Masalah-Masalah Revolusi Italia

Leon Trotsky (1930)


Diterjemahkan oleh Pandu Jakasurya (Februari 2009). Disunting oleh Ted Sprague.

Sepucuk surat yang ditulis kepada kaum Trotskyis Italia pada tahun 1930 yang di dalamnya Trotsky bergelut dengan masalah tentang Majelis Konstituante dan perspektif-perspektif untuk Italia pada waktu itu. Dengan tajam ia mengkritik orang-orang yang berupaya mencampur-baurkan slogan Majelis Konstituante dengan semboyan Soviet buruh. Ia juga memperlihatkan wawasan yang luar biasa mengenai proses yang menyingkapkan bagaimana pada suatu saat rezim Mussolini akan runtuh.


14 Mei, 1930

Kawan-Kawan:

Saya telah menerima surat bertanggal 5 Mei yang Anda sekalian kirimkan. Terimakasih banyak untuk studi tentang komunisme Italia secara  umum dan tentang beragam tendensi di dalamnya secara khusus. Ini memenuhi kebutuhan yang besar bagi saya dan sangat ditunggu-tunggu. Akan merupakan sesuatu yang patut disesalkan bila karya Anda harus ditinggalkan dalam bentuk sepucuk surat biasa. Dengan sedikit perubahan atau peringkasan, surat ini dapat dengan sangat baik menemukan tempat dalam koran La Lutte de classes.

Bila Anda sekalian tidak keberatan, saya akan mulai dengan sebuah diskusi politik yang umum. Saya menganggap kolaborasi di antara kita di masa depan sebagai sesuatu yang sepenuhnya mungkin dan bahkan luar biasa perlu. Tidak seorang pun di antara kita yang memiliki atau dapat memiliki rumusan-rumusan politik yang telah dikukuhkan sebelumnya yang dapat melayani semua peristiwa yang mungkin terjadi. Tapi saya percaya bahwa metode yang Anda gunakan dalam upaya menentukan rumusan-rumusan politik yang diperlukan adalah metode yang benar.

Anda meminta pendapat saya mengenai serangkaian persoalan yang genting. Tapi sebelum coba menanggapi beberapa di antaranya, saya harus merumuskan suatu syarat yang sangat penting. Saya tidak pernah mengenal dengan baik kehidupan politik Italia, karena saya hanya pernah melewatkan waktu yang sangat pendek di Italia. Saya mengerti bahasa Italia dengan sangat buruk, dan semasa waktu saya dalam Komunis Internasional saya tidak memiliki kesempatan untuk mendalami kajian atas persoalan-persoalan Italia.

Anda sekalian tahu hal ini dengan baik. Sebab, kalau tidak begitu bagaimana mungkin menjelaskan fakta bahwa Anda telah mengerjakan sebuah karya yang begitu rinci untuk mengabari saya tentang hal-hal terbaru mengenai masalah-masalah yang mendesak ini?

Secara logis mengikuti apa yang telah dikemukakan, jawaban-jawaban saya, dalam hampir semua kasus, seyogyanya hanya mempunyai nilai yang sepenuhnya bersifat hipotetis. Tidak ada satu kasus pun di mana saya dapat menganggap refleksi-refleksi yang saya kemukakan sebagai satu hal yang definitif. Sangat mungkin bahwa dalam mengkaji problem ini atau problem lainnya saya lalai tentang keadaan-keadaan konkret tertentu yang sangat penting. Karena itu saya menantikan keberatan-keberatan serta informasi pelengkap dan koreksi dari Anda. Sejauh metode kita, saya harap, bersifat umum, dengan jalan inilah kita akan berupaya sebaik-baiknya untuk mencapai solusi yang tepat.

1. Anda sekalian mengingatkan saya bahwa saya pernah mengkritik slogan “Majelis Republik atas Dasar Komite-Komite Buruh dan Tani”, sebuah slogan yang mula-mula dikemukakan oleh Partai Komunis Italia. Anda mengatakan kepada saya bahwa slogan ini mempunyai nilai yang sepenuhnya episodik dan bahwa sekarang telah ditinggalkan. Meski demikian saya ingin memberitahu kepada Anda mengapa saya menganggapnya keliru atau setidaknya ambigu sebagai sebuah slogan politik. “Majelis Republik” cukup jelas adalah sebuah institusi negara borjuis. Tapi, apakah “Komite-Komite Buruh dan Tani” itu? Jelas bahwa mereka adalah sesuatu yang kira-kira sama dengan soviet-soviet buruh dan tani. Maka, ini harus dikatakan seperti itu. Sebab, organ-organ klas dari para buruh dan tani miskin, entah Anda memberi mereka nama Soviet-soviet atau komite-komite, selalu merupakan organisasi-organisasi perjuangan untuk melawan negara borjuis, kemudian menjadi organ-organ pemberontakan, dan yang pada akhirnya ditransformasikan, setelah kemenangan, menjadi organ-organ kediktaturan proletar. Di bawah kondisi ini, bagaimana sebuah Majelis Republikan – yakni organ tertinggi dari negara borjuis – bisa memiliki organ-organ negara proletar sebagai basisnya?

Majelis Konstituante

Saya harus mengingatkan Anda sekalian bahwa pada tahun 1917, sebelum Revolusi Oktober, Zinoviev[1] dan Kamenev[2], tatkala mereka menentang pemberontakan Oktober, menganjurkan untuk menunggu Majelis Konstituante bersidang dalam rangka menciptakan sebuah “negara perpaduan” melalui fusi antara Majelis Konstituante dengan Soviet-Soviet buruh dan tani. Pada tahun 1919 kita menyaksikan Hilferding[3] bermaksud memasukkan Soviet-soviet ke dalam konstitusi Weimar[4]. Seperti Zinoviev dan Kamenev, Hilferding menyebutnya “negara perpaduan”. Sebagai sebuah tipe borjuis-kecil yang baru, ia ingin, pada titik peralihan historis yang paling tajam, “memadukan” tipe negara yang ketiga dengan mengawinkan kediktaturan borjuasi dengan kediktaturan proletar di bawah simbol konstitusi.

Slogan Italia yang diuraikan di atas nampak bagi saya sebagai sebuah varian dari tendensi borjuis-kecil ini. Kecuali saya telah memahaminya dengan pengertian yang keliru. Namun dalam kasus itu, slogan tersebut sudah mengidap cacat yang jelas karena dapat memberikan kesalahpahaman yang berbahaya. Saya beruntung untuk mengoreksi di sini suatu kekeliruan yang benar-benar tidak dapat dimaafkan yang dibuat oleh para epigon [baca kaum birokrat Stalinis – Ed.] pada tahun 1924: mereka telah menemukan pada Lenin sebuah kalimat yang mengatakan bahwa kita boleh mengawinkan Majelis Konstituante dengan Soviet. Sebuah kalimat yang sama boleh jadi dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan saya. Tapi apa yang dimaksud sebenarnya? Pada saat itu kami sedang berbicara mengenai sebuah pemberontakan yang akan memberikan kekuasaan kepada kaum proletar dalam bentuk Soviet. Terhadap pertanyaan tentang apa yang akan kami lakukan dengan Majelis Konstituante,  kami menjawab: “Kita lihat saja; barangkali kita akan memadukannya dengan Soviet.” Kami melihatnya hanya bila Majelis Konstituante, yang akan bersidang di bawah rezim soviet, akan memiliki mayoritas soviet. Karena kenyataannya tidak begitu, Soviet-soviet lalu membubarkan Majelis Konstituante. Dengan kata lain: pertanyaan yang diajukan adalah apakah mungkin mentransformasi Majelis Konstituante dan Soviet-soviet menjadi organ-organ dari klas yang sama, dan sama sekali bukan “memadukan” sebuah Majelis Konstituante borjuis dengan Soviet-soviet proletar. Di satu pihak (dengan Lenin), ini adalah tentang pembentukan negara proletar, strukturnya, tekniknya. Di pihak yang lain (dengan Zinoviev, Kamenev, Hilferding), ini adalah tentang sebuah perpaduan konstitusional dua negara dari dua klas yang berseteru dengan tujuan mencegah pemberontakan proletar yang akan mengambilalih kekuasaan.

2. Masalah yang baru saja kita kaji (Majelis Republik) secara erat terkait dengan masalah lain yang Anda analisa dalam surat Anda, yakni, karakter sosial apakah yang akan dimiliki oleh revolusi anti-fasis? Anda menyangkal kemungkinan sebuah revolusi borjuis di Italia. Anda sepenuhnya benar. Sejarah tidak dapat membalikkan sejumlah besar halaman, yang masing-masing setara dengan setengah abad. Komite Pusat Partai Komunis Italia telah menghindari pertanyaan ini dengan memproklamirkan bahwa revolusi Italia tidak akan bercorak borjuis atau proletar, tetapi “popular”. Ini merupakan sebuah pengulangan sederhana dari kaum Populis Rusia di awal abad ini manakala mereka ditanya karakter apa yang akan dimiliki oleh revolusi melawan Tsar. Dan ini juga merupakan jawaban yang sama dengan yang diberikan Komunis Internasional berkenaan dengan Tiongkok dan India. Ini adalah sebuah varian pseudo-revolusioner dari teori sosial-demokrasi-nya Otto Bauer[5] dan yang lain-lainnya, yang menyatakan bahwa negara dapat menempatkan dirinya di atas klas-klas, yakni bukan negara borjuis bukan pula negara proletar. Teori ini sama merusaknya baik bagi proletariat maupun bagi revolusi. Di Tiongkok teori ini membuat kaum proletar menjadi umpan yang dimangsa oleh kontra-revolusi burjuis.

Setiap revolusi yang besar terbukti popular dalam artian ia menarik seluruh rakyat ke pihaknya. Baik Revolusi Besar Prancis maupun Revolusi Oktober sepenuhnya popular. Meski demikian, yang pertama bersifat borjuis karena ia melembagakan properti-perorangan, sementara yang kedua adalah proletarian karena ia menghapus properti-perorangan. Hanya sedikit kaum revolusionis borjuis-kecil yang masih dapat memimpikan sebuah revolusi yang bukan borjuis dan bukan pula proletarian, tapi “popular” (yakni, borjuis-kecil).

Sekarang, dalam periode imperialis, kaum borjuis-kecil bukan hanya tidak sanggup memimpin revolusi, tetapi juga tidak sanggup memainkan sebuah peran yang independen di dalamnya.

Dengan ini, maka formula “kediktaturan demokratik proletariat dan tani” adalah sebuah tabir untuk menutupi konsepsi borjuis-kecil tentang revolusi transisional dan negara transisional, yakni, sebuah revolusi dan sebuah negara yang tidak bisa terjadi di Italia atau bahkan di India yang terbelakang. Seorang revolusionis yang tidak mengambil posisi yang jelas dan teguh berkenaan dengan masalah kediktaturan demokratik proletariat dan tani akan jatuh ke dalam kesalahan demi kesalahan. Berhubung dengan problem revolusi anti-fasis, masalah Italia, lebih dari yang lainnya, secara erat terkait dengan problem-problem fundamental dari komunisme sedunia, yakni, apa yang dikenal sebagai teori Revolusi Permanen.

3. Dari apa yang telah dikemukakan, muncullah pertanyaan tentang periode “transisional” di Italia. Sejak sangat awal kita perlu menetapkan dengan sejelas-jelasnya: transisi dari apa dan menuju apa? Sebuah periode transisi dari revolusi borjuis (atau “popular”) ke revolusi proletar – itu adalah satu hal. Sebuah periode transisi dari kediktaturan fasis ke kediktaturan proletar – itu adalah satu hal yang lain lagi.

Bila konsepsi pertama dipertimbangkan, dimana masalah revolusi borjuis dikemukan ke depan, maka ini kemudian adalah masalah menetapkan peran kaum proletar di dalamnya. Hanya setelah itu masalah tentang periode transisional menuju sebuah revolusi proletar dapat diajukan. Bila konsepsi kedua dipertimbangkan, pertanyaan yang kemudian diajukan adalah tentang serangkaian pertempuran, gangguan, situasi yang berubah, peralihan yang mendadak, yang dalam keseluruhannya merupakan tahapan-tahapan yang berbeda dari revolusi proletar. Tahapan-tahapan ini bisa berjumlah banyak. Tetapi tidak dalam satu kasus pun tahapan-tahapan itu memuat di dalam dirinya sebuah revolusi borjuis atau gabungannya yang misterius, revolusi “popular”.

“Kontra-revolusi dengan sebuah wajah yang demokratis”

Apakah ini berarti Italia tidak bisa, untuk suatu waktu tertentu, menjadi sebuah negara parlementer atau menjadi sebuah “republik demokratis” kembali? Saya mempertimbangkan – dan saya setuju sepenuhnya dengan Anda sekalian – bahwa ini mungkin terjadi. Tapi, di pihak lain ini tidak akan menjadi buah dari sebuah revolusi borjuis, melainkan pengguguran dari sebuah revolusi proletar yang tidak cukup matang dan prematur. Seandainya terjadi krisis revolusioner yang mendalam serta pertempuran-pertempuran massa dimana kaum pelopor proletar tidak berada dalam posisi untuk mengambilalih kekuasaan, boleh jadi kaum borjuasi akan memulihkan kekuasaannya berdasarkan basis “demokrasi”. Dapatkah dikatakan, misalnya, bahwa republik Jerman saat ini adalah sebuah pencapaian dari revolusi borjuis? Penegasan seperti itu adalah konyol. Apa yang terjadi di Jerman pada tahun 1918-19 adalah sebuah revolusi proletar, yang karena ketiadaan kepemimpinan kemudian diperdaya, dikhianati, dan dihancurkan. Tetapi kontra-revolusi borjuis terpaksa menyesuaikan dirinya dengan kondisi-kondisi yang diakibatkan oleh penghancuran revolusi proletar dan terpaksa mengenakan bentuk republik “demokratik” parlementer. Apakah hal yang sama – atau yang kurang lebih sama – mustahil terjadi di Italia? Tidak, ini tidak mustahil. Naiknya fasisme ke tampuk kekuasaan adalah akibat dari kenyataan bahwa revolusi proletar 1920 tidak dilaksanakan sampai tuntas. Hanya sebuah revolusi proletar yang baru yang dapat menggulingkan kapitalisme. Bila revolusi proletar ini tidak ditakdirkan untuk menang pada saat ini (karena kelemahan Partai Komunis, manuver-manuver dan pengkhianatan-pengkhiantan para sosial-demokrat, kaum Freemason, pemimpin-pemimpin Katolik), maka negara “transisional” yang kemudian terpaksa didirikan oleh kontra-revolusi borjuis di atas puing-puing fasisme akan berbentuk sebuah negara parlementer dan demokratik.

Pada akhirnya, apakah kelompok Konsentrasi Anti-Fasis Italia[6] itu? Meramalkan jatuhnya negara fasis melalui pemberontakan proletariat dan secara umum segenap massa-rakyat tertindas, Konsentrasi Anti-fasis sedang bersiap untuk menahan gerakan ini, melumpuhkannya, dan  menggagalkannya guna mewujudkan kemenangan kontra-revolusi yang-dikedokkan sebagai sebuah kemenangan revolusi borjuis-demokratik. Bila sekejap saja kita kehilangan penglihatan kita akan dialektika dari kekuatan-kekuatan sosial yang hidup ini, risikonya adalah kita akan terjerat tanpa dapat melepaskan diri dan melenceng dari jalan yang benar. Tidak boleh ada kesalahpahaman sedikitpun di antara kita tentang hal ini.

4. Tapi apakah ini berarti bahwa kaum Komunis langsung segera menolak semua slogan demokratik, semua slogan transisional atau persiapan, dan membatasi diri kita sendiri secara ketat pada kediktaturan proletariat? Itu akan menjadi sektarianisme yang steril dan doktriner. Kita tidak percaya barang sekejap pun bahwa sebuah lompatan revolusioner tunggal cukup memadai untuk menyeberangi jurang yang memisahkan rezim fasis dengan kediktaturan proletariat. Kita tidak  menyangkal sebuah periode transisional dengan tuntutan-tuntutan transisionalnya, termasuk tuntutan-tuntutan demokratik. Tetapi justru dengan bantuan slogan-slogan transisional inilah, yang selalu menjadi titik-berangkat pada jalan menuju kediktaturan proletariat, kaum pelopor komunis seyogyanya memenangkan seluruh klas pekerja dan yang disebut terakhir ini harus menyatukan di sekitarnya segenap massa-rakyat tertindas. Dan bahkan saya tidak menyingkirkan kemungkinan tentang Majelis Konstituante yang dalam kondisi-kondisi tertentu dapat didesak oleh jalannya peristiwa-peristiwa, atau lebih tepatnya oleh proses kebangkitan revolusioner dari massa-rakyat tertindas. Pastinya, dalam skala historis yang luas, yakni dari perspektif jangka panjang, nasib Italia tak diragukan lagi terjabar dalam alternatif berikut: Fasisme atau Komunisme. Akan tetapi, mengklaim bahwa alternatif ini sudah mempenetrasi kesadaran klas-klas tertindas dari bangsa ini berarti terlibat dalam pikiran-khayal dan menganggap sudah terselesaikannya tugas besar yang sebenarnya masih sepenuhnya dihadapi oleh Partai Komunis yang lemah. Bila krisis revolusioner pecah, misalnya, dalam bulan-bulan ke depan (di bawah pengaruh krisis ekonomi di satu sisi, dan di bawah pengaruh revolusioner yang datang dari Spanyol di sisi lain), massa-rakyat pekerja, baik buruh maupun tani, pasti akan menindaklanjuti tuntutan-tuntutan ekonomi mereka dengan slogan-slogan demokratik (seperti kebebasan berhimpun, kebebasan pers, kebebasan organisasi serikat buruh, representasi demokratis dalam parlemen dan dalam pemerintahan munisipal). Apakah ini berarti bahwa Partai Komunis harus menolak tuntutan-tuntutan ini? Sebaliknya. Partai Komunis seyogyanya melengkapi tuntutan-tuntutan tersebut dengan karakter yang seberani dan setegas mungkin. Sebab kediktaturan proletariat tidak bisa dipaksakan kepada massa-rakyat popular. Ia hanya dapat direalisasikan dengan melaksanakan sebuah pertempuran – sebuah pertempuran yang penuh  – demi semua tuntutan transisional, syarat-syarat, dan kebutuhan-kebutuhan massa-rakyat, dan di depan massa-rakyat.

Harus diingat di sini bahwa Bolshevisme tidak tiba pada kekuasaan di bawah slogan abstrak tentang kediktaturan proletariat. Kami bertarung demi Majelis Konstituante jauh lebih berani daripada semua partai lainnya. Kami berkata kepada kaum tani: “Anda menuntut distribusi tanah yang setara? Program agraria kami melangkah lebih jauh. Tak ada satu pun kelompok kecuali kami yang akan membantu Anda untuk meraih penggunaan tanah yang adil. Untuk ini Anda harus mendukung kaum buruh.” Sehubungan dengan perang kami berkata kepada massa-rakyat popular: “Tugas komunis kita adalah berperang melawan semua penindas. Namun Anda belum siap untuk melangkah sejauh itu. Anda sedang berusaha untuk keluar dari perang imperialis. Tiada lain kecuali kaum Bolshevik yang akan membantu Anda untuk mencapainya.” Saya tidak sedang berbicara tentang merumuskan slogan-slogan spesifik yang harus digunakan untuk periode transisional di Italia sekarang ini  pada tahun 1930. Untuk merumuskan mereka, dan untuk bisa membuat perubahan-perubahan yang benar dan tepat waktu, kita perlu mengenal kehidupan internal Italia dari dekat dan dalam kontak yang lebih dekat dengan rakyat pekerja, dan ini mustahil bagi saya. Sebab, selain metode yang tepat, kita juga harus menyimak massa-rakyat. Saya sekedar ingin menunjukkan secara umum peran tuntutan-tuntutan transisional di dalam perjuangan komunisme melawan fasisme dan, secara umum, melawan masyarakat borjuis.

Optimisme Birokratik

5. Akan tetapi, sementara mengedepankan slogan demokratik yang ini atau yang itu, kita harus memerangi dengan segenap kekuatan segala bentuk tipu-daya demokratis. “Republik Demokratik Kaum Buruh”, slogan sosial-demokrasi Italia, adalah satu contoh dari tipu-daya ini. Sebuah republik kaum buruh hanya bisa berbentuk sebuah negara klas proletar. Republik demokratik hanyalah sebuah kedok dari negara borjuis. Perpaduan keduanya hanyalah sebuah ilusi borjuis-kecil dari anggota-anggota sosial-demokrasi (para buruh, tani) dan sebuah kebohongan yang kurang ajar dari para pemimpin sosial-demokrasi (semua kaum Turati[7], Modigliani[8], dan kawan-kawan mereka). Izinkanlah saya sekali lagi mengatakan dengan singkat bahwa saya telah dan masih tetap menentang slogan “Majelis Republik atas Basis Komite-Komite Buruh dan Tani” justru karena rumusan ini mendekati slogan sosial-demokrasi tentang “Republik Demokratik Kaum Buruh” dan, sebagai akibatnya, dapat membuat perjuangan melawan sosial-demokrasi menjadi luar biasa sukar.

6. Penegasan yang dibuat oleh kepemimpinan resmi (dari Partai Komunis) bahwa sosial-demokrasi konon tidak lagi eksis secara politik di Italia bukanlah apa-apa selain sebuah teori hiburan dari para birokrat yang optimis yang ingin melihat solusi-solusi siap-pakai sementara masih ada tugas-tugas besar yang menanti di depan. Fasisme tidak melikuidasi sosial-demokrasi. Sebaliknya, ia malah melestarikannya. Di mata massa-rakyat, kaum sosial-demokrat tidak memikul tanggung jawab atas rezim fasisme, dimana kaum sosial-demokrat adalah salah satu korbannya. Ini memenangkan simpati baru bagi mereka dan memperkuat simpati yang lama. Dan saatnya akan tiba tatkala sosial-demokrasi akan mendapatkan pengaruh politik dari tumpahan darah Matteotti[9] seperti yang dilakukan Roma dari darah Yesus.

Karena itu tidaklah mustahil bahwa dalam periode awal krisis revolusioner, kepemimpinan mungkin akan terpusatkan ke dalam tangan sosial-demokrasi. Bila massa-rakyat yang berjumlah besar segera tertarik ke dalam gerakan dan bila Partai Komunis membuat kebijakan yang tepat, boleh jadi kekuatan sosial-demokrasi akan pupus dalam waktu yang pendek. Akan tetapi itu adalah tugas yang masih harus dipenuhi, dan memang belum terpenuhi. Mustahil melompati masalah ini; masalah ini harus diselesaikan.

Partai Sosialis  Prancis
 
Izinkanlah saya mengingatkan Anda sekalian bahwa Zinoviev, dan belakangan para pengikut Manuilsky[10] dan Kuusinen[11], dalam dua atau tiga kesempatan menyatakan bahwa sosial-demokrasi Jerman secara esensial sudah tidak lagi eksis. Pada tahun 1925, Komintern, dalam deklarasinya kepada Partai Komunis Prancis yang ditulis oleh Lozovsky[12], juga mendekritkan bahwa Partai Sosialis Prancis telah secara definitif meninggalkan pentas. Kelompok Oposisi Kiri[13] selalu berbicara dengan lantang menentang penilaian yang tidak keruan ini. Hanya orang-orang yang benar-benar bodoh atau para pengkhianat sajalah yang berkeinginan untuk menaruh gagasan ke dalam kaum pelopor proletar Italia bahwa sosial-demokrasi sudah tidak bisa lagi memainkan peran seperti yang dimainkan oleh sosial-demokrasi Jerman dalam Revolusi 1918.

Dapat disanggah pernyataan bahwa sosial-demokrasi tidak mungkin lagi berhasil dalam mengkhianati kaum proletariat Italia seperti yang dilakukannya pada tahun 1920. Ini merupakan sebuah ilusi dan penipuan-diri! Kaum proletariat telah ditipu berkali-kali dalam perjalanan sejarahnya, pertama oleh liberalisme dan kemudian oleh sosial-demokrasi.

Terlebih lagi, kita tidak dapat melupakan bahwa sejak tahun 1920, sepuluh tahun penuh telah berlalu, dan sudah delapan delapan tahun sejak kebangkitan fasisme. Anak-anak yang berumur sepuluh atau duabelas tahun pada tahun 1920-22, dan yang telah menyaksikan apa yang dilakukan oleh kaum fasis, sekarang telah menjadi generasi baru kaum buruh dan tani yang akan bertempur secara heroik melawan fasisme. Tetapi mereka kurang pengalaman politik. Kaum komunis akan membina hubungan dengan gerakan massa yang penuh hanya semasa revolusi itu sendiri, dan di bawah kondisi-kondisi yang paling menguntungkan akan membutuhkan berbulan-bulan sebelum mereka dapat mengekspos dan melumpuhkan sosial-demokrasi yang, saya ulangi, tidak dilikuidasi oleh fasisme tetapi justru dilestarikannya.

Sebagai penutup, beberapa patah kata mengenai sebuah pertanyaan yang penting, yang tidak mengizinkan adanya dua pendapat yang berbeda di kalangan kita. Haruskah atau dapatkah kaum Oposisi Kiri dengan sengaja mengundurkan diri dari Partai Komunis Italia? Tidak boleh ada keraguan dalam hal ini. Kecuali untuk beberapa kasus yang langka, dan mereka merupakan kesalahan, tidak seorang pun di antara kita yang pernah melakukannya. Tetapi saya tidak punya gambaran yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang kamerad Italia untuk mempertahankan posisinya di dalam Partai Komunis Italia dalam  keadaan yang sekarang ini.  Saya tidak dapat mengatakan sesuatu yang konkret pada saat ini, kecuali bahwa tidak seorang pun di antara kita dapat mengizinkan seorang kamerad untuk memegang sebuah posisi politik yang keliru atau ambigu di hadapan partai atau massa-rakyat guna menghindari pemecatan.

Jabat erat.

 

Kawanmu,

Leon Trotsky

 


Catatan

[1] Gregory Zinoviev (1883-1936) adalah Presiden Komintern 1919-1926 dan salah seorang pemimpin Bolshevik. Pada tahun 1935 Zinoviev diadili pada saat Pengadilan Moskow yang pertama tahun 1936 dan dieksekusi oleh Stalin.

[2] Leon Kamenev (1883-1936) adalah anggota pendiri Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia. Kamenev juga merupakan teman lama Lenin. Bersama dengan Zinoviev, dia menentang rencana Revolusi Oktober. Sehari setelah revolusi, Kamenev dipilih menjadi ketua Komite Sentral Eksekutif oleh Kongres Kedua Soviet dan kemudian merupakan salah satu dari anggota pertama politbiro pada tahun 1919. Pada Pengadilan Moskow tahun 1936, Kamenev diadili dengan tuduhan pengkhianatan terhadap Negara Soviet dan dieksekusi oleh Stalin.

[3] Rudolf Hilferding (1877-1941) adalah seorang teoritisi utama dari Partai Sosial Demokrasi Jerman (SPD). Dia meninggal di tangan Gestapo, polisi rahasia Hitler.

[4] Republik Weimar (1919-1933) adalah republik Jerman yang lahir dari Revolusi Jerman 1918-1919 dan menggantikan kekaisaran Jerman. Republik ini lalu runtuh pada saat kenaikan Hitler pada tahun 1933.

[5] Otto Bauer (1881-1938) adalah seorang sosial demokrat dari Austria yang dianggap sebagai salah satu teoritisi tendensi Austro-Marxis.

[6] Kelompok Anti-Fasis Italia (Concentrazione Antifascista Italiana) adalah sebuah koalisi kelompok-kelompok anti-fasis di Italia dari tahun 1927-1934 untuk melawan fasisme Italia di bawah kepemimpinan Benito Mussolini. Dibentuk di Prancis oleh eksil-eksil Italian, kelompok ini adalah koalisi dari kekuatan-kekuatan republikan, sosialis, dan nasionalis. Partai Komunis Italia menolak bergabung dengan koalisi ini.

[7] Filippo Turati (1857-1932) adalah seorang ahli sosiologi Italia dan juga politisi sosialis. Dia adalah salah seorang pemimpin Partai Sosialis Italia yang berkarakter reformis dan sosial-demokrat. Partai Sosialis ini lalu pecah pada tahun 1921, dengan terbentuknya Partai Komunis Italia di bawah kepemimpinan Antonio Gramsci dan Partai Persatuan Sosialis di bawah kepemimpinan Turati.

[8] Giuseppe Emanuele Modigliani (1872-1947) adalah salah seorang pemimpin Partai Sosialis Italia. Ketika Mussolini naik berkuasa dengan partai fasisnya, dia mengasingkan diri dan mengorganisir kekuatan anti-fasis.

[9] Giacamo Matteoti (1885-1924) adalah seorang politisi sosialis dari Italia dan salah seorang pemimpin Partai Persatuan Sosialis. Pada tanggal 30 Mei 1924 dia berbicara di depan parlemen Italia dan menuduh kaum fasis Italia melakukan kecurangan dalam pemilu yang baru saja diselenggarakan, dan mengutuk kekerasan yang digunakan oleh kaum fasis untuk meraih suara. 11 hari kemudian dia diculik dan dibunuh oleh anggota Partai Fasis Nasional.

[10] Dmitry Manuilsky (1883-1959) adalah anggota Partai Komunis Uni Soviet dari Ukraina. Dia adalah salah satu pejabat tinggi birokrasi Uni Soviet.

[11] Otto Wilhelm Kuusinen (1881-1964) adalah salah seorang pendiri Partai Komunis Finlandia dan anggota Komintern.

[12] Solomon Lozovsky (1878-1952) bergabung dengan Partai Bolshevik pada tahun 1901. Dia menjabat sebagai Sekretaris Jendral Profinter dari tahun 1921-1937. Saat berumur 70 tahun dia ditahan dan disiksa selama kampanye anti-Yahudi yang dilakukan oleh rejim Stalin pada akhir 1940an hingga awal 1950. Dia lalu dieksekusi pada tahun 1952.

[13] Oposisi Kiri adalah faksi di dalam Partai Komunis Uni Soviet yang dibentuk pada tahun 1923 oleh Trotsky untuk memerangi birokrasi di Uni Soviet yang mulai timbul akibat terisolasinya Revolusi Oktober. Oposisi Kiri mendukung gagasan bahwa tanpa bantuan revolusi di Barat maka akan terjadi degenerasi birokrasi di Uni Soviet, sementara sayap birokrasi yang dipimpin oleh Stalin mendukung gagasan bahwa sosialisme dapat di bangun di satu negeri. Pada tahun 1927 anggota Oposisi Kiri dikeluarkan dari Partai Komunis Uni Soviet. Tidak lama kemudian Oposisi Kiri Internasional dibentuk. Hampir semua anggota partai yang mengikuti atau mendukung Oposisi Kiri dengan cara apapun dieksekusi pada saat Pengadilan Moskow (1936-38).