para saudara dan kawan-kawan !

Pertama-tama izinkanlah saya atas nama Komite Sentral dan semua peserta Kongres Nasionak ke-VI PKI mengucapkan selamat datang dan banyak terima kasih kepada saudara-saudara yang sudah memerlukan datang keresepsi penutupan Kongres Nasional ke-VI PKI ini. Kami merasa berhutang budi dan mendapat kehormatan besar berhubung dengan kedatangan para tamu kami yang mulia. Peribahasa kita mengatakan “ Hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati”. (Tepuk tangan lama). Tetapi orang-orang Komunis yang sekarang masih hidup sudah berbulat tekad, bukan untuk membayar hutang budi karena ini memang tidak mungkin dibayar, tetapi untuk memberikan segala apa yang ada pada kami untuk melaksanakan tugas urgent PKI yang nomor satu, yaitu tugas menggalang dan memperkuat front persatuan nasional sebagai jaminan untuk tercapainya kemerdekaan nasional kita yang penuh, untuk kemerdekaan politik dan ekonomi negeri kita. (Tepuk tangan).

Kongras Nasional ke-VI PKI juga telah menamakan dirinya Kongres daripada penggalang-penggalang front nasional, Kaum Komunis Indonesia memang belum puas dengan hasil-hasil yang sudah dicapainya dalam pekerjaan ini, tetapi sekurang-kurangnya kami ingin menjadi penggalang-penggalang yang sungguh-sungguh daripada front nasional dinegeri kita.

Para saudara dan kawan-kawan!

Kongres Nasional ke-VI PKI dilangsungkan dari tanggal 7 sampai tanggal 14 Septembar 1959. ini adalah Kongres PKI yang terbesar selama umur PKI yang sudah hampit 40 tahun. Semua daerah dan pulau, semua angkatan Komunis Indonesia dan semua anggota dan calon anggota yang jumlahnya lebih dari 1,5 juta diwakili dalam Kongres ini. (Tepuk tangan). Praktis semua suku bangsa diwakili dan banyak putra-putra yang terbaik dari suku bangsa-suku bangsa duduk dalam Presidium yang memimpin Kongres dan juga terplih untuk duduk dalam badan-badan pimpinan sentral PKI. (Tepuk tangan lama). Kongres Nasional ke-VI PKI adalah Kongres persatuan jaya daripada kaum Komunis dan Rakyat pekerja Indonesia.

Kenyataan bahwa PKI dalam usianya yang hampir 40 tahun baru enam kali dapat melangsungkan Kongresnya, yaitu 3 kali dalam masa penjajahan Belanda dan 3 kali dalam zaman Republik Indonesia, adalah juga menunjukkan betapa beratnya masa-masa lampau PKI. Sejak pemberontakan tahun 1926 dijaman penjajahan Belanda, melalui kekuasaan militerisme Jepang sampai ke Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, jadi hampir 20 tahun, PKI terpaksa bekerja dibawah tanah. Kongres pertama, ke dua dan ke tiga sudah tentu dilangsungkan dalam keadaan yang sangat sulit dengan pengawasan keras dan pembatasan-pembatasan yang luar biasa dari penguasa-penguasa kolonial. Kongres keempat dan ke lima dilangsungkan dalam suasana Indonesia merdeka, tanpa pengawasan dan pembatasan-pembatasan seperti dijaman kolonial, Kongres Nasional ke-VI yang baru saja selesai juga dilangsungkan dalam suasana Indonesia merdeka, tetapi denagn pembatasan-pembatasan yang mengingatkan kita kembali kepada suasana jaman yang tidak enak dulu. (Tawa).

Tapi pada saat-saat terakhir dari Kongres ini, berkat adanya saling mengerti antara PKI dengan para penguasa, keadaan berubah, kelonggaran-kelonggaran didapat oleh Kongres dan tamu-tamu luar negeri PKI diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan-pesan Partai-partai dan Rakyat-rakyatnya kepada para peserta Kongres. (Tepuk tangan). Lebih dari pada itu, tamu-tamu luar negeri dari Kongres Nasional ke-VI PKI telah mengadakan pertemuan ramah tamah dengan Mentri Inti Pertahanan dan Keamanan, Letnan Jendral A. H. Nasution, (tepuk tangan) dan Mentri Inti Luar negri Dr. Subandrio. (Tepuk tangan). Malahan malam ini tamu-tamu luar negeri kita berada dalam ruangan ini bersama-sama dengan Presiden Sukarno (tepuk tangan lama) dan pembesar-pembasar Indonesia lainnya. Dengan semuanya ini, maka usaha-usaha kaum imperialis untuk mengisolasi PKI dari gerakan Komunis sedunia mengalami kegagalan total. Persaudaraan antara umat manusia, persahabatan antara pejuang-pejuang revolusioner sedunia adalah jauh lebih kuat daripada keinginan- keinginan yang aneh dan daluarsa daripada kaum relaksioner. (Tepuk tangan lama).

Sungguh-sungguh kami sesalkan, bahwa pada waktu Kongres akan dimulai tersiar desas-desus, seolah-olah Kongres Nasional ke-VI PKI adalah pesiapan untuk perebutan kekuasaan atau kudeta oleh PKI dalam tahun 1960. (Tawa). Saja kagum akan “kekreatipan” (tawa) tukang-tukang desas-desus ini. Enam bulan sebelum Kongres dilangsugkan CC PKI sudah mengeluarkan Rencana Tesis yang sangat jelas menunjukkan jalan mana yang mau di tempuh oleh PKI dalam usahanya untuk mengadakan perubahaan dalam politik Indonesia. Kudeta adalah jalan orang yang kehilangan akal, (tepuk tangan, teriak : “Betul, betul!”), yang tidak mempunyai kepercayaan pada Rakyat dan demokrasi. Sedangkan  PKI mempunyai kepercayaan yang tidak terbatas pada Rakyat sebagai sumber segala kekuatan.

PKI mendasarkan perjuangannya pada apa yang dinamakan Bung Karno “massa actie”. (Tepuk tangan lama). Rakyat Indonesia makin lama makin bergeser ke kiri dan makin lama banyak yang berdiri dipihak PKI. Kenyataan bahwa dalam hanya dua tahun, yaitu dari pemilihan umum Parlemen yang pertama sampai pemilihan DPRD, PKI telah tumbuh dari Partai nomor 4 dengan pemilih 6 juta lebih menjadi Partai nomor 1 dengan pemilih 8 juta lebih, (tepuk tangan lama) adalah bukti segede gajah (tawa) bahwa perubahan dalam politik dapat diadakan dengan jalan-jalan demokratis. (Tepuk tangan).

Jadi, kalau mau mencari tukang-tukang kudeta janganlah mencarinya dalam tubuh PKI tetapi carilah pada pihak-pihak lain. (Tawa, tepuk tangan). Selama masih terbuka jalan demokratis, PKI akan menempuh jalan ini. Kalau pemilihan umum Parlemen kedua tertunda-tunda bukannya salahnya PKI, PKI senantiasa siap kapan saja pemilihan umum mau diadakan, (tepuk tangan), makin cepat makin baik. (Tepuk tangan lama).

PKI memang pernah memimpin pemberontakan dalam tahun 1926 (tepuk tangan) dan orang-orang PKI memang turut ambil bagian dalam pemberontakan terhadap kaum militeris Jepang dan untuk proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tetapi harus diingat bahwa pada waktu itu memang tidak ada jalan demokratis yang mungkin di tempuh oleh PKI.

Yang lebih mentertawakan lagi ialah, desas-desus tentang Kongres PKI akan menyiapkan kudeta di embel-embeli dengan keterangan, bahwa Kongres PKI merupakan “nationaal gevaar” (bahaya nasional).Kalau kaum kolonialis Belanda atau kaum imperialis Amerika Serikat atau Imperialis-imperialis  lain berbicara begini tidaklah mengherankan. Tetapi bahwa “hollands denken” (tawa) atau “imperialistisch denken”  (tawa) ini masih ada pada  orang-orang penting dalam aparat-aparat Republik, ini adalah keterlaluan. (Tepuk tangan). Yang merupakan “nationaal gevaar” bukanlah PKI tetapi justru pikiran-pikiran sementara pejabat yang masih kecekokan “hollands denken”, “PID-isme”, “Jenakum-isme”, “Sarekat Hejo-isme”,”Kenpeiteisme”, (tepuk tangan lama), atau yang biasa disebut oleh Bung Karno “cecunguk-isme”. (Tepuk tangan ).

Tetapi walaupun bagaimana, Kongres Nasional Ke-VI PKI sudah belangsung dengan selamat. Pada tempatnya saja mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnnya kepada semua pembesar sivil dan militer, kepada tokoh-tokoh ilmu, kebudayaan dan masyarakat yang telah membantu yang telah memberi ucapan selamat kepada Kongres ini. Ucapan selamat dari banyak Menteri dan pembesar-pembesar lainnya kepada Kongres Nasional Ke-VI adalah segi lain yang layak dapat penilaian jika mau mengerti situasi politik yang sesungguhnya di Indonesia. Kalau di zaman kolonial dulu pekerjaaan yang terpenting daripada kepala polisi ialah mencari Komunis untuk di penjarakan dan di buang ke Boven Digul, tapi sekarang Kepala Polisi Negara, yang diduga Menteri  Negara ex officio, mengucapkan selamat dan mengharapkan sukses bagi Kongres PKI. (Tepuktangan).

Pokoknya, aparat-aparat yang masih “hollands denken”, yang masih sama dengan kaum kolonialis Belanda menganggap kaum Komunis sebagai ”bahaya”, (tawa), masih cukup banyak. Tetapi yang sudah melepaskan diri dari cara berpikir lama dan menerima nilai-nilai baru daripada perkembangan di negeri kita sejak proklamasi 17 Agustus 1945 juga sudah banyak. Terhadap yang pertama Rakyat dan PKI akan meneruskan perlawanannya, sedangkan terhadap yang kedua Rakyat dan PKI akan terus mengusahakan kerjasama. (Tepuktangan).

Suksenya Kongres Nasional Ke-VI PKI bukanlah hanya sukses bagi PKI dan klas buruh Indonesia, tetapi juga adalah sukses bagi seluruh gerakan patriotik dan demokratis. (Tepuktangan). Ini adalah kemenangan besar daripada demokrasi dan merupakan satu bukti yang menyolok, bahwa walaupun masih ada orang-orang yang “holland denken”, tapi orang-orang ini bukan tak terkalahkan, “PID-isme”, “cecunguk-isme”, (tawa), “Jenakum-isme” dan “Coro-isme” sudah ternyata bukan jamannya lagi, (tepuktangan), walaupun ada orang-orang yang masih mau mempraktekannya.

Para saudara-saudara dan kawan-kawan!

Kongres Nasional Ke-VI PKI disiapkan dengan semangat pengabdian Komunis yang besr pada Rakyat. Kongres ini di song-song dengan gerakan amal kaum Komunis kepada rakyat lewat pembentukan ribuan Regu-regu Kerja bakti (tepuk tangan) dimana pemimpin-pemimpin dan anggota-anggota PKI ambil bagian di dalamnya. Sebagai hasil dari pekerjaan gotong royong Regu-regu  Kerja bakti ini telah diperbaiki atau dibikin jalan sepanjang 3.249 Km. (tepuk tangan), telah diperbaiki atau dibikin selokan sepanjang 985 Km. (Tepuktangan), telah diperbaiki atau dibikin rumah sebanyak 2.280 buah, (tepuk tangan). telah diperbaiki atau dibikin rumah-rumah sekolah sebanyak 80 buah, (tepuk tangan), telah dibikin bendungan sebanyak 138 buah, (tepuk tangan), telah diperbaiki atau dibikin jembatan sebanyak 1477 buah, (tepuk tangan), telah dibikin atau diperbaiki kakus umum sebanyak  5119 buah, (tepuk tangan), telah dibersihkan atau diperbaiki kuburan sebanyak 1608 buah, (tepuk tangan), telah dibikin atau diperbaiki kolam sebanyak 432 buah, (tepuk tangan), telah diperbanyak hasil bumi dengan mengerjakan tanah 362 HA. (Tepuktangan), telah diberantas tikus sebanyak 186.698 ekor, (Tepuktangan), telah didirikan kursus PBH di 351 tempat, (Tepuktangan), telah dibikin atau diperbaiki tempat-tempat pemandian umum sebanyak 3133 buah. (Tepuktangan). Selain daripada itu juga telah dibuat atau diperbaiki balai-balai Rakyat, lapangan olahraga, dan atas permintaan Rakyat setempat juga mesjid atau gereja, dll. (tepuktangan).

Regu-regu kerjabakti yang ribuan jumlahnya ini adalah merupakan sukses Kongres Nasional Ke-VI PKI sebelum Kongres itu dimulai. (Tepuktangan). Ia tidak hanya telah lebih mengeratkan hubungan PKI dengan massa, tidak hanya telah membantu massa Rakyat pekerja dalam mengatasi berbagai kesulitannya, tetapi juga telah membikin pemimpin-pemimpin PKI lebih kenal kehidupan, dan pemimpin-pemimpin PKI yang biasanya hanya bekerja otak telah menyeburkan diri dalam kerja badan. Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang baik dan sukses-sukses ini. Kongres Nasional Ke-VI telah memutuskan untuk sesudah Kongres meluaskan pembentukan Regu-regu Kerjabakti, baik yang hanya terdiri dari orang-orang Komunis ataupun yang menggabungkan diri dengan Regu-regu Kerjabakti yang dibentuk oleh pemerintah-pemerintah setempat atau Regu-regu Kerjabakti bersama-sama dengan golongan-golongan lain. Kaum Komunis yakin, karena cocok dengan semangat gotong-royong Rakyat, Regu-regu Kerjabakti yang dibentuk atas prinsip suka-rela, lambatlaun akan merupakan organisasi sosial yang sangat dibutuhkan dan dicintai oleh Rakyat pekerja Indonesia.

Tetapi pembentukan Regu-regu Kerjabakti tidak semudah mengucapkannya. Ia menghendaki ketelatenan, kesabaran revolusioner dan keberanian. Pemerintahisme atau komandoisme tidak mendorong pembentukan Regu-regu Kerjabakti. Prinsip sukarela dan prinsip kesadaran harus dijunjung setinggi-tingginya. Keberanian juga diperlukan, karena dibanyak tempat pembentukan Regu-regu Kerjabakti juga dihalang-halangi oleh pejabat-pejabat setempat yang kecekokan “hollands denken” (tawa, tepuktangan) dan difitnah sebagai persiapan PKI untuk mengadakan pemberontakan. Belum berapa lama berselang Mas Kartopawiro dan Harjosenu dijatuhi hukuman oleh pengadilan Boyolali karena…… bekerjabakti membikin jembatan, sedangkan Mas Hadimulyono dan Sukoto dituntut dan dihukum karena …… bekerja bakti membersihkan selokan. Inilah keajaiban, orang bekerjabakti dan beramal kepada Rakyat dituntut dan dihukum, sedangkan orang-orang yang korup dan penuh dengan “hollands denken” dilindungi. Keajaiban ini harus diakhiri. Kecurigaan tidak harus ditujukan kepada Rakyat, tetapi kepada musuh-musuh Rakyat. (Tepuktangan lama).

Para saudara dan kawan-kawan!

Walaupun sangat banyak kesulitan-kesulitan yang kami alami dalam melaksanakan Kongres Nasional Ke-VI PKI, tetapi sekarang Kongres sudah berlalu dengan sukses. Malam ini kaum Komunis merasa sangat berbahagia. Besar Bukit Barisan, tapi lebih besarlah hati kaum Komunis pada malam terang bulan ini. (Tepuktangan lama).

Mengapa para saudara?

Betapa tidak ! ditengah-tengah kaum Komunis yang sedang bergembira menyambut Kongresnya yang sukses, ada Bung Karno (tepuk tangan), patriot Indonesia yang besar dan juru pemersatu Rakyat Indonesia. (Tepuktangan lama). Walaupun Bung Karno sedang menghadapi berbagai persoalan negara yang sulit, tetapi memerlukan juga datang keresepsi ini. (Tepuktangan, teriakan : “Hidup Bung Karno”). Bersama-sama dengan Presiden Sukarno juga datang keresepsi ini pembesar-pembesar lainnya yang telah terbukti patriotismenya dalam perjuangan untuk kemerdekaan negeri kita. (Tepuktangan).

Ditengah-tengah kita sekarang juga ada wakil-wakil Partai-partai sekawan. (tepuktangan lama), yaitu dari Partai Persatuan Buruh Polandia. (tepuktangan), Partai Komunis Bulgaria. (tepuktangan), Partai Komunis Australia. (tepuktangan), Partai Sosialis Rakyat Kuba. (tepuktangan lama), Partai Persatuan Sosialis Jerman (tepuktangan), dan Partai Komunis Italia. (Tepuktangan). Wakil-wakil Partai-partai sekawan ini adalah patriot-patriot besar tanahairnya, (tepuktangan), tetapi bersamaan dengan itu mereka mengerti benar apa yang menjadi aspirasi-aspirasi daripada bangsa-bangsa dan Rakyat-rakyat negeri lain. (Tepuktangan). Karena adanya pengertian inilah, maka mereka datang dari negeri-negeri yang beribu-ribu kilometer ketanah air kita. Atas nama CC PKI dan seluruh anggota serta pecinta PKI, sekali lagi saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Partai-Partai kawan-kawan yang telah mengirim kawan-kawan dari negeri-negeri yang beribu-ribu kilometer dari Indonesia untuk menyampaikan perasaan solidaritas dan simpati yang besar pada perjuangan Rakyat dan Partai Komunis Indonesia.

Sungguh, para saudara dan kawan-kawan, sukarlah untuk menemukan malam terang bulan seindah malam ini dalam hidup kita. Pada malam ini kehangatan patriotisme dan internasionalisme bersatu-padu. (Tepuktangan). Tentu bukan patriotismenya kaum sovinis dan bukan internasionalismenya kaum kosmolit, tetapi patriotismenya kaum kosmopolit, tetapi patriotismenya internasionalis dan internasionalismenya patriot. Kebangsaan dan kemanusiaan, dua sila dari Pancasila, berada dalam panduan yang harmonis malam ini. (Tepuk  tangan).

Bung Karno ! Ijinkalah saya menyampaikan ucapan terima kasih yang khusus dari semua peserta Kongres Nasional ke-VI PKI kepada Bung Karno. Kami yang di wajibkan oleh Partai mempelajari sejarah Partai dan perjuangan Rakyat Indonesia, tahu betapa eratnya hubungan batin antara PKI dan Bung Karno. (Tepuk tangan lama), tidak lain adalah Bung Karno, ketika masih berusia sangat muda, yang dengan simpati besar menyambut pemberontakan heroik tahun 1926 dibawah pimpinan PKI. Kita bisa sependapat atau tidak sependapat tentang berbagai hal mengenai pemberontakan itu, tetapi yang sudah terang tidak pernah ada perbedaan pendapat antara Bung Karno dengan kaum Komunis ialah, bahwa pemberontak terhadap penjajahan adalah selamanya benar. (Tepuk tangan lama). “Cacingpun kalau diinjak akan merontak”, (tawa), demikian sering dikatakan oleh Bung Karno.

Adalah juga Bung Karno, yang dimasa masih merajalelanya kaum militer Jepang,bersedia menerima kedatangan dan mendengar pendapat-pendapat orang-orang yang bagi Bung Karno terang orang-orang Komunis yang pada waktu itu bekerja dibawah tanah, padahal Kenpetai mondar-mandir didepan rumah. Bung Karno bukanlah seseorang yang menjadi pucat pasi jika dijaman kekuasaan kaum militer Jepang dulu kedatangan orang Komunis di tengah malam buta (tepuk tangan lama).

Bung Karno, cerita-cerita lama ini walaupun hanya satu-dua yang saya ungkapkan, adalah sangat penting bagi kami dalam mengikuti langkah-langka Bung Karno yang sekarang memegang tambuk pimpinan tertinggi daripada negara. Peribahasa mengatakan, bahwa sahabat yang sejati adalah sahabat di waktu sukar (tepuk tangan lama). Adakah waktu yang lebih sukar bagi Kaum Komunis Indonesia daripada ketika penjajahan Belanda dan penjajahan kaum militer Jepang? Orang jahil mungkin berkata : Ya, tapi pernah ada pertentangan pendapat antara Bung Karno dan PKI. Saya tidak membantahnya, saya hanya bertanya : Apakah pernah ada dua sahabaat karib yang sama sekali tidak pernah bertentangan pendapat? (Teriakan : “Tidak”). Persahabatan yang kekal bukanlah persahabatan yang sama sekali tidak pernah mengalami perselisihan paham, tetapi yang selamanya dapat mengakhiri perselisihan paham secara sahabat dan tepat pada waktunya. (Tepuk tangan). Adalah cerita-cerita lama seperti di atas yang memudahkan kami menangkap maksud-maksud baik dari tindakan-tindakan Bung karno.

Sejak dari brosur Bung Karno Mencapai Indonesia Merdeka, melalui Lahirnya Pancasila, Konsepsi Presiden, Gagasan Demokrasi Terpimpin dan sampai pada Manifesto Politik RI, tanggal 17 Agustus 1959, nampak dengan jelas merentang didalamnya bagaikan benang merah cita-cita Bung Karno untuk mempersatukan Rakyat Indonesia, untuk membebaskan Rakyat Indonesia dari semua imperialisme. (Tepuk tangan lama). Lima wasiat Bung Karno, yaitu Mencapai Indonesia Merdeka, Lahirnya Pancasila, Konsepsi Presiden, Gagasan Demokrasi Terpimpin dan Manifesto Politik 17 Agustus 1959 merupakan mercusuar-mercusuar yang sangat membantu kami dalam menempatkan garis-garis politik dimasa dekat yang kita hadapi. Lima wasiat ini jelas menunjukan kepada Rakyat Indonesia apa yang menjadi musuh terpokoknya, yaitu imperialisme. (Tepuktangan).

Kongres Nasional ke-VI PKI memang telah memutuskan bahwa musuh-musuh pokok Rakyat Indonesia adalah imperialisme dan feodalisme, tetapi yang terpokok pada waktu sekarang ialah imperialisme. (Tepuk tangan). untuk menglahkan musuh terpokok ini segala pertantangan yang terdapat di kalangan Rakyat Inonesia harus dapat di selesaikan secara berunding. Saling curiga yang tidak menentu dikalangan Rakyat Indonesia harus dilenyapkan. Jadi, seluruh kekuatan Rakyat Indonesia harus dapat di persatukan dan harus terus menerus dikonsolidasi. Tiap-tiap usaha untuk mempertajam pertentangan diantara dikalangan Rakyat, artinya dikalangan mereka yang menentang imperialis, harus dianggap bermain dengan kartu imperialis, karena ini  melemahkan potensi nasional.

Dengan jelasnya musuh terpojok, maka dengan sendirinya menjadi jelas pula tugas terpokok Revolusi Indonesia sekarang, yaitu melenyapkan imperialisme dari muka bumi Indonesia. (Tepuk tangan). tidak hanya melenyapkan imperialisme dari Irian Barat, tidak hanya melenyapkan imperialisme dilapangan politik, tetapi juga dilapangan ekonomi, kebudayaan dan sosial. (Tepuk tangan). kami setuju dengan gagasan Bung Karno, yaitu sebelum sampai ke masyarakat adil dan makmur, kita harus lebih dulu melalui masa peralihan, yaitu “fase ekonomi nasional” sebagai pengganti ekonomi kolonial yang sekarang masih bercokol. Tugas menasionalkan ekonomi Indonesia sudah tentu tidak bisa dipisahkan daripada kewajiban mengakhiri sifat tergantung daripada ekonomi Indonesia dari pasaran kapitalis, dengan jalan berangsur-angsur mengindustrialisasi negera dan secara konsekwen melaksanakan politik bebas dan aktif dilapangan perdagangan luar negeri Republik Indonesia. Sekarang perdagangan Republlik Indonesia dengan negera-negera sosialis berada di bawah 10%  sedangkan dengan negera-negera kapitalis di atas 90%, padahal negera-negera sosialis sekarang adalah produsen lebih daripada sepertiga produksi industri dunia. (Tepuk tangan). Oleh karena itulah Kongres Nasional ke-VI PKI antara lain memutuskan, bahwa kita baru dapat berkata perdagangan luar negeri yang bebas dan aktif, jika perdagangan RI dengan negera-negera sosialis sudah mencapai paling kurang 30% daripada seluruh perdagangan luar-negeri kita.

Para saudara dan kawan-kawan !

Kongres Nasional ke-IV PKI dilangsungkan dengan semboyan terpokok “Untuk Demokrasi dan Kabinet Gotong-royong”. (Tepuk tangan). kami berpendapat, tidak ada jalan lain. Alternatif lain ialah diktarur militer dan diktarur perseorangan, dan perpecahan nasional yang tidak habis-habisnya. Soal demokrasi sekarang menjadi sangat menonjol, karena memang ada kecenderungan di negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika untuk penyelewengan ke diktatur militer. Sebabnya ialah, karena pihak yang berkuasa, berhubung di kacau terus-menerus oleh imperialis, tidak bisa memecahkan masalah ekonomi yang paling mendesak, sedangkan tuntutan Rakyat untuk perbaikan nasib makin lama santer. Dalam keadaan demikian, satu-satunya jalan keluar bagi kaum penguasa yang pendek pikiran ialah diktatur militer. Saya katakan pendek pikiran, karena belum ada dan tidak akan ada diktatur militer atau diktatur perseorangan yang mampu memenuhi tunturan perbaikan nasib dari Rakyat. (Tepuk tangan).

Saya berpendapat, bahwa kecenderungan ke arah diktatur militer seperti di sementara negara-negara Asia dan Afrika harus dengan sekuat tenaga kita hindari di Indonesia. Syarat-syarat untuk menghindari ini cukup di negara kita. Pertama, gerakan demokratis dan revolusioner di negara kita sudah maju ; kedua, Bung Karno sudah menunjuka jalan demokratis yang harus ditempuh, yaitu jalan Konsepsi Presiden, Gagasan Demokrasi Terpimpin dan Manifesto Politik 17 Agustus 1959 ; dan ketiga, tokoh-tokoh penting militer Indonesia yang mempunyai rasa tanggung jawab besar tidak menginginkandiktatur militer. (Tepuk tangan).

Saya berpendapat, bahwa jika kita di Indonesia berhasil melaksanakan Gagasan Demokrasi Terpimpin dengan Kabinet Gotong-royong, sebagai syarat yang tidak boleh tidak untuk menyelesaikan fase sosial-ekonomi daripada revolusi Indonesia, maka sudah dapat dipastikan bahwa Gagasan Demokrasi Terpimpin dan sistim Kabinet Gotong-royong juga akan menjadi jalan keluar bagi banyak negara di Asia dan Afrika yang baru mendeka. (Tepuk tangan lama).

Diktatur militer atau diktatur perseorangan hanya akan menimbulkan bentrokan-bentrokan sosial yang tajam dan yang banyak korbannya. Adalah satu lamunan jika mengira bahwa dengan melemparkan demokrasi dan memungut diktatur militer, keadaan akan dapat diperbaiki. Satu-satunya jalan yang menguntungkan bangsa Indonesia ialah, supaya demokrasi tetap dipertahankan dan yang dilemparkan iakah ekses-eksesnya yang berupa anarki dan liberalisme.

Sesuai dengan semangat yang terdapat dalam Kongres Nasional ke-VI PKI, demi suksesnya gagasan Demokrasi Terpimpin, saya ingin menyampaikan harapan kepada Bung Karno supaya kita semua hati-hati dan waspada terhadap penumpang-penumpang gelap (tawa dan tepuk tangan) dalam kapal Demokrasi Terpimpin dan UUD ’45. jika penumpang-penumpang gelap ini berhasil memainkan perananmya, maka bukan hanya perkembangan maju menjadi berhenti , tetapi Gagasan Demokrasi Terpimpin dan UUD ’45 pun tidak akan memenuhi amanat penderitaan Rakyat,sebaliknya akan menambah penderitaan Rakyat. Gejala-gejala tentang kegiatan penumpang-penumpang gelap ini sungguh mengkhawatirkan.

Para saudara dan kawan-kawan !

Dengan keterangan singkat saya di atas, jelaslah bahwa segala desasdesua tentang Kongres Nasional ke-VI PKI akan mengubah politik PKI dari menyokong menjadi menentang Kabinet Sukarni-Juanda dan oleh karenanya bersia-siap untuk kudeta, adalah isapan jempol orang-orang jawatan rahasia imperialis yang goblok. (tawa), yang tidak mengenal PKI, tidak mengenal Presiden Sukarno dan tidak mengenal Rakyat Indonesia. (Tepuk tangan). yang mereka kenal hanya hasil bumi, hanya bau minyak, (tawa), hasil keringat dan darah Rakyat Indonesia. Biarkan mereka tetap dalam kegoblokannya !

Juga desa-desus sebelum dan selama Kongres, bahwa PKI akan memperhebat serangannya pada tentara adalah impian-impian orang-orang seberang lautan yang secara tolol disebar-sebarkan di Indonesia oleh cecunguk-cecunguk dan coro-coro. (Tawa dan tepuk tangan). sebaliknya, PKI sudah lama melontarkan semboyan “Dwi tunggal Tentara dan Rakyat”. (Tepuk tangan). orang-orang seberang laut, terutama jawatan-jawatan rahasia serta mesin-mesin propaganda mereka sudah sejak lama menyiarkan dongengan tentang adanya “duel antara PKI dan Tentara”. duel antara Aidit dan Nasution”. (awa). Dengan ini mereka ingin menutupi duel yang sebenarnya harus diadakan, yaitu duel antara seluruh Rakyat Indonesia dengan kaum imperialis. (Tepuk tangan lama). Ucapan selamat Letnan Jendral A.H. Nasution pada Kongres Nasional ke-VI PKI, yang dengan gemuruh disambut oleh semua peserta Kongres ketika pesan itu dibacakan, adalah jawaban yang paling jitu pada desas-desus yang berbisa itu.

Jadi, jelaslah apa yang diinginkan oleh kaun imperialis, yaitu percekcokan antara Presiden Sukarno dan oknum-oknum dalam pimpinan tentara dengan massa Rakyat yang revolusioner. Mereka tahu benar, bahwa persatuan antara Presiden Sukarno, tentara dan massa Rakyat yang revolusioner merupakan vonis hukuman mati bagi mereka untuk selama-lamanya. (tepuk tangan lama). Jawab kita yang paling tepat ialah : persatukan kekuatan yang akan menghukum mati kaum imperialis di tanah air ! (Tepuk tangan). ini adalah juga semangat daripada Kongres Nasional ke-VI PKI. Meminjam perkataan Bung Karno, “biarlah mereka geger” (tawa) melihat kita bersatu dan mengkonsolidasi diri. Sekarang kegegeran mereka ditambah lagi dengan pendaratan roket Uni Sovyet di Bulan. (Tepuk tangan lama). “biarlah mereka geger”, asal kita Rakyat Indonesia dengan tenang dan rukun menyusun kekuatan kita untuk mengakhiri sama sekali kekuatan asing disemua lapangan kehidupan negara kita.

Kaum Komunis Indonesia, sesuai dengan semangat Kongres Nasional ke-VI PKI, akan berlaku setulus-tulusnya dalam bekerja-sama dengan semua klas, semua golongan dan semua orang yang demokratis dan patriotik. Kami bersedia untuk dikritik oleh siapapun juga jika kami membuat kekeliruan dalam melaksanakan tugas yang paling urgent ini, tugas mempersatuka semua kekuatan Rakyat Indonesia.

Bertentangan dengan yang diharap-harapkan kaum imperialis dan kaki tangannya. Kongres Nasional ke-VI PKI telah lebih mengeratkan hubungan PKI dengan klas-klas, golongan-golongan dan orang-orang yang demokratis dan patriotik di dalam-negeri. Juga telah lebih mengeratkan hubungan antara PKI dan klas buruh Indonesia dengan gerakan Komunis dan gerakan klas buruh dunia. Ini tentu akan membikin kaum imperialis lebih geger lagi. (Tepuk tangan). Tetapi, “biarlah mereka geger”. Kawanan monyet yang mengetahui, bahwa pohon yang ditempatinya sedang dibakar orang dari bawah tentu geger tek menentu dan melompat-lompat kesana kemari. (Tepuk tangan). tetapi akhirnya ialah, bahwa monyet-monyet yang geger itu mati di bakar oleh api, (tepuk tangan), dan geger-geger yang ramai-ramai itu tidak ada gunanya sama sekali.

Para saudara dan kawan-kawan !

Biarlah merea geger, kita berjalan terus. Langit pagi sudah memerah, tanda hari kemenangan Rakyat sudah hampir tiba. (Tepuk tangan). sebaliknya bagi kaum reaksioner, bagi monye-monyet tukang geger, hari sudah magrib (tawa) dan sebentar lagi akan disusul oleh malam gelap-gulita. (Tepuk tangan lama).

Hidup Rakyat Indonesia yang gagah perwira ! (Seruan : “Hidup, hidup!” Tepuk tangan lama).

Hidup Bung Karno, juru pemersatu Rakyat Indonesia ! (Seruan : “Hidup, hidup !” Tepuk tangan).