Dengan Lima Lebih Memperbaiki Pekerjaan Penerbitan dan Pengedaran Literatur Partai

B.C. Samah


Sumber: Bintang Merah Nomor Spesial, "Maju Terus" Jilid I. Kongres Nasional Ke-VII (Luar Biasa) Partai Komunis Indonesia. Yayasan Pembaruan, Jakarta 1963.


Kawan-kawan Presidium yang tercinta!

Sidang Kongres yang mulia!

Terlebih dulu izinkanlah saya menyampaikan persetujuan saya terhadap Laporan Umum Comite Central, Pengantar untuk Perubahan Konstitusi Partai dan Pengantar untuk Perubahan Program PKI, yang masing-masing disampaikan oleh Kawan D.N. Aidit, Kawan M.H. Lukman, dan Kawan Njoto. Persetujuan itu adalah karena keyakinan bahwa pikiran-pikiran yang diajukan di dalam laporan-laporan itu mencerminkan keadaan dalam dan luar negeri serta perkembangan Partai sekarang ini, sehingga dapat dijadikan senjata di tangan anggota-anggota Partai dan massa revolusioner pada umumnya dalam melaksanakan tugas menyelesaikan Revolusi Agustus sampai ke akar-akarnya dan tugas memperkuat kekuatan-kekuatan baru yang sedang tumbuh.

Kawan-kawan!

Jika 2½ tahun yang lalu, di depan Sidang Kongres Nasional ke-6 Partai, Kawan Dahono, ketika berbicara tentang literatur Partai, membatasi diri pada usaha-usaha penerbit progresif “Pembaruan”, maka di depan Kongres Nasional ke-7 sekarang ini pembatasan yang demikian itu tidak lagi memberikan gambaran yang tepat tentang usaha-usaha menerbitkan literatur Partai, literatur Marxis-Leninis. Dalam masa antara Kongres Nasional ke-6 dan ke-7 ini di pasar perdagangan buku telah beredar literatur Marxis-Leninis yang bukan diterbitkan oleh Yayasan “Pembaruan”. Perkembangan itu sudah tentu perlu mendapat sambutan dan dorongan kita bersama, sehingga dari hari ke hari literatur Marxis-Leninis akan berkembang dengan pesatnya dan menempati tempatnya yang sewajarnya di bidang perdagangan literatur di tanah air kita ini.

Meskipun demikian pekerjaan menerbitkan dan mengedarkan literatur Marxis-Leninis sebagian besar masih dilakukan oleh Yayasan “Pembaruan”. Jatah “satu minggu satu brosur” dengan gigih dan ulet telah dipenuhi, (tepuk tangan) sehingga dalam masa antara Kongres ke-6 dan ke-7 Partai telah diterbitkan 135 titel buku/brosur dengan oplaag lebih daripada satu setengah juta. (Tepuk tangan). Penerbitan-penerbitan itu meliputi berbagai bidang mulai dari prinsip-prinsip fundamental Marxisme-Leninisme sampai kepada karya-karya sastra, mulai dari dokumen-dokumen PKI dan Partai-Partai Komunis dan Partai-Partai Buruh Sekawan sampai kepada tulisan Bung Karno.

Keterbatasan yang ada pada penerbit “Pembaruan”, baik yang disebabkan oleh kekurangan tenaga maupun keuangan, dalam usahanya memenuhi kebutuhan yang bersegi banyak dan yang mendesak dari anggota-anggota dan kader-kader Partai, misalnya, kebutuhan akan roman-roman revolusioner, akan buku-buku tentang ilmu-ilmu alam, masalah-masalah aktual sekarang ini dan sebagainya terpenuhi berkat adanya usaha-usaha badan-badan penerbit lain tadi. Kawan Dahono di depan sidang Kongres Nasional ke-6 Partai menyatakan bahwa masa, ketika sukar untuk memperoleh literatur Marxis-Leninis seperti di hari-hari bergeloranya Revolusi ’45, telah berlalu dan tinggal suatu kenang-kenangan yang pahit saja. Sekarang ini, barangkali, dengan tidak berlebih-lebihan dapat kami nyatakan bahwa, diambil dalam keseluruhannya, sudah tersedia buku-buku fundamental Marxisem-Leninisme yang meliputi hampir semua bidang. Persoalannya sekarang ialah bagaimana supaya buku-buku itu bisa mencapai kader-kader dan anggota-anggota Partai serta massa revolusioner yang membutuhkannya dan bagaimana menggunakan buku-buku itu sebaik-baiknya, sehingga penerbitan itu dapat merupakan sumbangan dalam mengubah imbangan kekuatan baik secara nasional maupun secara internasional.

Untuk memberikan sedikit gambaran tentang keluasan bidang dan arti penting buku-buku itu, berikut kami sebutkan beberapa nama: Bencana yang mendatang dan bagaimana mengatasinya, Negara dan Revolusi, Kelas proletar dan Partai proletar, Cara kerja Comite Partai, Membetulkan langgam Partai, Pernyataan Partai-Partai Komunis dan Partai-Partai Buruh, 15 tahun Korea Bebas, Tetangga yang heroik, Dokumen-dokumen Kongres Nasional ke-6 yang dibukukan dalam tiga jilid, Pilihan Tulisan D.N. Aidit jilid II, Tentang Front Persatuan Nasional, Konfernas Tani II, Album 40 Tahun PKI, Yo sanak, yo kadang, malah yen mati aku sing kelangan, PKI dan MPRS, Partai dalam Puisi, Pemberontakan November 1926, Di Sekitar Revolusi Agustus ’45, Undang-Undang Perkawinan, Masalah terpokok dalam filsafat, Api ’26, dan sebagainya.

Mengenai peredaran literatur Marxis-Leninis ada dua hal yang kami anggap perlu mendapat perhatian dan dorongan kita bersama. Yang pertama, ialah sesuai dengan makin banyaknya orang bicara tentang Sosialisme maka toko-toko buku yang dulunya menutup pintu kepada literatur Marxis-Leninis sekarang sudah mulai membukanya, meskipun belum dengan kegairahan. (Tepuk tangan). Kejadian itu merupakan gejala baru dalam perdagangan buku di Jakarta dan patut mendapat perhatian petugas-petugas Partai di bidang penyebaran literatur di daerah-daerah. Yang kedua, ialah semakin banyak Universitas yang memakai karya-karya guru-guru besar Sosialisme ilmiah di fakultas-fakultasnya. Buku-buku seperti: Manifes Partai Komunis, Negara dan Revolusi Imperialisme, Tingkat Tertinggi Kapitalisme, sudah dijadikan buku wajib di beberapa Universitas. (Tepuk tangan). Kami yakin bahwa dengan menggunakan segala kepandaian yang ada pada kita, dengan lebih ulet dan gigih, kemajuan tersebut di atas dapat dikonsolidasi dan dikembangkan.

Dalam membicarakan peredaran literatur Partai selama masa antara dua Kongres ini sudah tentu kita tidak bisa memperkecil arti perkembangan Partai yang didorong oleh Plan 3 Tahun Pertama di lapangan organisasi dan pendidikan yang sudah kita selesaikan dengan sukses, maupun Plan 3 Tahun Kedua yang dititikberatkan pada pendidikan dan yang sedang berjalan, serta kemajuan yang dicapai oleh gerakan revolusioner di tanah air kita ini. Permintaan akan bahan-bahan pelajaran fundamental Marxisme-Leninisme, dokumen-dokumen Partai, tulisan-tulisan di bidang keorganisasian, tulisan-tulisan tentang perjuangan rakyat di negeri-negeri yang sedang membebaskan dirinya dari imperialisme, dan sebagainya, ada kalanya tak terpenuhi, karena antara lain kesulitan pencetakannya. Hal ini perlu mendapat perhatian kita bersama karena pemecahan persoalan itu akan menciptakan salah satu syarat yang diperlukan untuk mengubah imbangan kekuatan di tanah air kita ini.

Kawan-kawan!

Sebagai Marxis-Leninis kita sama-sama mengetahui bahwa setiap kemajuan menimbulkan persoalan-persoalan yang harus dipecahkan. Pemecahan yang tepat akan mendorong kemajuan itu. Demikian jugalah halnya dengan kemajuan yang telah kita capai di bidang pekerjaan penerbitan dan peredaran literatur Partai. Tidak sedikit persoalan yang harus dijawab oleh badan-badan maupun perseorangan yang ambil bagian dalam menerbitkan dan mengedarkan literatur Partai, yang antara lain dapat kami sebutkan sebagai berikut: masalah pencetakannya; masalah tenaga penerjemah dan penulis; masalah distribusi literatur itu sendiri; masalah pemasukan uang dari literatur yang diedarkan; masalah tingginya ongkos menerbitkan; masalah kesulitan-kesulitan bahan-bahan baku yang digunakan; masalah belum secara serius dan kontinyu ikut sertanya Comite di masing-masing tingkat dalam memecahkan hal-hal yang bersangkutan dengan peredaran literatur Partai, dan sebagainya. Tetapi, karena diilhami oleh keputusan-keputusan Kongres Nasional ke-6 Partai yang jaya, maka kesulitan-kesulitan tersebut pada pokoknya bisa diatasi dan tentu akan mendapatkan sumbangan pemikiran pula dari keputusan-keputusan Kongres yang berlangsung sekarang ini.

Kemudian, kawan-kawan, kami akan memberikan gambaran sepintas lalu tentang kecenderungan penerbitan yang ideologis reaksioner sekarang ini. Jika kita tinjau keadaan penerbitan pada Gelanggang Buku (1960) ke-3 dan ke-4 (1961), serta toko-toko buku, maka jumlah penerbitan yang bertujuan menyelundupkan pandangan-pandangan idealis dalam menjelaskan masalah-masalah politik, hukum, kesenian, penerbitan-penerbitan yang memperkuat ketakhayulan, bukannya berkurang, malah bertambah. Ini sudah tentu membikin pekerjaan kita di bidang penerbitan tidak mudah. Pekerjaan itu lebih-lebih tidak mudah lagi, jika kita ingat bahwa perimbangan antara buku-buku yang ideologis revolusioner dengan buku-buku yang ideologis reaksioner adalah lebih banyak buku-buku yang ideologis reaksioner. Tetapi berkat pimpinan Partai yang bijaksana dan kreatif, berkat bantuan kawan-kawan, maka kesulitan-kesulitan itu akan dapat diatasi sejalan dengan makin terjepitnya kaum reaksioner di bidang politik baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Kawan-kawan yang tercinta!

Mengenai 7 majalah sentral Partai, yaitu: Bintang Merah, Kehidupan Partai, PKI dan Perwakilan, Mimbar Komunis, Review of Indonesia, dan Ekonomi dan Masyarakat serta Ilmu Marxis, seperti telah disampaikan oleh Kawan D.N. Aidit di dalam Laporan Umum, “belum boleh terbit karena belum mendapat izin dari yang berwajib”. Sejak belum diberikannya izin terbit majalah-majalah itu dalam bulan November 1960, telah dilakukan usaha-usaha baik oleh redaksi majalah masing-masing maupun oleh pimpinan Partai, Redaksi majalah-majalah tersebut telah mengirimkan surat dan delegasi menemui instansi-instansi pemerintahan yang bersangkutan, sedangkan pimpinan Partai telah pula melakukan hal yang sama.

Belum diberikannya izin terbit 7 majalah itu sudah tentu tidak bisa dikatakan sebagai tindakan yang berpegang teguh pada Manipol yang menjamin “……… tiap organisasi dan perseorangan boleh mempunyai keyakinan politiknya sendiri, boleh mempunyai programnya sendiri”. Mempunyai keyakinan politik dan program sendiri bagi sesuatu organisasi adalah omong kosong belaka jika perantara untuk menyampaikan dan mempersoalkan politik dan program itu dibekukan. Kami sepenuhnya mendukung garis yang diajukan oleh Kawan Aidit di dalam Laporan Umum yaitu: “sudah seharusnya perjuangan kemerdekaan pers terus diperhebat”. Dengan semakin luas dan kokohnya pendukung-pendukung Manipol dan UUD ’45, maka sudah tentu perjuangan itu akan membawa hasil yang diharapkan.

Kawan-kawan!

Perkembangan pers dalam masa antara Kongres Nasional ke-6 dan ke-7 Partai ini menunjukkan adanya pergeseran ke arah yang menguntungkan perjuangan rakyat. Pers kanan yang membawa suara kaum imperialis serta kaki tangan-kaki tangannya di dalam negeri, atas desakan rakyat, telah dilarang terbit, misalnya: Pedoman, Keng Po, Indonesia Raya, Nusantara, dan sebagainya. Meskipun kemudian pers kanan itu muncul kembali dengan nama-nama baru, tetapi mereka tidak berani terang-terangan anti Manipol, anti Nasakom seperti yang mereka lakukan di masa sebelum itu. Sudah tentu tindakan “menyesuaikan diri” seperti itu bisa mengaburkan pendapat rakyat terhadap garis pokok yang masih dipertahankan oleh surat kabar-surat kabar itu, sehingga kewaspadaan yang lebih tinggi dan penelanjangan-penelanjangan yang terus-menerus harus dilakukan terhadap setiap usaha untuk secara licin menyelundupkan pikiran-pikiran anti Manipol lewat surat kabar-surat kabar tersebut.

Segi lain perkembangan pers dewasa ini ialah mulai tercerminnya garis Partai tentang penyelesaian Revolusi Agustus sampai ke akar-akarnya dan garis Front Nasional dalam kehidupan pers di tanah air kita ini. Bukan saja pers secara umum sekarang ini tidak berani secara terang-terangan menentang Manipol dan Nasakom dan dengan demikian menentang PKI, tetapi dalam menghadapi masalah-masalah nasional dan internasional yang pokok nada pers pada umumnya adalah tidak bertentangan dengan garis yang diambil oleh Partai mengenai masalah yang bersangkutan. Hal itu merupakan bukti betapa tepatnya garis yang telah disimpulkan oleh Partai. Misalnya mengenai Irian Barat. Pers yang paling reaksioner sekalipun sekarang ini tidak berani terang-terangan lagi membela kaum imperialis Belanda dan AS mengenai persengketaan Irian Barat.

Kawan D.N. Aidit di dalam Laporan Umum menegaskan “Sekarang pun kaum reaksioner masih tetap mengganggu kita, baik secara langsung ditujukan kepada PKI atau secara tidak langsung dengan melarang kegiatan dan menangkapi kader-kader organisasi-organisasi massa”. Selanjutnya Kawan Aidit memberi keterangan sebagai berikut: “Harian Rakyat selama masa yang ditinjau berkali-kali mengalami pemberedelan dan di Sumatera Selatan dan Jambi hingga sekarang dilarang beredar”. Dapat kami tambahkan bahwa selama masa antara dua Kongres ini HR selalu mendapat peringatan-peringatan dan teguran-teguran, sudah 7 kali diberedel. Akibat pemberedelan itu HR tidak terbit selama 135 hari. Rubrik-rubrik tertentu dilarang, di samping pembatasan-pembatasan seperti harus memenuhi perimbangan tertentu mengenai isi, tidak boleh menulis ini dan itu, dan sebagainya. Ini, kawan-kawan, segi lain dari kehidupan pers di negeri kita, yang harus diperhitungkan bukan saja oleh Partai kita tetapi oleh semua pendukung kemerdekaan pers, pers Manipolis. Seperti di bidang-bidang lain, maka di bidang pers ini pun garis Manipol itu akan mencapai kemenangan.

Mengenai HR itu sendiri dapat dinyatakan bahwa selama ini ia mengambil bagian aktif dalam mengibarkan tinggi-tinggi Tripanji Partai dan akhir-akhir ini juga Tripanji Bangsa. Dalam rangka pelaksanaan panji-panji tersebut ada beberapa hal yang ingin kami ajukan baik yang berupa kemajuan maupun persoalan-persoalan yang perlu mendapat pemecahan kita bersama.

Mengenai isi dapat kami sampaikan bahwa di samping beberapa rubrik yang lama terdapat rubrik-rubrik baru sesuai dengan tuntutan pelaksanaan salah satu panji Partai atau panji Bangsa, misalnya, Gerakan 1001, Asmu Menjawab, Mobilisasi, dan sebagainya. Tentang oplaag, persoalan pokoknya sekarang ini ialah bagaimana mendapatkan izin pemerintah menerbitkan HR dengan oplaag yang lebih tinggi daripada sekarang ini. Hal ini perlu mendapat perhatian kita yang saksama, mengingat bahwa ada koran-koran golongan anti-Manipol dengan nama baru yang diberi SIPK secara agak royal, sedangkan koran-koran pendukung Manipol, termasuk HR dibatasi oplaagnya. Yang lebih menyedihkan lagi ialah di saat rakyat memerlukan penerangan yang sebanyak-banyaknya tentang perjuangan Irian Barat, perjuangan untuk memenuhi kebutuhan akan sandang pangan, oplaag surat kabar-surat kabar dibatasi, sebaliknya, ratusan ton kertas digunakan untuk toto nasional.

Kawan-kawan!

Kita sekarang berada dalam keadaan ekonomi di mana harga-harga membumbung terus. HR pun terkena pengaruh yang tidak diinginkan itu, sehingga administrasi HR dengan sangat tidak rela telah menaikkan harga langganan HR menjadi Rp. 35,– untuk dalam kota dan Rp. 38,– untuk luar kota. Kenaikan harga langganan HR itu, pada saat harga barang-barang kebutuhan pokok begitu tingginya bisa membawa akibat para pencintanya mengundurkan diri sebagai langganan. Keadaan yang sedemikian itu sudah tentu adalah hal yang merugikan perkembangan gerakan revolusioner. Maka itu perlu dipikirkan cara-cara bagaimana supaya jumlah HR yang beredar tidak dipengaruhi oleh kenaikan harga yang sekarang ini, bagaimana supaya fungsionaris-fungsionaris, kader-kader, dan para anggota Partai serta massa revolusioner pada umumnya dapat terus membaca HR dan dengan demikian mendapat pedoman dalam memberikan sumbangan yang semaksimal-maksimalnya untuk mendorong situasi semakin ke kiri. Segi lain yang juga perlu mendapat perhatian berhubung meningkatnya harga ini ialah memikirkan cara-cara supaya pembayaran uang langganan HR dilakukan secara teratur dan pada waktunya.

Demikianlah kawan-kawan beberapa segi perkembangan pers dan HR selama masa antara dua Kongres ini. Masih banyak perbaikan yang perlu dicapai, ke dalam maupun ke luar, di samping usaha-usaha mengonsolidasi kemajuan-kemajuan yang telah ada harus dilakukan terus. Kami yakin bahwa dengan tetap dijiwai oleh keputusan-keputusan Kongres Nasional ke-6 Partai dan didorong oleh keputusan-keputusan Kongres yang sekarang ini pemecahan persoalan-persoalan yang kami ajukan tadi akan tercapai.

Kawan-kawan!

Mengenai penerbitan daerah, kami berpendapat bahwa apa yang diajukan oleh Kawan Dahono di depan Kongres Nasional ke-6 mengenai majalah/harian daerah yang harus berfungsi sebagai majalah/harian daerah tetap perlu mendapat perhatian kita bersama. Kepandaian, kegigihan, keuletan dan kewaspadaan harus dipadu dalam usaha mempertahankan majalah/harian yang sudah lama dinanti-nantikan. Selama masa antara dua Kongres ini ada CDB yang sudah tidak meneruskan penerbitan majalah/harian daerahnya, ada yang berhasil mempertahankan masa terbit, menaikkan oplaag majalah/hariannya, sedangkan ada pula yang dulu distensil sekarang dicetak.

Segi lain dari penerbitan daerah ini yang sudah waktunya mendapat perhatian kita bersama ialah penerbitan daerah dalam bahasa suku bangsa massa di daerah yang bersangkutan. Literatur Partai untuk bisa menguasai massa yang amat luas barangkali perlu menggunakan bahasa suku bangsa massa yang bersangkutan. Maka itu, dengan tidak mengecilkan arti bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dan bahasa pembebas, literatur Partai perlu pula diterbitkan di dalam bahasa suku bangsa itu. Hal ini di masa yang lalu telah juga dikerjakan oleh CDB-CDB, misalnya, Manifes Pemilihan Umum PKI diterbitkan dalam banyak bahasa daerah. Soalnya sekarang ialah apakah bukan sudah tiba waktunya mengintensifkan usaha itu, misalnya, dengan menerbitkan buku-buku pelajaran bagi sekolah Partai terendah, dokumen-dokumen pokok Partai ke dalam bahasa daerah. Dengan menggunakan bahasa daerah dapat diharapkan kemajuan-kemajuan dalam usaha menjelaskan kepada massa tentang garis organisasi, politik dan ideologi Partai, yaitu dalam usaha menjadikan garis Partai milik rakyat.

Kawan-kawan!

Salah satu mata rantai yang senantiasa perlu mendapat sorotan dan perbaikan yang segera ketika meninjau pekerjaan Partai di bidang literatur Partai (termasuk HR) ialah masalah distribusi dan keuangan. Baik di pusat maupun di daerah bagian ini belum mendapatkan pemecahan yang diharapkan, meskipun langkah-langkah ke arah itu telah diambil. Apa yang dinyatakan oleh Kawan Aidit di dalam Laporan Umum Kongres Nasional ke-6 Partai tentang Harian Rakyat, yaitu bahwa “…… mengenai pekerjaan praktis untuk perbaikan distribusi HR belum cukup disadari. Belum cukup disadari bahwa distribusi HR adalah pekerjaan politik yang penting. Masalah distribusi adalah masalah pemeliharaan para langganan dengan telaten, masalah ketelitian dalam pembukuan dan surat-menyurat dan selanjutnya masalah ketertiban dalam penyetoran uang langganan kepada administrasi HR. Hal inilah yang tidak dilakukan secara baik oleh sementara Comite” masih tetap benar dan berlaku bukan hanya bagi distribusi HR tetapi juga bagi distribusi literatur Partai pada umumnya.

Pengalaman antara dua Kongres ini pun menunjukkan bahwa penyebaran HR meluas, pemasukan keuangan semakin lancar dan teratur di daerah-daerah di mana Comite setempat sudah melakukan pimpinan yang serius dan kontinyu terhadap agen-agen HR. berbicara tentang mengintensifkan lebih lanjut pemasukan uang langganan HR sekarang ini mesti berbicara tentang mata rantainya yang senantiasa harus mendapat perhatian kita, yaitu para agen. Pengalaman menunjukkan bahwa kemacetan pemasukan uang langganan bukan karena para langganan tidak membayar, tetapi karena para agen tidak memperlakukan uang langganan itu sebagaimana mestinya.

Mengenai distribusi literatur yang diurus oleh penerbit “Pembaruan”, pada pokoknya persoalannya hampir sama. Masih ada sementara Comite yang belum berbuat sesuai dengan watak tugas di bidang penerbitan dan peredaran literatur Partai. Seperti kita ketahui pekerjaan menerbitkan dan mengedarkan literatur Partai adalah tugas ideologis. Pengalaman menunjukkan bahwa tugas itu dipahami secara sepotong-sepotong atau belum dijalankan secara serius. Akibatnya ialah usaha mengawasi, mendirikan toko-toko buku dan agen-agen sesuai dengan Plan Tiga Tahun ke-2 Partai di bidang pendidikan dan organisasi, kurang lancar jalannya. Demikian pula halnya dengan pengawasan pemasukan keuangan. Langkah-langkah yang telah diambil oleh sementara CDB untuk mengatasi kelemahan yang kami sebutkan di atas, dengan misalnya membicarakan masalah peredaran literatur Partai di dalam Konferensinya, menetapkan petugas untuk memimpin pekerjaan peredaran literatur Partai, merupakan langkah-langkah yang dapat dijadikan pengalaman oleh yang belum melakukan.

Kemudian, kawan-kawan, salah satu faktor yang juga menentukan dalam rangka pekerjaan distribusi ini adalah faktor pengangkutan. Bagi daerah luar Jawa satu-satunya alat pengangkutan yang cepat adalah Garuda. Tetapi di waktu-waktu yang lalu Garuda ada kalanya tidak memberikan kesempatan kepada para penerbit surat kabar untuk mengirimkan surat kabarnya lewat Garuda; ada kalanya pula pengiriman diperbolehkan tetapi dibatasi beratnya. Di samping itu jaminan surat kabar itu akan mendapatkan prioritas dikirimkan dengan kapal terbang pertama tetap merupakan tanda tanya, sehingga sering terjadi surat kabar yang sudah dimuat di dalam kapal terbang yang akan berangkat diturunkan kembali. Sedangkan pengiriman HR di Jawa dengan kereta api menghadapi persoalan-persoalan yang tidak kurang pahitnya. Misalnya, datangnya kereta api belum selalu tepat pada waktunya, HR yang dikirimkan ada kalanya hilang di tengah jalan atau menyimpang ke tempat yang bukan tujuannya, dan sebagainya, yang kesemuanya itu tidak bisa diminta pertanggungjawaban DKA. Sudah tentu kejadian-kejadian seperti yang kami sebutkan di atas tadi tidak sejiwa dengan keputusan MPRS yang dimuat di dalam Lampiran A yang berbunyi: “Penerangan merupakan faktor yang amat penting sekali untuk berhasilnya pelaksanaan Pembangunan Nasional Semesta Berencana”.

Kawan-kawan!

Selama masa antara Kongres Nasional ke-6 dan ke-7 ini, banyak kemajuan yang sudah kita capai di lapangan penerbitan. Banyak pula persoalan-persoalan yang sudah kita pecahkan, rintangan-rintangan yang kita atasi, tetapi yang belum kita pecahkan dan yang belum kita atasi masih banyak pula. Karena literatur kita adalah literatur untuk revolusi, dan karena rakyat Indonesia seperti halnya rakyat di seluruh dunia ini gandrung akan revolusi, maka pemecahan terhadap persoalan-persoalan, rintangan-rintangan, dan sebagainya itu pasti dapat diatasi seperti halnya kita pasti dapat mengatasi segala rintangan terhadap revolusi itu sendiri. Di masa yang lampau keputusan-keputusan Kongres Nasional ke-6 Partai telah membangkitkan kemampuan di kalangan kita untuk menghadapi persoalan-persoalan dan rintangan-rintangan itu, dan kami percaya keputusan-keputusan Kongres yang sedang berlangsung sekarang ini akan mengembangkan kemampuan yang sudah kita kumpulkan itu.

Sekian kawan-kawan, dan terima kasih.

Hidup literatur Partai, literatur Marxis-Leninis! (Tepuk tangan lama).